
Sifa mematuk dirinya di cermin, gadis itu merasa gugup karena Abash akan kembali menemani dirinya belajar. Sebenarnya bukan hal itu yang membuat Sifa gugup, melainkan status mereka saat ini. Walaupun Sifa percaya, jika Abash tidak akan melakukan hal yang kelewatan batas, akan tetapi tetap saja kan hal yang di takutkan itu harus di waspadai?
Ting tong ...
Sifa menoleh ke arah pintu, gadis itu langsung bergegas membukakan pintu tanpa bertanya siapa yang ada di balik pintu tersebut.
Ceklek ....
"Cepet banget di buka? Kenapa gak di tanya dulu siapa yang memencet bel?" tanya Abash dengan lembut.
"I-itu!" Sifa terlihat gugup, gadis itu pun memundurkan langkahnya di saat Abash ingin masuk.
"Lain kali jangan di ulang ya, sayang," ujar Abash sambil membelai rambut Sifa.
Dag ... Dig .. dug ...
Jantung Sifa sudah tak karuan mendapatkan ungkapan manis seperti saat ini.
"Kamu sudah makan?" tanya Abash yang sudah berlalu menuju dapur. sedangkan Sifa masih terdiam di tempatnya.
"Loh, kok malah bengong sih?" tegur Abash yang mana membuat Sifa kembali tersadar.
"Ah ya, Bapak bilang apa?" tanya Sifa.
Abash menghela napasnya pelan dengan tangan yang terlipat di atas perut. Menyadari jika ada yang salah, Sifa pun mengusap tengkuknya.
"Maaf, Mas," cicit Sifa sambil berjalan mendekati Abash.
"Kamu sudah makan?" tanya Abash di saat Sifa sudah berada di dekatnya.
"Sudah," jawab Sifa.
"Mau kebab? Tadi aku beli saat jalan ke sini," ujar Abash sambil mengeluarkan makanan yang terbungkus tortila tersebut.
"Boleh, Mas. Tadi kebetulan aku cuma makan mie instan aja."
Abash meletakkan kembali kebab itu di atas meja dan menoleh kesal ke arah sang kekasih.
"Kenapa makan mie instan, Sifa?" tanya Abash.
"Itu, aku lagi pingin aja, Mas," cicit Sifa.
Abash pun berjalan menuju lemari pendingin, dia membuka pintunya dan melihat isi yang ada di dalam sana. Masih terdapat banyak bahan makanan dan sayuran.
"Hmm, aku pikir kehabisan bahan makanan, kamu. Ternyata memang malas masak," cibir Abash dan kembali menutup pintu lemari pendingin.
"Ya sudah kalau gitu, ayo makan," titah Abash sambil memberikan satu buah kebab kepada Sifa.
Saat sedang makan, tidak ada percakapan apa pun yang terjadi di antara mereka. Padahal Abash berharap, jika Sifa bertanya tentang Putri atau pun apa yang dia lakukan hari ini.
__ADS_1
"Kamu gak mau tanya gitu?" tanya Abash kepada Sifa.
"Tanya apa, Mas?" tanya Sifa dengan bingung.
"Itu, tentang saya saat mengantarkan Putri," ujar Abash.
"Oh," lirh Sifa dan meneguk segelas air yang ada di dekatnya.
"Saya percaya kok sama, Mas" ujar Sifa dengan tersenyum.
Abash pun merasa terpana dengan apa yang Sifa katakan. Tapi, ada hal yang sedikit mengganggu hatinya.
"Kamu gak cemburu?" tanya Abash.
Sifa menggelengkan kepalanya. "Saya percaya sama Mas, kalau Mas itu cintanya cuma sama saya, bukan sama yang lain," ujar Sifa yang mana membuat Abash tersenyum lebar.
"Kamu mau menggoda aku?" tanya Abash sambil mendekatkan tubuhnya ke arah Sifa.
"Iih, siapa juga yang mau menggoda. Mas kegedean deh," ujar Sifa yang mana membuat Abash terkekeh pelan.
*
Putri memegang perutnya yang terasa lapar. Gadis itu pun membuka lemari pendinginnya untuk melihat makanan apa yang bisa dia olah.
"Hmm, ini sih untuk sarapan pagi besok," lirihnya pelan.
Putri pun melihat Max yang juga sudah tertidur di sofa, membuat gadis itu memilih untuk keluar dari aoartemennya tanpa Max.
Sesampainya di lobi, Putri pun menghampiri satpam dan bertanya di mana ada penjual nasi goreng di dekat apartemennya. Pak satpam pun mengatakan jika ada sebuah tenda biru yang tak jauh dari apartemen, di sana menjual berbagai makanan enak dari nasi, mie, hingga sate.
Putri mengangguk paham dan kemudian berjalan menuju arah yang di tunjuk oleh satpam tersebut.
Ternyata jaraknya memang tak jauh dari tempat yang satpam katakan, bahkan terlihat pembeli yang ramai dan mengantri untuk bungkus dan di bawa pulang.
Jika pembeli ramai membeli di sana, bukankah itu sudah cukup menjadi jaminan untuk mengatakan bahwa makanan di sana memang enak?
"Mau makan di sini atau bawa pulang, Mbak?" tanya seorang penjual yang melihat Putri kebingungan mencari tempat duduk.
"Makan di sini," ujar Putri.
"Oh, sebentar." Penjual itu pun melihat-lihat tempat yang kosong, sehingga netranya menatap satu bangku kosong di dekat seorang pria berjaket kulit.
"Ayo, Mbak," ajak penjual dan di ikuti oleh Putri.
"Di sini gak masalah kan, Mbak?" tanya penjual tersebut.
"Gak papa," jawab Putri dan mendaratkan bokongnya di kursi plastik tanpa sandaran.
"Mau pesan apa, Mbak-nya? Ini bku menunya. Nanti kalau sudah fix mau pesan apa, panggil aja ya, Mbak," ujar pelayan dan pergi.
__ADS_1
"Kamu suka makan di tempat beginian juga?" Terdengar suara bariton yang membuat Putri terkejut saat sedang melihat buku menu.
"Anda?" lirih Putri saat mengetahui siapa pria yang memakai jaket kulit dan juga topi.
Ya, pria itu adalah Arash. Tak berapa lama pesanan Arash pun tiba.
"Mie tiaw di sini enak. Nasi goreng anti ngantuknya juga enak," ujar Arash memberikan rekomendasi terbaik di warung tenda tersebut.
"Iya, terima kasih," cicit Putri dan kembali melihat ke arah menu.
"Kalau begitu saya duluan ya," ujar Arash dan menikmati makanannya.
"Nasi goreng anti ngantuk?" batin Putri. "Ada-ada saja"
Setelah memberikan pesanannya kepada pelayan, Putri pun memilih memainkan ponselnya. Saat melihat layar utama pada ponsel, dia teringat akan max yang berada di dalam apartemennya, sedangkan pemilik max berada di sebelahnya.
Sudah seharusnya kan Putri meminta izin untuk membawa max tinggal dengannya?
"Ah ya, max saat ini bersama saya. Anda tidak keberatan, kan?" tanya Putri kepada Arash.
Arash menelan kunyahannya dan menoleh ke arah Putri. "Tidak masalah," jawab Arash dengan tersenyum dan kembali menikmati makannya.
Tak berapa lama pesanan Putri pun tiba, gadis itu pun menikmati nasi goreng anti ngantuknya, sehingga membuat Arash tersenyum di saat melihat menu pesanan yang di pilih oleh Putri.
"Haaahh, pedes banget," lirih Putri sambil mengipasi mulutnya yang kepedasan.
Arash pun refleks memberikan air putih miliknya kepada Putri.
"Minum dulu," titahnya.
Setelah merasa lega, Putri pun menghela napasnya pelan.
"Terima kasih," lirihnya.
"Sama-sama," jawab Arash dengan tertawa.
"Tunggu," ujar Putri sambil menahan lengan Arash.
"Ya?"
"Ini? Jangan bilang kalau air ini bekas anda?" tanya Putri dengan menatap lurus ke arah Arash.
Arash hanya menyengir kuda, menandakan jika apa yang di katakan oleh Putri adalaha benar.
"Ya ampun," lirih Putri sambil menutup mulutnya.
"Maaf," cicit Arash merasa bersalah.
"Jadi, gue secara tidak langsung udah ciuman dong dengan dia?" batin Putri dan mengerjapkan matanya dengan cepat.
__ADS_1