
“Permisi, siapa yang punya sepeda ini?” tanya seorang pria berbadan kekar dan bertato kepada satpam, Sifa, dan Abash.
“Saya,” ujar Sifa.
“Oh, jadi kau orangnya,” ujar pria bertato itu dan melipat kedua tangannya di dada.
“Kau tau, seharusnya sepeda butut itu tidak berada di apartemen mewah seperti ini,” ujar pria bertato itu. Pria itu pun menatap tampilan Sifa dari ujung rambut hingga ujung kaki, kemudian dia tertawa miring seolah sedang menertawakan penampilan Sifa.
“Saya ragu, apa kau mampu menyewa apartemen ini? Atau kau hanya pembantu yang di tugaskan oleh majikannya untuk membersihkan apartemen majikan kau,” desis pria itu dengan meremehkan Sifa.
Sifa masih diam, dia sudah terbiasa menerima hinaan seperti ini, bahkan lebih parah dari ini. Masih ingat kan? Pelakuan kakak letingnya yang mengerjai Sifa saat ada seminar di kampus? Sifa di suruh membersihkan toilet yang berceceran kotoran, sehingga membuat wanita itu pun memuntahkan isi perutnya yang masih kosong.
“Apapun itu, yang terpenting saat ini adalah, kau harus mengganti rugi atas apa yang terjadi kepada mobil saya,” ujar pria itu sambil menunjuk ke arah mobil fortune-nya yang sedikit lecet pada bagian bamper depannya.
“Begini,” ujar Sifa membuka suara. “Di sini bukan hanya Anda yang di rugikan. Tapi saya juga. Sepeda saya sudah
__ADS_1
tak berbentuk saat ini karena Anda. Jadi---.”
“Heiii ... siapa suruh kau meletakkan sepeda itu di tengah jalan?” potong pria bertato itu.
“Sepeda butut kau ini tak layak berada di gedung elit ini. Tempatnya di luar, bersama pengemis-pengemis jalanan. Jadi, sebaiknya kau ganti rugi sekarang juga atas kerusakan mobil saya,” ujar pria bertato itu.
Sifa menghela napasnya pelan. “Berapa yang harus saya bayar?” tanya Sifa yang memang tak ingin memperpanjang masalah ini. Lagi pula, lecet pada bagian mobil pria itu pun tak terlalu parah. Jadi, menurut perhitungan Sifa, mungkin hanya memerlukan uang sebesar lima ratus ribu atau satu juta paling besar. Sifa tak tahu pastinya, karena itu bukan keahliannya.
Pria bertato itu pun tertawa mendengar ucapan Sifa. “Apa kau yakin mampu membayarnya?” tanya pria bertato itu.
“Baiklah. Kau harus membayar sebesar sepuluh juta,” ujar pria bertato itu dengan tersenyum miring.
“Apa? Sepuluh juta?” tanya Sifa dengan terkejut.
“Ya, kenapa? Kau gak mampu membayarnya?” tanya pria bertato itu.
__ADS_1
“Masa hanya membenarkan goresan kecil itu sampai sepuluh juta?” tanya Sifa tak percaya.
“Hei, orang miskin. Kau tau apa tentang perbaikan mobil, hah? Kau tau berapa harga mobil ini? Harga mobil ini sangat mahal. Bahkan jika kau menjadi seorang pelacur sekali pun, uang yang kau dapat itu belum tentu mampu untuk membeli mobil ini,” ujar pria bertato itu memandang rendah kepada Sifa.
Abash yang sedari tadi mendengar hinaan yang di berikan oleh pria bertato itu pun untuk Sifa, mengepalkan tangannya dengan erat, bahkan dia sudah mengeraskan rahangnya saat ini.
Sifa menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya, wanita itu memejamkan matanya dan mencoba untuk
tetap tenang dan tak terpancing emosi atas hinaan yang di berikan oleh pria bertato yang ada di hadapannya saat ini.
“Begini saja, bagaimana jika kau melayani aku di atas ranjang hingga puas selama satu bulan ini? Maka aku akan menganggap kejadian ini tidak pernah terjadi. Bagaimana?” ujar pria bertato itu sambil mencuil dagu Sifa.
Sraaap ... Bugg ...
Abash menarik dan memelintir tangan pria bertato itu yang telah mencuil dagu Sifa, kemudian satu pukulan pun mendarat di wajah pria bertato itu, sehingga membuatnya jatuh tersungkur.
__ADS_1
“Siapa kau?” pekik pria bertato itu dengan marah kepada Abash.