
Arash bergegas mengambil kunci mobilnya di dalam kamar.
"Mau ke mana kamu?" tanya Desi saat melihat Arash keluar dari dalam kamar dengan terburu-buru.
"Ngejar Putri," jawab Arash sambil berlalu.
Desi hanya diam dan memperhatikan. Jika di lihat-lihat dan kalau tebakan Desi tak salah, Arash sepertinya juga menaruh hati dengan Putri. Tapi, Arash pernah mengatakan kepadanya, kalau dia menyukai Sifa.
Lalu, siapa sebenarnya yang Arash suka? Sifa atau Putri?
"Hmm, semoga kamu gak salah memilih, Rash. Dan kamu tau perasaan kamu sebenarnya ke siapa," lirih Desi sambil menatap pintu yang baru saja tertutup rapat.
*
Arash berusaha mengejar Putri yang baru saja baru saja masuk ke dalam lift, tetapi sayangnya pria itu terlambat karena pintu lift sudah tertutup rapat di saat dirinya baru saja di depan lift.
"Sial," geram Arash dan beralih menuju tangga darurat.
Arash menuruni tangga darurat dengan cepat. Bahkan pria itu melewati tiga hingga empat anak tangga agar dia bisa lebih cepat untuk menyusul Putri.
Telat di saat Arash keluar dari pintu tangga darurat, Putri pun baru saja keluar dari lift.
"Putri," panggil Arash dengan napas yang ngos-ngosan."
Putri yang merasa namanya di panggil pun, menoleh dan terkejut di saat melihat Arash ternyata mengejarnya.
"Ada apa?" tanya Putri dengan kening mengkerut di saat Arash sudah berada di depannya.
Arash mengatur napas dan menelan ludahnya dengan kasar. Pria itu membutuhkan air saat ini untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Biar aku yang antar kamu," ujar Arash saat sudah meredakan tenggorokannya dan sudah bernapas dengan normal, walaupun masih terlihat ngos-ngosan.
"Kamu habis lari-lari turun dari tangga? Demi ngantar aku?" tanya Putri merasa penasaran.
"Aku khawatir kalau kamu membawa mobil sendirian," jawab Arash.
"Khawatir?" batin Putri. "Sadarlah Putri, dia khawatir belum tentu juga punya perasaan sama kamu. Seperti kamu di peluk Abash dan Arash, tetapi kalian memang tidak memiliki hubungan yang spesial, kan?" batin Putri.
Putri menghela napasnya pelan, gadis itu pun menatap ke arah Arash yang masih menatapnya dengan napas yang memburu.
"Kak kali jangan khawatir sama aku," lirih Putri dan berbalik badan meninggalkan Arash.
"Apa maksudnya? Apa aku salah kalau mengkhawatirkan dia?" lirih Arash.
Dari pada berdebat dengan perasaan bingungnya, Arash pun memilih untuk mengejar Putri.
"Eh?" kejut Putri saat Arash tiba-tiba menggenggam tangannya dan membawa dirinya menuju mobil pria itu.
"Rash, kenapa kamu begini?" tanya Putri sambil menghentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman tangan Arash.
"Kenapa kamu marah sama aku, Put?" tanya Arash dengan bingung.
"Aku gak marah sama kamu, aku hanya---,"
"Kesal?" tebak Arash.
Putri menghela napasnya dengan pelan, kemudian dia menganggukan kepalanya.
"Oke, aku minta maaf," ujar Arash yang mana membuat Putri menghela napasnya lelah.
"Aku maafin kamu. Sekarang, kembalilah ke dalam, aku akan pergi sendiri," ujar Putri dan berbalik menuju mobilnya.
__ADS_1
Arash menghela napasnya pelan, tidak ada cara lain, pria itu harus tetap memastikan jika Putri baik-baik saja. Arash pun mengikuti Putri dan masuk ke dalam mobil gadis itu.
"Rash, kenapa kamu--."
"Aku harus memastikan jika kamu baik-baik saja," ujar Arash dan memasang seat bell pada tubuhnya.
Putri menghela napasnya pelan, gadis itu pun terpaksa menghidupkan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
"Jangan salahi aku, kalau kamu terlambat pergi ke kantor," ujar Putri memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Hmm," gumam Arash yang sudah menutup matanya dengan rapat.
Putri pun menoleh ke arah Arash, sehingga membaut dia mencebikkan bibirnya kesal, karena mendapati Arash yang ternyata sudah terlelap tidur.
"Dasar, katanya mau memastikan aku baik-baik aja. Eh, ini dia malah tidur," cibir Putri pelan, tanpa gadis itu ketahui, jika Arash masih mendengar apa yang Putri katakan.
"Aku belum tidur," jawab Arash yang mana membuat Putri terkejut.
Putri pun menghentikan mobilnya saat lampu merah menyala.
"Kamu gak tidur semalaman?" tanya Putri.
"Hum," gumam Arash.
"Aku akan putar balik dan mengantar kamu pulang. Sebaiknya kamu----."
"Terus jalan ke mana tujuan yang kamu inginkan. Aku akan tidur di mobil nanti," jawab Arash yang sudah membuka matanya dan menatap ke arah Putri.
"Hah?"
"Jalan, lampu sudah berubah warna," tegur Arash yang mana membuat Putri menoleh ke arah lampu simpang jalan.
"Aku gak nyangka, kalau kamu seorang pembalap," ujar Arash yang mana membuat Putri menoleh sekilas ke arahnya.
"Tidak, aku bu---."
"Aku sudah mengeceknya. Kamu suka balap liar, kan?" ujar Arash sambil melihat wajah Putri dari samping.
"Itu bukan balap liar. Terlihat seperti balap liar memang, tapi sebenarnya di jaga oleh polisi juga," bantah Putri.
"Balapan yang sering kamu ikuti itu adalah balap liar," ujar Arash memberitahu. "Balap liar yang menjadi bahan politik bagi para penguasa."
"Kamu ada benernya juga sih," lirih Putri pelan. "Tapi untungnya aku hanya sekali mengikuti balapan itu," kekehnya.
"Yakin sekali?" tanya Arash.
"Dua kali," ralat Putri cepat. "Eh, tapi bagaimana kamu bisa tahu aku pernah ikut balapan?" tanya Putri heran.
"Bukankah tadi aku sudah mengatakan, jika aku sudah mengecek kehidupan kamu," jawab Arash.
"Untuk apa? Dasar tidak sopan mengecek masa lalu orang lain," gerutu Putri kesal.
"Maaf, aku hanya penasaran aja. Karena kamu sangat handal saat membawa mobil semalam," sesak Arash dengan sungguh-sungguh.
"Apa ada lagi yang kamu cari tahu?" tanya Putri penasaran.
"Tidak ada yang lain. Selain kamu sangat menyayangi Mama, adik-adik kamu, dan juga semua keluarga Mama kamu yang sekarang dan juga keluarga papa kamu."
"Kamu sudah seperti penguntit," ujar Putri sambil meraba bulu kuduknya.
"Sekali lagi aku minta maaf."
__ADS_1
"Kita sudah sampai, ayo turun," ajak Putri saat sudah memarkirkan mobilnya di parkiran cafe.
"Tidak, aku di sini saja. Aku akan tidur sebentar," tolak Arash dan kembali menutup kedua matanya.
"Dasar keras kepala," gumam Putri dan turun dari mobil.
Gadis itu pun mencari keberadaan Om Martin saat sudah masuk ke dalam cafe.
"Maaf Om,. Putri terlambat, ya?" ujar Putri saat sudah mendudukkan bokongnya di kursi.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Om Martin.
"Belum, sengaja mau sarapan sama, Om."
"Oke, kebetulan sekali Om sudah memesan dua nasi goreng. Kamu mau nasi goreng, kan?" tanya Om Martin.
"Iya, Om."
Tak berapa lama pesanan mereka pun datang, Putri dan Om Martin menikmati makanan yang terhidang dengan sambil berbicara membahas tentang keluarga pria paruh baya itu.
"Baiklah, Om, terima kasih banyak atas sarapan paginya," ujar Putri dan mengambil flashdisk yang di letakkan di atas meja oleh om Martin.
"Sama-sama. Om harap itu bisa membantu kamu."
"Iya, Om. Semoga saja."
"Kalau begitu, Om duluan ya. Om ada rapat jam sembilan nanti."
"Iya, Om. Silakan. Terima kasih banyak ata straktirannya."
"Sama-sama."
Om Martin pun berlalu, Putri mengambil tasnya dan hendak berlaku keluar. Gadis itu kembali teringat akan Arash yang belum sarapan dan sedanh tertidur di dalam mobil.
"Sebaiknya aku belikan dia sarapan," gumam Putri dan memesan nasi goreng beserta sebotol air mineral.
Setelah pesanannya selesai, Putri pun kembali menuju ke mobilnya. Gadis itu membuka pintu mobil dengan perlahan dan mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Akkh, kamu mengejutkan aku," ujar Putri saat gadis meletakkan paper bag ke kursi penumpang bagian belakang, dan saat dia kembali duduk normal, Putri di kejutkan dengan Arash yang sudah membuka matanya.
"Maaf," lirih Arash dan menahan untuk tidak menguap.
"Masih mau tidur lagi?" tanya Putri yang di jawab gelengan dengan Arash.
"Kenapa?"
Putri kembali mengambil paper bag yang ada di kursi penumpang bagian belakang dan di berikannya kepada Arash.
"Makan, lah." titah Putri sambil memberikan paper bag kepada Arash.
"Apa ini?"
"Nasi goreng."
"Terima kasih banyak," ujar Arash dan langsung mengambil isi dari paper bag tersebut.
"Apa aku boleh makan di dalam mobil kamu?" izin Arash.
"Silakan."
"Terima kasih." Arash pun langsung menikmati nasi goreng yang sudah Putri belikan untuknya.
__ADS_1