
Abash dan Sifa duduk di sebuah meja dan menunggu pesanan mereka datang.
“Kamu seneng nggak?” tanya Abash.
“Seneng dong.” Sifa menopang dagunya dengan telapak tangan dan menatap sang suami yang sangat tampan dengan topi koboi yang masih terpasang di kepalanya.
“Aku masih nggak nyangka kalau kamu ada di sini sama aku, Mas. Aku kira aku bakalan sendirian di Bali.”
Abash terkekeh mendengar penuturan sang istri barusan menggenggam sebelah tangan Sifa yang ada di atas meja.
“Kejutan yang aku bikin sama Papa Arka sukses dong?” Abash menaik turunkan alisnya dengan gerakan cepat dan tersenyum, membuat Sifa menjadi geli sekaligus sebal melihatnya.
Pelayan resto datang dan menghidangkan menu makanan laut yang terlihat sangat mengunggah selera. Bahkan, Sifa terlihat menelan ludahnya sesekali saat melihat kepiting dan udang yang terlihat montok dan menggiurkan, membuat perutnya lagi-lagi meronta meminta untuk diisi.
"Silahkan di nikmati hidangannya, Tuan, Nona," ujar pelayan setelah selesai menghidangkan menu yang telah di pesan oleh Abash di atas meja mereka. Wangi aroma makanan tersebut menguar di bawah hidung mereka.
"Terima kasih," sahut Sifa dengan tersenyum dan menggandeng lengan Abash dengan mesra. Sengaja, karena tatapan pelayan wanita yang mengantarkan makanan mereka melirik Abash dan tampak sekali jika dia sangat betah melihat suaminya itu.
Sifa sudah bisa menebak, jika pelayan yang mengantarkan makanan untuk mereka, sepertinya naksir dengan sang suami. Untuk itu, Sifa sengaja mempertegas jika Abash adalah miliknya dengan cara menggelayut manja di lengan Abash.
Abash melirik sang istri dan sadar dengan tingkah Sifa. Melihat betapa menggemaskannya sang istri yang sedang cemburuan, Abash pun sengaja mengecup bibir Sifa dengan cepat, sehingga membuat wanita itu terkejut. Dan terpaku bak patung. Dia tidak menyangka jika Abash akan menciumnya seperti itu di tempat umum. Pelayan yang mengantarkan makanan menjadi salah tingkah dibuatnya. Dia merasa malu melihat kedekatan wanita dan pria ini sehingga dia berpamitan untuk meninggalkan tempat itu.
"Mas, malu di lihat orang tahu," cicit Sifa dengan wajah yang merona dan menjauhkan tubuhnya dari sang suami. Akan tetapi, Abash hanya terkekeh saja, seakan tidak peduli dengan pandangan orang-orang yang tertuju kepada mereka.
"Biarin aja, biar mereka tahu jika aku milik kamu dan kamu milik aku," bisik Abash dengan mesra di telinga Sifa.
Sifa semakin tidak bisa mengontrol rona merah yang ada di wajahnya saat ini. Rasanya panas dan membuat dadanya dag-dig-dug tidak karuan.
"Kamu tahu Sayang, wajah kamu saat ini sudah mirip dengan kepiting rebus itu," tunjuk Abash ke atas meja di mana ada udang dan kepiting berwarna merah tersedia di sana.
Sifa membulatkan matanya, tangan wanita itu refleks menutupi wajahnya yang malu.
"Maasss …." pekik Sifa kesal yang mana di sambut tawa oleh sang suami. Lagi-lagi Abash gemas dan rasanya tidak bisa melewatkan moment yang menyenangkan itu bersama Sifa. Kapan lagi dia bisa melihat wajah istrinya yang merona malu seperti itu?
"Ayo makan, keburu dingin gak enak," bujuk Abash yang di turuti oleh Sifa.
“Nggak usah gombal lagi ya.” Pinta wanita itu kepada sang suami.
“Nggak. Nggak akan kalau di sini, tapi nanti di kamar.”
Blusshhh!
Wajah Sifa kembali merona mendengar ucapan Abash yang seperti itu. Dia benar-benar dibuat malu dan melayang akan perlakuan Abash yang seperti ini untuknya.
Sifa benar-benar menikmati hidangan makanan yang tersaji di atas meja. Wanita itu sangat menikmati rasa segar dari kepiting yang dia hisap dan gigit dagingnya. Rasa manis dan gurih yang tercampur menjadi satu, benar-benar sangat memanjakan lidahnya yang terus bergoyang dan menari di dalam mulut bersatu dengan bumbu khas yang membuatnya tidak bisa mengalihkan mata dan pikirannya dari sana.
"Emm, ini enak banget, Mas," seru Sifa dengan mulut yang penuh. Bahkan, dia tidak sadar jika sang suami memperhatikan dia yang makan dengan tidak ‘slay’ sama sekali. Tangannya belepotan karena bumbu dari kepiting tersebut. Sudut bibir Sifa pun tak luput dari saus merah makanan itu.
"Mau lagi?" tawar Abash yang di jawab anggukan oleh Sifa.
"Tapi kamu makan juga, Mas," pinta Sifa.
"Iya, sayang. Aku sekalian makan kok."
Abash pun memecahkan cangkang kepiting dengan menggunakan tang dan memberikannya kepada Sifa. Istrinya itu dengan senang hati dan tanpa malu-malu menyantap makanan tersebut. Jangan sampai makanan ini tersisa. Mubazir jika tidak habis, kan?
Abash melihat sang istri yang begitu menikmati makanan laut yang tersaji di atas meja dengan rakus, menelan salivanya sedikit sulit. Dengan hanya melihat Sifa makan saja itu sudah membuat Abash merasa kenyang.
"Mas," tegur Sifa sambil menunjuk ke arah piring Abash.
"Iya, sayang."
"Kamu juga makan, Mas, nanti nasinya kering gak enak loh."
__ADS_1
"Iya .. iya .. ini aku makan, ya!" Abash pun menuang saus asam manis kerang yang bercampur dengan sayur mayur seperti wortel dan jagung. Ada udang dan kepiting juga di dalam masakan tersebut. Seketika nasi hangat yang ada di piring Abash menjadi penuh warna dengan makanan itu.
Abash mulai menikmati makanan miliknya. "Emm, ini juga enak loh, sayang. Kamu mau coba?" tawar Abash sambil memberikan daging kerang kepada sang istri.
Sifa membuka mulutnya, karena Abash langsung menyodorkan daging kerang tersebut ke arah mulutnya.
"Emm, ini enak, Mas. Pedasnya pas."
"Pakai nasi lebih enak loh, sayang," goda Abash dan membuat Sifa mencebikkan bibirnya. Abash makan dengan cukup lahap. Rasanya nikmat, apa lagi dengan adanya sang istri yang makan bersama dengan dirinya membuat rasa nikmat yang ada di makanannya menjadi berkali-kali lipat nikmatnya.
Pakai nasi memang lebih enak, tapi itu hanya berlaku untuk orang-orang yang makannya normal. Tidak seperti dirinya yang tidak suka dengan nasi. Sama sekali tidak suka, apapun alasannya dan mau di campur dengan apa lauknya. Tetap saja Sifa tidak bisa makan nasi.
“Ayo, Sayang. Kamu juga harus belajar buat makan nasi.” Abash memaksa, tapi tangan yang telah dia sodorkan dia tarik kembali saat melihat tatapan mata Sifa yang mendelik marah.
Jika sudah seperti ini, Abash sudah tidak bisa memaksa lagi. Daripada menghadapi kemarahan wanita tersayangnya ini.
"Mas, kamu bisa naik sky boat?" tanya Sifa.
Wanita itu sudah sangat lama sekali penasaran bagaimana rasanya naik sky boat. Akan tetapi, dia merasa takut untuk menaiki kendaraan air itu dan hanya bisa membayangkan saja bagaimana rasanya.
"Hmm, aku bisa. Kenapa, kamu mau naik itu?" tanya Abash.
"Iya, Mas. Aku ingin tahu rasanya, bagaimana naik sky boat."
"Baiklah, setelah ini kita akan naik sky boat," putus Abash membuat senyum Sifa terbit di bibirnya. Akan tetapi, Sifa teringat jika mereka tidak mungkin akan langsung naik Sky boat setelah makan siang ini.
"Tapi, Mas, habis makan kan kita harus berjalan-jalan lagi, Mas. Mencari pernak pernik yang lucu, sekalian biar makanan ini turun," rengek Sifa.
Abash menaikkan alisnya sebelahnya. Sebenarnya apa yang Sifa inginkan. Jalan-jalan atau naik sky boat?
"Aku ingin saat berfoto nanti, tubuhku di hiasi dengan pernak pernik yang ada di Bali, Mas. Boleh, ya? Setelah jalan-jalan, kita naik sky boat, gimana? Sore-sore aja naik sky boatnya. Kalau sekarang kan masih panas banget, Mas," bujuk Sifa dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami dengan manja. Abash tidak bisa menolak keinginan dari istrinya. Sungguh Sifa sangat imut dan dia tidak bisa menolak pesona dari wanita itu.
"Iya, sayang. Iya, aku ikut apa mau kamu aja, ya," sahut Abash.
"Makasih sayang. Kamu memang suami yang terbaik," puji Sifa yang mana membuat Abash tersenyum malu dan membuat pipi laki-laki itu merona bersemu merah.
"Sifaaaa … kamu gak tahu aja gimana rasanya gas, token listrik, minyak, beras, gula, dan susu habis secara bersamaan. Kamu gak akan tahu gimana rasanya Sifa!"
Eh, tapi kan Sifa mana mungkin bisa merasakan hal itu? Secara duitnya Abash gak akan habis tujuh belas turunan. Jadi, sudahlah, biarkan Sifa menikmati masa-masa pengantin barunya itu engan segala yang dia inginkan. Toh, Abash juga tidak akan menolak apa yang Sifa mau Beruntung untuk Sifa yang memiliki suami penyayang dan penyabar seperti Abash. Intinya, setiap orang kan punya masanya sendiri, punya kesulitan sendiri baik di masa lalu maupun masa sekarang. Dan hal itu pula yang Sifa rasakan saat ini. Jika di masa lalu dia kesulitan dan serba kekurangan, maka Abash adalah obatnya yang membuat Sifa bahagia setelah kesulitan dan kesedihannya di masa lalu.
Sifa dan Abash kembali melanjutkan makannya hingga habis.
“Aku kenyang, Mas.” Sifa mengelus perutnya yang sedikit membuncit karena kekenyangan. Abash tersenyum dan melirik piring yang ada di atas meja.
‘Gimana nggak kekenyangan. Hebat juga napsu makannya,’ batin Abash. Abash tidak keberatan dengan cara makan Sifa, dia malah senang jika Sifa bisa menghabiskan makanan yang banyak. Itu artinya, uangnya tidak akan menganggur di dalam brankas miliknya dan dia harus lebih rajin lagi dalam mencari uang.
“Sudah?” tanya Abash.
“Sudah. Yuk!”
Mereka berdua kembali menyusuri jalanan dan berjalan di sekitar tenda yang menjual berbagai pernak pernik. Tidak perlu pergi ke tempat yang jauh, di sekitaran hotel tempat mereka menginap juga sudah ada di sepanjang jalan penjual dengan pernak pernik lucu yng sulit sekali untuk ditolak oleh wanita itu.
"Mas, lucu banget. Rasanya lihat semua pernak pernik ini, aku benar-benar merasa gemas dan ingin memborong semuanya," ujar Sifa sambil terkekeh dan menggenggak apa yang dia anggap lucu. "Tapi ... untuk apa juga aku beli semuanya? Pemborosan kan?" tanya wanita itu melirik pada suaminya.
Abash menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Istrinya ini aneh, jika dia memang mau, kenapa harus bilang pemborosan juga?
"Kalau kamu mau membeli semuanya. Aku bisa kok membelikannya."
"Benarkah? Jadi aku bisa membagikan semua ini sebagai oleh-oleh," seru Sifa senang.
Eh, Abash kira Sifa ingin membeli untuknya sendiri.
"Tentu. Tentu kamu bisa beli buat oleh-oleh. Kamu tinggal pilih mau yang mana," tawar Abash senang, apa lagi melihat mata dan bibir Sifa yang berseri-seri melengkung dengan indahnya.
__ADS_1
"Emm, tapi kalau aku beli terlalu banyak. Ntar bagasinya kepenuhan, Mas. Kita harus bayar bagasi tambahan lagi," lirih Sifa, kali ini dia bingung sendiri.
Abash menggelengkan kepalanya. Sungguh lucu istrinya ini. "Kamu ini, jangan mikirin masalah bagasi. Nggak masalah kamu mau beli seberapa banyak juga. Mau semua yang ada di ujung jalan sampai ke ujung kamu beli juga nggak masalah.”
“Heh?” Sifa bingung, menatap suaminya.
“Karena kita nanti kembalinya naik pesawat pribadi," bisik Abash dekat di telinga sang istri.
"Hah? Serius, Mas?" Mata Sifa membulat tak percaya.
"Iya, sayang. Jadi, beli semua yang kamu suka. Kamu boleh borong yang kamu mau. Biar aku yang bayarkan.”
"Terima kasih banyak, Mas," seru Sifa sambil melompat senang dan memeluk tubuh Abash.
Sifa melepaskan pelukannya dari Abash. "Eh, kira-kira untuk Mama, Papa, dan yang lainnya di beliin apa, ya?" tanya Sifa kepada sang suami. "Ini pertama kalinya aku jalan-jalan ke Bali. Jadi, aku ingin membelikan sesuatu yang berarti dan berharga khas Bali."
"Emm, apa ya? Bagaimana kalau kita lihat-lihat saja dulu? Nanti, kalau ada yang kamu suka, tinggal beli," usul Abash.
"Baiklah, Mas," ujar Sifa menyetujui usul sang suami. Sifa mulai mellihat-lihat andai ada barang yang ingin dia beli. "Eh, Mas, kalau aku beli banyak-banyak, apa uang kamu gak akan cepat habis?" tanya Sifa merasa menyesal, karena sudah berpikiran untuk memborong semua pernak pernik yang dia inginkan.
"Gini, sayang. Sekarang aku kasih tugas untuk kamu," ujar Abash.
"Tugas? Tugas apa?" tanya Sifa bingung.
"Tugas kamu itu sangat gampang sekali loh, sayang."
"Memangnya Mas mau kasih aku tugas apa? Tugas bantuin kerjaan Mas?" tanya Sifa memastikan. "Baiklah, aku akan membantu Mas dengan senang hati."
Abash menggelengkan kepala dan menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri, seolah mengatakan jika apa yang Sifa tebak adalah sebuah kesalahan.
"Jadi apa, Mas? Cepat kasih tau, aku sungguh penasaran," tanya Sifa sambil merengek dan menggoyangkan tangan Abash.
"Kamu mau tahu atau mau tahu banget?" tanya Abash yang mana membuat Sifa merasa geram dan mencubit pinggang sang suami gemas.
“Awww!” Abash kesakitan akibat cubitan istrinya.
"Maas," pekik Sifa pelan menatap tajam.
"Iya sayang, iya, ampun," kekeh Abash sambil meminta kepada sang istri untuk melepaskan cubitannya.
"Makanya, jangan bikin aku kesal dong, Mas. Cepat katakan," desak Sifa.
"Oke .. oke .. baiklah. Sekarang, sini mendekat," titah Abash sambil memainkan jari telunjuknya untuk meminta kepada sang istri lebih dekat kepadanya.
"Apa, Mas?" tanya Sifa yang sudah menyematkan rambutnya ke belakang telinga agar tidak ada yang menghalangi suara bisikan sang suami, kemudian semakin mendekatkan telinga ke wajah suaminya.
Abash mengulum senyumnya, tangan pria itu perlahan mengambil dompet yang ada di dalam kantongnya, kemudian mengeluarkan lima puluh lembar uang merah. Abash mengambil tangan Sifa, sehingga membuat wanita itu mengernyitkan keningnya.
"Tugas kamu adalah setiap satu jam sekali, kamu harus bisa menghabiskan uang pemberian aku ini. Jika tidak, aku akan menghukum kamu," ujar Abash sambil meletakkan uang sebanyak lima juta rupiah itu ke tangan Sifa.
Sifa membulatkan matanya, di saat melihat uang sebanyak itu di atas telapak tangannya saat ini. Di tambah lagi tugas yang diberikan Abash sangatlah sulit baginya. Bagaimana bisa dia bisa menghabiskan uang sebanyak lima juta dalam waktu satu jam? Oh, itu bukan uang yang sedikit, di mana dia tidak pernah menghabiskan uang sebanyak itu dalam waktu yang cepat.
"Kamu punya waktu tiga jam lagi sampai sholat ashar. Dan tugas kamu berakhir sampai saat itu, Jadi, karena aku memberikan uang sebanyak lima juta kepada kamu dan kamu harus menghabiskan setiap satu jam sekali sebanyak lima juta. Maka, aku akan memberikan sisanya nanti, saat aku ketemu mesin ATM, ya. Atau, kamu mau belanja pakai kartu kredit aku?" tawar Abash sambil mengibaskan kartu miliknya di depan wajahnya.
Sifa langsung menggelengkan kepalanya cepat. Jika dirinya memakai kartu kredit sang suami, itu artinya dia hanya bisa berbelanja di tempat yang menyediakan pembayaran dengan menggunakan kartu. Lalu, bagaimana Sifa akan membantu penjual yang ada di pinggir jalan ini? Pastinya mereka lebih berharap jika jualanan mereka laku keras. Dan satu hal lagi, tidak seru rasanya jika belanja tanpa menawar. Iya, kan?
"Tidak, Mas, aku belanja pakai uang saja," putus Sifa akhirnya menyimpan uang yang ada di tangannya ke dalam tas anyaman rotan tadi.
"Baiklah, ayo kita mulai dari sekarang."
Sifa pun langsung bergegas untuk mencari penjual yang lebih membutuhkan barang dagangannya untuk di beli. Terutama dia melihat si penjual yang sudah berumur dan dengan dagangannya yang masih tersisa banyak. Sifa lebih mengutamakan mereka. Mereka pasti lebih membutuhkan daripada yang lainnya.
Abash hanya terkekeh pelan, di saat melihat sang istri tergesa-gesa. Persis seperti sedang berada di salah satu siaran televisi yang memberikan uang hingga membuat si penerimanya kaget. Dia hanya memperhatikan bagaimana repotnya sang istri untuk menghabiskan uang tersebut dalam waktu yang singkat.
__ADS_1
Abash pun bergegas menghampiri sang istri dan menyentuh pundak wanita itu.
"Santai saja, sayang. Tidak usah berlari dan tergesa-gesa begitu. Aku tidak ingin kamu terluka karena berlari," bisik Abash yang sudah merangkul pinggang sang istri.