
Zia menghela napasnya pelan sambil melihat Kak Lucas sedang memeriksa tubuh Arash.
"Bagaimana, Kak?" tanya Zia di saat Kak Lucas sudah selesai memeriksa kondisi tubuh Arash.
"Dia hanya demam biasa karena kelelahan. Kamu jangan khawatir, Zi," ujar Kak Lucas memberitahu.
Zia menghela napasnya pelan. Gadis itu merasa sangat bersyukur sekali jika Arash baik-baik saja.
"Ini obat penurun demam. Berikan obat ini di saat Arash sudah terbangun," ujar Kak Lucas sambil memberikan obat yang ditujukan untuk Arash.
Kak Lucas juga sudah memasang infus di pergelangan tangan Arash, agar tubuh pria itu mendapatkan vitamin dan segera pulih.
"Terima kasih, Kak," ujar Zia sambil mengambil obat yang diberikan oleh Kak Lucas.
"Kalau begitu, Kakak balik dulu, ya?"
"Eh, kenapa buru-buru, Kak? Sebaiknya Kakak makan malam di sini saja, si mbok udah siapin semua menunya," tahan Zia.
"Lain kali aja, Zi."
"Tadi aku yang masak loh, Kak. Aku masak ikan acar kuning," ujar Zia yang mana membuat Kak Lucas membulatkan matanya.
"Serius?" tanya Kak Lucas memastikan.
"Iya. Makan malam di sini aja, ya?" bujuk Zia lagi.
Kak Lucas tersenyum dan langsung menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Kebetulan perut Kakak langsung berbunyi."
Kak Lucas dan Zia pun berjalan menuju meja makan, di mana menu makanan sudah tersedia di atas meja.
"Ini seriusan kamu yang masak, Zi?" tanya Kak Lucas memastikan.
"Di bantuin sama si mbok juga, Kak," kekeh Zia. "Eh tapi, Kakak jangan bilang-bilang ya, kalau Zia yang memasak semaunya," bisik Zia seolah tidak ingin seseorang mendengarnya.
"Kenapa?" tanya Kak Lucas dengan kening mengkerut.
Zia hanya menggelengkan kepalanya, membuat Kak Lucas tersenyum kecil.
"Baiklah. Ini akan menjadi rahasia kita." Kak Lucas pun mengedipkan matanya sebelah, menyetujui permintaan Zia untuk merahasiakannya.
Walaupun Arash dan Zia tidak pernah menceritakan apa yang terjadi di dalam rumah tangga mereka. Akan tetapi seluruh keluarga yang sudah mengenal bagaimana sifat keras kepalanya Arash, sudah bisa menebak jika hubungan rumah tangga Arash dan Zia tidak baik-baik saja. Seolah ada tembok yang menghalangi di antara kedua suami istri itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Kak."
Kak Lucas sudah pulang ke rumahnya, Zia pun bergegas menyiapkan makan malam untuk sang suami.
"Tolong di bawa ke kamar ya, mbok," pinta Zia.
"Baik, Non." Mbok Yuyun pun membawa nampan yang berisi bubur nasi untuk Arash, agar pria itu langsung menelan makanannya dan bisa meminum obat.
Saat Zia dan Mbok Yuyun masuk ke dalam kamar, bersamaan dengan itu Arash pun terbangun dari tidurnya.
"Mas," tegur Zia dan berjalan mendekati pria itu.
"Aku kenapa?" tanya Arash tanpa menoleh ke arah Zia dan menatap pergelangan tangannya yang di infus.
"Tadi Mas pingsan, terus aku hubungi Kak Lucas untuk memeriksa keadaan kamu," jawab Zia.
"Apa kamu ada memberitahu Mama?" Kali ini, Arash bertanya sambil menatap wajah sang istri.
Zia menggelengkan kepalanya pelan.
"Bagus, jangan beritahu mama. Aku tidak ingin beliau khawatir."
"Iya, Mas."
"Makan dulu, Mas, agar kamu bisa minum obat," titah Zia.
"Aku kenyang."
"Mas, kasihan Mbok Yuyun sudah capek-capek memasak bubur untuk kamu. Padahal saat ini adalah jadwal istirahat mereka," ujar Zia yang mana membuat Arash menghela napasnya pelan.
Pria itu pun akhirnya mengalah. Dia mengambil nampan dengan susah payah, hingga akhirnya Zia membantu pria itu untuk memindahkan nampak ke atas pangkuan Arash.
"Mau aku bantu siapin?" tawar Zia.
"Aku bisa makan sendiri," tolak Arash dan mengambil sendok yang ada di atas nampan.
Zia tersenyum, gadis itu pun kembali bangkit dari duduknya dan menjauh dari sang suami.
"Jangan lupa minum obatnya setelah selesai makan, Mas. Agar suhu badan kamu cepat turun," ujar Zia sebelum berpamitan keluar dari kamar Arash.
Zia harus menidurkan Rayyan dan Yumna, karena kedua buah hatinya itu sangat manja dengan dirinya. Jika bukan Zia yang menemani tidur, maka Rayyan dan Yumna tidak mau tertidur dengan cepat.
__ADS_1
*
Zia terbangun dari tidurnya, hal pertama yang dia lihat saat terbangun adalah Rayyan dan Yumna. Zia bernapas lega, di saat melihat jika anak-anaknya masih tertidur dengan lelap. Gadis itu tetiba saja tidak bisa kembali tertidur. Dia kepikiran tentang kondisi Arash saat ini. Zia pun bangkit dari tidurnya untuk melihat kondisi sang suami saat ini. Apakah pria itu masih demam atau demamnya sudah turun.
Zia pun berjalan secara perlahan, agar tidak membangunkan Rayyan dan Yumna. Gadis itu juga tidak menutup pintu kamarnya sampai habis. Hanya di sisakan terbuka sedikit saja.
Zia mengulurkan tangannya ke handle pintu kamar Arash, kemudian secara perlahan dia menekan handle pintu itu, sehingga membuat pintu kayu itu terbuka.
Zia masuk ke dalam kamar Arash secara hati-hati. Dapat dia lihat jika Arash tertidur dengan perasaan gelisah. Zia pun berjalan semakin mendekat ke arah sang suami untuk memastikan jika Arash baik-baik saja.
"Mas?" tegur Zia sambil memeriksa suhu tubuh Arash.
Zia menghela napasnya pelan, di saat pria yang sedang gelisah dalam tidurnya itu tidak meminum obat yang dia berikan tadi.
"Dasar keras kepala," gumam Zia dan melihat infus yang masih tersambung ke pergelangan tangan Arash.
Zia pun berniat untuk mengompres tubuh sang suami.
"Put ...put ..." gumam Arash dengan lirih, di saat Zia sedang mengompres kening pria itu.
"Jangan tinggalin aku, Put, jangan pergi," racun Arash lagi.
Entah mengapa, mendengar racauan Arash, membuat hati Zia merasa sakit.
"Tak bisakah kamu memandang ke arah aku, Mas? Sekali saja. Tak bisakah kamu menganggap aku ada?" batin Zia dengan air mata yang berlinang.
Jujur saja, enam bulan hidup di dalam satu atap yang sama dengan Arash, membuat hati Zia melunak dan perlahan jatuh hati kepada pria ber-tak perasaan itu.
Salahkah Zia yang memiliki perasaan cinta ini untuk sang suami?
Zia terkejut, di saat Arash menarik lengannya. Mata pria itu perlahan juga terbuka dengan sayu.
"Put, aku tahu kamu di sini. Aku tahu kalau kamu tidak akan pernah meninggalkan aku, Put. Aku tahu. Aku tahu kamu tidak akan pernah meninggalkan aku. Aku mencintai kamu, sayang. Sangat mencintai kamu," ujar Arash dengan lirih dan menarik tubuh Zia mendekat ke arahnya.
Arash mengucap bibir Zia dengan lembut, membayangkan jika gadis itu adalah istrinya.
"Aku juga mencintai kamu, Mas," batin Zia di tengah-tengah ciuman lembut yang Arash berikan saat ini.
Sakit?
Ya, itulah yang Zia rasakan saat ini.
__ADS_1
Hatinya terasa sangat sakit, akan tetapi dia tidak bisa menolak perasaan yang perlahan muncul di dalam hati. Zia pun membiarkan Arash mencium dirinya, walaupun dia tahu, jika sang suami saat ini sedang berpikir jika dirinya adalah almarhumah Putri.
"Maafin aku, Mbak. Karena aku telah jatuh cinta dengan suami, Mbak," ujar Zia di dalam hati dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.