Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 306


__ADS_3

Sifa tidak menyangka, jika dirinya mendapatkan sebuah kejutan yang luar biasa dari calon mertua dan juga kekasihnya.


Tidak, tidak hanya calon mertuanya saja. Tetapi juga seluruh keluarga Moza.


Air mata pun tidak bisa Sifa bendung. Bulir bening yang sudah menganak sungai di pelupuk mata, langsung mengalir begitu saja membasahi pipi mulusnya yang terlihat sedikit tirus, karena akhir-akhir ini gadis itu tidak memiliki waktu yang cukup untuk tidur.


"Sayang, kenapa nangis?" Mama Kesya pun langsung menghampiri calon menantunya.


"Hiks .. Tante, hikss ... I-ini .."


Mama Kesya tidak membiarkan Sifa melanjutkan kalimatnya. Wanita paruh baya itu pun langsung memeluk calon menantunya itu.


"Sstt ... Ini bukan apa-apa, sayang. Ini hanya ucapan selamat kecil-kecilan dari kami. Keluarga kamu," bisik Mama Kesya yang mana membuat Sifa semakin terisak.


"Hiks ... Tante .."


Mama Kesya mengusap punggung Sifa, menenangkan gadis itu hingga tangisnya mereda.


"Udah enakan?" tanya Mama Kesya yang diangguki oleh Sifa.


"Calon cucu mantu, Kakek," panggil Kakek Farel.


Sifa pun mengusap air matanya, gadis itu pun menghampiri Kakek Farel dan berlutut di hadapan pria yang sedang duduk di kursi roda itu.


"Kakek senang, bisa memiliki cucu mantu seperti kamu. Kuat, pintar, dan pantang menyerah," lirih Kakek Farel sambil mengusap kepala Sifa dengan penuh kasih sayang.


"Hiks .. Kakek ..."


"Kakek harap, Kakek bisa melihat pernikahan kamu dengan Abash berlangsung."


Mendengar perkataan Kakek Farel, seketika tangis Sifa pun kembali pecah. Ingin rasanya dia menerima lamaran Abash malam ini juga, demi pria yang sudah dia anggap seperti kakeknya sendiri.


"Kakek, hiks ..."


"Jangan nangis. Kakek gak mau kamu terpaksa menikah dengan Abash karena Kakek. Yang terpenting untuk Kakek adalah, kamu dapat meraih semua cita-cita dan impian kamu."


Sifa mengaggukkan kepalanya, gadis itu sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tangis haru serta sedih pun bercampur menjadi satu.


Tidak hanya Sifa yang memangis, tetapi hampir semua orang yang ada di sana menangis mendengar kalimat yang keluar dari mulut Kakek Farel. Bahkan, orang yang paling teriris hatinya saat ini mendengar kalimat Kakek Farel adalah Lucas.


Ya, pria itu merasakan sesak di dalam dadanya di saat mendengar perkataan Kakek Farel yang berharap jika dapat melihat pernikahan Abash dan Sifa. Padahal, setiap malam Kakek Farel selalu meminta kepada Lucas, bahwa pria itu sangat ingin sekali melihat cucu kesayangannya itu menikah, sebelum ajalnya menjemput. Namun, menikah bukanlah hal yang mudah bagi Lucas, di mana seperti membalikkan telapak tangan seolah tidak ada beban yang harus di tanggung di sana.


Bang Fatih yang paham akan apa yang dirasakan oleh Lucas pun, menepuk bahu pria itu pelan dan menganggukkan kepalanya, di saat Lucas menoleh ke arah pria itu.


"Arash, Putri!" panggil Kakek Farel.


Sifa pun mundur dengan berjalan menggunakan lututnya, membiarkan Putri dan Arash berlutut di hadapan Kakek Farel.


"Kakek harap, kalian segera melangsungkan pernikahan kalian, ya?" pinta Kakek Farel.

__ADS_1


"Iya, Kek. Kami akan melangsungkan pernikahan kami secepatnya," ujar Arash tanpa ragu.


"Benar begitu, Putri?" tanya Kakek Farel memastikan.


"Iya, Kek. Putri dan Arash akan menikah secepatnya."


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Kakek harap, kalian bisa bahagia dengan pilihan kalian masing-masing."


Setelah memberikan petuahnya kepada para cucunya, Kakek Farel pun meminta kepada perawat untuk mengantarkannya ke dalam kamar, karena pria paruh baya itu butuh beristirahat saat ini juga.


"Baiklah, ayo kita cicipi hidangannya," ajak Mama Kesya, sehingga semua orang yang ada di sana pun bergegas menghapus ari mata mereka masing-masing.


*


"Sifa, aku salut sama kamu," puji Putri.


Saat ini hanya ada Putri, Sifa, Arash dan Abash saja yang sedang duduk di gazebo yang ada di pinggir kolam renang.


"Salut kenapa, Mbak?"


"Kamu itu pintar banget tau gak sih. Aku sangat salut sama kamu," puji Putri.


"Makasih, Mbak. Mbak juga pintar dan hebat. Saya juga salut sama, Mbak," ujar Sifa dengan tersenyum manis.


"Mana ada hebat-hebatnya saya. Instal ulang komputer aja saya gak bisa, Sifa," kekeh Putri.


"Kalau pun Sifa di suruh jadi pengacara seperti kamu, pasti Sifa juga gak akan bisa," tambah Abash.


"Iya, Mbak. Setiap orang itu memiliki keahlian berbeda-beda," timpal Sifa.


"Ya sih, tapi temen aku bisa instal komputer. Sedangkan aku gak bisa." Putri pun menghela napasnya pelan dan pasrah.


"Fa, kamu ntar ajarin aku instal komputer, ya?" pinta Putri.


"Arash kan ada, Put. Kok minta belajar sama Sifa?" tanya Abash.


"Ogah ah minta di ajarin sama Arash. Dia pelit orangnya," cibir Putri yang mana membuat mata Arash membulat.


"Memangnya kapan aku pelit sama kamu, sayang?" tanya Arash.


"Itu, kemarin itu pas aku minta ajarin tembak, kamu malah bilang ntar biar kamu aja yang tembak pas udah nikah. Aku gak perlu nembak-nembak," cibir Putri yang mana membuat mata Abash membulat di saat antenanya langsung menangkap apa maksud dari perkataan calon iparnya itu, sedangkan wajah Arash sudah merona karena menahan malu.


Bagaimana dengan Sifa?


Gadis itu sama polosnya dengan Putri, di mana dia juga pernah meminta kepada sang kekasih untuk mengajarkannya menembak. Dan, jawaban Abash hampir sama dengan apa yang dikatakan oleh Putri.


"Mbak, kok sama? Aku juga waktu itu pernah minta ajarin nembak sama Mas Abash, tapi dia gak mau ajarin. Alasannya sama persis dengan apa yang Mbak katakan tadi," ujar Sifa yang mana membuat mata Arash membulat dan menoleh ke arah sang kembaran.


Apa sampai sesama itu pemikiran mereka?

__ADS_1


"Iya, pelit kan mereka?" kesal Putri.


"Huum, Mbak. Mentang-mentang jago nembak," sambung Sifa.


"Iya. Eh, tapi, aku dengar kalau Mbak Quin jago memanah. Ntar kita minta ajarin sama Mbak Quin aja, ya. Saat pas Mbak Quin sudah melahirkan," usul Putri.


"Yang bener Mbak Quin jago memanah, Mbak?" tanya Sifa.


"Iya, Mbak Quin itu jago banget memanah. Berkuda juga jago."


"Waah, seru banget itu, Mbak. Aku udah lama banget pingin naik kuda," seru Sifa dengan mata yang berbinar.


"Nanti, pas jadwal aku dan kamu kosong, kita berkuda bareng, ya?" ajak Putri.


"Iya, Mbak. Janji, ya?"


"Gak boleh," tolak Abash dan Arash berbarengan.


"Kenapa, Mas?" tanya Sifa dengan kening mengkerut.


"Ntar, kamu berkudanya pas udah nikah aja," ujar Abash dengan wajah yang merona.


"Kenapa harus sudah menikah? Kalau aku hamil, gimana mau berkudanya?" rajuk Sifa.


"Gak papa, ntar pas kamu hamil masih bisa berkuda. Pokoknya kamu gak boleh berkuda dulu," larang Abash.


"Iya, kenapa?" tanya Sifa dengan bingung.


"Aku takut kamu jatuh," cicit Abash yang mana membuat Sifa mencebikkan bibirnya.


"Alasan aja kamu, Mas. Bilang aja kamu cemburu kan kalau aku waktunya lebih banyak dengan Mbak Putri?" tebak Sifa.


"Itu kamu tau," cicit Abash.


"Gak mau, pokoknya aku mau belajar berkuda dengan Mbak Putri," tegas Sifa.


"Gak boleh. Ntar kamu berkudanya dengan aku aja. Pas udah nikah tapi, ya. Biar halal."


Sifa pun mencebikkan bibirnya dengan kesal.


"Mbak, Mas Arash juga suka larang-larang Mbak, gak?" tanya Sifa.


"Gak sih, kenapa?"


"Mas Abash nyebelin banget," rajuk Sifa.


"Tapi cinta kan?" goda Putri.


"Banget, Mbak." Sifa pun merasa malu-malu mendengar godaan Putri.

__ADS_1


__ADS_2