
"Mas Serius?" tanya Sifa di saat Abash menceritakan tentang jalannya pertunangan Putri dan Arash.
"Huum, Arash paling tidak suka dengan penyanyi dangdut yang bernama Nassar, tetapi tadi dia benar-benar tidak bisa berkutik dan menolak demi menyenangkan calon mertuanya," kekeh Abash.
Saat ini, Abash dan Sifa sedang melakukan panggilan video untuk melepas rindu.
"Andai tadi kamu ikut, pasti akan seru sekali," ujar Abash dengan nada yang sendu.
Sifa tersenyum tipis, andai saja saat ini dia berada di dekat kekasihnya, mungkin dia akan memeluk lengan Abash saat ini.
"Ah ya, besok pengumuman kelulusan siapa yang akan bergabung di tim cobra. Aku harap, kamu lolos dalam pemilihan tersebut," ujar Abash dengan tulus.
"Hmm, aku harap begitu juga," lirih Sifa, tetapi ada satu hal yang membuatnya sedih.
Jika Sifa berhasil bergabung dengan tim cobra, maka gadis itu harus berpisah siap berpisah dengan Abash. Setidaknya dia harus menyelesaikan S2 nya di luar negeri. Tapi, sebelum itu Ssifa harus menyelesaikan S1 nya terlebih dahulu yang tinggal beberapa langkah lagi.
Abash yang melihat tatapan sendu dari sang kekasih pun, merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi di dalam hubungan mereka. Di mana Mama Kesya sudah berencana akan mengadakan perayaan pernikahan besar-besaran untuk Arash dan Abash di hari yang sama.
"Kamu sudah makan?" tanya Abash mengalihkan pembicaraan.
"Hmm? Sudah, Mas sendiri sudah makan?" tanya Sifa balik.
"Menurut kamu?"
Sifa terkekeh pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lupa, kalau Mas baru pulang kondangan," cicitnya pelan.
"Apa? Kondangan?" tanya Abash merasa geli mendengarnya.
"Iya, Mas kan baru pulang dari acara ulang tahun, kan? Itu artinya Mas baru pulang kondangan, kan?"
Abash tak bisa menahan tawanya, pria itu pun terbahak-bahak mendengar ucapan yang di lontarkan oleh sang kekasih.
__ADS_1
"Aku kok berasa jadi emak-emak, ya? Saat kamu bilang baru pulang kondangan?" kekeh Abash
"Eh, salah ya?" tanya Sifa merasa bersalah. "Jadi, harusnya aku bilang Mas baru pulang dari mana? Tempat ulang tahun?" tanya Sifa yang mana lagi-lagi membuat Abash tertawa.
"Sifa, kamu luc banget, sih?" kekeh Abash sambil mengontrol tawanya.
"Emangnya aku badut, apa?" cibir Sifa sambil mencebikkan bibirnya.
"Kamu bisa bilang kalau aku baru pulang dari pesta," ujar Abash memberi tahu.
"Ah ya, bener," kekeh Sifa sambil menepuk keningnya sendiri. "Kok aku bisa lupa, ya?"
Abash merasa sangat merindukan gadis yang ada di layar ponselnya saat ini. Sudah tiga hari mereka tak bertemu, karena Sifa yang sedang sibuk bolak balik ke kantor dan juga kampusnya. Sebisa mungkin, Sifa akan menyelesaikan jenjang kuliah sarjananya dalam waktu yang singkat.
"Sifa," panggil Abash dengan suara yang sendu.
"Hmm?" Sifa pun menatap layar ponselnya yang datar.
"Aku rindu."
"Mas, sepertinya aku harus mengakhiri panggilan, baterai ponsel aku udah mau habis," ujar Sifa memberitahu.
"Hmm, ya. Kalau begitu kamu jangan lupa cuci muka ya sebelum tidur. Jangan lupa mimpiin aku," pinta Abash.
"Iya, Mas."
Panggilan pun berakhir, Abash hanya menatap layar ponselnya yang saat ini sudah kembali ke menu utama.
"Akkh, ternyata memendam rasa rindu seberat ini?" lirih Abash sambil merebahkan tubuhnya ke sofa.
"Tunggu, bagaimana jika Sifa belum makan malam?" lirih Abash.
__ADS_1
Pria itu pun bangkit dari duduknya dan bergegas keluar dari dalam kamar. Untungnya dia tidak berpas-pasan dengan Mama Kesya, jika tidak, sudah bisa di pastikan jika Abash tidak akan bisa menemui pujaan hatinya saat ini.
"Pak Udin," panggil Abash di saat melihat pria yang berumur tiga puluh delapan tahun itu sedang menikmati kopi di dapur bersama pengawal yang lainya.
"Ya, Tuan Muda?" sahut Pak Udin dengan berdiri.
"Tolong antarkan saya," titah Abash yang langsung di turuti oleh Pak Udin.
Sebenarnya Abash tidak ingin merepotin orang lain, tetapi mengingat kakinya yang belum sepenuhnya sembuh pun, membuat dia terpaksa meminta pertolongan orang lain untuk menyetir mobil.
"Kita mau ke mana?" tanya Pak Udin saat Abash sudah berada di dalam mobil.
"Ke apartemen saya."
Rasa rindu yang membuncah pun, membuat Abash nekad malam-malam ingin menemui sang pujaan hati. Tak lupa pula dia membelikan burger, kebab, takoyaki, dan cemilan lainnya untuk pujaan hatinya itu. Sudah bisa Abash bayangkan, bagaimana reaksi Sifa yang pasti akan terkagum-kagum kepada dirinya.
*
Sifa yang baru saja membersihkan diri dan memakai baju tidurnya pun, mengernyitkan kening di saat mendengar suara bel yang bebunyi. Gadis itu pun melirik ke arah jam yang ada di dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat ini. Dia benar-benar merasa penasaran, siapa yang datang semalam ini ke apartemennya.
Merasa jika tidak memiliki janji dengan siapa pun, Sifa mengabaikan suara bel itu dan memilih untuk tidur. Sebelum tidur, dia pun melangkahkan kaki ke dapur untuk meminum segelas susu hangat.
Ting .. tong .. ting ... tong ...
Suara bel terus berbunyi, sehingga membuat Sifa merasa tak nyaman dan mendengus kesal.
Siapa sih yang datang malam-malam begini?" ketus Sifa dan terpaksa melangkahkan kakinya menuju ke pintu apartemen.
Sifa melihat ke layar monitor, siapa yang berada di balik pintu tersebut.
"Mas Abash?" lirihnya dengan terkejut. Secara bersamaan pula, pintu terbuka dan menampilkan sosok yang baru saja dia lihat dari balik layar monitor kecil yang ada di dinding.
__ADS_1
Abash menghela napasnya dengan berat dan terlihat kesal.
"Kamu tau aku datang, lalu kenapa gak bukain pintu?"