Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 36 - Kamu Hebat


__ADS_3

Jam makan siang tiba, sepertinya yang Sifa katakan tadi, dia tak ikut bergabung bersama yang lainnya pergi ke kantin. Sifa lebih memilih makan di rootop gedung ini. Entahlah, Sifa hanya menyukai suasana tinggi dan tenang.


"Ngapain kamu di sini?"


Suara bariton yang sudah 2 hari ini tak Sifa dengar pun, akhirnya ia kembali mendengarnya. Gadis itu menoleh dengan mulut yang penuh.


Sifa mengunyah makanannya yang ada di dalam mulut dan menelannya dengan cepat.


"Bapak kenapa ada di sini?" tanya Sifa bingung tanpa menjawab pertanyaan Abash.


"Saya tanya kok kamu malah tanya balik. Ini kan perusahaan saya," ujar Abash sambil mendudukkan dirinya di sebelah Sifa.


"Saya suka aja makan di sini."


"Kenapa gak ke kantin aja? Bersama yang lain?"


"Saya gak nyaman aja. Lagi pula, saya udah terbiasa makan sendiri. Di sini tempatnya enak, tinggi. Saya suka."


Abash menaikkan alisnya sebelah. "Kamu suka tempat tinggi?"


"Heum. Kalo di tempat tinggi itu, rasanya saya bisa melihat semuanya. Juga, orang-orang tak akan bisa melihat saya." Sifa menghela napasnya pelan.


"Sepertinya kamu membenci tempat keramaian!"


Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan dari Abash untuk Sifa. Gadis itu menoleh, menatap wajah sang bos sesaat, kemudian kembali menolehkan wajahnya ke arah lain.


"Saya lebih suka sendiri. Apapun bisa saya lakukan tanpa mengganggu privasi orang lain." Sifa kembali menoleh kepada Abash.


"Bapak, kenapa di sini? Kenapa gak makan siang dengan teman-temannya?" tanya Sifa.


Abash mendengus, pria itu menatap lekat mata Sifa. "Aku gak suka keramaian." Hening, Sifa masih menatap membalas tatapan mata sang bos. "Kecuali bersama dengan keluargaku." sambung Abash.


Sifa masih menatap wajah Abash dengan ekspresi yang samaz walaupun di dalam hati ada rasa cemburu yang luar biasa.


Ya, Sifa cemburu.


Kebersamaan dirinya bersama kedua orang tuanya terlalu singkat. Hanya neneknya yang menemani dirinya tumbuh selama ini. Namun, Sifa harus kembali merasakan hidup sebatang kara sejak meninggalnya sang nenek empat tahun lalu.


Sifa berjuang sendiri untuk menghidupi kehidupannya. Untungnya ada seorang tetangga yang berbaik hati, yang mau memberikan pekerjaan kepadanya. Walaupun itu hanya menjadi seorang cleaning service.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Sifa.


"Kenapa apanya?"


"Kenapa Bapak suka sendiri?"


Abash masih menatap wajah Sifa dengan tenang. Pria itu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan kaki yang di luruskan.


"Kenapa?" ulang Abash.


Pria itu kembali menatap ke arah gadis yang ada di sampingnya.


"Kalo kamu kenapa?" tanya Abash.


"Saya?" Sifa menunjuk dirinya sendiri, Abash pun menganggukan kepalanya.


"Iya, kalau kamu kenapa?"


"Ih, Bapak di tanyain malah tanya balik." Sifa mencebikkan bibirnya.


Lucu ...


Satu dengan lolos dari wajah Abash. Walaupun senyuman itu sangat tipis sekali, tetapi terlihat jika ada perubahan dari wajah Abash. Hanya sesaat memang, tapi Abash menyadarinya akan perubahan itu.


Sifa menoleh, gadis itu kembali menatap wajah sang bos saat mendengar jawaban Abash.


"Kalo kamu?" tanya Abash.


"Saya?"


"Iya, saya udah jawab pertanyaan kamu, sekarang gantian."


Sifa menarik napasnya, kemudian dinhembuskannya secara perlahan.


"Karena mereka yang gak ingin bergemna dengan saya. Saya ini hanya anak dari pemulung, nenek saya tukang cuci. Lagi pula, siapa yang mau berteman dengan saya, anak dari seorang pemulung dan cucu dari tukang cuci."


"Lalu? Masalahnya?"


Sifa menole. 'Masalahnya? Apa itu bukan suatu masalah?' batin Sifa.

__ADS_1


"Kok diem?"


Lagi, Sifa menghela napasnya. Kali ini sedikit kasar.


"Masalahnya adalah, gak ada yang mau berteman dengan saya. Saya ini anak seorang pemulung dan cucu dari tukang cuci. Sudah sangat jelas, jika saya adalah orang miskin. Orang yang gak pantas di pandang dengan hormat. Maka dari itu, saya berjuang belajar menjadi orang pintar, agar bisa mendapatkan beasiswa saat sekolah. Dan Alhamdulillah, saya berhasil. Seperti yang Bapak lihat. Saya bisa kuliah dan membiayai hidup saya sendiri tanpa membebani orang lain."


Hening, Sifa kembali menarik napasnya dan menghembuskannya dengan pelan.


"Sebesar apapun usaha saya, tetap aja mereka masih memandang rendah kepada saya." Sifa tersenyum miring, senyum yang mengejek dirinya sendiri.


"Terkadang, saya gak pernah tau. Apa salah saya. Apa salah jika saya anak dari seorang pemulung? Jika iya, kenapa?"


Abash masih diam memperhatikan wajah Sifa.


"Bukannya saya tak bangga dengan orang tua saya, tapi kenapa mereka semua harus menghina keluarga saya? Apa salah kami? Selama orang tua saya hidup, mereka gak pernah sekali pun meminta kepada orang. Tapi, kenapa mereka seolah terbebani dengan kehadiran kami?"


Mata Sifa sudah terlihat berkaca-kaca, semua kejadian itu sungguh sangat membuatnya menderita dan juga harus berjuang untuk bertahan hidup.


"Kalian gak salah." ujar Abash akhirnya. Sifa menoleh.


"Kamu hebat, bisa berjuang sejauh ini. Jangan berhenti, tunjukkan kepada mereka yang telah meremehkan kamu, kalau kamu bisa meraih mimpi-mimpimu. Status sosial tak menjamin seseorang untuk menjadi hebat. Kekayaan juga tak menjamin mereka untuk sukses. Tak semua orang memiliki keberuntungan yang hebat, jika orang tersebut memiliki keberuntungan, bukan berarti dia tak akan jatuh jika tak ada kemampuan dalam dirinya." Abash masih membalas tatapan mata Sifa.


"Kamu harus berjuang, sampai kamu benar-benar berhasil. Tunjukkan, jika siapaun bisa sukses. Karena kesuksesan tak mengenal status, melainkan dari usaha dan tekad yang kuat. Dan kamu memiliki itu, kamu adalah orang yang berpotensi menjadi orang sukses. Dengan kepintaran serta kerja keras kamu selama ini, saya bisa pastikan, jika kamu akan menjadi orang sukses."


Bibir Sifa berkedut, perlahan terbentuk sebuah senyuman di sana, bersamaa dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


Abash.


Pria dan juga orang pertama yang memujinya setinggi ini. Penilaian Abash terhadap dirinya, membuat dada Sifa sesak dan ingin menangis bahagia. Benarkah? Apa benar yang dikatakan Abash?


"Bapak bohong ih, mana bisa saya sukses! Bapak terlalu memuji saya," ujar Sifa dengan wajah yang merona, tetapi, Sifa mencoba untuk tetap santai dan tenang.


"Nyatanya, kamu orang pertama yang magang di perusahaan. Itu sudah membuktikan jika kamu memiliki bakat yang luar biasa. Jika hanya dari rekomendasi dosen saja, mungkin kamu gak akan saya terima. Kamu di terima karena kemampuanmu, bukan karena dosen yang merekomendasikan kamu."


Bolehkah Sifa bahagia mendengar kejujuran Abash?


Ya, Abash menerima Sifa karena kepintaran dan kemampuannya. Abash dapat melihat, jika Sifa memiliki bakat dan kepintaran yang luar biasa.


Ingat, Abash meletakkan Sifa di tim Elang, bukan tim umum layaknya mahasiswa yang magang di sebuah perusahaan.

__ADS_1


\=\=  Jangan lupa Vote, Like, and komen ya ..


Salam sayang dari Abash n Sifa


__ADS_2