
Acara akad nikah telah berjalan dengan baik. Putri dan Arash telah resmi sebagai pasangan suami istri.
"Ayo, istirahat dan ganti baju dulu," titah Mama Nayna, karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Di mana para tamu undangan pastinya satu persatu sudah pulang ke rumah masing-masing. Acara pun akan di lanjutkan malam nanti, sebagai malam puncak acara pernikahan Arash dan Putri.
"Loh, Arash kok masuk ke kamar ini juga?" tanya Putri terkejut, saat dengan santainya Arash malah duduk di sofa.
"Sudah resmi suami istri. Jadi, sudah seharusnya kan kalian berada di satu kamar yang sama?" ujar Mama Nayna dengan tersenyum penuh arti.
Putri mengerjapkan matanya. Melirik ke arah sang suami yang saat ini sudah tersenyum penuh arti kepadanya.
"Gak usah gugup gitu, biasanya gandengan tangan juga gak gugup," goda Mama Kesya.
"I---ituu ..."
"Sekarang udah sah, masa malah malu-malu?" kekeh Mama Kesya yang di angguki oleh Mama Nayna.
"Takut di serang mungkin, Ma," ujar Quin yang baru saja masuk ke dalam kamar pengantin baru tersebut.
"Benar begitu, Putri?" tanya Mama Kesya.
"Hah? I---ituu ..."
"Kalau itu yang kamu takutkan, aku bisa pastikan jika kita akan melakukannya pada saat malam nanti," sahut Arash yang mana membuat wajah Putri semakin merona.
"Waah, udah berani main terang-terangan nih yaa?" sindir Mama Kesya.
"Gak terang, Ma. mungkin remang-remang aja," jawab Arash.
"Arash .. kamu ini ... Mama ngomong lain, kamu malah ngomong lain," ujar Mama Kesya sambil menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya ada yang gak tahan buat di tinggal berdua, Ma, Tante, sebaiknya kita keluar deh," usul Quin.
"Ide bagus, ayoo ..." ajak Mama Kesya yang di angguki oleh Mama Nayna.
"Maa ..." panggil Putri pelan, sehingga membuat Mama Nayna menghentikan langkahnya.
"Ya?"
"Ini gimana? Masa Putri di biarin sendirian?" lirih Putri sambil menunjuk ke arah singer yang dia kenakan.
Mama Nayna, Mama Kesya, dan Quin pun terkekeh pelan.
"Minta tolong dengan Arash dong," ujar Quin sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Tap-tapi ... mana mungkin Arash bisa buka singer, Mbak Quin," lirih Putri.
"Pasti bisa, iya kan Rash?" tanya Quin.
"Bisa di coba," jawab Arash dengan tersenyum manis.
"Nah kan, bisa di coba katanya. Kalau begitu, selamat mencoba ..." Quin pun melambaikan tangannya kepada Putri, kemudian merangkul kedua wanita paruh baya yang ada di dekatnya untuk keluar dari kamar pengantin Arash dan Putri.
Baam ...
__ADS_1
Tinggallah Arash dan Putri berdua di dalam kamar, hingga membuat Putri semakin gugup. Arash berdiri dari tempatnya, berjalan mendekat ke arah sang istri.
"Mau aku bantu mulai buka dari mana?" tanya Arash dengan nada yang menggoda.
"Jangan macam-macam deh kamu, Rash," tegur Putri.
"Gak macam-macam, cuma satu macam aja kok," kekeh Arash.
Pria itu sudah berada di dekat sang istri, kemudian menarik pinggang Putri sehingga membuat jarak di antara keduanya pun terkikis.
"Rassh ..." tegur Putri dengan mata membulat. Hal itu pun membuat Arash tertawa, karena merasa lucu dengan wajah sang istri yang sangat menggemaskan.
"Lucu banget sih kamu, bikin aku gemes .." ujar Arash sambil mencubit hidup Putri.
"Ayo, duduk sini, biar aku bantu lepasin singer-nya." Arash pun menuntun Putri untuk duduk di kursi rias menghadap kaca.
"Memangnya kamu bisa?" tanya Putri memastikan.
"Semoga aja."
Arash pun melepaskan satu persatu perhiasan yang ada di kepala Putri secara perlahan.
"Awww," ringis Putri saat Arash menarik salah satu aksesoris hiasan kepala.
"Maaf," lirih Arash merasa bersalah.
"Gak papa."
Arash pun akhirnya membuka bagian yang penting di kepala Putri, yaitu bagian mahkota singer-nya yang membuat kepala gadis itu terasa berat, tetapi secara bersamaan juga membuat wajahnya terlihat sangat cantik.
"Se-lega itu ya?" tanya Arash.
"Iya, rasanya kepala aku tuh kaya terikat, terasa kebas, dan juga menahan beban berat banget, buat leher aku pegel tau gak sih."
"Padahal aku mau lihat kamu seharian pakai mahkota ini," ujar Arash yang mana membuat Putri membulatkan matanya.
"Jangan macem-macem deh. Berat itu ya," cibir Putri.
Arash terkekeh pelan. "Aku cuma bercanda kok."
Putri pun mencebikkan bibirnya dengan kesal.
"Sekarang, mau bagian mana lagi yang di buka?" tanya Arash dengan tatapan menggoda.
Putri membulatkan matanya, di saat tangan Arash sudah menyentuh punggungnya.
"Apa bagian ini?" bisik Arash.
"Araassh ... jangan macem-macem deh," tegur Putri dengan jantung yang berdebar cepat.
"Aku gak macem-macem, cuma satu macem aja," ujar Arash dengan mengedipkan matanya sebelah.
"Mau aku buka sekarang?" tanya Arash lagi.
__ADS_1
Putri tiba-tiba saja berdiri, gadis itu pun dengan segera menjauhi Arash dengan cepat.
"Ada apa, Put?" tanya Arash dengan kening mengkerut.
"A-aku ..."
Walaupun semua orang sudah mengatakan jika dirinya dan Abash tidak terjadi apapun pada malam itu, tapi tetap aja Putri merasa tidak percaya diri. Dia takut, jika semua orang kompak membohonginya. Buktinya, mereka semua kompak menyembunyikan di mana Zia berada saat ini.
"Ada apa, Put?" tanya Arash yang melihat raut wajah Putri terlihat berbeda. Bahkan, terlihat ketakutan.
"Ak-aku ...."
Arash melangkah lebar ke arah Putri, pria itu menarik tubuh Putri dan memeluknya dengan hangat.
"Jika kamu takut aku menyentuh kamu, maka aku akan bersedia menunggunya, Put. Aku tidak akan memaksa," bisik Arash.
"Buk-bukan begitu, Rash. hiks ... tapi ... A-aku takut, jika kalian semua telah membohongi aku. Aku takut, kalau ternyata aku memang tidak suci lagi, Rash. Aku takut---"
"Ssstt ... jangan bicara seperti itu, Put. Apapun kondisi kamu, aku akan tetap menerimanya. Tapi, kamu harus percaya sama aku, kalau kamu itu masih suci. Kamu dan Abash tidak melakukan apapun malam itu, Put. Percayalah," ujar Arash yang sudah menangkup pipi Putri.
"Bag-bagaimana kalau kamu berbohong?"
"Aku berani bersumpah, Put, jika apa yang aku katakan itu adalah benar. Aku tidak berbohong, Put. Demi Allah."
Putri menatap dalam mata Arash. Wanita itu melihat kesungguhan di dalam mata sang suami.
"Maafin aku, karena sudah meragukan kamu, Rash, hiks ... maafin aku," lirih Putri.
Arash kembali menarik Putri ke dalam pelukannya.
"Gak papa, sayang. Aku paham kok apa yang kamu rasakan." Arash mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala Putri, menangkap sang istri agar tidak lagi merasa bersalah dan menangis.
Di tempat yang berbeda.
Abash sedang menggandeng tangan Sifa, mereka pun berjalan-jalan ke taman yang tak jauh dari hotel. Setelah memberikan selamat kepada Arash dan Putri, Abash pun mengajak tunangannya itu untuk kabur dari pesta dan menghabiskan waktu berdua saja.
Mumpung Mama Kesya lagi sibuk sama para tamu dan saudara yang berdatangan.
"Kamu masih kesal?" tanya Sifa kepada Abash.
Abash menoleh ke arah Sifa, kemudian pria itu tersenyum kecil.
"Aku gak papa kok, Mas. Lagian kan aku memang dari kalangan orang miskin," ujar Sifa. "Apa yang di katakan oleh Andi itu benar, jika aku adalah---"
"Sifa," potong Abash dengan cepat.
Pria itu pun memposisikan tubuh Sifa berhadapan dengannya.
"Apapun yang di katakan oleh Andi, kamu lupakan saja ya. Dia mulutnya memang gak di sekolahin. Makanya gak terdidik gitu. Jadi, kamu jangan ambil hati, ya?" pinta Abash dengan tidak enak hati.
Sifa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. aku gak akan ambil hati. Lagi pula, aku tidak mau kamu bersedih seperti ini, Mas."
Abash menghela napasnya dengan pelan, pria itu pun mengusap pipi Sifa dengan lembut.
__ADS_1
"Terima kasih, dan maaf karena sudah membuat kamu terluka."
Ya, saat acara akad nikah Arash dan Putri, sepupu mereka yang bernama Andi terang-terangan mengatakan untuk Sifa, jika gadis itu adalah wanita miskin yang beruntung. Wajar saja kan jika Abash marah.