Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2. Bab. 10 - Brengsek Lo, Rash


__ADS_3

Zia masih menangis sesenggukan di dalam pelukan Mama Nayna. Bahkan, tubuh gadis itu masih terasa bergetar karena merasa takut.


"Ma, hiks ... Ma," lirih Zia dengan suaranya yang parau.


Mendengar suara Zia yang bergetar pun, membuat Mama Nayna ikut merasakan bagaimana ketakutan yang di rasakan oleh sang putri.


"Iya, sayang, iya ..." Mama Nayna mengusap punggung sang putri, air mata wanita paruh baya itu pun ikut mengalir membasahi pipinya.


Mama Nayna merasa kecewa terhadap Arash. Sebagai orang tua, wanita itu merasa sakit hati dan membenci menantunya itu. Tidak menyangka jika Arash bisa berbuat sehina itu.


Apa pun alasannya, tetap saja apa yang dilakukan oleh Arash salah.


"Zia takut, Ma, hiiks ... Zia takut," lirih Zia dalam pelukan Mama Nayna.


Sudah hampir satu jam Zia menangis, tiba-tiba saja suara Zia semakin memelan, bersamaan dengan itu, pelukan Zia di tubuh Mama Nayna pun juga ikut melemah.


"Zi," panggil Mama Nayna. "Zia?"


Papa Satria yang sedang menidurkan Yumna pun, menoleh ke arah sang istri.


"Zia, Pa, Zia ..."


Papa Satria menekan bel darurat untuk memanggil perawat. Pria paruh baya itu khawatir jika Zia tak sadarkan diri karena terlalu shock dengan apa yang telah menimpa dirinya.


Di ruangan lain.


"Kamu harus nikahi Zia," titah Papa Arka.


Arash terkejut, pria itu pun mengangkat pandangannya untuk memandang wajah pria yang telah membesarkan dirinya. Arash mengernyitkan keningnya, tidakkah mereka semua bisa memahami apa yang dia rasakan saat ini?


Arash tidak sengaja melakukan hal tersebut, karena dirinya merasa jika yang dia lihat adalah Putri. Arash merasa jika tadi dia terlalu terbawa perasaan, karena sangat merindukan sang istri.


"Pa, Arash gak bisa. Arash gak mau," tolak Arash.


"Kamu tidak berhak menolak di sini, Rash. Kamu hanya perlu melakukan tanggung jawab kamu sebagai seorang pria," tegas Papa Arka.


"Pa, Arash hanya tidak sengaja mencium Zia. Lagi pula, Arash tidak benar-benar menodainya."


Plaaak ...


Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi Arash. Bahkan, pipi putih dan bersih pria itu sampai menampilkan bercak tangan hasil tamparan yang dia dapatkan tadi. Arash menyentuh pipinya, pria itu menoleh ke arah orang yang telah menampar dirinya.

__ADS_1


"Apa Mama selama ini ada mengajarkan kamu untuk bersikap seperti pecundang?" tanya Mama Kesya dengan tatapan matanya yang sudah penuh amarah.


"Mama selalu mengajarkan kamu untuk selalu bertanggung jawab atas apa yang telah kamu perbuat, Rash. Kamu harus bertanggung jawab atas perlakuan keji yang telah kamu lakukan kepada Zia," geram Mama Kesya dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Apa kamu bisa berpikir, Rash? Bagaimana jika posisi Zia itu di tukar dengan saudara perempuan kamu?" tanya Mama Kesya. "Apa kamu bisa diam untuk tidak meminta pertanggung jawaban?"


Arash menundukkan pandangannya, pria itu tidak berani menjawab Mama Kesya, karena apa yang di katakan oleh wanita yang telah melahirkannya ke dunia, semua benar. Andai apa yang Arash lakukan terjadi kepada saudara perempuannya, mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama, seperti apa yang di lakukan oleh Papa Arka dan Mama Kesya.


"Kamu tidak punya pilihan dan tidak berhak untuk menolak. Kamu harus menikahi Zia,"


Arash menghela napasnya dengan berat, sepertinya dia memang tidak memiliki pilihan selain menikahi Zia. Akan tetapi, Arash masih bisa membuat surat perjanjian kepada gadis itu kan? Surat perjanjian yang tidak di ketahui oleh orang lain. Hanya dirinya dan Zia saja.


*


Mama Kesya benar-benar merasa malu dan bersalah kepada Mama Nayna. Tidak tahu mau berkata apa lagi untuk meminta maaf atas kesalahan putranya.


"Maafin Arash, Mbak, maafin Arash," mohon Mama Kesya sambil menangis.


"Mbak gak salah, jangan meminta maaf, Mbak. Mbak gak salah," ujar Mama Nayna sambil mengusap pelan punggung Mama Kesya yang bergetar.


"Saya merasa gagal mendidik Arash, Mbak. Maafin saya," mohon Mama Kesya lagi.


"Enggak, Mbak. Mbak gak gagal kok. Kejadian ini, bukan karena kesalahan Mbak yang merasa gagal mendidik Arash. Mbak tidak gagal, percayalah," ujar Mama Nayna yang sudah merelai pelukannya dari Mama Kesya.


"Iya, Mbak, terima kasih sudah mau memaafkan saya."


Papa Arka sudah menyampaikan keputusan yang telah mereka ambil untuk Arash, di mana sang putra harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan. Arash harus menikahi Zia, demi tidak terjadinya lagi kesilapan yang sudah terjadi untuk kesekian kalinya.


Papa Satria menghela napasnya pelan dan panjang.


"Jujur saja, Ar, saya sebenarnya ingin Arash bertanggung jawab dan menikahi Zia. Akan tetapi, sebagai orang tua, saya tidak mau dikatakan egois oleh putri saya sendiri, karena mengambil keputusan sepihak tanpa bertanya pendapat Zia," sahut Papa Satria.


"Saya akan tanyakan kesediaan Zia terlebih dahulu, sebelum memutuskan," sambung Papa Satria.


*


Sejak kejadian di mana Arash tidak sengaja ingin menodai Zia. Gadis itu pun memutuskan untuk tidak menemui seluruh keluarga Moza, termasuk Yumna.


Zia memutuskan hal tersebut karena tidak ingin di paksa menikah dengan Arash. Walau dirinya sangat menyayangi Yumna, tapi Zia butuh waktu untuk mengobati luka hati dan traumanya.


"Sayang, apa keputusan kamu ini sudah bulat?" tanya Mama Nayna memastikan.

__ADS_1


"Iya, Ma. Zia ingin menghindar dari keluarga Moza."


"Termasuk tidak menemui Yumna?" tanya Mama Nayna.


Zia diam, gadis itu sebenarnya sangat merindui Yumna, akan tetapi, dia takut, jika dia menemui Yumna, maka Arash akan kembali khilaf dan mengulang kembali kesalahan.


Zia teringat akan Soni yang memandangnya sebagai Putri, di mana wajah Zia dan Putri memang sedikit memiliki kemiripan.


Zia menghela napasnya pelan, sepertinya dia harus menahan rasa rindunya untuk tidak bertemu dengan Yumna. Lagi pula, bayi mungil itu harus terbiasa tanpa dirinya kan? Karena bisa saja suatu saat nanti Arash akan bertemu dengan wanita yang bisa menaklukkan hatinya kembali, seperti sang kakak.


"Yumna harus terbiasa untuk merasakan ketidakhadiran Zia di sisinya, Ma. Karena Zia bukan ibu Yumna," ujar Zia dengan mata yang terasa panas.


"Zia ngantuk, Ma, Zia mau tidur." Zia merebahkan tubuhnya, meminta sang mama untuk keluar dari kamarnya.


"Baiklah, tidur yang nyenyak ya, sayang," bisik Mama Nayna dan mendaratkan sebuah kecupan di kening sang putri.


Mama Nayna pun memutuskan untuk keluar kamar Zia, menemui sang suami dan memberikan jawaban apa yang sudah Zia putuskan tadi.


"Bagaimana, Pa?" tanya Mama Nayna kepada sang suami.


Papa Satria menghela napasnya panjang. Mau tidak mau, Papa Satria harus mengikuti keinginan sang putri tercinta.


*


Ibra telah kembali, pria itu benar-benar marah di saat mendengar apa yang telah Arash lakukan kepada Zia. Dampak dari perbuatan Arash, Zia sampai tidak ingin bertemu dengannya.


"Brengsek Lo, Rash," pekik Ibra dan mendaratkan satu pukulan di wajah Arash.


"Lo tau kan, kalau gue ingin mengibah Zia. Tapi apa yang Lo lakukan, Rash? Apa?" bentak Ibra dengan tangan yang mencekam kerah baju Arash.


"Lo malah menjauh harga dirinya terluka dan jatuh. Lo pikir Lo siapa, hah? Lo merasa pria tersakiti gitu? Sehingga Lo tidak memikirkan perasaan orang lain?"


Arash diam, dia tahu jika dirinya salah. Tapi, bukan kemauan dirinya juga untuk mengibah Zia. Semua telah diputuskan oleh orang tuanya dan Arash tidak bisa menolak.


Tidak, bukan tidak bisa. Melainkan tidak punya hak untuk menolak.


"Lo emang pria brengsek, Rash," kesal Ibra dan melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju Arash dengan kuat, sehingga membuat tubuh Arash terhoyong ke belakang.


Ibra berbalik, menjauh dari sepupu brengseknya itu. Hatinya hancur dan terasa pedih, di saat mendengar kabar buruk yang menimpa Zia.


Ibra pun pergi mendatangi kediaman Bara, di mana Zia masih berada di sana.

__ADS_1


"Om, saya mohon, izinkan saya untuk bertanggung jawab atas apa yang telah Arash perbuat. Saya janji, Om, jika saya akan membahagiakan Zia," mohon Ibra yang sudah berlutut di hadapan Papa Satria.


__ADS_2