Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 133 - Gadis seperti apa dia?


__ADS_3

Mobil yang di kendarai supir pun melaju membelah jalanan, Mama Kesya sudah sibuk mengobrol dengan Papa Arka, sedangkan Arash dan Putri saling diam di kursi belakang.


"Putri, kamu kenal sama Luna udah lama?" tanya Mama Kesya.


Tak da sahutan dari gadis itu pun, membuat Mama Kesya kembali menyebut namanya.


"Put?" panggil Mama Kesya sambil menoleh ke arah belakang.


Arash yang berada di samping Putri pun, menolehkan kepalanya ke arah samping.


"Tidur, Ma," jawab Arash.


"Tidur?" ulang Mama Kesya.


"Iya."


Mama Kesya dan Papa Arka pun serentak menoleh ke arah Putri, di mana gadis itu memang sudah tertidur dengan sangat lelap sambil memeluk tubuhnya.


"Sepertinya kedinginan si Putri. Selimutin tolong Rash," titah Mama Kesya.


Arash pun mengambil selimut yang ada di dekatnya, kemudian menyelimuti tubuh Putri yang terlihat kedinginan.

__ADS_1


"Heeammm ....." gumam Putri sambil menolehkan kepalanya ke arah Arash, sehingga membuat wajah keduanya pun hanya berjarak sekitar lima centi meter.


Deg ...


Arash mengerjapkan matanya, kemudian pria itu dengan cepat memundurkan tubuhnya.


"Sepertinya Putri sangat kelelahan," ujar Mama Kesya.


"Hmm, dia ini tipikal gadis pekerja keras," jawab Papa Arka. "Mama tau, Satria sebenarnya sudah melarang dia untuk menjadi seorang pengacara," ujar Papa Arka.


"Kenapa?" tanya Mama Kesya penasara.


"Apa? Kasus kriminal?" tanya Mama Kesya terkejut.


Arash yang juga ikut mendengar ucapan sang Papa pun menaikkan alisnya sebelah.


"Iya, kasus kriminal. Dia selalu berhadapan dengan mafia, Ma. Makanya Satria dan Nayna sangat khawatir, begitu pun dengan Bara," ujar Papa Arka.


"Ya Allah, Apa Putri tidak merasa takut?" lirih Mama Kesya dan menoleh ke arah belakang.


"Mama tau, Putri ini jago bela diri. Sejak umurnya delapan tahun, dia sudah belajar bela diri. Dan Mama tau siapa yang mengajarkannya?" tanya papa Arka.

__ADS_1


"Mas Satria?" tebak Mama Kesya.


Papa Arka pun menggelengkan kepalanya. "Bukan, tetapi opa kesayangan Putri."


"Maksudnya orang tua Mas Satria?" tanya Mama Kesya.


"Bukan, tetapi orang tuanya Nayna," jawab Papa Arka sambil terkekeh pelan.


"Apa? Buk-bukannya Papa mengatakan jika Putri bukan anak kandung Nayna? Bagaimana bisa orang tua Nayna menjadi opa kesayangan Putri? Lalu mengajari Putri bela diri?" tanya Mama Kesya bingung.


"Seperti halnya Mama, Ayah kesayangan Mama itu Daddy Roy, kan? Begitu juga dengan Putri. Dia sangat menyayangi ayah dari Nayna. Katanya Opanya itu adalah pahlawan baginya," kekeh Papa Arka yang memang pernah bertemu dengan keluarga Satria. Bahkan, saat Putri kecil pun, Papa Arka pernah bertemu dengannya.


"Hmm, apa Mama bilang. Kalau Mama itu merasa jika Putri itu persis seperti Mama muda dulu," kekeh Mama Kesya.


"Iya, tapi Putri gak cengeng saat melihat darah dan luka, gak seperti Mama," ledek Papa Arka, yang mana membuat Mama Kesya mencubit pinggang pria paruh baya itu.


"Iiihh, awas ya Papa, terus aja ledeki Mama."


Arash yang mendengar cerita Papa Arka pun, menoleh ke arah Putri. Pria itu pun penasaran, seberapa pemberani dan tangguhnya gadis yang ada di sebelahnya ini. Jika mengingat latar belakang dari Putri, yang mana dia adalah seorang anak dari pengusaha sukses di Bandung, serta perhatian yang di berikan oleh adiknya Bara, sungguh menyatakan jika Putri bukanlah gadis yang mandiri, bahkan terlihat sangat manja.


"Sebenarnya gadis seperti apa dia?" batin Arash sambil menatap ke arah wajah tenang Putri.

__ADS_1


__ADS_2