
Abash dan Sifa sudah kembali ke kamar hotel dengan kondisi baju yang sudah basah kuyub, karena mereka terus bermain air seharian ini. Juga, Abash dan Sifa sudah merasa kedinginan hingga tubuh keduanya pun menggigil.
Mereka tidak peduli dengan tatapan dari sesama penghuni hotel yang berpas-pasanan dengan mereka dari saat di lobi, hingga mereka memasuki lift. Siapa yang berani menegur Abash dan Sifa yang tubuhnya habis basah? Karena mereka adalah tamu yang sangat spesial di hotel tersebut. Di tambah lagi, hotel itu di bawah naungan Moza group. Tentu saja tidak ada yang berani menegur Abash dan Sifa, kan? Ya, walaupun beberapa tamu hotel yang lain merasa tidak nyaman dengan kondisi mereka beruda yang terlihat kacau dan terus memandang ke arah Sifa dan Abash dengan tatapan aneh. Tidak, sebenarnya bukan menatap Sifa dan Abash dengan tatapan aneh, melainkan hanya menatap ke arah Sifa saja. Dan itu dilakukan oleh para pengunjung wanita yang merasa jika Abash terlalu tampan untuk pria itu. Hingga akhirnya mereka pun tiba di dalam kamarnya. Tatapan itu masih terus di lempar ke arah Abash dan Sifa.
"Mau mandi bareng?" tawar Abash dengan menaik turunkan alisnya dan tersenyum dengan penuh godaan.
"Pasti Mas mau mesum, kan?" tebak Sifa yang di jawab anggukan mantap oleh sang suami tanpa malu-malu lagi. Jika memang dia menginginkannya, nggak usah ragu untuk memintanya, kan?
Abash pun berjalan maju mendekati Sifa.
"Mau gak?" tawar Abash lagi dengan menggoda. Tangannya sudah mulai jahil menggerayangi tubuh istrinya yang masih melekat baju yang basah.
"Kalau Mas memaksa, bagaimana bisa aku menolak?" jawab Sifa dan menyentuh dada bidang sang suami dengan gerakan yang tak kalah menggoda.
Tak ingin berlama-lama, Abash pun langsung menyambar bibir sang istri dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi dengan posisi bibir yang tertaut.
"Emm ...." Suara Sifa terdengar menggoda, menikmati belitan lidah sang suami yang sangat hangat dan beraroma mint. Dia membuka matanya, lalu menutup mata demi meresapi kenikmatan tersebut.
Abash pun membukakan pakaian yang dikenakan oleh Sifa dan membuangnya asal, begitu pun dengan Sifa yang melakukan hal yang sama, sehingga tak ada sehelai benang pun yang menempel pada tubuh mereka. Keduanya tergesa-gesa, seakan mereka tidak mau kehilangan momentum menyenangkan berdua. Tidak boleh sedetikpun waktu sia-sia untuk sekarang ini.
Abash mendorong tubuh polos sang istri hingga ke dinding, menaikkan satu kali Sifa ke atas bathub dan memulai penyatuan mereka. Tangannya tidak ingin hanya diam, memainkan dan membelai tubuh lembut istrinya sehingga menghadirkan sensasi aliran sengatan listrik di dalam tubuh Sifa.
Dan lagi, kamar mandi itu pun menjadi saksi bisu bagaimana Abash dan Sifa menikmati penyatuan cinta mereka bersama hingga akhirnya setelah beberapa posisi yang mereka lakukan, keduanya mendapati kenikmatan bersama meskipun hingga sakit kaki dan sakit pinggang mereka.
Lelah keduanya, tapi mereka senang dan bahagia sekali melakukan olah raga berkeringat bersama.
*
"Huff, habis olah raga dan mandi, perut jadi terasa lapar ya, Mas," ujar Sifa yang sudah membaringkan tubuhnya di dekat sang suami. Ranjang memang sangat nyaman sekali, apalagi setelah aktifitas mereka berdua yang sedari kemarin seakan tidak ada habisnya.
Kedua orang itu berbaring bersisian, menatap langit yang terlihat dari jendela kamar itu.
"Iya, sayang. Tapi aku sudah memesan makanan kok untuk kita berdua," Abash memberitahu, sebelum sang istri meminta di pesankan makanan.
"Benarkah? Ya ampun, Mas, kamu benar-benar pengertian banget, sih? Aku jadi makin cinta, deh," ujar Sifa dan memeluk tubuh sang suami dengan manja. Dia sempat berpikir jika mungkin saja akan makan lagi di luar, tapi ternyata Abash sudah memesan makanan untuk mereka makan kali ini.
"Iya dong, sayang. Aku kan memang sangat pengertian sama kamu." Abash mendaratkan sebuah kecupan di kening sang istri, di mata, hidung, juga bibirnya.
"Ah ya, tadi kamu bilang mau beli hadiah untuk Amel, kan?" tanya Abash yang dijawab anggukan oleh Sifa.
"Iya, Mas. Kenapa memangnya?"
"Barusan ada klien aku mengirimkan undangan, kalau anaknya sedang mengadakan pameran di Bali. Ada tas, baju, jam tangan, dan banyak lagi lainnya. Gimana kalau nanti malam kita pergi ke sana? Mana tau ada barang yang menarik di mata kamu untuk dijadikan hadiah untuk Amel," ujar Abash memberitahu kepada sang istri. Mata Sifa membelalak senang mendengarnya hal tersebut. Suatu kebetulan sekali ada pameran tersebut di saat dia memang sedang membutuhkannya.
"Ide bagus, Mas. Jadi, kapan acaranya, Mas?" tanya Sifa memastikan.
"Malam ini."
"Malam ini? Tapi kan aku gak punya gaun buat pergi ke pameran, Mas?" lirih Sifa dengan galau. Yang dia bawa ke sini hanyalah pakaian biasa dan pakaian kerja saja.
Ya, Sifa tidak mungkin kan berpakaian biasa saja dan membuat Abash merasa malu dengan penampilannya. Setidaknya Sifa dapat berpakaian yang layak untuk menjadi pendamping seorang CEO ternama. Apa lagi, Abash bukanlah orang biasa yang baru merintis usahanya. Tapi, di dalam darah pria itu sudah mengalir darah seorang pebisnis handal dan hebat yang sudah memiliki nama besar di bidangnya.
"Kalau soal itu, kamu tenang saja, sayang. Aku bisa menyuruh orang untuk membawakan gaun yang indah untuk kamu," ujar Abash sambil membelai lembut pipi sang istri.
"Beneran, Mas?"
Abash mengangguk saja.
"Iya, apa sih yang nggak bisa buat aku. Kamu harus mendapatkan pelayanan yang terbaik, kamu harus mendapatkan perhatian yang terbaik. Karena kamu adalah cintaku, belahan jiwaku," ujar Abash sambil menjepit dagu istrinya.
"Terima kasih, Mas. Kamu memang yang paling terbaik." Sifa memeluk suaminya dengan sangat erat dan tidak mau melepaskannya lagi.
Namun, perhatian mereka harus teralihkan saat terdengar ketukan di pintu kamar mereka.
"Siapa, Mas?"
"Mungkin itu makanan kita. Aku lihat dulu."
Sifa mengangguk dan membiarkan Abash pergi.
Sifa sedikit kesal karena kesibukan mereka terganggu oleh seseorang. Andai saja tidak ada yan mengetuk pintu, bisa jadi kan kalau akan ada hal yang bisa mereka lakukan sekali lagi?
__ADS_1
Abash kembali dengan mendorong troli berisi makanan yang mereka pesan.
"Layanan kamar. Apakah ada yang mau Anda makan, Nona?" tanya Abash bertindak seakan dia adalah seorang pelayan hotel.
Sifa duduk dan menyilangkan kakinya di atas kaki yang lain, menjepit dagunya yang dia angkat ke atas.
"Oh, layanan kamar rupanya. Ada makanan apa saja?" tanya wanita itu.
Abash menundukkan tubuhnya sedikit dan memperlihatkan beberapa makanan yang ada di atas troli tersebut, menyebutkan satu persatu makanan yang ada di sana.
"Oh, membosankan sekali. Aku ingin memakanmu, apakah boleh?"
"Tentu saja, Nona. Aku juga termasuk dalam hidangan lezat."
Sifa tersenyum nakal, menggerakkan jari telunjuknya dan mengundang laki-laki itu untuk mendekat ke arahnya. Menarik kemeja Abash hingga mereka berdua terjatuh bersamaan ke atas kasur.
"Kamu nakal sekali!" ujar Abash menatap wajah istrinya yang tertawa geli.
"Aku nakal? Kamu baru tau?"
"Iya, asalkan nakalmu itu cuma saat denganku."
Abash maju dan memakan dagu Sifa, mengisapnya bak sebuah makanan lezat. Tak lupa dengan bagian lain yang menjadi tempat favoritnya, dia makan tanpa bermaksud menyakiti sang istri.
"Akh, Maaasss!!!"
Teriakan protes itu berubah menjadi teriakan nikmat. Lagi-lagi mereka melakukannya dan mengabaikan makanan yang kini sudah menjadi dingin.
***
Malam pun tiba, seseorang mengetuk pintu kamar Sifa, wanita itu kemudian membuka pintu dan melihat dia orang pelayan di depan pintu.
"Iya?"
"Layanan kamar, Nona."
"Terima kasih." Sifa menerima dua paperbag yang diberikan oleh dua pelayan itu kemudian membawanya ke dalam kamar
"Gaun, Mas."
"Oh."
Sifa mengeluarkan lima gaun yang ada di sana dan menyimpannya di atas ranjang, memperhatikan gaun yang indah itu dan membandingkannya.
Kepalanya serasa pusing, kedua gaun itu sama-sama indah dan dia tidak bisa memilihnya dengan cepat.
"Kenapa, sayang?" tanya Abash yang melihat kegalauan sang istri yang sedari tadi hanya berdiri dan menatap dua gaun tersebut.
"Em, ini Mas. Aku bingung harus pakai yang mana. Secara ini kan pertama kalinya aku pergi ke pesta klien kamu, sebagai istri kamu, Mas," ujar Sifa dengan nada suara yang pelan, dia benar-benar tidak tahu harus pakai yang mana yang sesuai dengan tema dan pastinya yang sesuai sebagai pendamping Abash.
"Hmm, begitu ya!" Abash pun melihat lima gaun yang direkomendasikan oleh pihak butik terkenal yang ada di Bali. Dia juga sama bingungnya karena semua gaun yang ada di sana sangatlah indah.
Setelah lama memilih, akhirnya pilihan Abash pun jatuh kepada sebuah gaun berwarna navi dengan bagian bahu yang terbuka, tetapi tidak menampilan dada sang istri.
"Ini saja," ujar Abash sambil menunjuk gaun pilihannya.
Abash pun meminta jas dengan warna yang senada dengan gaun yang akan di pakai oleh Sifa, agar mereka terlihat sangat serasi saat di pesta nanti.
"Baik, Pak." Salah satu pelayan itu mengeluarkan jas dengan warna senada kemudian menyerahkannya kepada Abash.
Abash ingin memberitahu kepada semua orang, jika Sifa adalah istrinya. Ya, walaupun sebenarnya semua orang sudah mengetahui hal tersebut, karena acara pernikahan Sifa dan Abash memang tersebar di seluruh stasiun televisi bisnis yang terus menayangkan pernikahan Sifa dan Abash. Di mana pernikahan itu dijuluki dengan pernikahan Cinderrela.
"Gimana menurut kamu?"
"Bagus, Mas. Kamu juga pasti bagus kalau pake ini." Sifa melihat jas yang ada di tangan pelayan itu.
"Ayo bersiap, sayang," titah Abash kepada sang istri dan menyuruh pelayan yang membawa gaun untuk Sifa itu menunggu di luar kamar, hingga sampai Abash memanggil mereka kembali untuk merias sang istri.
Sifa pun mengambil gaun yang dipilihkan oleh sang suami dan memakainya.
Sifa sedikit kesulitan karena gaun tersebut memiliki resleting panjang di punggung.
__ADS_1
Abash membantu menarik resleting itu, tapi perhatiannya tertuju pada kulit bahu sang istri yang putih, mengundang daya tarik sehingga dia mendekat dan mencium pundak Sifa lembut.
"Mas."
Abash terkejut.
"Aku suruh kamu buat bantu, bukan buat cium tubuh aku!" protes wanita itu.
Abash terkekeh menyadari kesalahannya.
"Habis, kamu itu menggoda, Sayang. Dan kamu enak. Manis."
"Memangnya aku ini permen!"
"kamu itu lebih dari sekedar permen buat aku. Kamu itu segalanya." Abash tiba-tiba saja memeluk Sifa dan mencium leher jenjang istrinya lagi. Kedua tangannya tiba-tiba meremmas dada Sifa yang kenyal dengan lembut.
"Mas, nanti yang ada kita nggak jadi pergi loh!"
Akhirnya Abash mengalah, membuang rasa egonya yang ingin memakan Sifa lagi dan lagi.
"Iya."
Sifa melanjutkan untuk mempersiapkan diri. Dia membalikkan tubuhnya dan bertanya, "Bagaimana, Mas?" tanya Sifa yang sudah memakai gaunnya. Dia berputar ke kanan dan ke kiri meminta pendapat kepada suaminya itu.
"Hmm, sungguh sangat cantik sekali, sayang. Baju itu sangat cocok sekali dengan kamu," puji Abash yang tidak bisa memalingkan pandangannya dari tubuh sang istri. Dari ujung kepala hingga ujung kaki, Sifa sangat lah cantik dan dia tidak bisa mengatakan tidak kepada wanita itu. Seluruh tubuhnya adalah godaan untuknya
Memang, gaun yang di pakai Sifa tidak terlalu ketat, tetapi tetap saja membentuk tubuh wanita itu dengan begitu indahnya.
Ah, mampukah Abash menahan rasa cemburunya nanti, di saat para pria lain memandang istrinya dengan tatapan penuh rasa kagum. Tetiba saja Abash merasa menyesal telah mengatakan tentang pameran ini kepada Sifa. Seharusnya tadi dia tidak perlu memberi tahu soal pameran ini. Toh, jika mereka kembali ke kota juga mereka bisa membeli apa yang mereka mau.
Tapi, pria itu tidak bisa lagi menarik kata-katanya. Sifa sudah bersiap, dia tidak ingin membuat sang istri kecewa. Lagi pula, ini adalah salah satu kesempatan Abash untuk memamerkan dan mengatakan kepada semua orang, jika Sifa adalah miliknya dan tidak ada yang boleh merebut Sifa darinya.
Andai saja ada yang ingin mencoba mendekati sang istri, maka bersiap lah untuk menerima kemarahan pria itu nanti. Bersiap saja atas konsekwensi yang akan mereka terima!
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil pelayan yang akan merias kamu, sayang," ujar Abash dan berjalan menuju pintu kamarnya.
Abash membuka pintu kamarnya dan melihat dua wanita tadi yang masih berdiri di depan pintu dengan pandangan yang tertunduk. Abash pun menyuruh mereka untuk kembali masuk dan merias sang istri secantik dan senatural mungkin.
"Tidak. Hapus lagi." Titah Abash saat melihat riasan wajah istrinya yang menurutnya terlalu berlebihan, tapi sebenarnya itu hanyalah bayangan Abash saja, sudah jelas jika mereka tidak membubuhkan bedak atau eyeshadow dengan berlebihan.
"Kenapa, Mas?" tanay Sifa bingung menatap sang suami yang memperhatikannya dari belakang.
"Make up kamu terlalu tebal."
"hah? Tebal dari mana?"
"Hapus!" ujar laki-laki itu lagi tanpa mau mendengar protes dari istrinya.
Dua pelayan itu salling menatap satu sama lain, tapi mereka tidak mau berdebat dengan kliennya ini.
Abash sudah berpakaian dengan rapi, lengkap dengan jas yang pria itu kenakan. Saat ini, dia hanya menunggu sang istri untuk bersiap. Tiga puluh menit pun berlalu, akhirnya Sifa telah siap dengan tampilannya yang sederhana dan sangat memukau mata siapa saja yang memandangnya.
"Sumpah, sayang. Rasanya aku tidak akan rela jika ada yang memandanga kecantikan kamu," lirih Abash sambil menghela napasnya pelan.
Sifa terkekeh pelan.
"Siapa yang berani memandangku, Mas? Jika bodyguar ku sangatlah menyeramkan," kekeh Sifa sambil mengelus pipi suaminya.
"Ya, aku akan lebih menyeramkan dari sekarang," sahut Abash dan ikut tertawa juga.
Sifa pun memberikan sejumlah uang kepada dua pelayan wanita yang sudah membantu Sifa berdandan, kemudian mereka pun bersiap untuk pergi ke pesta.
"Ayo, sayang, kita tunjukkan kepada dunia, jika kamu hanyalah milikku seorang," bisik Abash yang diangguki oleh Sifa. Dia memberikan tangannya untuk disambut oleh wanitanya.
"Iya, Mas. Aku hanyalah milikmu seorang."
Sesampainya di pameran, Abash turun duluan dari mobil mewahnya itu, kemudian membukakan pintu untuk sang istri dan membantunya turun dari mobil. Abash mengulurkan tangannya, sehingga tangan pria itu di sambut oleh sang istri.
Sifa turun dengan begitu anggunnya, hingga cahaya-cahaya lampu kamera terus berkedap-kedip untuk menangkap gambar Abash dan Sifa yang untuk pertama kalinya muncul ke sebuah pesta secara bersama, setelah status mereka berdua menjadi sepasang suami dan istri.
"Ayo, sayang," ajak, Abash dan meletakkan tangan Sifa di lengannya.
__ADS_1
Lihatlah, Abash benar-benar posesif dan memandang tajam ke arah siapa saja yang memandang istrinya dengan tatapan memuja.