Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 229 - Aku Juga Mau


__ADS_3

Arash baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran saat sudah tiba di mana lokasi Putri berada, pria itu bergegas turun dari dalam mobil dan tak lupa membawa paper bag yang berisikan baju untuk Putri. Pria itu pun masuk ke dalam warung mie ayam dan bakso, kemudian mencari keberadaan gadis yang sedang di carinya saat ini. Saat matanya menangkap sosok yang sedang dia cari, Arash pun melangkahkan kakinya dengan besar ke arah Putri. Mata pria itu membulat sempurna di saat Putri menyuapi pria yang ada di sampingnya, sehingga membuat gemuruh di dalam hati Arash pun semakin menggelap.


Mata Arash pun semakin membesar, di saat melihat Putri kembali ingin menyuapi pria yang bernama Soni itu.


"Putri?" pekik Arash, sehingga membuat semua pengunjung yang ada di sana menoleh ke arahnya, termasuk Putri dan Soni.


Arash pun melangkahkan kakinya besar dengan napas yang memburu, pria itu tidak peduli dengan tatapan orang lain yang berada di sekelilingnya saat ini sedang menatap ke arahnya dengan spekulasi bermacam-macam.


Putri menatap pria yang menjulang tinggi di hadapannya dengan kening yang mengkerut.


"Arash?" lirih Putri pelan.


Arash mengatur napasnya, kemudian dia membasahi tenggorokan dengan salivanya sendiri.


"Baju kamu basah, ini aku bawakan baju ganti," ujar Arash sambil menyodorkan paper bag yang ada di tangannya.


Putri mengerjapkan matanya, gadis itu semakin bingung dengan prilaku pria menjulang tinggi yang ada di hadapannya saat ini.


"Aku sudah mengganti bajuku," ujar Putri dengan kening mengkerut.


Arash yang menyadari jika pakaian yang di pakai oleh Putri saat ini bukanlah pakaiannya yang tadi pun membuka mulutnya, kemudian menutup kembali mulutnya dengan cepat. Pria itu pun kembali menarik tangannya yang menyodorkan paper bag kepada Putri.


"Oh, ya," lirihnya pelan dengan perasaan kecewa.


"Kamu, dari mana tau aku di sini?" tanya Putri penasaran.


Gadis itu padahal sengaja menghindar dari Arash, bahkan dia sengaja mematikan ponselnya saat sudah bertemu dengan Soni, agar Arsah tidak menghubungi dan mencarinya. Tapi, bagaimana pria itu tahu kalau dia berada di sini?


Ah, Putri tiba-tiba teringat akan kalung yang di berikan oleh Abash. Mungkinkah pria itu melacak keberadaannya dari kalung yang dia pakai.


Arash terlihat gugup di saat mendengar pertanyaan Putri, tidak mungkin kan pria itu mengatakan jika dirinya sengaja meminta kepada Abash untuk melacak keberadaan Putri? Apa yang akan di pikirkan oleh gadis itu nanti tentang dirinya.


"I-itu," Arash pun memutar otaknya untuk mencari alasan yang tepat. "Itu, kebetulan aku lewat sini dan juga ingin makan bakso. Ya, aku juga ingin makan bakso di sini," jawab Arash seolah dia sudah memberikan alasan yang tepat kepada Putri, tanpa pria itu ketahui jika Soni menatap curiga kepadanya.

__ADS_1


Terlihat jelas di mata Soni, jika Arash saat ini sedaang mencari-cari alasan saja untuk bertemu dengan Putri. Tapi apa yang di tanya oleh gadis yang ada di sebelahnya ada benarnya juga, dari mana Arash tahu Putri di sini?


Putri pun menganggukkan kepalanya mendengarkan jawaban Arash, kemudian gadis itu mengernyitkan keningnya di saat melihat Arash menarik kursi yang ada di hadapannya dan duduk di kursi itu.


"Aku boleh bergabung dengan kalian, kan? Lagi pula kita saling kenal. Ha .. ha .." ujar Arash dengan tertawa canggung.


"Maaf, kita tidak saling kenal, jadi Anda tidak boleh duduk di situ." Suara Soni pun mengambil atensi Arash, sehingga membuat pria itu menoleh ke arah sumber suara.


"Tapi aku mengenal Putri," jawab Arash yang sudah memasang wajah dinginnya.


Soni dan Arash pun serentak menoleh ke arah Putri, seolah memberikan keputusan kepada gadis itu, apa Arash berhak bergabung bersama mereka atau tidak.


Putri yang paham dengan tatapan dari dua pria yang ada di samping dan di hadapannya saat ini pun, menghela napasnya dengan pelan. Gadis itu pun menoleh ke arah Soni dan tersenyum.


"Biarkan saja dia bergabung. Lagi pula tempatnya juga sudah penuh," ujar Putri sambil melihat ke sekeliling mereka.


Benar saja, meja dan kursi yang ada di warung itu pun sudah di penuhi oleh pengunjung lain, jadi tidak ada alasan bagi Putri atau pun Soni untuk menolak keberadaan Arash. Bagaikan mendapatkan angin segar, Arash pun mengembangkan senyumnya.


"Terima kasih, Put," ujar Arash dan memanggil pelayan untuk memesan makanannya.


"Em, saya mau pesan bakso," ujar Arash dan tersenyum kepada Putri. "Bakso seperti yang di pesan oleh gadis ini," sambung Arash sambil menunjuk ke arah mangkok Putri.


"Tapi itu bukan bakso, Mas, melainkan mie ayam jamur. Atau Mas mau mie ayam jamurnya pakai bakso?" tawar si pelayan, yang mana membuat Arash menoleh ke arah mangkok milik Putri.


Benar saja, ternyata yang di pesan oleh Putri adalah Mie ayam jamur.  Sial, kenapa Arash sampai tidak memperhatikan hal itu?


Arash berbeda dengan Abash, di mana kembarannya itu sangat menyukai jamur. Berbeda dengan Arash yang memang tidak menyukai makanan tersebut. Lalu, bagaimana saat ini? Apakah Arash jadi memesan makanan yang sama dengan Putri dan Soni?


"Mas? Jadi pesanannya apa ini?" tanya si pelayan yang mana membuat atensi Arash pun kembali.


"Oh, i-itu ... eng, saya pesan bakso saja," ujar Arash kemudian. "Eh, tidak, mie ayam jamur pakai bakso," ralat pria itu cepat.


"Baik, Mas, mohon di tunggu sebentar ya."

__ADS_1


Setelah kepergian pelayan tersebut, Arash merasa bingung dengan apa yang baru saja dia pesan. Kenapa dia harus memesan mie ayam jamur? Kenapa harus pakai jamur? Bukannya dia bisa memesan mie ayam saja tanpa jamur? Lalu, kenapa dia harus menyebutkan nama jamur?


"Ada apa?" tanya Putri di saat melihat Arash terdiam dan melamun.


"Hah? Oh, tidak apa-apa," jawab Arash dengan gugup.


"Nces, kamu jadi suapin aku kan?" Soni pun kembali bersuara dan mengambil atensi Putri.


"Hah? I-itu---"


"Aaaaa ...." Soni pun membuka mulutnya, meminta Putri untuk menyuapinya kembali. Hal itu sebenarnya di sengaja oleh Soni, karena dia ingin memastikan apakah pria yang duduk di hadapan mereka saat ini memiliki perasaan kepada Putri atau tidak.


Putri melirik ke arah Arash, entah apa yang gadis itu pikirkan saat ini, sehingga dia pun akhirnya memilih untuk mennyendokkan jamur dan menyuapinya ke dalam mulut Soni.


Braaakk ...


Arash yang melihat hal tersebut pun, langsung saja menggebrak meja tanpa sadar, sehingga membuat Putri dan Soni terkejut dan menyebabkan jamur yang ada di sendok Putri pun tumpah ke atas baju Soni.


"Arash, apa yang kamu lakukan?" tanya Putri dengan kesal.


Gadis itu pun menarik lembaran tisu yang ada di atas meja dengan banyak, kemudian membantu Soni untuk membersihkan jas yang pria itu kenakan.


"Kamu gak papa, kan?" tanya Putri merasa khawatir.


"Hum, ya. Hanya ketumpahan sedikit saja," jawab Soni dengan pelan dan tenang.


Arash sendiri tidak tahu, kenapa dia sampai menggebrak meja. Dan juga, kenapa dia merasa tak suka di saat melihat Putri terlihat intim bersama Soni?


"Rash, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu sampai menggebrak meja, sih?" kesal Putri yang sudah menatap tajam ke arah Arash.


"I-itu-- Akku juga mau," jawab Arash dengan asal, sehingga membuat Putri pun mengernyitkan keningnya.


"Mau apa?" tanya Putri bingung.

__ADS_1


Melihat ekspresi Arash yang terlihat gugup dan canggung, membuat Soni bisa menebak, jika pria yang ada di hadapan mereka saat ini sedang bingung dengan perasaannya sendiri. Ini kesempatan bagus untuk Soni, sebelum pria itu menyadari perasaannya, maka Soni akan bergerak lebih cepat dari rencananya


__ADS_2