
Sifa dan Abash baru saja menyelesaikan sholat subuh berjamaah. Gadis itu pun mengambil kain sarung yang Abash gunakan untuk menutupi kakinya, di lipatnya kain tersebut kemudian di simpan kembali ke dalam lemari bersama mukena yang baru saja dia pakai.
"Sifa, kemarilah," panggil Abash sambil menepuk tempat di sebelahnya di saat Sifa sudah menutup pintu lemari tersebut.
Sifa pun menurut dan duduk di kursi yang ada di samping brankar sang kekasih.
"Ada apa, Mas?" tanya Sifa dengan jantung yang berdebar.
Mungkinkah saat ini Abash akan memutusan hubungan mereka?
Abash mengulurkan tangannya kepada Sifa, tanpa di minta pun, gadis itu mengerti dan menerima uluran tangan sang kekasih.
Sifa, maafin aku," ujar Abash yang sudah menggenggam tangan sang kekasih dan mengusapnya dengan lembut.
Sifa menelan ludahnya secara perlahan, jantung gadis itu pun sudah berdetak semakin cepat dari sebelumnya.
"Mi-minta maaf kenapa, Mas?" tanya Sifa dengan gugup.
Abash menarik napasnya panjang dan menghelanya dengan pelan. Pria itu pun menatap mata sang kekasih dalam dan penuh pengkhayatan.
"Aku mencintai kamu, aku rasa kamu tau itu," ujar Abash yang mana membuat Sifa menganggukkan kepalanya pelan.
"Sifa, tolong kamu jangan salah paham dengan apa yang kamu lihat dan kamu dengar. Karena semua itu tidaklah benar. Aku akan menjelaskan semuanya dengan kamu, tanpa ada satu pun yang aku tutupi mulai dari sekarang,"
"Aku harap, kamu dengarkan baik-baik semua apa yang aku katakan dan jangan memotongnya, mengerti?" tanya Abash yang di angguki oleh Sifa.
__ADS_1
"Baiklah, yang pertama. Alasan aku ingin menyembunyikan hubungan kita adalah karena aku ingin melindungi kamu dari orang yang ingin merusak hubungan kita. Aku ingin kamu tidak tersakiti dengan apa yang terjadi karena masalah yang aku buat, tetapi aku salah, nyatanya kamu semakin tersakiti dengan apa yang telah aku putuskan." Abash pun menghela napasnya dengan pelan.
"Aku tau, kamu pasti berpikir jika aku dan Putri memiliki saling mencintai," ujar Abash. "Tapi kamu salah, Sifa. Aku tidak mencintai Putri. Bahkan, sedikit pun perasaan untuk tertarik kepadanya, aku tidak memilikinya."
Abash pun menggenggam tangan Sifa dengan erat dan hangat.
"Jujur, memang Putri adalah sosok yang aku cari selama ini. Kepribadiannya persis dengan wanita yang aku impikan selama ini. Tapi, percayalah, aku sedikit pun tidak memiliki perasaan sama dia. Asal kamu tahu, Sifa, jika aku sudah memutuskan untuk mencintai seseorang, maka aku akan tetap mencintainya, sampai kapan pun."
Sifa mengerjapkan matanya, tangannya terkepal sehingga membuat Abash mengusap punggung tangan Sifa dengan lembut. Mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut sang kekasih, membuat hatinya sakit, tetapi ada sesuatu yang menggelitik, di mana sudut bibirnya bergetar untuk membentuk sebuah senyuman. Tapi, Sifa menahannya, agar tidak terlihat gampangan di depan sang kekasih.
"Dan masalah foto-foto yang kamu terima, semua foto-foto itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Terutama saat kamu melihat foto aku mencium Putri. Tidak, aku tidak pernah menciumnya. Saat itu, aku hanya membantunya memasangkan kalung. Kalung yang sudah aku tanamkan alat pelacak," ujar Abash.
Sifa pun semakin mengepalkan tangannya, bahkan saat ini mata gadis itu pun sudah berkaca-kaca. Sekuat tenaga, Sifa menahan agar air matanya tak keluar.
Air mata Sifa pun akhirnya terjatuh mulus di pipi gadis itu, sehingga membuat Abash mengusap air mata itu.
"Tanyakan, jika ada yang ingin kamu tanyakan," bisik Abash yang sudah menangkup pipi Sifa dengan satu tangannya.
"M-mas, hiks ... kalau Mas gak punya hubungan dengan Mbak Putri, hiks ... Kenapa Mas pelukan sama dia saat di rumah sakit kemarin? Hiks .. aku melihatnya. Tidak hanya aku, tetapi Mas Arash dan Pak Didi juga melihatnya, hiks ... jika tak ada apa-apa, kenapa Mas sampai memeluk Mbak Putri? hiks ...." Sifa sudah sesenggukan mengungkapkan isi hatinya. Dia benar-benar tak bisa menahannya lagi.
"Aku refleks," jawab Abash sambil tersenyum merasa bersalah
Sifa pun menatap tajam ke arah Abash. "Dasar bajingan," kesalnya dan memukul lengan sang kekasih.
"Aww, maafin aku, sayang. Maafin aku, ya," mohon Abash.
__ADS_1
"Kalau aku gak mau?" ketus Sifa.
"Aku akan berlutut di hadapan kamu, agar kamu mau memaafkan aku," ujar Abash yang sudah siap untuk turun dari tempat tidur.
"Mas mau apa?" tanya Sifa sambil menahan tubuh Abash.
"Mau turun, mau berlutut di hadapan kamu," ujar Abash dengan menatap lurus ke arah sang kekasih.
"Ck, dasar menyebalkan. Kenapa aku gak bisa marah sama kamu, sih?" kesal Sifa sambil memukul kembali lengan sang kekasih.
"Jadi, kamu maafin aku?" tanya Abash dengan tersenyum penuh arti.
"Menurut kamu?" ketus Sifa dengan manja.
"Sini, peluk aku," pinta Abash yang sudah merentangkan tangannya.
Sifa kembali mencebikkan bibirnya, tetapi gadis itu tetap mendekatkan tubuhnya untuk memeluk sang kekasih.
"Aah, nyamannya," bisik Abash yang mana membuat Sifa semakin sesenggukan.
"Loh, kok makin nangis sih, sayang?" tanya Abash dan mengusap punggung Sifa dengan sayang.
"Hiks ... aku takut kehilangan, Mas, hiks .. aku cinta banget sama, Mas. Huaaa ..." tangis Sifa pun akhirnya pecah, sehingga membuat Abash merasa iba dan juga merasa bahagia.
"Aku juga cinta kamu, Sifa. Bahkan, jika kamu tidak mencintai Aku, aku akan tetap membuat kamu mencintai aku. Kamu mengerti? Jadi, jangan pernah kamu berpaling dari aku. Karena aku akan tetap menjadikan kamu milik aku, bagaimana pun caranya," bisik Abash yang mana membuat Sifa semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1