Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 254 - Lemari Pendingin


__ADS_3

Putri terbangun dari tidurnya kembali di saat mendengar suara alarm dari ponselnya. Gadis itu pun berjalan dengan lunglai menuju kamar mandi. Di tatapnya wajah baru bangun tidur di kaca yang ada di sana.


"Hmm, dasar bodoh," gumam Putri di saat masih melihat lingkar hitam di sekitar mata.


Tadi, setelah Arash dan Desi pergi, Putri kembali ke dalam kamar dan mendapati wajahnya yang terlihat sangat mengerikan. Sebenarnya tidak mengerikan juga, sih. Bahkan bisa di bilang terlihat sangat lucu.  Setelah mendapati dirinya dengan mata panda, Purti pun terduduk lemas di tempat tidur, kemudian di merebahkan tubuhnya dan memeluk guling sambil menggerutu kesal karena kebodohannya sendiri. Dan saat itulah, Putri pun kembali terlelap tidur.


Putri baru saja selesai sholat subuh, gadis itu pun mengucir rambutnya asal dan keluar dari kamar tanpa melihat ke sekeliling lagi. Dia langsung berjalan menuju dapur, berniat untuk membuat sarapan.


"Hmm, masak apa, ya?" lirihnya bingung.


Biasanya kalau pagi-pagi begini akan ada Desi atau Arash yang membantunya untuk mengambil bahan masakan di dalam kulkas. Tapi pagi ini, kedua orang itu tidak berada di dalam apartemen, sehingga tidak ada yang membatu dirinya mengambilkan bahan makanan yang ada dalam kulkas.


"Sepertinya aku harus bisa memusnahkan rasa takut aku," lirih Putri. "Aku gak bisa bergantung terus dengan orang lain. Ya, aku harus bisa melawan rasa takut aku."


Putri pun berjalan menuju lemari pendingin, di tatapnya pintu besi itu dengan tatapan tajam.


"Aku harus bisa," ucapnya pada diri sendiri.


Putri mengangkat tangannya, kemudian dia menggenggam gagang lemari pendingin dengan tangan yang bergetar.


"Huuf, kamu pasti bisa, Put. Ayo, kamu pasti bisa," lirihnya pelan.


Dengan tangan yang sudah menggenggam gagang lemari pendingin dengan kuat, hingga buku-buku tangannya pun terlihat memutih, Putri mulai menarik kuat tangannya secara perlahan, hingga pintu lemari pendingin itu pun terbuka sedikit,  sehingga membuat uap dingin keluar dari dalamnya.


Tuup ...


Putri kembali menutup pintu itu, sebelum dia berhasil melihat isi dari dalam kulkas. Napas gadis itu pun terlihat memburu, karena merasa takut, gugup, dan perasaan campur aduk lainnya.


"Ayolah, Put, kamu pasti bisa," ujar Putri menyemangati dirinya sendiri.


Putri menarik napasnya, kemudian dia menghembuskannya secara perlahan. Beberapa kali dia melakukan hal itu, untuk mengatur pernapasannya.


"Oke, kamu pasti bisa, Put," lirihnya pada diri sendiri.


Putri pun kembali mengangkat tangan dan menggenggam gagang lemari pendingin tersebut, dia pun kembali memberanikan diri untuk membuka pintu besi itu.


"Ayo, Put, kamu pasti bisa."


Putri pun menarik gagang pintu besi itu hingga terbuka dan mengeluarkan uap dingin, tetapi detik selanjutnya dia kembali menutup pintu itu.


"Aaakkhh ...." pekiknya kesal karena tak berhasil mengalahkan rasa takut yang ada di dalam dirinya.


Dia pun meremas rambutnya, menyalurkan kekesalan pada dirinya sendiri.


"Ayolah, Put, mau sampai kapan kamu bergantung dengan orang lain terus?" kesalnya pada diri sendiri.


Air mata pun jatuh membasahi pipi mulusnya, sehingga membuat Putri pun terisak.


"Hiks ... Ayolah, Put, ayolah ... kamu harus keluar dari rasa trauma ini, Put," lirihnya pada diri sendiri.


Putri pun kembali mengatur napasnya, setelah merasa sedikit tenang, dia pun kembali mencoba untuk membuka kulkas tersebut.


"Huuf, aku pasti bisa," lirihnya pelan.


Tangan Putri kembali terulur untuk memegang gagang lemari pendingin. Walaupun tangan itu terlihat bergetar, akan tetapi Putri memantapkan pada dirinya kalau dia bisa melawan semua rasa takutnya itu.


"Aku pasti bisa, aku pasti bisa," lirih Putri dengan mata yang tertutup dan tangan yang menggenggam gagang lemari pendingin.


"Ya, kamu pasti bisa, Put," bisik suara bariton yang sangat Putri kenali.


Gadis itu membuka matanya, kemudian dia langsung berbalik hadap.


"A-arash?" cicit Putri dengan kening mengkerut.


"Huum, ini aku," ujar Arash dengan tersenyum kecil.


Putri tak tahu, apakah yang dia lihat ini benar atau tidak. Setau dia, pria itu sudah pergi bersama dengan Desi pagi-pagi sekali.


"Ka-kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Putri bingung, dia masih merasa jika Arash yang ada di hadapannya saat ini bukanlah Arash yang asli.

__ADS_1


"Aku hanya mengantarkan Desi saja tadi pagi, kemudian aku kembali pulang ke sini," jawab Arash yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.


"Ap-apa?"


Putri semakin bingung, kenapa jawab Arash sama dengan apa yang dia pikirkan?


Fix, Putri berpikir jika saat ini dia sedang menghidupkan halusinasinya, di mana sebenarnya di dalam lubuk hatinya terdalam mengharapkan Arash berada di dekatnya, seperti apa yang terjadi saat ini.


Tangan Arash terulur untuk menghapus air mata Putri. Terasa sangat hangat dan nyata sekali di pipi gadis itu, sehingga membuat Putri menyadari jika pria yang saat ini berdiri di hadapannya bukanlah dari halusinanya, akan tetapi memang nyata adanya.


"Ka-kamu beneran ada, Rash?" tanya Putri yang mana di jawab anggukan oleh pria itu.


"Hum, ini aku, Put," jawab Arash dengan senyumannya yang sangat manis sekali.


Putri pun mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Arash, hingga gadis itu terisak pelan di saat merasakan jika Arash benar-benar nyata di hadapannya.


"Aku di sini, Put. Ini beneran aku," bisik Arash sambil menangkup pipi Putri.


"Huum, hiks ... aku tau, aku dapat merasakannya," lirih Putri yang masih menyentuh pipi Arash.


Beberapa menit yang lalu, Arash terbangun dari tidurnya di saat mendengar suara pintu yang terbuka. Pria itu yang sedang duduk di sofa pun, tatapan matanya mengikuti ke arah mana Putri pergi, sehingga membuat Arash meyakini jika gadis itu tidak menyadari keberadaannya.


Arash pun perlahan bangkit dari duduknya, untuk mengikuti Putri ke dapur. Entah mengapa, ada rasa enggan pada diri Arash untuk mengampiri gadis itu, hingga membuat Arash membalikkan langkahnya.


"Aku harus bisa," lirih Putri yang di dengar oleh Arash, sehingga membuat pria itu pun kembali menoleh ke arah Putri.


Arash mengernyitkan keningnya, di saat melihat Putri berjalan ke arah lemari pendingin, pria itu terus mengawasi gerak gerik gadis yang sudah memporak-porandakan perasaannya saat ini.


Arash ingin mendekat di saat Putri gagal dalam percobaan pertamanya, akan tetapi pria itu mengurungkan niatnya dan kembali memberikan kesempatan kepada Putri. Hingga percobaan ketiga, Arash pun berjalan perlahan mendekat ke arah gadis itu, akan tetap sepertinya Putri tidak menyadari keberadaannya.


"Akkh ..." pekik Putri yang mana membuat hati Arash bagaikan terkena duri.


Dia pun semakin mendekat ke arah Putri dan berbisik kepada gadis itu, jika dia ada di sini bersamanya.


Putri menatap dalam ke mata Arash, mencoba merasa perasaan pria itu, seperti apa yang di katakan oleh Desi tadi malam. Tapi, saat dia menelisik keseluruhan mata Arash, silau dari cahaya permata yang ada di cincin Putri pun, menyadarkan gadis itu jika dia tak boleh berharap lebih dengan pria yang ada di hadapannya saat ini.


"Maaf," cicit Putri dan dengan cepat menurunkan tangannya dari pipi Aras.


"Emm, kamu mau aku menemani kamu membuka kulkas?" tawar Arash.


"Humm?" tanya Putri ingin memastikan apa yang Arash katakan barusan kepadanya.


"Aku akan menemani kamu untuk menyingkirkan rasa trauma yang ada di dalam diri kamu," ujar Arash, kemudian pria itu membalikkan tubuh Putri kembali menghadap ke arah lemari pendingin itu.


"Aku yakin, kamu pasti bisa, Put," bisik Arash.


Pria itu pun mengambil tangan kanan Putri yang tergantung di sisinya, kemudian dia membawa tangan itu untuk menggenggam gagang lemari pendingin.


"Tutup mata kamu, Put, fokuskan pada pikiran kamu, jika isi di dalam kulkas itu adalah sayuran dan juga buah-buahan yang segar," bisik Arash seolah menghipnotis diri Putri.


Gadis itu pun menutup matanya, kemudian mencoba membayangkan isi kulkasnya yang penuh dengan buah-buahan serta sayuran yang segar-segar.


"Kamu sudah siap, Put?" tanya Arash yang di angguki oleh Putri.


"Aku siap."


"Buka mata kamu, di saat aku menyuruhnya," bisik Arash yang di angguki oleh Putri.


Tangan Arash masih menggenggam tangan Putri yang berada di gagang pintu lemari pendingin dengan hangat.


"Baiklah, dalam hitungan ke tiga, kamu membuka mata secara perlahan, bersamaan dengan kita membuka pintu kulkas ini," ujar Arash yang di angguki oleh Putri.


"Kamu siap?"


"Tunggu," cicit Putri yang mana membuat Arash mengurungkan niatnya untuk menari gagang pintu kulkas.


Putri mengatur kembali napasnya, dia pun meyakinkan pada dirinya sendiri jika dia bisa melakukan hal itu.


"Aku siapa," ujar Putri yang mana membuat Arash tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, kita lakukan sekarang. Satu, dua ... tiga ..."


Arash pun menarik gagang pintu lemari pendingin tersebut, bersamaan dengan Putri, hingga uap dingin yang ada di dalam kulkas pun perlahan kembali keluar.


Jantung Putri berdegup dengan kencang, gadis itu berharap jika apa yang di lihatnya dalah buah-buahan segar atau pun sayuran, seperti apa yang ada di dalam pemikirannya saat ini.


"I-ini?" lirih Putri dengan mata yang berkaca-kaca, di saat melihat bahan sayuran di dalam kulkas.


Arash tersenyum di saat melihat Putri tidak merasa takut seperti sebelumnya, walaupun tangan gadis itu masih terasa bergetar dia rasakan.


"A-aku akan mencobanya sendiri," ujar Putri yang di angguki oleh Arash.


"Huum, silakan." Arash pun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Putri, membiarkan gadis itu melakukannya sendiri.


Putri menutup kembali pintu lemari pendingin, kemudian dia menarik napas dan menghelanya secara perlahan.


"Aku pasti bisa kali ini," lirihnya yang masih di dengar oleh Arash.


Putri pun membuka kembali tutup pintu lemari pendingin, hingga uap dingin yang ada di dalam kulkas itu pun keluar. Walaupun jantung gadis itu berdegup dengan cepat, tetapi sia terus meyakini jika dia pasti bisa melakukannya lagi.  Hingga pintu lemari pendingin itu pun terbuka lebar, sehingga Putri bisa melihat apa yang ada di dalam kulkas tersebut pun, membuat gadis itu tersenyum dan bersorak bahagia.


"Horee, aku berhasil." Putri pun berloncat pelan sakin bahagianya.


"Ya, kamu berhasil, Put," Arash pun ikut bahagia melihat Putri tersenyum bahagia seperti saat ini.


"Aku berhasil, Rash, aku berhasil," seru Putri dan tanpa sadar gadis itu berloncat ke dalam pelukan Arash.


"Aku berhasil," lirihnya dengan terisak pelan.


"Ya, kamu berhasil, Put," bisik Arash dengan suara yang berat.


Putri yang merasakan hembusan napas Arash pada lehernya pun, langsung bergegas merelai pelukannya di saat menyadari jika apa yang baru saja dia lakukan adalah salah.


"Maaf," cicit Putri yang sudah memberi jarak di antara mereka berdua.


"Ya," jawab Arash yang merasa kecewa karena Putri melepaskan pelukannya.


Hening, Arash yang masih terus memandang ke arah Putri, sedangkan Putri yang merasa salah tingkah di tatap oleh Arash pun, bingung harus berbuat apa.


"A-aku akan mencobanya lagi," ujar Putri untuk memecah keheningan di antara mereka berdua.


"Hm, silakan," jawab Arash pelan.


Putri pun kembali mengulang pergerakannya dalam membuka pintu kulkas, hingga gadis itu pun kembali berhasil dan bersorak dengan pelan kali ini.


"Aku berhasil, Rash," ujarnya dengan tersenyum canggung.


"Hum, aku tau, kalau kamu pasti bisa mengalahkan rasa trauma kamu, Put," bisik Arash.


Tangan Arash pun terulur untuk menyentuh pipi Putri, hingga gadis itu merasa gugup dan seluruh tubuhnya pun membeku di saat mendapatkan perlakuan asing yang di berikan oleh Arash saat ini.


"Put," panggil Arash dengan suaranya yang berat.


"Hmm?"


Putri pun memberanikan diri untuk membalas tatapan mata Arash, hingga tatapan mata gadis itu seolah terkunci dengan tatapan mata pria yang sudah menangkup pipinya saat ini.


"Ada hal yang ingin aku katakan, Put, kepada kamu," bisik Araash.


"Ap-apa?" tanya Putri merasa penasaran.


"Ap-apa kamu mencintai Soni?" tanya Arash yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.


"Ma-maksud kamu?"


Belum lagi Arash selesai mengeluarkan kalimat selanjutnya, tiba-tiba saja bel pintu apartemen Arash berbunyi dengan cepat, seolah orang yang ada di luar pintu itu tidak sabaran untuk masuk.


Hal itu pun membuat Putri tersadar dengan posisi mereka saat ini, sehingga membuat Putri dengan cepat menurunkan tangan Arash dari pipinya.


"A-aku akan melihat siapa yang datang," ujar Putri dan berlalu meninggalkan Arash sendirian di dapur.

__ADS_1


Arash pun menggerutu kesal. Dia pun menutup pintu kulkas yang masih terbuka dengan satu kali hentakan, sehingga membuat pintu itu tertutup dengan mengeluarkan bunyi yang sangat kuat.


"Aakkh, siapa sih yang datang?" geram Arash dan menatap tajam ke arah pintu apartemennya.


__ADS_2