
Senyuman di bibir Arash seketika menghilang, di saat melihat siapa orang yang ada di hadapannya saat ini. Arash pun semakin merengkuh pinggang Putri, di saat seseorang itu semakin berjalan mendekat ke arah mereka. Hal itu pun membuat Putri mengernyitkan kening dan menoleh ke arah sang suami.
"Ada apa, Arash?" tanya Putri yang merasa sedikit risih dengan apa yang Arash lakukan di depan umum saat ini.
"Kenapa dia bisa ada di sini?" lirih Arash sambil menatap tajam ke arah pria yang sedang tersenyum lebar kepada Mama Nayna dan Papa Satria.
Putri pun mengikuti arah pandang Arash, hingga gadis itu terlihat sangat senang sekali.
"Soni?" lirih Putri dengan mata berbinar dan senyum yang mereka.
Ya, siapa lagi kalau bukan Soni. Pria yang mencintai Putri sedari dulu.
Arash tidak menyukai Putri yang tersenyum lebar untuk pria lain, sehingga membuat pria itu semakin mengeratkan rengkuhannya. Dan juga, tak lupa pria itu mendaratkan sebuah kecupan di bahu Putri.
"A-arash, apa yang kamu lakukan?" bisik Putri dengan wajah merona.
"Kenapa memangnya? Bukannya kita sudah resmi menikah?" bisik Arash dengan menggoda. "Sudah sah bagi aku untuk menciumi kamu, sayang."
"I-iya, tap-tapi ini di depan umum, Rash. Malu tau kalau di lihat orang," lirih Putri dengan gugup.
Arash tertawa pelan, dia sungguh sangat menyukai wajah Putri saat ini.
"Jadi, apa kamu ingin melakukannya di tempat yang tidak ada orangnya? Di mana hanya ada kita berdua saja?" ujar Arash sambil menaik turunkan alisnya.
Putri membulatkan matanya, sehingga membuat Arash semakin tertawa penuh arti.
"Hai, selamat ya, Nces," ujar Soni sambil mengulurkan tangannya kepada Putri, di saat pria itu sudah berada di depan Arash dan Putri.
"Eh, hai ... ya ... terima kasih Soni." Putri ingin membalas uluran tangan Soni, akan tetapi Arash dengan cepat mengulurkan tangannya, menggantikan tangan sang istri.
"Terima kasih, sekarang cepatlah turun," titah Arash yang mana membuat Soni tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak akan turun, sebelum mengambil satu foto dengan gadis yang aku cintai," ujar Soni sambil mengedipkan matanya sebelah kepada Putri.
Hal itu pun membuat Arash semakin geram dan menatap tajam ke arah Soni.
"Tolong foto kami," pinta Soni kepada fotografer.
Soni pun langsung berdiri di samping Putri, sehingga membuat Arash menarik tubuh Putri menjadi ke samping kanannya. Arash tersenyum miring kepada Soni, seolah mengatakan jika dirinya menang dan lebih berkuasa.
Soni tidak mau kalah, pria itu pun kembali berpindah posisi ke sebelah Putri dan memberikan senyuman manis kepada Arash.
"Kamu----" geram Arash, pria itu pun kembali menarik Putri ke samping kirinya, sehingga membuat Soni berdecak kesal.
__ADS_1
Senyuman miring yang sinis pun kembali terbit di wajah Arash, kembali menunjukkan kemenangannya.
Hal itu pun membuat fotografer merasa bingung, karena dia tidak tahu kapan bisa mengambil gambar pengantin dan juga tamunya.
Tak ingin kembali kalah dan kehilangan momen berada di samping Putri, Soni pun kembali berpindah kesamping gadis itu. Entah berapa kali Arash dan Soni melakukan hal itu, sehingga membuat Putri merasa lelah, begitu pun dengan fotografer yang mulai kebingungan. Belum lagi dengan para tamu undangan lainnya yang sedang mengantri untuk berfoto.
"Ini kapan mau di fotonya?" tanya fotografer dengan sedikit kesal.
Merasa kesal dengan tingkah sang suami dan sahabat lamanya, membuat Putri memutuskan jika dirinya akan berada di tengah-tengah kedua pria tersebut. Putri pun merangkul lengan Arash dan Soni secara bersamaan, agar di antar mereka tidak ada lagi yang bergerak.
"Sekarang," titah Putri kepada fotografer dan tersenyum lebar.
Cekrekk ...
Arash menatap kesal kepada sang istri, sedangkan Soni tersenyum dengan begitu lebar.
"Sekali lag,i selamat atas pernikahan kamu, Put. Kalau sudah bosan dengan dia, aku siap menerima kamu kembali," ujar Soni sambil mengedipkan matanya sebelah.
Arash menatap geram ke arah Soni, pria itu kembali merangkul pinggang Putri dengan posesif.
"Aku tidak akan membuat Putri merasa bosan," tegas Arash.
"Baguslah. Tapi, jika kamu menyakitinya, maka aku akan merebutnya dari kamu," ancam Soni dengan berani, sebelum pria itu turun dari panggung.
"Rash, sudahlah," tegur Putri, karena mereka harus menyambut tamu yang lainnya juga.
Setelah para tamu turun, Arash masih memasang wajah kesalnya.
"Kok cemberut gitu? Kenapa?" tanya Putri.
"Kesal sama kamu," ujar Arash sambil melirik ke arah Putri.
"Oh, kesal sama akuu," ujar Putri dengan bernada menggoda. "Soni masih ada gak yaa di sini!"
Arash dengan cepat merajuk lengan Putri, sehingga membuat gadis itu terkekeh pelan.
"Awas kamu kalau berani berpaling dari aku. Aku tidak akan biarkan kamu bisa pergi jauh dari aku, Put," ancam Arash sehingga membuat Putri balik merangkul lengan Arash.
"Tidak akan. Aku tidak kan berpaling dari kamu, suamiku," ujar Putri dengan merdu, sehingga membuat wajah Arash merona.
Di sisi lain.
"Bash, kalian kapan? Arash dan Putri sudah naik panggung," goda Naya.
__ADS_1
"Nay, jangan menggoda aku. Kamu tau kan, kalau aku harus menunggu setahun lagi?" ujar Abash sambil memutar bola matanya malas.
Naya terkekeh pelan sambil melirik ke arah Sifa.
"Padahal kalian bisa nikah dulu, biar setiap ketemuan bisa halal kalau mau---" Naya membuat gerakan kedua tangan yang di kuncupkan, kemudian di adu dengan tangan yang lainnya.
Sifa sudah membulatkan matanya, di saat sangat memahami apa maksud dari calon iparnya itu.
"Nayaaa ..." tegur Sifa dengan malu-malu.
Bukan tanpa alasan Sifa merasa malu, karena dia pernah kedapatan Naya di cium oleh Abash .
"Ide bagus, Nay," ujar Abash sambil merangkul bahu Sifa.
"Maaass..." tegur Sifa sambil memukul pelan dada bidang Abash.
"Kenapa? Takut di bikin hamil ya? Udah sah juga kok," kekeh Naya.
"Iih, Naya," rengek Sifa, sehingga membuat Abash dan Naya tertawa.
"Kamu dulu, kapan mau nikah sama Kak Martin?" goda Sifa balik, sehingga membuat wajah Naya merona.
"Iih, apaan sih?"
"Sayang, memangnya kamu gak tahu? Kalau saat ini Naya sedang dikejar sama tiga kumbang?" ujar Abash sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Apaan sih? Gak jelas kamu, Bash," cibir Naya malu-malu, sehingga membuat Abash tertawa.
"Gak di undang Nay, tiga kumbangnya?" goda Abash sehingga membuat wajah Naya semakin merona.
*
Abash dan Sifa sedang menikmati udara malam di luar hotel. Lebih tepatnya di taman hotel. Pria itu menggenggam tangan Sifa dengan hangat, sedikit pun tidak ingin melepaskan tangan mungil itu.
Kapan lagi Abash bisa menghabiskan waktu bersama Sifa? Mumpung sang mama sedang sibuk melayani tamu yang lainnya.
"Sifa, aku rasa ide Naya ada bagusnya," ujar Abash di sela-sela jalan malam mereka.
"Ide yang mana?" tanya Sifa dengan kening mengkerut.
"Itu loh, yang kita nikah aja dulu," jawab Abash sambil menaik turunkan alisnya. "Aku janji gak bakal macam-macam, deh."
"Maass ..." tegur Sifa sehingga membuat Abash tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Sifa tahu, jika dirinya sudah menjadi istri Abash. Maka pria itu pasti tidak akan bisa menahan dirinya.