
Putri baru saja mengganti pakaiannya, gadis itu pun mematuk penampilannya di cermin.
"Aku sungguh berbeda, jadi mana mungkin dia mengenalku," lirih Putri.
"Tapi, kenapa kamu harus sedih, Put? Bukannya ini yang kamu inginkan?" ujar Putri pada dirinya sendiri.
"Kamu yang menginginkan hal ini, Put. Kamu yang menginginkan agar Arash tidak mengenali kamu lagi, kan? Kamu juga yang menginginkan agar Arash bisa bahagia dengan wanita lain. Lalu, kenapa kamu sedih? Di saat Arash tidak mengenali kamu?" tanya batin Putri pada dirinya sendiri.
"Ingat, Put. Kamu ini wanita bekas. Kamu bekas Abash, kembarannya Arash. Apa mungkin kamu bisa hidup bersama Arash? Jika kamu sendiri sebelumnya pernah tidur dengan Abash. Apa itu mungkin, Put? Apa kamu sanggup hidup dalam rasa bersalah dan selalu dalam bayangan Abash?"
Putri menutup matanya, menarik napas panjang dengan tangan yang terkepal kuat.
"Kamu yang mengatakannya sendiri, jika tidak akan mampu melakukan hubungan itu bersama Arash, jika kamu melihat wajah Abash di wajah suami kamu."
Air mata Putri pun menetes, membasahi pipinya yang merona karena blush-on.
"Kamu tidak boleh berharap apapun lagi, Put. Jangan pernah berharap jika Arash masih menunggu dirimu. Bagi mereka, kamu sudah tiada, Put. Ya, kamu sudah tiada. Mana mungkin orang yang telah tiada, bisa hidup kembali, Kan?" lirih Putri.
Ya, akhirnya Putri mengetahui tentang para penumpang pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut, di nama di dalamnya terdapat nama dirinya. Putri pun juga membayar seseorang untuk mencari tahu, apakah keluarganya mengadakan tahlilan atau tidak.
Seperti yang Putri duga, jika dirinya telah di anggap telah tiada oleh seluruh keluarganya, termasuk Arash.
Lalu, kenapa Putri mengirimkan buku novel kepada Zia?
Hal itu Putri lakukan di luar kesadarannya. saat itu, Putri bertemu dengan penulis yang bernama Rira Syaqila, di mana adik kecilnya itu sangat menyukai semua karya-karya beliau. Dan saat itu, Putri pun bercerita tentang sang adik yang tidak mendapatkan buku novel yang berjudul 'Cinta Yang Tulus'. Untuk itulah, Rira Syaqila memberikan buku miliknya kepada Putri, beserta tanda tangan wanita tersebut.
Tanpa berpikir panjang, Putri mengirimkan buku tersebut melalui orang kepercayaannya. Dia sengaja tidak memberikan siapa nama si pengirim, berharap Zia tidak mencari si pengirim tersebut melalui namanya.
Tanpa Putri ketahui, jika hal itu membuat Zia curiga, jika dirinya masih hidup.
"Ingat, Put. Kamu sudah meninggal bagi mereka semua."
Putri pun bersiap dan mengambil tas mininya, gadis itu pun keluar dari ruang ganti khusus karyawan. Putri melirik ke arah meja dua puluh empat, di mana Arash tadi duduk di sana, tapi pria itu saat ini sudah tidak lagi berada di sana.
"Dia sudah pulang," lirih Putri pelan.
__ADS_1
Gadis itu pun menoleh ke arah manager, kemudian tersenyum sebagai tanda berpamitan.
Putri melangkahkan kakinya menuju apartemennya yang terbilang jauh dari kata mewah. Di mana apartemen itu benar-benar sangat sederhana sekali.
Jalan yang ramai dengan pejalan kaki pun membuat Putri tidak menyadari, jika dirinya saat ini sedang di ikuti oleh seseorang.
Tap ..
Seorang pria bertubuh tinggi pun menghadang jalan Putri, sehingga membuat gadis itu terpaksa menghentikan langkahnya.
Deg ....
Jantung Putri berdegup dengan kencang, di saat mengetahui siapa pria yang telah menghadang dirinya.
"Arash?" batin Putri dengan tubuh yang bergetar.
Arash tersenyum kepada Putri, kemudian pria itu mengulurkan sesuatu.
"sorry, you dropped this," ujar Arash.
"This is not mine," jawab Putri dengan suara yang bergetar.
Putri pun mencoba tenang, kemudian dia berlalu melewati Arash.
"I know it's you," ujar Arash, yang mana membuat Putri menghentikan langkahnya.
Putri berbalik, mata gadis itu sudah mulai berembun. Dengan sekuat tenaga, Putri menahan agar dirinya tidak merasa lemah di depan Arash dan harus bisa tetap berperan sebagai Miska.
"I---"
"Put, pulanglah. Aku merindukan kamu," lirih Arash akhirnya, di saat Putri ingin membuka suaranya.
"Sorry, I'm not a Putri."
Arash terkekeh pelan, di saat Putri membuka sendiri penyamarannya.
__ADS_1
"Mau sampai kapan kamu bersembunyi, Put? Sampai kapan?" lirih Arash dengan memohon.
Arash pun mengulurkan tangannya, untuk menyentuh tangan Putri, akan tetapi, Putri dengan cepat memundurkan langkahnya agar Arash tidak dapat menyentuh dirinya.
"Put, ada apa? Apa kamu tidak ingin pulang? Aku mencintai kamu, Put. Aku---"
"I'm not Putri," lirih Putri sambil menggelengkan kepalanya.
"You go home. I'm not a Putri. and don't ever look for me again. My name is Miska, not Putri."
"Put, aku mohon, hentikan semua ini. Kembalilah pulang, Put," lirih Arash dengan mata yang berkaca-kaca.
"No. I'm not Putri. My name is Miska." Putri pun menggelengkan kepalanya, gadis itu berjalan mundur untuk menjauh dari Arash.
"Put, aku mohon, kembalilah.."
"I'M NOT PUTRI," pekik Putri dengan air mata yang mengalir. "Go away from here. Go away...."
Putri pun berlari menjauhi Arash, gadis itu pun tidak lagi melihat sekitarnya..
Tiiiiiinnn .....
"Tidaaakk ... Putri...."
Braaakkk ....
Arash berlari menghampiri Putri yang terpental jauh dari lokasinya berdiri saat tadi. Gadis itu telah berlumur darah di seluruh tubuhnya.
"Put, bertahanlah. Hiks ..." mohon Arash yang sudah memangku kepala Putri.
"Aa---"
Putri menahan rasa sakit yang amat teramat sakit. Bagian perutnya selalu ada yang tertancap, sehingga membuat napasnya terasa semakin sesat. Perlahan, mata Putri pun tertutup dengan rapat, sebelum gadis itu bisa mengucapkan satu payah katakan.
"PUTRIIIII ....."
__ADS_1