
Abash dan Sifa tengah asik mengobrol, hingga mereka tidak menyadari jika ponsel keduanya terus berdering. Ya, sebenarnya Abash dan Sifa sengaja me-silent suara ponsel mereka, agar tidak mengganggu moment romantis berdua yang tengah mereka ciptakan. Jangan sampai ada sesuatu hal yang membuat mereka terganggu dengan urusan yang lainnya. Maka dari itu, mereka hanya ingin fokus dengan momen bulan madu mereka.
"Jadi, rumah aku yang dulu dalam tahap renovasi?" tanya Sifa terkejut dia tidak menyangka jika Abash melakukan hal tersebt untuknya.
"Iya, sayang. Aku sudah mengirim sketsa rumah yang seperti kamu inginkan kepada kontraktor pembangunan rumah yang akan jadi penanggung jawabmya, jadi nanti sesekali kita lihat hasilnya, ya?" ajak Abash. Mata Sifa berkaca-kaca akibat senang dengan pernyataan suaminya. Dia bahkan tidak pernah membayagkan jika mereka akan tinggal lagi di rumah itu.
"Iya, Mas, aku gak sabar untuk melihat udah berapa persen pembuatannya," ujar Sifa dengan penuh semangat.
"Ya belum beberapa persen sih, sayang. Namanya juga baru mulai pembangunannya," kekeh Abash yang melihat betapa semangatnya Sifa saat mengetahui jika rumahnya yang dulu, rumah yang penuh dengan kenangan sedang direnovasi sesuai dengan rumah impian wanita itu.
"Hehehe, aku gak sabaran Mas untuk melihatnya," kekeh Syifa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Abash yang tak sengaja melirik ke arah jam dinding pun sedikit terkejut, karena saat ini sudah memasuki jam untuk makan siang. Sungguh waktu berjalan dengan begitu cepat, sehingga Abash tidak menyadari hal tersebut. Padahal, dirinya dan Sifa hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol saja. Dan ternyata, mengobrol dengan orang yang kita sayangi dan sepemikiran dapat membuat kita tidak merasa jika waktu terus berjalan dengan tanpa diduga.
"Sayang, sudah mau masuk jam malam siang. Kamu mau makan siang di mana?" tanya Abash memastikan apa yang sang istri inginkan.
Sifa melirik ke arah jam dinding dan benar saja jika wanita itu juga tidak menyangka jika waktu berjalan dengan begitu cepatnya. "Eh, iya ya. Udah siang. Gak terasa ya, Mas. Perasaan kita baru selesai sarapan deh," kekeh Sifa.
"Iya, sayang. Gak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat, ya?"
"Huum, iya Mas."
"Jadi, mau makan di mana? Di restoran atau makan di kamar saja?" tawar Abash kepada sang istri.
"Emm, makan di luar aja deh, Mas. Biar bisa sekalian jalan-jalan. Lagi pula, Mas kan janji sama aku untuk ajakin aku naik sky boat?" ujar Sifa mengingatkan janji sang suami kemarin kepadanya. Abash menepuk keningnya cukup keras.
"Ah, iya ya … maaf, aku kelupaan kemarin. Lagi pula, kita kan kemarin keasyikan belanja sampai kelelahan dan ketiduran di resto," kekeh Abash yang di angguki oleh Sifa.
"Iya ya, Mas."
"Ya sudah kalau gitu, kalau kamu mau makan di luar, ayo cepetan kita bersiap," titah Abash dan mengajak Sifa berdiri dari tempat duduknya.
"Sebentar, Mas." Sifa pun mengambil ponselnya, hingga wanita itu terkejut di saat melihat beberapa panggilan gak terjawab dari sang mertua.
"Mas, Mama nelpon ke ponsel aku berkali-kali, tapi aku malah gak denger, Mas. Gimana ini? Mama marah gak ya kira-kira karena panggilan teleponnya gak aku angkat?" ujar Sifa dengan risau memperlihatkan beberapa panggilan dari wanita itu.
"Mama juga ada hubungi ke ponsel aku, sayang," Abash pun menunjukkan beberapa panggilan tak terjawab dari sang mama. Mereka saling berpandangan dan tersenyum kaku. Memikirkan mungkin saja mama di sana marah atau khawatir kepaad mereka berdua.
"Gimana ini, Mas. Pasti mama kecewa banget deh sama aku, karena aku tidak mengangkat panggilan telepon dari beliau?" lirih Sifa dengan perasaan risau.
"Gak papa, sayang. Jangan panik gitu. Sekarang kita bisa buat panggilan kembali dengan Mama, ya!" bujuk Abash menenangkan sang istri.
"Gimana kalau Mama marah sama aku, Mas?" tanya Sifa lagi.
__ADS_1
"Mama gak akan marah. Kamu tenang aja, ya, biar aku yang menghubungi Mama kembali," ujar Abash dan mendial nomor wanita yang telah melahirkannya dengan penuh perjuangan, sehingga dirinya bisa berada di dunia ini hingga sampai sebesar ini.
Terdengar beberapa kali nada dering, hingga akhirnya nada dering tersebut berubah menjadi suara lembut dari sang mama.
"Assalamualaikum, Bash?" sapa Mama Kesya saat sudah menggeser tombol hijau, agar panggilannya tersambung dengan sang putra. Dia senang karena akhirnya Abash menghubunginya setelah beberapa sat yang lalu dia tidak mendapatkan jawaban dari kedua anaknya itu.
"Walaikumsalam, Ma. Mama sekarang lagi gak sibuk, kan?" tanya Abash memastikan waktu sang mama, sebelum pria itu mengajak wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik di usianya yang tak muda lagi itu.
"Lagi santai-santai aja, nih. Kenapa?" tanya Mama Kesya.
Sebenarnya Mama Kesya sudah tak sabar ingin langsung mencecar sang anak dan menantu dengan pertanyaan-pertanyaan yang berputar di dalam kepalanya saat ini. Akan tetapi, dia menahan dirinya. Menyadar jika mungkin kedua orang itu sedang tidak ingin diganggu sama sekali.
"Abash aktifkan ke video call ya, Ma," pinta Abash.
"Oke."
Mama Kesya pun menerima perubahan panggilan suara menjadi panggilan video call.
"Hai sayang," sapa Mama Kesya saat melihat wajah sang putra.
"Ma, ada yang mau minta maaf nih sama Mama," ujar Abash sambil melirik ke arah sang istri.
"Oh ya? Minta maaf kenapa?" tanya Mama Kesya bingung.
"Ma," sapa Sifa dengan jantung yang berdebar-debar. Takut menggelayuti di dalam hatinya.
"Ya, sayang ada apa?" tanya Mama Kesya yang melihat jika wajah sang menantu terlihat gelisah.
"Sifa minta maaf ya, Ma," ujar Sifa dengan gugup.
"Minta maaf kenapa, sayang?"
Suasana pun tiba-tiba terasa menegang, Mama Kesya khawatir jika sang menantu tidak bisa melayani sang putra, seperti apa yang telah beliau ajarkan sebelumnya. Ya, walaupun sebenarnya tidak sepenuhnya salah Sifa, kenapa Abash belum menjadikan wanita itu sebagai istrinya yang utuh. Tapi, tetap saja kan, Sifa harus berusaha sebaik dan sekeras mungkin agar Abash bisa menjadikannya sebagai seorang istri yang utuh.
"Sifa mau minta maaf, Ma. Karena Sifa udah mengabaikan panggilan yang masuk dari Mama," lirih Sifa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya ampun, sayang. Kirain kenapa!" Mama Kesya bernapas lega, ternyata apa yang dia takutkan tidak terjadi.
Tidak sengaja Mama Kesya melihat sesuatu yang ada pada Sifa.
Eh tapi tunggu, apa itu yang ada di leher Sifa?
Mama Kesya pun mengernyitkan matanya, menajamkan penglihatannya untuk melihat apa yang ada di sekujur leher sang menantu.
__ADS_1
"Gak papa kok sayang, Mama gak marah sama kamu. Mama maklum kok, kalau kamu dan Abash lagi gak mau di ganggu," ujar Mama Kesya yang masih memfokuskan matanya ke leher Sifa. Dia tersenyum kecil. SIfa yang diserang anaknya, tapi dia ikt malu karena membayangkan hal yang sudah pasti Abash dan Sifa lakukan berdua di sana.
"Makasih, Ma, karena sudah tidak marah dengan Sifa," lirih Sifa merasa lega.
"Iya, sayang. Gak papa kok." Mama Kesya semakin merasa penasaran dengan tanda yang ada di leher Sifa. Semoga saja tebakan wanita paruh baya itu benar.
"Sayang, boleh mendekat sedikit ke kamera?" pinta Mama Kesya.
"Ya, Ma, kenapa?" Sifa pun menurut, wanita itu mendekatkan wajahnya ke arah kamera ponselnya.
"Apa yang di leher kamu itu bekas ******?" tanya Mama Kesya yang mana membuat Sifa membulatkan matanya.
Sifa pun refleks menutup lehernya dengan satu tangannya yang bebas. Malu. Jangan di tanya lagi bagaimana warna wajah Sifa saat ini. Pastinya sudah terlihat merah merona, persis seperti kepiting rebus atau tomat yang sudah masak.
Abash yang mendengar apa yang di katakan oleh sang mama pun tersenyum dengan manisnya. Pria itu menunjukkan wajahnya ke kamera.
"Ma, doain ya, semoga juniornya Abash segera hadir," pinta Abash yang masih mengembangkan senyumannya dengan begitu lebar. Sifa semkin malu dengan ucapan suaminya itu. Terutama karena Mama Kesya tertawa di sana. Entah menertawakan apa.
"Alhamdulillah, akhirnya Abash bisa juga, Pa," seru Mama Kesya dengan suaranya yang menggelegar.
Terdengar suara yang berucap syukur dari beberapa orang yang sangat Abash kenali, sehingga membuat wajah pria itu pun ikut merona. Dia tidak menyangka jika di belakang mamanya masih ada orang lain lagi.
"Bash, semangat yaaa … semoga kamu bisa dapat twins," pekik Papa Fadil.
"Iya, Bash. Tapi kamu jangan lupa untuk memberikan nutrisi yang baik untuk Sifa, agar dia tidak kelelahan," sahut Mama Puput.
Ya, sepertinya para tetua sedang berkumpul saat ini.
"Ma, udah dulu ya, assalamualaikum," pamit Abash yang tidak ingin mendengar lagi godaan dari para tetua. Dia malu, seharusnya tadi dia memastikan terlebih dahulu siapa saja yang ada di sana. Ah, salahnya dia tidak bertanya terlebih dahulu.
Abash pun langsung memutuskan panggilannya secara sepihak, kemudian menoleh kepada sang istri.
"Kita menghubungi Mama di saat yang salah, sayang," ujar Sifa yang di angguki oleh Sifa yang juga wajahnya masih memerah.
"Eh tapi, kenapa kita harus malu? Kita kan ke sini memang untuk berbulan madu. Iya kan, sayang?" goda Abash sambil menaik turunkan alisnya.
"Maas, jangan memasang wajah mesum seperti itu. Aku kan jadi malu! Lirih Sifa sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Abash menarik tangan Sifa dan memeluknya erat.
"Makan siang aku kali ini kamu ya?"
"Nggak Masssss!" teriak Sifa mengelak dari pelukan suaminya.
__ADS_1