Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 141 - capuccino cake


__ADS_3

Putri baru saja turun dari taksi tepat di depan toko kue milik Mama Kesya.


"Bener yang ini gak sih?" lirih Putri. "Ah, masuk aja deh dulu," ujarnya dan masuk ke dalam toko.


"Selamat datang," sapa pelayan toko sambil membukakan pintu untuk Putri.


"Iya, terima kasih," jawab Putri dengan tersenyum.


"Ada yang bisa di bantu, Mbak? Mau makan di sini atau take away?" tanya pelayan itu.


"Makan di sini," jawab Putri.


"Silahkan ke sebelah estalase ya, Mbak, untuk memilih pesanannya," ujar pelayan tersebut sambil menunjukkan arahnya.


"Terima kasih," ujar Putri sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Selamat sore, Mbak cantik. Mau pesan apa," ujar Tante Lena dengan tersenyum.


Putri yang di puji cantik pun, langsung tersipu malu.


"Ah ya, saya mau cake----," Putri pun menatap kue-kue yang ada di etalase.


"Cobain capuccino cake-nya, di jamin Anda pasti suka," bisik suara bariton yang sangat Putri kenali.


Putri pun menoleh ke arah sumber sumber suara.


"Anda?"


Abash pun tersenyum tipis di saat melihat wajah terkejut Putri.

__ADS_1


"Anda sama siapa ke sini?" tanya Abash.


"Sendiri, kebetulan apartemen saya dekat sini, jadi saya mau cobain cake di sini," ujar Putri.


"Oh, begitu."


"Pak Abash sendiri?" tanya Putri.


"Mama minta jemput ke sini dengan saya," jawab Abash.


"Jadi, ini beneran toko Tante Kesya?" tanya Putri dengan sedikit terkejut.


"Hmm, ini toko Mama saya, kenapa?"


"Huff, syukurlah. Saya tadi takut salah masuk toko. Soalnya di depan sana juga ada toko kue," kekeh Putri.


Abash pun mengangguk-anggukan kepalanya.


"Oh, em.. saya mau pesan yang di bilang sama Pak Abash aja. Cappucino cake," ujar Putri.


"Baiklah, di tunggu sebentar ya. Nanti pesananya akan di antarkan," ujar Tante Lena.


"Kamu gak pesan, Bash?" tanya Tante Lena kepada Abash.


"Samain aja, Tante. Sekalian tunggu Mama turun juga," ujar Abash.


"Oke."


Abash pun mengajak Putri untuk duduk di meja yang sudah di sediakan.

__ADS_1


"Nona Putri, bagaimana jika kita duduk di sana?" ajak Abash.


"Hmm, baiklah."


"Mari, saya bantu bawakan," tawar Abash dan mengambil barang bawaan Putri yang ada di tangan gadis itu.


"Ehh ..."


"Ayo," ajak Abash.


Putri pun mengangguk dan mengikuti pria yang menjadi partner kerjanya itu.


"Haah, suasana cafe cake-nya enak ya," puji Putri. "Nyaman banget, cocok untuk anak kuliahan yang sedang ngerjain tugas. Trus cocok juga sih untuk penulis yang sedang mencari inspirasi," ungkap putri.


"Ya, kamu benar. Mama memang sengaja mendesain cafe ini dengan tujuan seperti itu," ujar Abash.


"Ooh, ide Tante Kesya cemerlang banget. Boleh kan ini saya tiru?" tanya Putri dengan terkekeh pelan.


"Anda mau buka toko kue juga?" tanya Abash.


"Bukan, tapi untuk opa saya. Beliau memiliki toko kue kecil-kecilan sih. Rencananya saya mau membelikan beliau sebuah toko untuk usahanya itu. Sebagai hadiah ulang tahun," ujar Putri.


"Hmm, silahkan saja. Jika Mama mendengarnya, pasti mama juga akan senang sekali karena bisa menjadi inspirasi bagi orang lain," ujar Abash.


"Ah ya, tadi saya di kirimkan email oleh asisten saya. Undangan untuk ikut family gathering," ujar Putri. "Emangnya itu gak salah kirim? Saya kan baru bergabung dengan perusahaan Pak Abash," ujar Putri dengan bingung.


"Hmm, itu benar. Mau baru bergabung atau tidak, tetap saja akan mendapatkan undangan tersebut. Itu tandanya dia adalah bagian dari perusahan saya," ujar Abash.


"Ahh, begitu ya. Saya pikir kalau itu salah kirim," kekeh Putri.

__ADS_1


"Kalian berdua?" ujar seseorang yang mana membuat Abash dan Putri menoleh ke arah sumber suara.


__ADS_2