
Kabar duka pun menyelimuti keluarga Moza, di mana orang yang paling dituakan pun telah berpulang ke Rahmatullah.
Sifa yang tak pernah menunjukkan diri di hadapan keluarga Moza pun, saat mendapatkan berita tentang meninggalnya Kakek Farel, membuat gadis itu menunjukkan dirinya. Alias Sifa datang ke rumah duka.
"Sifa?" lirih Abash saat melihat gadis itu.
Abash pun berjalan cepat ke arah sang kekasih dan ingin memeluk tubuh Sifa. Tetapi, saat Abash sudah berada di depan Sifa, gadis itu malah membuat Abash terdiam di tempatnya.
"Aku ke sini karena ingin melayat, Mas, bukan bertemu dengan kamu."
Setelah mengatakan hal itu, Sifa pun berlalu meninggalkan Abash yang masih terdiam di tempatnya.
"Fa, andai kamu tahu perasaan aku yang sebenarnya," lirih Abash sambil menatap punggung Sifa yang semakin menjauh.
Sifa menghampiri Mama Kesya dan berniat untuk mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. Akan tetapi, Mama Kesya langsung menarik tubub Sifa dan memeluknya.
"Kamu datang, sayang," lirih Mama Kesya yang menahan tangisnya.
Ya, walaupun mata Mama Kesya basah, akan tetapi wanita itu terlihat tegar dari yang lainnya. Mama Kesya terlihat bagaikan tiang besar yang sangat kokoh, demi menampung semua orang untuk berteduh di bawahnya.
Dari Oma Laura, Oma Mega, serta Papa Arka sekali pun, Mama Kesya sudah bagaikan dinding untuk tempat semua seluruh keluarga Moza bersandar.
Sudah hampir satu jam Sifa berada di rumah besar itu. Bahkan gadis itu juga ikut membantu menghidangkan minuman dan cemilan untuk pada pelayat.
"Fa, kamu ikut sholatin jenazah Kakek Farel?" tanya Naya yang berada di dapur bersama Sifa.
"Iya, Mbak."
"Yuk, ambil wudhu. Kakek sudah mau di sholatkan," ajak Naya yang di angguki oleh Sifa.
Sifa pun mengikuti Naya menuju mushola kamar mandi, di mana dia akan mengambil air wudhu. Setelah mengambil air wudhu, gadis itu pun langsung bergegas menuju ke tempat di mana Kakek Farel akan di sholatkan.
Sifa menghentikan langkahnya, di saat dia berpas-pasan dengan Putri.
"Sifa?" lirih Putri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mbak?" tegur Sifa dengan tersenyum kecil.
Sifa pun langsung berlalu begitu saja melewati Putri, karena hatinya tiba-tiba saja terasa sakit melihat gadis itu.
"Maaf, Mbak, karena aku tiba-tiba sangat membenci kamu," batin Sifa dengan tangan yang mengepal erat.
Putri menatap kepergian Sifa, hingga dia tersadar dengan tepukan di bahunya.
"Di maklumi ya, Put?" ujar Naya yang melihat ekspresi wajah dari keduanya.
Putri tersenyum, gadis itu menganggukkan kepalanya dan mencoba menerima jika Sifa wajar saja membenci dirinya.
__ADS_1
"Aku ambil wudhu dulu," pamit Putri yang di persilahkan oleh Naya.
*
Kakek Farel telah di kebumikan, pelayat masih terus berdatangan hingga malam. Bahkan, warga-warga yang baru saja sholat magrib, menyempatkan diri untuk bertakziah di rumah Kakek Farel.
Sifa masih berada di sana, bahkan dia sudah berganti pakaian dengan baju milik Quin.
Walaupun Sifa seharian di rumah Kakek Farel, akan tetapi gadis itu terus menghindar untuk tidak berpas-pasan dengan Arash atau pun Abash. Begitu pun dengan Putri, karena gadis itu seharian ini juga berada di rumah calon mertuanya.
"Uwweeekk ...."
Putri tiba-tiba saja merasa mual, gadis itu langsung berlari menuju kamar mandi.
"Kenapa, An?" tanya Quin kepada sepupunya itu.
"Kalau aku tidak salah hitung, bisa jadi Putri saat ini tengah hamil. Usia kandungannya masih satu minggu," tebak Anggel saat mendengar dan melihat bagaimana cara Putri merasa mual dan langsung berlari untuk memuntahkan isi perutnya.
Di tambah lagi, baru saja salah satu asisten rumah tangga mengatakan jika Putri tidak memuntahkan makanan, hanya angin dan ludah saja yang keluar di saat gadis itu merasa mual dan muntah.
"Top care juga kecebong Abash," bisik Lana yang mana membuat Quin dan Anggel memukul pria itu dengan kuat.
Bagaimana tidak, di saat Lana mengatakan kalimat tersebut, di sana ada Sifa yang ternyata juga mendengar percakapan mereka.
"Punya mulut itu di jaga," geram Quin.
"Lah, kok jadi aku yang salah, Quin?" rajuk Lana.
Malam kian larut, Mama Kesya pun menahan Sifa untuk tidak pulang dan menginap di kediaman almarhum Kakek Farel. Awalnya gadis itu menolak, akan tetapi akhirnya dia menerima juga permintaan Mama Kesya.
"Tante, Putri pamit pulang, ya?" izin Putri.
"Kamu gak nginap di sini, sayang?" tanya Mama Kesya.
"Gak, Tante. Putri pulang bareng mama dan papa."
"Nginap sini aja, ya?" bujuk Mama Kesya.
Putri menggelengkan kepalanya, wanita paruh baya itu tahu, jika Putri seharian ini juga menghindari Arash dan Abash. Tetapi, dia tidak menghindari Sifa. Bahkan, Putri seolah sengaja ingin mendekati gadis itu, akan tetapi Sifa lah yang mengindar dari Putri.
Mama Kesya menghela napasnya pelan, dia pun tidak ingin memaksa Putri kembali. Wanita paruh baya itu paham, jika Putri butuh waktu untuk bertemu dengan Abash dan Arash, walaupun pernikahan antara Putri dan Abash sudah di tentukan tanggalnya, akan tetapi dia tetap menolak untuk menikah dengan pria itu.
Putri pun kembali berpamitan dengan Mama Kesya, kemudian dia berlalu menuju pintu keluar rumah yang bagaikan istana tersebut.
Putri melihat Sifa yang sedang mengutip tisu kotor yang ada di atas ambal, sehingga membuat gadis itu menghampiri Sifa.
"Sifa," panggil Putri, sehingga membuat sang empu menoleh.
__ADS_1
Terlihat jelas sekali, jika Sifa tidak merasa nyaman bertemu dengan Putri.
"Aku mohon, dengarkan aku kali ini," pinta Putri saat Sifa ingin mengindar darinya.
"Mbak, aku rasa----"
"Aku tidak akan pernah menikah dengan Abash," potong Putri cepat, sehingga membuat Sifa membulatkan matanya.
"Apa maksud, Mbak?" tanya Sifa.
"Aku tidak akan menikah dengan Abash. Apapun yang terjadi, terlepas aku hamil atau tidak," tegas Putri.
"Mbak, gak boleh gitu. Mbak gak boleh mengabaikan kesalahan dan tanggung jawab Mas Abash. Mbak harus---"
"Jika kamu bersedia menjadi istri Abash, maka aku juga akan bersedia menikah dengannya," potong Putri cepat.
"Mbak? Mbak, jangan gila .... Mas Abash---"
"Abash butuh kamu, Put. Bukan aku." potong Putri lagi.
"Pergilah temui dia, dia butuh kamu untuk menjadi sandarannya." Setelah mengatakan hal itu, Putri pun berlalu meninggalkan Sifa yang masih berdiri terdiam di tempatnya.
Seketika, wajah Abash yang terlihat sendu pun membaut hati Sifa teriris. Juga saat Abash menahan air matanya untuk tidak jatuh, saat proses kebumikan almarhum Kakek Farel.
"Mas Abash!" lirih Sifa dan mencari di mana keberadaan pria itu.
Sifa bertanya kepada pelayan yang ada, hingga dia akhirnya menemukan di mana keberadaan mantan kekasihnya itu.
Perpustakaan.
Yaa, Abash berada di sana untuk menyendiri dan menumpahkan kesedihannya.
Naya yang mengetahui jika Sifa mencari Abash pun, langsung menghampiri gadis itu untuk membantunya membuka pintu perpustakaan yang tidak bisa dimasuki sembarang orang.
"Terima kasih, Mbak," ujar Sifa kepada Naya.
"Sama-sama." Naya pun kembali berbalik dan membiarkan Sifa menemui Abash.
Sifa membuka pintu itu secara perlahan, dia pun masuk ke dalam perpustakaan dengan langkah yang sangat pelan sekali.
Ruangan yang hening, sehingga memantulkan bunyi yang sedikit menggema pun, membuat Sifa dapat mendengar suara Isak tangis tertahan dari seseorang. Sifa mengikuti arah suara tersebut, sehingga dia pun dapat melihat betapa terpukulnya mantan kekasihnya itu.
Sifa kembali meneteskan air matanya, kakinya perlahan bergerak maju mendekati Abash yang terisak hebat dengan suara yang tertahan.
"Mas?" panggil Sifa sambil menyentuh bahu Abash.
Abash berbalik, di saat dia melihat siapa yang menyapanya, pria itu pun langsung menarik tubuh Sifa dan memeluknya.
__ADS_1
Tangis Abash pun kembali pecah, tanpa dia tahan lagi.
"Yang sabar, Mas," bisik Sifa yang juga ikut menangis terisak dan mengusap punggung Abash yang bergetar dengan hebat.