
"Put, kamu gak papa?" tanya Desi yang sudah memegangi Tubun Putri yang terlihat lemas.
"Ke-kepala aku rasanya pusing."
Desi dengan cepat menahan tubuh Putri yang limbung, hal itu pun membuat Maam Kesya dan Arash menoleh ke arahnya.
"Apa yang terjadi dengan Putri?" tanya Mama Kesya dan melepaskan telinga Arash yang sudah memerah.
"Gak tau, Ma. Tiba-tiba saja Putri pingsan," jawab Desi.
"Arash, buruan kamu angkat Putri, bawa masuk ke dalam," titah Mama Kesya.
Arash pun bergegas mengambil alih tubuh Putri dan membawanya ke dalam gendongan pria itu.
"Duh, kenapa Arash sih yang gendong?" batin Putri.
Ya, sakin malunya kepada Mama Kesya, Putri tak tahu harus berbuat apa, gadis itu pun berpura-pura tak sadarkan diri agar tak di tanyai apa pun oleh Mama Kesya.
Arash pun melangkahkan kakinya lebar, sehingga tubuh Putri tergoncang kuat di dalam gendongan pria itu.
"Gak bisa jalan santai aja, apa? Kenapa mesti lari-lari?" batin Putri yang takut jatuh dari gendongan Arash.
Gadis itu pun meremas erat jas yang di pakai oleh Arash, sehingga membuat sang empu melirik ke arahnya dengan kening mengkerut. Melihat mata Putri yang terlihat tertutup tak sewajarnya orang pingsan, Arash pun menaikkan sudut bibirnya.
__ADS_1
"Des, tolong tekan liftnya," titah Arash.
Desi pun menekan tombol lift, sehingga pintu besi itu pun terbuka. Arash masuk ke dalam ruangan besi berbentuk kotak, di susul oleh Mama Kesya.
"Rash, apa perlu Mama telpon Lucas?" tanya Mama Kesya yang mengkhawatirkan keadaan Putri saat ini.
"Iya, tapi Mama jangan panik, ya," pinta Arash.
Mama Kesya pun menganggukkan kepalanya, wanita paruh baya itu pun langsung menghubungi sang keponakan.
"Halo, Luc, kamu tolong ke hotel utama ya, ada hal mendesak. Bawa peralatan dokter kamu juga," titah Mama Kesya.
Wanita paruh baya itu pun menyimpan kembali ponselnya setelah Lucas menyetujui permintaan Mama Kesya.
Pintu lift berbunyi, menandakan jika mereka sudah tiba di lantai yang di tuju. Desi dengan gesit langsung membuka kamar VIP itu dengan kunci yang sudah dia minta dari reseptionis.
Arash pun membawa Putri masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di tempat tidur.
Perlahan sekali, Putri bernapas lega, akhirnya dia mendarat dengan selamat di benda yang sangat empuk.
"Ma, sebaiknya kita keluar. Biarkan Putri istirahat saja dulu. Mungkin dia terlalu terkejut dengan kejadian tadi," ujar Arash mengajak Mama Kesya untuk keluar kamar.
"Loh, Putri lagi gak sadarkan diri, Rash, kok di tinggal sih?" tolak Mama Kesya.
__ADS_1
Desi yang dengan cepat paham akan kofe yang di berikan oleh Arash pun, langsung membisikkan sesuatu di telinga Mama Kesya.
"Sebaiknya kita tunggu di luar aja, Ma. Biarkan Lucas yang memerikan Putri nanti," ajak Arash lagi.
Kali ini, Mama Kesya yang paham akan maksud dari sang putra Lin menyetujui idenya.
"O-Oh, baiklah. Sebaiknya kita tunggu Lucas di luar saja."
Lagi, Putri kembali merasa lega di saat Mama Kesya menyetujui permintaan Arash.
"Iya, tunggu di luar aja ya, Tante. Jadi, aku bisa bernapas lega dikit," batin Putri.
"Ayo, kita tunggu di luar," ajak Arash.
Terdengar langkah yang menjauh, kemudian suara handle pintu yang ditekan dan pintu terbuka, lalu suara langkah kaki lagi dan terakhir suara pintu yang tertutup.
Putri pun akhirnya menghela napas dengan lega, gadis itu membuka mata dan langsung mendudukkan dirinya. Dia mengipas-ngilasi wajahnya dengan tangan.
"Bikin gugup aja," lirih Putri dengan pipi yang menggembung sambil mengeluarkan napas dari mulutnya.
"Aah, jadi kamu pura-pura pingsan, Hmm??" tegur Mama Kesya yang mana membaut Putri membelalakkan matanya.
"Ta-tante ...."
__ADS_1