Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 47 - Kursi Roda


__ADS_3

"Jangan bilang kalau Bapak juga gak tahu token listrik yang seharga dua puluh ribu? Trus bunyi token listris saat pulsanya habis?"


"Suara token listrik?"


Seperti dugaan Sifa, Abash kembali terkejut dengan ucapan gadis itu.


Sifa menghela napasnya pelan, terlihat sekali jika dunia mereka berbeda. Hidup di bawah langit yang sama, tanah yang sama, kota yang smaa, udara yang sama, bahkan kantor yang smaa pun, nyatanya mereka masih terlihat jauh berbeda.


"Lain kali saya kenalin dengan yang namanya token listrik, ya Pak," lirih Sifa.


Abash ingin kembali bertanya, tetapi gorden kembali di terbuka.


"Lo pesan makanan?" tanyanya kepada Abash.


"Iya, buat Sifa."


Lucas menganggukkan kepalanya dan memberikan paperbag yang ada di tangannya kepada Abash.


"Makan yang banyak, vitaminnya sudah di minum kan?" tanya Lucas kepada Sifa.


"Su-sudah Pak, eh, Dok."


"Oke. Selesai makan, kamu siapkan untuk di interogasi oleh Arash?"


"Siap, Dok."


"Baiklah, makannya jangan terlalu di buru. Santai aja. "


"Baik, Dok. Terima kasih."


Lucas keluar dari IGD dan kembali meninggalkan Abash dan Sifa. Abash memberikan kotak makanan yang telah di bukanya kepada Sifa.


"Bapak gak makan?"


"Saya masih kenyang."


Tak ada obrolan lagi yang terjadi di antara mereka, Abash sibuk dengan ponselnya, sedangkan Sifa sibuk dengan mengunyah makanannya.


Uhuuk ... uhukk ....


Dengan gerakan cepat, Abash mengambilkan air dan memberikannya kepada Sifa.


"Pelan-pelan aja makannya, saya gak minta kok."


Sifa menelan air yang ada di mulutnya. "Emangnya Bapak mau bekas saya?"


"Gak."


Sifa mengangguk dan kembali melanjutkan makannya.


"Eh, lagi makan ya," ujar Quin yang tiba-tiba masuk ke ruangan IGD dengan membawa buah jeruk dan apel.


"Makan, Mbak," tawar Sifa.


"Loh, kok makannya cuma sayur doang? Nasinya mana?" Quin pun menoleh ke arah Abash. "Bash, kok gak pesan nasi? Masa kenyang makan sayur aja,"


"Mbak, saya__"


"Dia gak makan nasi. Sifa ini herbivora, pemakan tumbuhan." jawab Abash menyela ucapan Sifa.


"Hah? Masa sih? Emang iya?" tanya Quin kepada Sifa.


Sifa melirik ke arah sang bos. Merasa kesal dengan julukan herbivora yang di berikan. Emangnya dia kambing atau lembu apa.


"Sifa," panggil Quin.

__ADS_1


"Eh, Iya, Mbak."


"Serius? Kamu cuma makan tumbuhan aja?"


"Gak kok Mbak, saya juga makan daging. Cuma gak makan nasi aja."


"Ooh.. Hah? Gak makan nasi? Kok bisa? Kamu diet?" Quin menatap tubuh kurus Sifa.


Jika bener gadis di hadapannya ini diet, mau sekecil apa lagi tubuhnya? Bahkan artis Korea pun bisa di sandingi oleh Sifa, karena tubuhnya yang sangat kurus.


"Saya serius, Mbak. Saya gak makan nasi. Bukan karena saya diet, tapi emang karena dari kecil saya gak makan nasi."


"Ya ampun Sifa, kamu unik banget sih. Trus .. trus .."


"Trus apanya, Quin? Emangnya dia lagi parkir!" ujar Abash.


Quin mencebikkan bibirnya, gadis itu siap membuka mulutnya lagi, akan tetapi di urungkannya karena sang suami tercinta telah menghampirinya.


"Lama banget, katanya cuma kasih buah aja," ujar Abi.


"Iya, tapi ini aku baru nemu keunikan Sifa. Dia gak makan nasi loh, aneh kan?" ujar Quin dengan terkekeh pelan.


"Aneh gimana? Di Jerman juga beberapa penduduknya tidak mengkonsumsi nasi. Mereka lebih mengutamakan gandum."


"Masa sih?"


"Gak semuanya, tapi ya gitu lah. Ini, jadi pulang atau masih mau ngobrol?" tanya Abi.


"Oh iya, aku harus buru-buru pulang. Maaf ya.." Quin menepuk keningnya sendiri.


"Sifa, lain kali kita ketemu lagi ya. Kalau aku ajakin makan siang bareng, mau ya.."


"Hah?"


"Gak terima penolakan. Ya udah, aku pulang dulu ya. Kamu istirahat aja, kalau si nyebelin Abash ini bikin kamu kesel, besok kamu lapor ke aku, ya. Aku pulang dulu. Bye .."


"Kenapa lihat saya begitu?" tanya Abash.


"Gak, Ternyata bukan saya aja ya yang merasa kalau Bapak ngeselin, Mbak Quin juga," ujar Sifa sambil terkekeh.


"Emangnya saya ngeselin?" tanya Abash dengan nada dingin.


"Gak, Pak. Saya cuma bercanda," ujar Sifa dengan meringis.


Sebaiknya Sifa tak boleh jujur kepada Abash. Kalau saja Abash tersinggung dan marah, biasa hilang masa depannya.


Tak berapa lama Arash masuk dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


"Udah selesai makannya?"


"Udah, Pak."


Abash melirik ke arah Sifa yang menjawab Arash dengan ramah.


"Kalau saya interogasi sekarang, keberatan gak?"


"Gak kok, Pak. Lagian saya gak kenapa-napa kok."


"Okee, baiklah." Arash melirik sang kembaran yang baru saja berdiri.


"Gue keluar dulu," ujar Abash sambil menepuk bahu sang kembaran.


"Wokeh."


Sifa memperhatikan dalam diam. Jika dia bukan orang yang teliti dan memiliki mata yang jeli, maka Sifa mungkin tak akan bisa membedakan mana Abash dan Arash. Tapi, semua itu di permudah dengan gaya rambut dan warna rambut mereka yang berbeda.

__ADS_1


Abash memiliki rambut yang coklat dan berpenampilan dengan rapi. Sedangkan Arash memiliki warna rambut hitam. Mereka sama-sama rapi, bahkan potongan rambut pun, mereka terlihat sama.


"Kamu sudah siap?" tanya Arash membuyarkan lamunannya.


"Ya, saya siap."


Arash pun mulai bertanya, bagaimana Sifa bisa menolong sang mama. Sifa Mai bercerita dari saat dia tak sengaja melihat seorang pria yang sedari tadi mondar mandir di belakang Mama Kesya seakan dia tengah sibuk menghubungi seseorang. Kemudian, dengan gerakan cepat merampas tas sandang milik Mama Kesya.


Sifa yang tengah berada di meja kasir pun, langsung berlari ke arah luar dan mengejarnya. Saat itu memang keadaan di sana memang lagi sepi. Makanya Sifa berniat untuk menolong Mama Kesya, hingga dia berakhir di rumah sakit.


"Jadi kamu berada di toko buku lama saat itu?"


"Iya..."


"Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya, Sifa." Arash mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Sifa.


"Sama-sama, Pak." ujar Sifa dengan tersenyum lebar.


"Emm, kamu berani sendiri kalau saya tinggal?" tanya Arash.


"Hah?"


"Saya harus kembali ke kantor."


"Ah.. hehehe.. i-iya, Pak." ujar Sifa dengan gugup.


Arash dapat menebak, jika Sifa pasti takut sendirian.


"Saya akan memanggil Abash untuk menemani kamu."


"Eh, i-itu.."


"Selamat istirahat."


Arash pun keluar dan tak lupa menutup gorden, menyisakan Sifa sendirian di dalam ruangan tersebut.


Jantung Sifa mulai berpacu dengan cepat. Gadis itu merosotkan tubuhnya yang duduk menjadi berbaring. Perlahan, Sifa menarik selimut hingga ke lehernya.


Mata Sifa masih terus menatap ke arah gorden yang di tutup oleh Arash.


"Pak Abash mana sih? Lama banget," gerutu Sifa.


ckckc ...


Sifa menoleh ke sumber suara, yang mana ternyata adalah suara cicak.


"Suara cicak rupanya. Bikin jantungan aja," ujarnya dengan jantung yang berdebar.


Sifa masih menatap ke arah gorden yang sedikit bergerak karena hembusan angin. Gadis itu merasa suasana ruangan tersebut pun menjadi semakin seram.


Sifa tak ingin, tapi matanya seolah tak sejalan dengan pemikirannya. Gadis itu pun meneliti seluruh ruangan yang hanya di sekat oleh kain gorden tersebut.


Kreek... krekk .... krek....


Mata Sifa membuat saat melihat kursi roda tanpa ada yang duduki bergerak menabrak groden pembatasnya.


"Aaaaa ....."


Gadis itu berteriak dan loncat dari tempat tidur. Sifa berlari hingga matanya menangkap wajah Abash. Dengan sekuat tenaga Sifa terus berlari dan loncat ke dalam pelukan Abash.


"Ha- hantu ... Pak, hantu ..." ujar Sifa dengan napas tersenggal dan menunjuk ke arah tempatnya tadi.


...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....


...Salam sayang dari Abash n Sifa...

__ADS_1


...Follow IG Author : Rira Syaqila...


__ADS_2