Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 187 - Membangunkan Pangeran Tidur


__ADS_3

Sifa kembali keluar dari dalam kamar dengan keadaan yang sudah rapi dengan pakaian kantornya. Gadis itu pun menoleh ke arah sang kekasih yang masih setia berpura-pura tidur di tempatnya semula.


"Hmm, sampai segitunya demi di banguni dengan ciuman?" lirih Sifa dan mendekati Abash.


"Mas," panggil Sifa dengan lembut. "Bangun," ujarnya lagi.


Tak ada respon dari Abash, pria itu masih enggan untuk membuka matanya.


"Bangun iih, ntar terlambat ke kantor loh," ujar Sifa sambil menggoyangkan lengan sang kekasih.


"Cium," pinta Abash dengan suara yang manja dan mata yang masih setia tertutup.


"Maass ...." lirih Sifa menolak permintaan Abash.


"Cium, atau aku gak mau berangkat kerja," ancam Abash dengan manja.


Sifa menghela napasnya dengan pelan. Kekasihnya itu benar-benar sangat keras kepala dan manja. Akhirnya, Sifa pun menuruti permintaan sang kekasih, gadis itu mendaratkan sebuah kecupan di pipi Abash.


"Udah, sekarang bangun, ya," titah Sifa, kemudian gadis itu bangkit dari duduknya.


Sifa menoleh ke arah sang kekasih yang menahan lengannya.


"Cium," pinta Abash lagi yang mana membuat Sifa membelalakkan matanya.


"Kan udah tadi, Mas," ujar Sifa.


"Belum. Ciumm ..." pinta Abash sambil memonyongkan bibirnya.


Sifa membelalakkan lagi matanya, gadis itu benar-benar tak menyangka jika sang kekasih bisa semenggemaskan ini.


"Kalau aku gak mau? Gimana?" goda Sifa sambil mengulum bibirnya.


Sesekali menggoda Abash boleh, kan? Lagi pula, kekasihnya itu 'kan tidak tahu, jika dirinya sedang menertawakannya saat ini.


"Kalau kamu gak mau cium, aku mogok kerja," ujar Abash yang masih setia menutup matanya.


"Mas?"


"Cium atau aku mogok kerja," ancam Abash yang mana membuat Sifa menghela napasnya dengan pelan.


Sifa tahu, pagi ini sang kekasih harus melakukan sebuah pertemuan penting dengan klien. Kemarin, saat Abash tak ada, Didi menghubungi gadis itu dan meminta bantuannya untuk mengerjakan sebuah program yang sedikit lagi harus selesai. Maka dari itulah, Sifa tahu jika hari ini Abash harus hadir dalam pertemuan penting tersebut.


"Mas, kamu ada rapat loh pagi ini," ujar Sifa mengingatkan.


"Biarin aja, aku mau tidur seharian ini," jawab Abash yang mana membuat Sifa kembali menghela napasnya dengan pelan.

__ADS_1


Sepertinya gadis itu benar-benar tak mempunyai pilihan yang lain. Sifa pun mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir sang kekasih.


Cup ..


Sifa membelalakkan matanya, di saat tangan Abash dengan cepat menahan kepalanya.


"Emmpp ..." gumam Sifa saat Abash ******* bibirnya dengan lembut. Perlahan, sifa menutup matanya dan membalas ciuman dari sang kekasih yang juga dia rindukan.


*


Abash sudah terlihat segar dan rapi dengan setelan kemeja dan jasnya. Untunglah pria itu masih meninggalkan beberapa pakaiannya di dalam lemari sifa.


"Sarapan dulu, Mas," ajak Sifa yang sudah menyiapkan segelas kopi susu di atas meja untuk sang kekasih.


"Terima kasih, sayang," ujar Abash dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Sifa secara tiba-tiba., yang mana membuat Sifa terlihat terkejut dan terrsipu malu.


Sifa tersenyum malu dan langusng membalikan badannya menuju di mana kursinya berada, agar sang kekasih tak melihat pipinya yang pasti sudah merona saat ini.


Abash tersenyum puas, di saat melihat wajah sang kekasih yang merona malu karena perlakuan manis yang dia berikan barusan.


"Ah ya, kamu masih hutang penjelasan sama aku," ujar Abash setelah dirinya mendaratkan bokongnya di kursi.


"Hutang penjelasan? Penjelasan apa?" tanya Sifa bingung.


"Tentang Amel," jawab Abash saat setelah menyesap air putih yang tersedia di atas meja.


"Oh, Amel," lirih Sifa bernapas dengan lega. Gadis itu pikir penjelasan tentang apa.


"Heum, kenapa dia bisa tahu kalau kamu tinggal di sini?" tanya Abash yang baru saja ingin menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Nanti aku jelasin, ya. Sekarang, Mas makan dulu," titah Sifa yang diangguki oleh Abash.


Setelah selesai makan, Sifa pun mencuci piring bekas mereka makan. Abash berdiri di samping kitchen set dan memperhatikan sang kekasih yang dengan lugas membersihkan peralatan makan mereka.


"Ayo cerita, kenapa Amel bisa tau kamu tinggal di sini?" tanya Abash penasaran, walaupun sebenarnya pria itu bisa sedikit menebak, pasti sahabat dari kekasihnya itu memaksa untuk mengantarkan Sifa pulang.


"Oh, waktu itu Amel curhat sama aku, kalau dia baru saja kecewa sama kekasihnya. Trus, dari situlah mengalir cerita tentang aku dan kamu, Mas," cicit Sifa dengan takut. Bahkan, saat ini gadis itu sudah menghentikan pergerakan mencuci piringnya dan berbalik badan untuk menatap wajah sang kekasih.


Abash masih setia mendengarkan apa yang ingin kekasihnya itu katakan lagi.


"Aku mengatakan jika kita memiliki hubungan," sambung SIfa dengan menatap takut mata sang kekasih. "Mas gak marah, kan?" cicit Sifa.


"Kenapa harus marah? Bukankah dari awal aku sudah mengajak kamu untuk mengumumkan hubungan kita?" jawab Abash dengen lembut.


Abash mendekat ke arah sang kekasih dan menangkup wajah cantik itu. "Aku gak marah kok, malahan aku senang karena kamu sudah mengakui kalau aku ini sebagai kekasih kamu, ya walaupun itu hanya dengan kepada Amel saja. Aku harap, jika kamu juga bersedia mengakui hubungan kita ini kepada keluarga aku," ujar Abash dengan lembut.

__ADS_1


"Iya, Mas, aku bersedia jika kamu mau mengenalkan aku dengan keluarga kamu," jawab Sifa dengan mantap.


"Kamu serius?" tanya Abash memastikan.


Setidaknya, untuk meyakinkan Sifa jika dirinya ini benar-benar serius dengannya adalah memperkenalkan gadis itu ke keluarga intinya. Walaupun hubungan mereka masih harus di sembunyikan dari publik. Semua ini demi keselamatan Sifa.


"Iya, Mas. Aku serius," jawab Sifa dengan tersenyum manis.


"Terima kasih banyak, sayang. Aku sangat mencintai kamu," bisik Abash dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


"Mas, tangan aku masih berbusa, loh, celemk aku juga basah," ujar Sifa memperingati sang kekasih, tetapi Abash seolah tak peduli dan semakin memeluk tubuh Sifa yang menggunakan celemek berbahan plastik, khusus untuk mencuci piring.


"Biarin aja, stok bajuku masih banyak kok di lemari kamu," bisik Abash dengan perasaan bahagia.


Sifa tersenyum, gadis itu pun tak segan-segan untuk membalas pelukan sang kekasih dengan tangannya yang masih berbusa.


"Mas, kalau kamu terus peluk aku begini? Kapan aku bisa menyelesaikan mencuci piringnya?" tanya Sifa.


"Biarin aja, ntar aku panggil cleaning service untuk membersihkannya," ujar Abash yang enggan untuk melepaskan pelukannya dari sang kekasih.


"Mas!" rengek Sifa yang menolak ide dari Abash.


"Iya .. iya .. baiklah," ujar Abash sambil merelaikan pelukannya secara terpaksa.


Sifa tersenyum manis kepada sang kekasih. "Duduklah di situ dulu, aku tidak akan lama," titah Sifa yang di angguki oleh Abash.


Abash pun kembali berdiri bersandar di kitchen set sambil memperhatikan sang kekasih yang sedang membilas piring dari sabun. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan menampilkan sebuah nomor dari pihak apartemen.


Abash mengernyitkan keningnya, dia merasa penasaran kenapa pihak apartemen menghubunginya saat ini. Dia pun menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut.


"Ya?" jawabnya saat panggilan sudah tersambung.


"Maaf, Pak. Mobil Bapak di rusak oleh orang yang tak di kenal," ujar satpam dari seberang panggilan.


"Apa?"


Mendengar suara terkejut dari sang kekasih, membuat Sifa mencuci tangannya dengan cepat dan berjalan mendekat ke arah Abash.


"Ada apa, Mas?" tanya Sifa dengan kening mengkerut.


Abash menatap wajah sang kekasih, sepertinya rencananya untuk mengenalkan Sifa ke keluarga intinya harus dibatalkan.


"Ada yang merusak mobil aku, Sifa," ujar Abash yang mana membuat Sifa terkejut.


"Apa? Bagaimana bisa? Siapa yang melakukannya?"

__ADS_1


__ADS_2