
"Bapak yakin mau gendong saya?" tanya Sifa yang merasa ragu dan tak enak karena harus naik ke atas punggung sang bos.
"Kenapa memangnya? Kamu gak tahan dengan aroma tubuh saya?" tanya Abash.
"Bukan itu, tapi---,"
"Kamu berharap Arash yang menggendong kamu?" tebak Abash.
"Iih, kok Bapak mikirnya gitu? Bukan gitu juga. Tapi, saya segan aja naik ke punggung Bapak. Gak sopan," lirih Sifa dengan pelan.
Abash menundukkan sedikit tubuhnya, sehingga membuat bibirnya berada di sisi telinga gadis itu. "Waktu kamu jatuh ke atas tubuh saya waktu itu, apa kamu pernah berpikir tentang kesopanan?" tanya Abash yang mana membuat Sifa membulatkan matanya.
"Bapak!" pekik Sifa yang mana membuat semua orang menoleh ke arah mereka.
"Ada apa, Sifa?" tanya Mama Kesya.
"Hah? Oh, gak papa, Tante," jawab Sifa dengan gugup.
Abash tersenyum sambil membasahi bibirnya dengan lidah, sehingga membuat Sifa menelan ludahnya dengan kasar.
"Duh, gue kan lagi kesal sama Pak Abash? Bisa-bisanya tergoda dengan gerakan bibir Pak Abash barusan," ujar Sifa sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Sifa, Abash, kalian jadi ikut lomba?" tanya Oma Laura.
__ADS_1
"Hah? It-itu ..."
"Jadi Oma," jawab Abash cepat.
"oh, ya udah kalau begitu, ayo bersiap," titah Oma Laura.
"Ayo," ajak Abash.
"Tapi, Pak?"
"Udah, Ayo," ajak Abash lagi sambil menggenggam tangan Sifa.
Sifa Lin terpaksa mengikuti perlombaan tersebut, kemudian dia naik ke atas punggung Abash dan memeluk erat leher pria itu. Abash menelan ludahnya dengan kasar, sebelumnya dia tidak kepikiran jika tubuh Sifa akan menempel pada punggungnya, sehingga membuat sesuatu yang kenyal di sana terasa menyentuh punggung Abash. Ya, walaupun tubuh mereka tidak benar-benar menempel, akan tetapi Abash tetap dapat merasakan benda kenyal tersebut.
"Bersiap? Mulai!"
"Ayoo Abash ..." pekik Oma Shella dan Oma Laura.
Hingga akhirnya Abash pun memenangkan juara satu pada balap lari Gending tersebut.
Abash menurunkan Sifa dari punggungnya, sehingga membuat gadis itu berloncat kegirangan karena bahagia. Tanpa sadar, Sifa memeluk Abash karena saking bahagianya.
"Eh, maaf, Pak," lirih Sifa pelan dan langsung memberi jarak antara keduanya.
__ADS_1
"Ciee, jangan-jangan di antara kalian ada udang di atas peyek nih," goda Desi dan Jo.
"Hah?"
"Kan.. kan.. kuping Abash udah merah. Cie ... cie... cie..." goda Fatih lagi.
"Kalian ngapain ikut lomba? Bukannya upacara sana," kesal Abash yang menutupi rasa gugupnya
"Ya elah, malu dia," kekeh Desi.
"Bash, beneran pacaran juga gak papa kali," pekik Lana.
Abash menatap tajam ke arah Lana, akan tetapi pria itu pun tak peduli.
"Sifa, kalau Abash ngajak kamu pacaran, jangan mau. Ntar di tinggal bobok sendiri," kekeh Fatih yang kemudian keningnya di sentil oleh Papa Arka.
"Enak aja pacaran udah bobor bareng, nikah dulu baru bobo bareng," tegur Papa Arka.
"Maksud Fatih gitu, Pa," kekeh Fatih sambil cengegesan.
"Jadi, hadiah menang lomba gendong lari ini, apa Oma?" tanya Lana yang penasaran dengan hadiah juara satunya.
"Tiket liburan ke Bali," ujar Oma Laura yang mana membuat semuanya tercengang.
__ADS_1
"Lah? Mana boleh Abash dan Sifa pergi berduaan. Bisa-bisa pulangnya bertiga lagi," ujar Lana yang mana membuat Papa Fadil melempar sendal ke arahnya.
"Mulutnya Lana," tegur Papa Fadil.