
Putri mengernyitkan keningnya di saat Soni menghentikan mobil di salah satu toko butik ternama di kota itu. Dia menoleh ke arah Soni yang sudah tersenyum lebar ke arahnya
"Ayo," ajak Soni yang sudah melepaskan seat bell.
"Kenapa harus ke butik? Padahal kita hanya makan mie pangsit jamur aja, loh. Kenapa sampai harus ke butik? Aku bisa mengganti pakaian dan membelinya di distro pinggir jalan," ujar Putri yang menolak untuk keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam butik.
Tau sendiri kan, pakaian apa dan bagaimana yang tersedia di dalam butik?
Sudah pasti pakaian-pakaian yang ada di dalam butik adalah gaun-gaun mahal dan mewah. Tidak mungkin kan Putri memakai pakaian itu untuk di bawa makan mie pangsit yang ada di toko pinggir jalan? Bisa-bisa dia menjadi pusat perhatian dari semua orang. Tidak, Putri tidak ingin hal itu terjadi. Kecuali mereka akan melakukan dinner romantis di restoran mewah.
"Jadi kamu gak mau ganti pakaian yang ada di sini?" tanya Soni memastikan, walaupun pria itu sudah bisa menebak penolakan dari Putri.
"Huum, kita ke distro aja, yuk. Pakaiannya juga lebih nyaman-nyaman dan santai di sana," bujuk Putri yang mau tak mau Soni harus menurutinya.
"Oke," jawab Soni sambil menghela napasnya pelan.
Putri yang melihat aura kekecewan di wajah sahabat masa kecilnya pun, mengulum bibirnya. Wajah Soni saat ini sungguh sangat menggemaskan sekali. Rasanya ingin sekali Putri mencubit kedua pipinya yang sudah tidak se-chubby dulu lagi.
Soni pun kembali melajukan mobilnya menuju distro yang tak jauh dari lokasi mereka saat ini. Itu semua dia lakukan demi membahagiakan dan memberikan kenyamanan kepada gadis yang selalu menempati tahta pertama di dalam hatinya.
*
"Mbak Quin?" lirih Arash saat sudah masuk ke dalam ruangan, di mana Quin berada.
Mama Kesya meletakkan jari telunjukkan di bibir, memberi kode kepada sang putra untuk tidak berisik, karena Quin baru saja tertidur setelah menangis tersedu-sedu di saat mendapatkan kabar jika dirinya tengah mengandung saat ini.
"Kamu dari mana aja? Kenapa baru datang sekarang?" tanya Mama Kesya dengan berbisik.
"Mbak Quin baik-baik aja, Ma?" tanya Arash yang mengabaikan pertanyaan sang mama.
"Iya, Mbak Quin baik-baik aja. Bahkan sangat baik," ujar Mama Kesya sambil menangkup pipi sang putra dan mengusapnya dengan lembut.
"Tapi, kenapa Mbak Quin di infus?" tanya Arash merasa khawatir.
"Itu karena kondisi tubuhnya lemah dan kecapean. Namanya juga baru tiba dari perjalanan jauh. Jadi harus di beri nutrisi agar cepat sehat," ujar Mama Kesya menenangkan sang anak.
Arash pun menghela napasnya pelan, pria itu masih merasa khawatir terhadap keadaan sang kakak.
"Kita duduk di luar, yuk," ajak Mama Kesya yang di angguki oleh Arash.
__ADS_1
"Bentar, Ma. Arash cium Mbak Quin dulu," ujarnya dan berjalan pelan ke arah sang kakak.
Arash pun mengusap pelan rambut Quin dan mendaratkan sebuah kecupan di kening sang kakak.
"Cepat sembuh, Mbak," bisik Arash sebelum dia meninggalkan Quin sendirian untuk beristirahat.
"Mas," sapa Arash saat bertemu dengan Abi yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Rash, kamu udah lama?" tanya Mas Abi.
"Baru aja, tapi udah di suruh keluar sama Mama," rajuk Arash sambil melirik ke arah sang mama.
"Mbak kamu itu butuh istirahat, sayang," ujar Mama Kesya sambil mengusap lengan sang putra dengan sayang.
"Iya, Ma. Tapi kan Arash kangen," rengeknya dengan manja.
"Nanti, pas mbak kamu udah bangun, kamu bisa melepas rindu. Sekarang, mbak kamu harus banyak istirahat, demi kesehatan keponakan kamu yang ada di dalam perutnya," ujar Mama Kesya yang langsung di angguki oleh Arash.
"Iya, Ma."
Arash dan Mama Kesya pun keluar dari ruangan Quin, mereka pun duduk di ruang keluarga yang ada di luar ruangan tersebut.
Arash pun menggelengkan kepalanya pelan. "Belum, Ma. Tadi Arash langsung berlari ke sini saat Naya mengatakan jika Mbak Quin sudah tiba di sini dan jatuh sakit."
"Baju kamu kenapa lembab begini? Cepat, ganti baju san. Pakai baju mas Abi mu aja," titah Mama Kesya.
"Iya, Ma. Tadi sudah suruh Toto ke sini untuk membawa baju ganti, kok," ujar Arash yang di angguki oleh Mama Kesya.
"Lagian kamu ini, kenapa sampai bisa kehujanan gini sih?" lirih Mama Kesya sambil mengusap-usap pelan punggung sang putra yang terasa lembab. Ah,rasanya sangat hangat dan nyaman sekali di rasakan oleh Arash. Memang, tangan seorang ibu itu selalu mampu membuat sang anak terasa nyaman dan merasa tenang.
Tak berapa lama ponsel Arash pun berbunyi, pria itu pun meraih ponselnya yang ada di saku celananya, kemudian menggeser tombol hijau di saat melihat nama ID si pemanggil.
"Assalamualaikum, Pak. Saya sudah di rumah sakit," ujar Toto memberitahu.
"Ya, kamu langsung saja ke ruangan pribadi keluarga saya," titah Arash.
Panggilan pun berakhir. Arash pun mencari nama Putri untuk menyuruhnya mengganti pakaian dengan yang sudah di bawa oleh Toto.
"Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak bisa di hubungi, silahkan coba beberapa saat lagi."
__ADS_1
Arash menggerutu kesal, pria itu sudah mencoba menghubungi Putri hingga tiga kali panggilan, tetapi panggilannya tidak juga tersambung.
"Ke mana dia?" gumam Arash dengan pelan.
Tak berapa lama Toto pun datang dan menyerahkan dua paper bag kepada Arash.
"Terima kasih," ujar Arash kepada sang asisten.
"Sama-sama, Pak. Apa ada lagi yang Bapak butuhkan?" tanya Toto kepada atasannya itu.
"Tidak, kamu boleh pergi," titah Arash yang di angguki oleh Toto.
"Baik, Pak. kalau begitu saya permisi dulu. Nyonya Besar," pamit Toto kepada Arash dan juga Mama Kesya.
"Satu lagi untuk siapa papar bag-nya?" tanya Mama Kesya penasaran saat setelah kepergian Toto.
"Oh, untuk Putri. Tadi Arash ke sini bersamanya," ujar Arash sambil terus berusaha menghubungi Putri dan mengirimkan pesan kepada gadis itu.
"Di mana Putri sekarang? Kenapa kamu tidak membawanya ke sini?" tanya Mama Kesya.
"Arash tadi buru-buru, Ma. Jadi, Arash tinggalin dia di kantin dengan Kak Martin dan juga Naya," jawab Arash yang sudah menatap mata lawan bicaranya.
"Itu Naya sama Martin, di mana Putri?" tanya Mama Kesya sambil menunjuk ke arah dua orang yang sedang berjalan sambil menenteng minuman di tangannya.
Arash pun menoleh, pria itu berdiri dengan kening yang mengkerut.
"Ma, teh camomile-nya," ujar Naya sambil memberikan satu buah cup kepada Mama Kesya.
"Makasih, sayang."
"Nay, Putri mana?" tanya Arash yang tidak melihat keberadaan gadis itu bersama dengan Naya dan Martin.
"Putri gak bilang sama kamu? Kalau dia pergi bersama temannya?" tanya Naya balik.
Arash pun menggelengkan kepalanya. "Teman yang mana?" tanya Arash dengan kening yang mengkerut.
"Kalau gak salah namanya tadi siapa, Kak? Soni ya?" tanya Naya kepada Kak Martin.
"Iya, Soni. Soni Alexander," ujar Kak Martin yang mana membuat kening Arash semakin mengkerut
__ADS_1
"Soni?" lirih Arash seolah pernah mendengar nama itu. Tapi di mana?