
"Fa, Kamu kok bisa kenal sama pak Arash?" tanya Amel. Saat ini mereka telah selesai memberikan laporan dikantor polisi.
"Oh, ingat saat Aku terlambat masuk kelas? Nah, aku mau nerobos jalan presiden, dan Pak Arash itu malah tangkap Aku. Padahal kan Aku gak salah apa-apa kan ya?" ujar Sifa tanpa bedosa.
"Yaelah Fa, ya wajar ajalah di tahan, udah tau presiden mau lewat, eh kamu malah mau nerobos. Ada-ada saja kamu, Fa." ujar Amel sambil menggelengkan kepalanya.
Saat mereka hendak keluar dari perkarangan kantor polisi, tiba-tiba saja mereka kembali dipanggil oleh suara yang tak asing. Siapa lagi kalau bukan suara Arash.
"Ya pak?' tanya Sifa denganw ajah polosnya.
"Ini, belanjaan kamu," ujar Arash sambil memberikan satu kantong plastik yang berisi pakaian minim milik Sifa.
Sifa merasakan wajahnya memanas, hari ini benar-benar adalah hari tersial sepertinya. Sudah 3 kali ia merasa malu dengan topik utamanya pakaian minim. Yaa, walaupun degan orang yang berbeda, tapi wajah mereka sama kan?
Sifa meraih kantong plasik tersebut sambil mengucapkan terima kasih. Sifa langsung menarik tangan Amel untuk segera meninggalkan kantor polisi tersebut.
Sedangkan Arash?
Arash sudah tersenyum dan terkekeh pelan melihat wajah Sifa yang terlihat menggemaskan.
"Eh?"
Arash pun menggaruk kepalanya yang tak gatal.
*
Seperti biasa, Sifa menghabiskan makan malamnya diatas balkon dilantai ia bertugas. Lia tidak menemani Sifa, karena sang suami masih berada di Jakarta, jadi Li amenghabiskan waktu makan malamnya bersama sang suami dikantin.
Kenapa Sifa tak ikut ke kantin? Tentu saja karena Sifa tak ingin mengganggukan sepsang suami istri yang sedang pacaran disana.
"Ngapain kamu di situ?"
Sifa terkejut mendengar suara bariton yang tiba-tiba saja menyapanya.
"Bapak?"
"Ya, emang saya setan apa sampai kamu ketakutan gitu."
Sifa pun mencebik dalam hati. 'Ya, bapak bukan setan, tapi jin tomang yang hobinya datang dan ngejutin,' batin Sifa.
Tentu saja Sifa membatin, mana mungkin Sifa mengatakan hal tersebut secara langsung. Bisa kehilangan pekerjaan yang ada.
Abash pun duduk disebelah Sifa,. Sifa memandangi bos-nya yang terlihat kelelahan itu.
"Bapak udah makan?" tanya Sifa akhirnya setelah dilanda keheningan.
"Belum,"
__ADS_1
"Kenapa gak makan?"
"Gak selera,"
Baiklah, Sifa bingung harus bertanya apa lagi. Dirinya ingin melanjutkan makannya, namun ia merasa segan karena mengingat Abash belum makan malam.
"Bapak mau saya pesanin makanan?" tawar Sifa akhirnya.
"Gak laper. Kamu kalo mau makan, ya makan aja. Saya disini cuma ingin menikmati angin."
Oke, baiklah. Anggap saja Sifa barusan mendapatkan titah. Sifa pun akhirnya meraih kotak bekalnya dan melanjutkan makan malamnya yang hanya berupa tumis sayur kol dan wortel.
Abash menoleh kearah Sifa yang sedang menikmati makanannya. Satu alis Abash refleks naik saat melihat menu makanan Sifa.
"Kamu beneran gak makan nasi?" tanya Abash.
"Iya, Pak. Saya mual kalo makan nasi."
"jadi kecilnya kamu makan apa?"
Kata nenek saya, waktu kecil saya hanya dikasih makan pisang dan roti. Baru deh sayur-sayuran begini."
"Aneh," gumam Abash yang masih didengar oleh Sifa.
"Dimana letak anehnya?"
"Ada nih buktinya, Saya." uajr Sifa tak mau kalah.
"Ya itu artinya kamu aneh."
"Biasa aja kali pak. Masa gara-gara gak makan nasi dibilang aneh? Y akali orang yang gak suka susu atau sayur juga aneh? Setiap orang kan beda-beda ya. Mereka punya selera tersendiri. Seperti bapak yang bisa saja gak suka jengkol. Padahal jengkol itu kan enak."
"Emang enak,"
Sifa sontak saja menoleh kepda Abash. 'Apa katanya tadi? Emang enak?'
"Emangnya bapak pernah makan jengkol?" tanya Sifa penasaran.
"Pernah, dan saya suka."
"Hah? Bapak suka jengkol?" tanya Sifa terkejut.
"Biasa aja kali ekspresinya. Kaya jengkol itu makanan aneh aja."
"Ya bukan gitu pa, Bapak kan orang kaya. Biasanya kan orang kaya gak suka makan jengkol? Apa lagi jengkol itu mengeluarkan bau yang tak sedap. Dari mulut, piis, hingga kotoroan akhir." jelas Sifa.
"Apa kamu menilai seseorang hanya dari penampilannya sja?" tanya Abash.
__ADS_1
"Ya gak sih , Pak. Saya gak pernah nilai orang dari penampilannya.Saya kan cuma heran aja gitu, karena Napak suka jengkol. Secara jengkol kan makanan orang kampung."
"Wawasan kamu harus diperluas lagi deh, jadi gak mentok hanya orang kampung yang boleh makan jengkol, sedangkan orang kota kagak,"
Sifa pun diam, sebenarnya ia masih ragu dengan apa yang Abash katakan. Msa iya Abash suka jengkol?
Setelah dilanda keheningan beberapa saat, Sifa melanjutkan kembali makannya yang tertunda untuk kesekian kalinya.
"Kamu aman tinggal ditempat itu?"tanya Abash tiba-tiba.
"Maksud bapak?"
"Saya gak ada maksud untuk menghina atau pun menyinggung perasaan kamu. Tapi, tempat tinggal kamu itu menurut Saya sudah tak layak huni." Abash melirik kearah Sifa hati-hati, terdengar helaan napas Sifa dengan berat.
"Hah, iya sih, Pak. cuma mau gimana lagi. Hanya rumah itu yang sewanya murah dan juga dekat dengan tempat kerja saya dan kampus."
"Kenapa gak cari rumah sewa yang lebih layak? Gaji kamu di sini kan besar? Lagi pula kamu hanya perlu membayar uang kuliah setengahnya saja kan?"
"Itu dia pak, Setiap orang kan punya masalaha pribadi masing-masing ya. Jadi saya punya alasan sendiri kenapa bertahan untuk tinggal di rumah itu. Lagian, sudah banyak kenangan yang saya miliki dirumah itu." ujar Sifa dengan sendu dan memandang jam tangan tua yang ada dipergelangan tangannya.
"Apa kamu bertahan disana karena terlilit hutang?" tanya Abash.
Tak biasanya Abash bertanya hal sensitif seperti ini kepada orang lain. Apa lagi dirinya dan Sifa baru saja kenal. Lagi pula, bukan tipe Abash yang suka ikut campur dengan masalah orang lain. tapi, kenapa Abash rasanya ingin tahu tentang Sifa?
"Saya tidak punya alsan untuk memberitahu msalah Saya kepada Bapak." ujar Sifa dengan memandang wajah Abash.
Abash menyunggingkan senyumnya, baru kali ini ia bertemu dengan seorang wanita yang tak ingin menunjukkan kelemahannya dimata orang lain.
Biasanya, wanita yang pernah Abash kenal akan mengambil kesempatan dan mencari simpatinya. Namun, Sifa berbeda.
Ya, Sifa berbeda dengan wanita mana pun.
"Sudah habis makannya? Ayo lanjut kerja lagi," ujar Abash dan berdiri dari duduknya.
Sifa emmandang kotak bekalnya yang telah kosong. Sejak kapan habis? Sifa tak menyadari sejak kapan makananya telah habis. Apa merasa kesal dengan Abash, makanya ia menyendokkan makannya kemulut tanpa melihat kotak bekalnya?
Sifa pun membereskan bekal makannya dan memasukknnya kedalam tas. Tak lupa Sifa meminum air putih agar tenggorokannya tidak srek.
Sifa pun mengikuti Abash yang sudah masuk kedalam gedung.
"Kamu makan bareng Bos?" tanya Lia yang kebetulan melihat Abash saat pria itu masuk.
"Gak, tadi pas aku lagi makan, kebetulan si Bos ke balkon, cari udara segar katanya."
Lia pun menganggukkan kepalanya tanpa menaruh rasa curiga apapun kepada Sifa.
\=\= Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..
__ADS_1
Salam sayang dari ABASH dan ARASH.