Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
BAB. 26 - Kekhawatiran


__ADS_3

Sifa menatap rumah yang telah melindunginya sedari kecil hingga sebesar ini. Rumah yang penuh dengan kenangan orang tuanya dan juga sang nenek.


Rumah yang mengenalkan kepada Sifa arti dari kata pantang menyerah dan terus berjuang. Semuanya terangkum dalam rumah tua yang saat ini memang sudah tak layak huni lagi.


Tak ada atap yang dapat melindungi Sifa dari panasnya matahari dan dinginnya malam. Perabotan yang habis berantakan luluh lantak karena akibat bencana PutingBeliung.


Pas bunga tua yang terlihat tua, pecah berserakan di lantai. Piring-piring yang tak sampai selusin, bahkan itu pun hasil dari hadiah sabun cuci pun, juga ikut pecah bersama gelas-gelas dan juga beberapa mangkok plastik yang tertimpa.


Kamar mandi yang hanya beratap terpal biru pun, kini tak lagi berdinding dan beratap. Paling begitu saja langsung terlihat.


Bahkan, jemuran pakaiandalam milik Sifa yang terakhir kali di jemurnya pun, sudah berterbangan, bahkan sudah kembali kotor. Padahal baru saja Sifa membelinya.


Lagi, Sifa menghela napasnya dengan kasar.


"Mau sampai kapan kamu memandang kekacauan ini?" tanya Abash yang mana membuat Sifa terkejut.


"Bapak? Bapak masih di sini?" tanya Sifa bingung.


Abash menaikkan alisnya sebelah. Apa Sifa sedari tadi tak menyadari keberadaannya? Sudah tiga jam Abash menemani Sifa, masa iya gadis itu tak menyadari keberadaan Abash?


"Kamu pikir saya patung?" ujar Abash dengan ketus.


"Bukan gitu, saya pikir bapak udah kembali ke kantor."


"Dan biarin kamu sengsara dan kebingungan seperti ini?"


Sifa mengerjapkan matanya mendengar ucapan Abash. Begitu pun dengan Abash, seolah-olah dia baru saja memberikan perhatian kepada orang yang spesial.


Hening, hanya terdengar suara angin yang berembus dengan membawa dinginnya cuaca pagi menjelang siang, karena langit yang masih terlihat mendung.


Suara ponsel Abash pun memutuskan tatapan keduanya, pria itu meraih ponselnya dan menjauh dari Sifa.


Sifa menatap punggung Abash, terlihat ada guratan kekhawatiran di sana.


"Ayo," ujar Abash mengajak Sifa.


"Kemana?" tanya Sifa bingung setelah mendapatkan kembali kesadarannya.


"Cepat, saya gak ada waktu menjelaskannya kepada kamu," ujar Abash langsung menggendong Sifa.


"Pak, mau kemana? Barang-barang saya?" ujar Sifa bingung dan panik, seolah saat ini dia tengah di culik.


"Saya akan suruh orang beresin semuanya," ujar Abash sambil memasukan Sifa ke dalam mobil.


Apa ini? Apa saat ini dia di culik? Tapi buat apa? Atau ada pekerjaan yang sangat penting, sehingga Sifa juga harus ikut andil dalam masalah tersebut?

__ADS_1


Ya, bisa saja, secara tim elang saat ini sedang mengerjakan proyek penting yang mana Sifa juga ikut andil di dalamnya saat ini.


Abash melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menuju GPS yang memberikan sinyal bahaya dari ponselnya.


Sifa hanya bisa menggenggam seat bell yang melilit pada tubuhnya, sekali-kali Sifa mengucap karena terkejut saat Abash menyelip mobil-mobil yang ada di hadapannya.


Sifa membelalakkan matanya saat melihat banyak pria berbaju hitam di hadapan mereka. Apa saat ini dia sedang menonton film action? Atau ikut andil dalam film tersebut.


"Kamu tunggu di sini, jangan keluar, apapun yang terjadi di luar nanti, kamu tetap harus di dalam mobil, dengan?" ujar Abash kepada Sifa.


Sifa hanya menganggukkan kepalanya, dari pada dia harus mati muda? Mending mendengar perkataan Abash kan?


Abash keluar dan langsung menghampiri kakaknya itu.


"Quin ... " Seru Abash dan Arash berbarengan, dan berlari langsung kearah Quin.


Abash memeluk Quin dan memeriksa tubuh Quin.


"Kamu gak papa?" Tanya nya.


"Aku gak papa."


Abi mengernyitkan keningnya, dari mana Abash dan Arash tau jika mereka di sini?


"Kami gak papa, tapi, darimana kalian tau jika__"


"Cepat katakan, siapa yang menyuruh kalian?" Bentak Arash dengan geram kepada pria berbadan besar yang sedang memerika mobil Abi.


Abi dan Quin langsung menoleh ke sumber suara.


"Arash, mereka anak buah-ku " Ujar Abi yang mana membuat Arash dan Abash mengernyitkan kening.


"Quin ..." Seru Abash, tatapan matanya seolah bertanya apa yang terjadi sebenarnya.


Quin menyengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"I-itu ... sebenarnya aku terlalu panik saat mereka berhenti mendadak di hadapan kami. Jadi aku langsung menekan alarm yang kamu berikan." Quin menunjukkan cincin yang selalu dipakainya, yang sudah di rombak oleh Abash untuk menanam alat pelacak.


"Alarm?" Tanya Abi sambil menatap wajah Quin dengan kening berkerut.


Abash menghela napas pelan. Ia menyuruh pengawalnya untuk melepaskan orang-orang Abi.


Tak berapa lama salah satu pengawal Abi menghampiri mereka dengan membawa benda kecil di tangannya.


Abash langsung mengernyit dan memandang alat tersebut.

__ADS_1


"Tunggu ... " Ujar Abash sambil meraih benda kecil berwarna hitam tersebut.


"Apa itu?" Tanya Quin tak sabar.


"Alat penyadap suara."


" Penyadap? Sadap? maksud kamu pembicaraan kami udah di sadap orang gitu?"


Abash hanya memberikan gumaman sebagai jawaban.


"Sebaiknya kita bicarakan ini di tempat aman." Usul Arash dan di angguki oleh Abi.


"Sepertinya semua percakapan kalian terekam di sini," ujar Arash menunjukkan sebuah alat berukuran kecil yang berhasil ditemuk oleh anak buah Abi.


"Kita harus bicarakan masalah ini, ayo berkumpul," titah Abash dan di setujui oleh semuanya.


Abaah dna Arash kembali ke mobil mereka masing-masing.


Siapapun tak dapat melihat Sifa yang ada di dalam mobil Abash, karena kaca yang gelap dan tak bisa tembus pandang dari luar.


Sifa memperhatikan semuanya dari Laur, jantung gadis itu berdegup dengan cepat dan belum reda sedari tadi. Bahkan, telapak tangan Sifa sudah basah karena berkeringat. Tubuhnya terasa bergetar saat melihat beberapa pria berbadan besar membawa senjata, dibgambah lagi segerombolan polisi yang ikut datang.


Sifa benar-benar dalam situasi yang menegangkan.


Sifa terkejut saat pintu mobil terbuka dan menampilkan sang bos.


"Ada apa, Pak?" tanya Sifa dengan suara bergetar.


Abash menoleh dan sedikit iba melihat wajah Sifa yang sudah sepucat mayat. Ya, terlihat jelas sekali jika gadis itu ketakutan. Bahan, tubuhnya terlihat bergetar.


"Tenanglah, mereka semua orang-orangku, bukan penjahat," ujar Abash sambil tersenyum.


Senyum yang sangat menenangkan sekali. Baru kali ini Sifa melihat bosnya itu tersenyum sangat manis. Manis sekali, sehingga membuat Sifa sedikit salah tingkah. Senyum itu, senyum yang berbeda dari milik kembarannya.


Ya, akhirnya Sifa bisa bedakan mana Abash dan Arash. Mereka memiliki senyum yang berbeda.


"Ki-kita mau kemana?" tanya Sifa dengan suara bergetar.


"Ke apartemen, kamu tinggal dulu di sana untuk sementara. Saya sudah menyuruh anak buah saya untuk membereskan barang-barang kamu yang masih bisa di selamatkan." ujar Abash dan mulai melajukan mobilnya.


Setelah mengantarkan Sifa ke apartemen, Abash kembali menuju tempat di mana mereka akan bertemu dengan yang lainnya. Saat ini, Keselamatan Quin sedang terancam. Abash tak ingin kecolongan yang mengakibatkan melukai sang kakak.


\=\=  Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..


Salam sayang dari ABASH dan ARASH

__ADS_1


__ADS_2