
Mama Nayna dan Mama Kesya tidak menyangka, jika demam tinggi yang Yumna alami akan membuat bayi yang baru saja berumur empat bulanan itu mengalami step. Padahal, mereka sudah melakukan segala upaya untuk menurunkan demam Yumna. Dan juga, sebelumnya suhu tubuh Yumna sempat turun, membuat Mama Nayna dan Mama Kesya pun merasa sedikit lega.
"Bagaimana ini, Mbak? Haruskan kita menghubungi Zia?" tanya Mama Kesya yang sudah sesenggukan.
"Hikss … Saya akan menghubungi Zia dan memberitahukan keadaan Yumna," jawab Mama Nayna yang juga sudah sesenggukan.
"Mbak, tapi jangan bilang kalau Yumna kejang-kejang, ya. Bilang saja jika Yumna demam," saran Mama Kesya.
"Iya." Mama Nayna pun mencoba menghubungi Zia, akan tetapi nomor telepon gadis itu pun berada di luar jangkauan.
Bahkan, saat Mama Nayna mengiriman pesan singkat melalui aplikasi chatting sejuta umat yang berwarna hijau pun, pesan yang di kirimkan oleh Mama Nayna hanya centang satu, menunjukkan jika pesan belum di terima.
"Bagaimana, Mbak?" tanya Mama Kesya dengan kening mengkerut.
"Sepertinya ponsel Zia kehabisan baterai, deh," jawab Mama Nayna.
"Coba hubungi asistennya, Mbak," saran Mama Kesya.
"Sebentar, saya coba hubungi ya." Mama Nayna pun mengcoba menghubungi Yuli, akan tetapi panggilan Mama Nayna hanya berdering saja, hingga panggilan tersebut pun putus.
"Mungkin Yuli lagi sibuk, makanya dia tidak mengangkat panaggilannya," uja Mama Nayna mencoba menenangkan hati Mama Kesya, padahal dirinya sendiri juga merasa panik.
"Bagaimana keadaan Yumna, Ma?" tanya Bara yang baru saja tiba, di saat mendengar kabar tentang Yumna.
"Yumna sudah kembali normal, sekarang sedang tidur," jawab Mama Nayna yang sudah menoleh ke arah sang putra. "Kamu datang dengan siapa?" tanya Mama Nayna yang tidak melihat keberadaan sang suami.
"Dengan papa, Ma. Di depan papa tadi bertemu dengan Om Leo," ujar Bara memberitahu.
"Oh ya, Bar, coba kamu hubungi Zia. Kasih kabar ke dia kalau Yumna sakit," titah Mama Nayna. "Sepertinya Yumna sakit karena merindukan Zia, Bar."
"Ma!" Bara menarik napas dan menghelanya secara perlahan. "Bisa bertahan sedikit lagi untuk tidak memberitahu Zia?" pinta Bara. "Saat ini Zia pasti dengan bertemu dengan orang penting, Ma. Zia pasti sedang membicarakan tentang bisnisnya."
__ADS_1
"Tapi, Bar!"
"Satu hari lagi, Ma. Hanya satu hari lagi. Besok biar Bara yang menjempu Zia dan membawanya langsung ke sini," bujuk Bara yang mana membuat Mam Nayna menghela napasnya dengan pelan.
"Ini mimpi Zia, Ma. Selama ini Zia tidak tahu apa tujuannya untuk kuliah dan apa mimpi yang ingin dia raih, Ma. Zia belajar bisnis, karena dia pikir mimpinya adalah membantu Bara di perusahaan. Zia juga menjadi relawan medis, Ma, itu karena dia sedang mencari jati dirinya. Dan hingga akhirnya dia menemukan bakat dan mimpi yang ingin dia raih, Ma. Selama ini, dia mencari siapa jati dirinya sendiri, Ma. Jadi, Bara mohon, biarkan Zia meraih mimpinya," mohon Bara dengan tatapan mata yang sendu.
"Bara mohon, Ma, hanya sehari lagi," bujuk Bara dengan tangan yang menangkup di dada.
"Mbak, apa yang di katakan oleh Bara ada benarnya. Lagi pula, saat ini Yumna juga sudah tenang, kan?" sahut Mama Kesya.
"Iya, sepertinya kita jangan mengganggu Zia dulu ya. Biarkan dia meraih impianya," ujar Mama Nayna yang menyetujui perkataan Bara.
"Hanya sehari lagi, Ma. Besok biar Bara yang menjemput Zia."
Di Singapura.
Zia baru saja selesai melakukan video call dengan Mama Kesya dan Mama Nayna. Saat gadis itu memutar kursi rodanya, tanpa sengaja Zia menyenggol seseorang sehingga membuat ponselnya terjatuh ke lantai.
"I'm Sorry," ucap Zia kepada orang yang telah dia senggol.
"Owwhh .. I'm sorry," sesal orang yang telah menendang ponsel Zia. "I will take your phone." Wanita yang sudah menendang ponsel Zia pun bergegas berlari untuk mengambil ponsel Zia yang sudah terjatuh. Dia berharap tidak ada orang yang mengambil ponsel tersebut.
"Oh, thanks god," ucapnya merasa lega, di saat ponsel Zia di temukan oleh orang baik dan mau mengembalikannya kepada si pemiliknya.
Wanita itu pun kembali berlari menghampiri Zia, untuk mengembalikan ponsel gadis itu.
"I'm really sorry," sesalnya.
"It's okey." Zia pun tidak terlalu mempermasalahkan tentang ponselnya, lagi pula dia masih bisa membeli yang baru kan.
Tapi, yang menjadi masalahnya saat ini adalah, Zia tidak bisa menghubungi Yuli—asistennya.
__ADS_1
"Apa sebaiknya aku kembali ke kamar saja, ya?" ucap Zia dengan lirih.
Untungnya pertemuan yang sedang Zia datangi berada di hotel, di mana tempatnya menginap. Zia pun menggerakkan kursi rodanya menuju lift. Lagi pula, sesampainya di kamar Zia bisa menggunakan telepon yang ada di dalam kamar untuk menghubungi asistennya itu.
Yuli menatap layar ponselnya, di mana terdapat panggilan tak terjawab dari Mama Nayna. Gadis itu pun langsung menghubungi ibu dari atasannya itu. Terdengar beberapa kali nada dering hingga panggilannya pun tersambung.
"Assalamualaikum, Buk?" sapa Yuli saat panggilannya sudah terhubung dengan Mama Nayna.
"Walaikumsalam, Yuli."
"Maaf, ibu tadi menghubungi saya? Ada apa ya, Buk?" tanya Yuli dengan sopan.
"Oh, tidak. Tidak ada apa-apa. Hanya ingin menanyakan kabar Zia saja, soalnya ponsel anak saya tidak bisa di hubungi," ujar Mama Nayna yang mengurungkan niatnya untuk memberitahu kondisi Yumna kepada Zia.
"Oh, begitu Buk. Baiklah, nanti akan saya sampaikan."
"Oh ya, Yuli. Bagaimana pertemuannya? Apa berjalan dengan baik?" tanya Mama Nayna merasa penasaran.
"Alhamdulillah, Buk, semuanya berjalan dengan baik. Malam ini investor ingin mengajak Buk Zia makan malam, kemudian keesokan paginya beliau ingin mengajak Buk Zia untuk berjalan-jalan melihat perhiasan yang ada di museum," ujar Yuli memberitahu.
"Oh, begitu ya. Emm, kira-kira kapan ya pulangnya itu?" tanya Mama Nayna yang hanya ingin memastikan.
"Emm, jika tidak ada halangan, insya Allah sore kami sudah bisa berangkat, Buk. Semoga saja tidak ada halangan," ujar Yuli memberitahu.
"Oh, begitu. Ya sudah kalau begitu. Kamu gak usah kasih tau Zia ya, kalau saya menghubungi kamu," pesan Mama Nayna.
"Baik, Buk."
Panggilan pun terputus, setelah Mama Nayna yang duluan berpamitan dan mengakhiri panggilannya.
"Tumben banget hubungi aku? Ada apa, ya?" gumam Yuli dengan kening mengkerut.
__ADS_1
Yuli pun mencoba menghubungi atasannya, akan tetapi panggilannya tidak bisa terhubung.
"Hmm, apa habis baterai, ya?" Yuli pun berinisiatif untuk mendatangi kamar Zia, berharap jika atasannya itu berada di sana.