
"Zi," tegur Putri.
Zia yang sedang menonton film di living room pun menoleh ke arah sang kakak.
"Mbak?"
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Arash tidak ada di rumah, karena pria itu dinas malam. Sebenarnya Arash sudah meminta kepada atasannya untuk tidak memberikan dirinya tugas dinas malam, karena kehamilan Putri yang sudah memasuki sembilan bulan. Atasan Arash sudah menyetujuinya, akan tetap karena ada rekan kerjanya yang memang tidak bisa dinas malam, maka dari itulah Arash harus mengganti posisi temannya.
Putri mendaratkan bokongnya di sofa, terlihat jika wanita hamil itu seperti sulit untuk bernapas.
"Mbak sakit?" tanya Zia yang melihat wajah Putri sedikit pucat.
"Tidak, cuma sedikit sesak aja. Mungkin karena kehamilan Mbak yang sudah semakin membesar," jawab Putri sambil tersenyum.
"Mbak kenapa belum tidur? Sudah malam loh ini."
"Mbak gak bisa tidur," jawab Putri sambil sedikit memanyunkan bibirnya. "Kamu kenapa belum tidur?" tanya Putri balik.
"Sama, Mbak. Gak bisa tidur juga," kekeh Zia.
"Tumben gak menggambar?"
Biasanya, jika Zia tidak bisa tidur, gadis itu selalu menuangkan idenya di lembaran kertas putih. Jarang sekali Zia bergadang hanya untuk menonton sebuah film.
"Ada film baru, Mbak. Ayang Seo Ho yang main," kekeh Zia sambil tersenyum malu.
"Oalah .. pantes …" Kedua adik beradik itu pun tertawa bersama.
"Filmnya tentang apa?" tanya Putri yang sudah mulai fokus menatap ke arah layar televisi.
__ADS_1
"Tentang menyelamatkan anak orang kaya, Mbak. Tapi banyak kekerasannya sih. Mbak yakin mau nonton?"
"Kenapa memangnya?"
"Mbak kan lagi hamil?" ujar Zia dengan wajah polosnya.
"Biasa aja kali. Lagian udah hamil tua juga kok. ssstt …" Putri meringis, di saat perutnya terasa sakit karena sang bayi menendangnya.
"Kenapa, Mbak?" tanya Zia merasa khawatir.
"Biasa, keponakan kamu nendang-nendang," jawab Putri sambil tersenyum.
"Oh!" Zia bernapas lega, gadis itu sangat takut sekali jika Putri tiba-tiba saja harus melahirkan malam ini. Secara, di rumah hanya ada dirinya dan Putri saja. Ya walaupun ada asisten rumah tangga juga sih.
Mama Nayna dan Papa Satria sedang berada di luar, karena harus menerima jamuan makan malam dari teman sekolahnya. Sedangkan Bara, pria itu masih berada di kantor. Sepertinya Bara sedang lembur, karena banyak pekerjaan yang harus pria itu selesaikan dalam minggu ini. Ada proyek besar yang harus dia tangani, untuk itulah Bara sering tidak berada di rumah. Terkadang, jika memang tidak sempat pulang, Bara memilih untuk tidur di kantornya.
Zia dan Putri pun kembali fokus kepada film yang sedang di putar di layar televisi. Sambil menonton, keduanya juga asik mengemil cemilan yang ada hadapan mereka.
Putri pun bangkit dari duduknya, membuat Zia menoleh ke arah sang kakak.
"Mau ke mana, Mbak?" tanya Zia dengan kening yang mengkerut, di saat melihat Putri seolah kesusahan saat berdiri.
"Mau ambil minum."
"Duduk aja, Mbak, biar aku yang ambilkan," ujar Zia yang sudah menurunkan kunci rodanya.
"Gak usah, kamu di situ aja. Ayang kamu kan lagi main," sahut Putri dengan tersenyum menggoda.
"Tapi, Mbak terlihat seperti kesusahan untuk berdiri," ucap Zia merasa khawatir.
__ADS_1
"Gak papa, emang udah biasa kalau umur kehamilannya sudah masuk bulannya begini. Santai aja. Lagi pula, Mbak memang harus banya bergerak."
"Tapi--"
"Udah, kamu tenang aja ya."
Putri sudah berdiri tegak, di tangan wanita itu pun memegang wadah untuk air minum. Namun, baru dua langkah berjalan, tiba-tiba dia merasa perut dan pinggangnya terasa sangat sakit sakit, sehingga membuat wadah air yang ada di tangannya pun terjatuh.
"Akkhh …"
"Mbaaakk …"
Zia langsung panik di saat melihat kaki Putri mengalir darah segar, gadis itu pun langsung berteriak untuk meminta tolong.
"Mbook … mboook … toloooong …"
Zia bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi Arash, memberitahu jika Putri mengalami pendarahan.
"Duh, kenapa gak di angkat sih?" geram Zia saat panggilan keduanya masih terabaikan.
"Zi-Zia .. tolong, Mbak, akkh .." ujar Putri yang sudah terlihat sangat pucat dan lemas.
"Mboookkk .. tolooong …"
Zia pun menghubungi Satpam untuk membantunya.
"Pak, cepat ke sini. Suruh supir untuk siapkan mobil juga," titah Zia dengan suara yang bergetar.
Untuk pertama kalinya, Zia membenci kakinya yang tidak bisa digunakan saat ini. Andai saja dirinya bisa berjalan, mungkin dia sudah memapah sang kakak dan membawanya langsung ke rumah sakit.
__ADS_1
"Mbak, bertahanlah, hiks .." ujar Zia sambil mengusap bahu Putri.