Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 203 - Tak Peka


__ADS_3

Putri tak bisa diam lagi. Gadis itu harus menggunakan koneksinya untuk melacak Yosi. Cukup sudah, ini sudah keterlaluan. Jika di biarkan terus, maka akan ada korban tak bersalah lainnya.


Putri pun menghubungi Om Martin dan meminta bertemu kepada pria paruh baya yang pernah menjadi rival sang ayah.


Semoga dengan cara ini, maka dirinya akan bisa menangkap Yosi bersama dengan bukti-bukti yang kuat.


"Des, aku sarapan di kantor ya pagi ini," ujar Putri yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Kenapa? Apa karna tak ada Arash?" goda Desi.


"Hah? Buk-bukan itu," jawab Putri dengan gugup.


Walaupun Putri tak mengatakan apa pun tentang perasaannya ke Desi, tapi gadis yang berprofesi sebagai polwan itu tahu jika Putri diam-diam mengaggumi Arash. Cukup dari tatapan mata gadis itu, serta kekhawatirannya terhadap Arash, saat Desi menceritakan tentang mafia bernama Riki.


Yang Putri khawatirkan bukan Fatih, Raysa, Jo, atau Desi, tetapi Arash. Ya, Putri mengkhawatirkan jika Arash akan terluka saat itu. Padahal Arash?


Ya, kalian tau sendiri kan kisahnya bagaimana.


"Lalu?" tanya Desi dengan tatapan intimidasinya.


"A-aku sebenarnya ada janji temu dengan seseorang. Makanya aku sarapan di luar bersama beliau," ujar Putri dengan pelan.


"Ooh, jadi karena Arash gak d sini, kamu janjian dengan yang lain gitu?" tanya Desi lagi dengan tatapan menggoda.


Bahkan, saat ini dia sudah menaik turunkan alisnya.


"Iih, apaan sih. Gak gitu juga, ya. Aku memang udah janjian dengan seseorang. Lagian, kalau ada Arash pun di sini, aku bakalan tetap sarapan d luar kok," ujar Putri dengan wajah merona.


"Benarkah? Hmm, ya sudah kalau begitu. Berarti hanya ada aku dan Arash aja sarapan pagi ini," ujar Desi dengan mengulum bibirnya.


"Kira-kira kami makan apa, ya? Aku gak pinter masak, Arash mah suka kegosongan kalau masak. Hmm, sarapan roti aja kali, ya?" lirih Desi dengan suara yang sengaja di keraskan agar di dengar oleh Putri.


"Arash di sini? Dia pulang tadi malam?" tanya Putri penasaran.


Desi pun hanya mengendikkan bahunya dan berlaku ke kamar mandi.


"Des, aku tanya kok gak d jawab, sih? Arash udah pulang?" tanya Putri yang sudah mengekori Desi ke kamar mandi.


"Yaaa, gitu deh," jawab Desi dan langsung berlaku ke kamar mandi.


"Iih, Desi nyebelin, deh," kesal Putri dan menghentakkan kakinya dengan kesal.


Desi yang sedang berada di dalam kamar mandi pun terkikik geli saat berhasil membuat Putri tanpa sadar menunjukkan rasa sukanya kepada Arash.


"Beneran udah pulang? Jam berapa? Kok aku gak tau, ya?" lirih Putri dengan menggaruk alisnya yang tak gatal.


Putri pun berjalan menuju lemarinya, kemudian dia mengambil satu stel pakaian kerja dan bergegas untuk bersiap.


"Udah rapi aja," ujar Desi yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Kamu gak kerja?" tanya Putri yang melihat Desi malah terlihat santai-santai di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya.


"Enggak. Kemarin kan aku udh kerja sampai malam, jadi hari ini libur," jawab Desi sambil mengetik sesuatu di atas ponselnya.


"Ooh," lirih Putri dan kembali memfokuskan tatapan matanya ke pada wajahnya dari pantulan kaca.


"Ah ya, Pak Abash masuk rumah sakit, kamu tau?" tanya Putri yang kembali melihat Desi dari pantulan kaca.


"Huum, tau," jawab Desi sambil menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke arah Putri.


Terlihat gadis itu sangat serius membalas pesan yang masuk ke dalam ponselnya.

__ADS_1


"Serius amat? Dari pacar, ya?" tanya Putri merasa penasaran.


"Bukan," jawab Desi singkat.


"Terus? Selingkuhan?" kekeh Putri.


Putri sudah mengetahui, jika Desi sudah memiliki pacar dan akan segera bertunangan. Bahkan, mereka pernah makan malam bersama di apartemen, dengan Putri yang menjadi kokinya.


Desi tidak menjawab, karena gadis itu semakin terlihat serius melihat ke arah ponselnya. Putri yang merasa di cuekin pun hanya mengendikkan bahu dan kembali merias wajahnya.


Terdengar suara nada dering dari posnel Desi, sehingga membuat gadis itu bergegas berdiri dengan sikap siaganya. Putri pun hanya memperhatikan dari pantulan kaca saja.


"Siap, Pak. Laporan sudah di terima. Siap laksanakan tugas," ujar Desi dengan orang yang ada di seberang panggilan.


Terlihat jika Desi kembali duduk di atas tempat tidur setelah memutuskan panggilannya. Putri pun berbalik dan menatap ke arah Desi.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Putri merasa penasaran.


"Mau tanya apa?" Kali ini Desi sudah menatap lawan bicaranya.


"Kenapa saat menerima panggilan tadi, kamu berdiri dengan sikap bersiap? Seolah-olah atasan kamu ada di depan mata," tanya Putri penasaran.


"Karena menghormati atasan seperti itu. Lagi pula sudha menjadi kebiasaan. Kalau pun bicara tegasnya sambil duduk santai seperti ini, pasti suara yang keluar akan berbeda," ujar Desi memberi tahu.


"Oh ya? Bedanya?"


Desi pun memberi contoh dengan bersuara tegas sambil duduk santai dan bersuara tegas dengan berdiri tegak. Memang, terdapat perbedaan dalam bunyi suara tersebut.


"Iya, ya. Beda. Tapi keren, aku suka," ujar Putri dengan tersenyum.


"Suka Arash?" goda Desi lagi yang mana membuat Putri membelalakkan matanya.


"Aku cuma bercanda," ujar Desi dengan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya sehingga berbentuk huruf v.


"Hmm, ya sudah kalau begitu, aku pergi kerja dulu, ya," pamit Putri.


"Iya, hati-hati di jalan ya. kalau ada apa-apa langsung kabari aku," jawab Desi. "Eh, kamu pergi sama siapa pagi ini?" tanya Desi yang menyadari jika Arash tak ada di rumah.


"Bukannya kamu tadi bilang Arash ada di rumah?" tanya Putri balik, gadis itu pun menyipitkan matanya dan menatap tajam ke arah Desi.


"Kamu bohongi aku?" pekik Putri dengan kesal.


Pecahlah tawa Desi, sehingga membuat Putri berbalik dan mendekati gadis itu. Desi pun bergegas bangkit dari duduknya untuk menjauh dan menghindar dari kemarahan Putri.


"Aku bercanda. Habisnya kamu suka smaa Arash tapi malah diam-diam aja," kekeh Desi.


"Aku gak suka sama Arash, ya," kesal Putri.


"Bohong banget, dari tatapan mata kamu ke Arash aja udah ketahuan banget kalau kamu naksir dia," goda Desi yang terus menghindar dari Putri yang terus mengejarnya.


"Desiii ..." pekik Putri kesal dan berlari mengejar Desi, sehingga membuat gadis itu berlari ke arah pintu kamar dan membukanya.


"Aku bercanda, tapi kalau kamu serius sukanya juga gak papa," ujar Desi yang terus berlari dari kejaran Putri. "Aku tau kamu suka tapi masih malu mengungkapkannya."


"Desiiii ...." pekik Putri lagi dan mengambil bantal Sofa, kemudian melemparkan bantal tersebut ke arah Desi yang berakhir mengenai wajah Arash.


Buug ...


Saat Putri melempar bantal ke arah Desi, kebetulan sekali gadis itu berada di depan pintu kamar Arash, hingga saat pintu itu terbuka bertepatan dengan Putri yang melemparkan bantal sofa ke wajah pria itu.


"Awww ...." ringis Arash yang merasakan sakit pada wajahnya.

__ADS_1


"Haahh? Ya ampun, Arash ..." pekik Putri dan bergegas berlari ke arah Arash, untuk melihat kondisi pria itu.


"Mana yang sakit?" tanya Putri merasa khawatir.


"Hidung aku," jawab Arash. "Lagian, kenapa kalian berlar-lari seperti anak kecil dan bermain melempar bantal?" tanya Arash kepada Putri dan Desi.


"I-itu ...."


"Putri jatuh cinta," jawba Desi cepat sambil mengulum bibirnya, sedangkan Putri melorotkan matanya kepada Putri.


"Oh ya?" tanya Arash dengan terkejut. Entah mengapa, pria itu merasa ada sesuatu yang mengiris perasaannya.


"Gak kok, Desi ngarang," ujar Putri sambil memberi kode kepada Desi untuk tidak mengatakan apa pun lagi.


"Yang bener, Des?" tanya Arash kepada Desi.


Desi tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Aku bercanda," kekehnya pelan yang mana membuat Putri menghela napasnya dengan lega.


"Oh, kalau iya juga gak papa, kan?" ujar Arash sambil tersenyum penuh arti kepada Putri.


"Kenapa kamu tersenyum begitu?" tanya Putri merasa aneh dengan senyuman Arash.


"Aku tau kok, kalau kamu punya hubungan spesial dengan Abash, kan? Dan saat ini Desi jug sedang berbohong mengatakan kalau dia bercanda," ujar Arash yang mana membuat Putri dan Desi saling menatap.


"Aku punya hubungan dengan Abash? Bagaimana kamu bisa bilang begitu?" tanya Putri dengan kening mengkerut.


"Atau jangan-jangan?" batin Putri.


"Semalam aku, Sifa, dan Didi melihat kamu berpelukan dengan Abash. Dan, kamu menangis sesenggukan seperti tadi malam, karena kondisi Abash, kan?" tebak Arash yang merasa apa yang dia lihat dan pikirkan saat ini adalah benar.


Putri pun membelalakkan matanya karena terkejut saat mendengar apa yang Arash katakan.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Putri dengan perasaan sedih, karena Arash malah berpikir jika dirinya memiliki hubungan dengan Abash.


"Kalian berpelukan," jawab Arash dengan tersenyum, tetapi di dalam hatinya juga seperti ada yang mencubitnya.


Putri menghela napasnya dengan kasar. "Apa saat kamu memeluk aku, itu artinya jika kita juga memiliki hubungan yang spesial?" tanya Putri dengan kesal, sehingga membuat Arash mengernyitkan keningnya.


"Lalu, apa setiap pria yang memeluk aku, mereka memiliki hubungan yang spesial dengan aku?" tanya Putri yang saat ini nadanya mulai semakin tinggi.


"Put, kenapa kamu jadi kesal?" tanya Arash dengan bingung.


"Karena tuduhan kamu itu tidak benar. Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan Pak Abash," kesal Putri dan berbalik menuju kamarnya.


"Kenapa dia semarah itu?" tanya Arash entah kepada siapa, kemudian pria menoleh ke arah Desi yang masih berdiri di dekatnya.


"Kenapa?" tanya Arash kepada Desi.


Desi menggelengkan kepalanya dengan dramatis. "Kamu benar-benar gak peka ya jadi orang, heran," ujar Desi dan berlalu menuju dapur.


Tak berapa lama Putri kembali keluar kamar dengan sudah memakai tas kerjanya.


"Kamu berangkat sepagi ini? Gak sarapan dulu?" tanya Arash kepada Putri.


Putri hanya diam dan mencari keberadaan Desi. Terlihat jika Desi sedang berjalan menuju living room sambil memegang segelas susu di tangannya.


"Des, aku berangkat ya," pamit Putri kepada Desi.


"Oke, hati-hati di jalan," ujar Desi dan mendaratkan bokongnya d sofa.


"Put, kamu pergi sama siapa? Tunggu aku, biar aku antar," ujar Arash yang di abaikan oleh Putri.

__ADS_1


__ADS_2