Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 223 - Kamu Gak papa?


__ADS_3

"Sudah mau hujan, Mas, kita masuk ke dalam, yuk!" ajak Sifa yang di angguki oleh Abash.


"Hmm, tunggu sampai hujannya turun dulu, boleh?" pintar Abash sambil menggenggam tangan sang kekasih.


"Oke." Sifa pun kembali menatap ke arah bunga-bunga yang ada di taman.


"Bunganya cantik-cantik ya, Mas. Itu bunga-bunga mahal kan?" tanya Sifa yang mana membuat Abash menoleh ke arah sang kekasih.


"Ya, seperti kamu."


Mendengar pujian dari sang kekasih, membuat Sifa pun menoleh ke arahnya. Pria itu terlihat tersenyum lebar dan mengecup punggung tangan sang kekasih.


"Kamu tau, semua bunga-bunga itu adalah kesukaan Oma Mega!" ujar Abash memberitahu.


"Opa Bram sengaja menanam semua bunga-bunga ini di taman rumah sakit karena permintaan Oma Mega. Kamu tau kenapa?" tanya Abash yang di jawab gelengan sama Sifa.


"Itu karena Oma Mega sangat menyukai bunga, tetapi beliau memiliki alergi serbu sari. Gak semua bunga sih, hanya beberapa saja. Jadi, beberapa bunga yang tidak bisa di tanam di rumah, maka akan di tanam di sini," ujar Abash memberitahu.


"Kenapa begitu?" tanya Sifa penasaran.


"Karena Oma Mega ingin orang-orang yang ada di rumah sakit juga dapat menikmati bunga-bunga indah ini, walaupun beliau tidak dapat menikmatinya," jawab Abash.


"Lagi pula, jika Oma Mega ingin melihat bunga-bunga ini, beliau kan bisa datang ke rumah sakit saat mengunjungi Opa Bram."


"Tapi Oma alergi bunga?" tanya Sifa bingung.


"Iya, kalau dalam jarak dekat. Kalau dalam jarak jauh sih gak papa." Sifa pun ber-o ria mendengar ucapan sang kekasih.


Hujan pun perlahan turun membasahi bumi, sehingga membuat Sifa membenarkan selimut yang di gunakan oleh Abash.


"Udah hujan, kita masuk yuk," ajak Sifa yang kali ini benar-benar di angguki oleh Abash.


Sifa pun mendorong kursi roda yang di duduki oleh Abash menuju kamar inapnya. Sepanjang perjalanan, mereka pun terlihat bercanda dengan candaan-candaan kecil yang Sifa ucapkan kepada Abash.


"Aku panggil perawat dulu, ya," pamit Sifa dan meninggalkan Abash sendirian di dalam kamar.


"Jangan lama-lama," seru Abash dengan suara yang manja sambil menggenggam tangan sang kekasih.


"Gak lama, cuma sebentar aja kok." Sifa pun memaksa Abash untuk melepaskan tangannya dari genggaman pria itu.


Dengan perasaan berat hati, Abash terpaksa melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan sang kekasih untuk pergi meninggalkannya sesaat.


Baru saja Sifa membuka pintu kamar, gadis itu di kejutkan dengan kedatangan Mas Abi dan juga Mbak Quin, di mana mereka juga baru saja di Indonesia.


"Sifa?" kejut Mbak Quin yang memang belum mengetahui tentang hubungan Abash dan Sifa, berbeda dengan Abi yang sudah mengetahui kabar tersebut.

__ADS_1


Sebenarnya bukan Quin tak tahu, tetapi karena terlalu sedih dengan keadaan sang kakek, membuat pikirannya hanya terfokus untuk Kakek Farel saja. Sesampainya di rumah sakit, saat wanita itu menanyakan tentang adik-adiknya, barulah Mama Kesya memberitahu keadaan Abash yang sedang tidak baik-baik saja, sehingga membuat Quin semakin merasa lemas dan ingin melihat keadaan sang adik. Quin pun menjadi terkejut di saat menemukan keberadaan Sifa di dalam kamar inap Abash, apa lagi saat ini mereka hanya tinggal berdua saja.


"Mbak, kapan sampai?" tanya Sifa sambil mencium punggung tangan Quin.


"Kamu kenapa di sini? Atau jangan-jangan?" tebak Quin tanpa menjawab pertanyaan Sifa. Wanita yang sedang hamil, tetapi tidak menyadari jika dirinya hamil itu pun menoleh ke arah sang suami, di mana Abi tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya.


"Kamu tau, Mas?" tanya Quin kepada sang suami.


"Iya," jawab Abi.


"Kok kamu gak kasih tau aku?" kesal Quin.


"Sekarang bukan itu yang terpenting, tetapi keadaan Abash yang terpenting. Kita lihat Abash dulu, yuk," ajak Abi yang di angguki oleh Quin.


Abi pun menggandeng tangan sang istri saat berjalan, karena tubuh wanita itu masih terasa lemas.


"Mbak Quin?"


"Abash?" Quin ingin berlari dan memeluk sang adik, akan tetapi Abi menahan lengan wanita itu.


Abash pun mendorong kursi rodanya untuk mendekat ke arah sang kakak.


"Bash, kenapa bisa begini? Hiks ..." Quin pun memeluk sang adik sambil menangis.


Dan, cerita tentang kejadian kecelakaan itu pun berlangsung, hingga Abi membantu Abash untuk kembali naik ke atas tempat tidur.


"Ya, Mbak baik-baik saja. Hmm, Mbak senang akhirnya kamu bisa menemukan tambatan hati," ujar Quin sambil menggenggam tangan Sifa dengan sayang.


Seingat Quin, terakhir kali mereka bertemu adalah saat ada acara arisan di rumah. Saat itu Quin tanpa sengaja mengatakan kalau Putri adalah wnaita impian dari Abash. Namun, siapa yang menyangka, jika Abash ternyata sudah melabuhkan hatinya kepada Sifa. Rasanya kejadian itu baru saja kemarin terjadi, kenyataannya sudah beberapa bulan yang lalu.


"Sifa, kamu banyak-banyak sabar ya hadapi Abash. Dia anaknya nyebelin," ujar Quin kepada calon adik iparnya itu.


"Iya, Mbak," jawab Sifa dengan tersenyum malu.


"Ya sudah kalau begitu, Mbak tenang sekarang kalau kamu udah ada yang jagain. Kalau begitu, Mbak balik jenguk kakek lagi, ya," pamit Quin yang di angguki oleh Sifa dan Abash.


"Iya, Mbak. Mbbak juga hati-hati. Kalau perlu sekalian periksa kesehatan, soalnya Mbak terlihat pucat," ujar Abash sebelum sang kakak bangkit dari duduknya.


Kepergian Quin dan Abi pun menyisakan Abash dan Sifa kembali di dalam ruangan.


"Mas, malam ini aku pulang, ya?" izin Sifa.


"Kok pulang? Terus, yang temani aku di sini siapa?" tanya Abash dengan wajah yang di buat merajuk.


"Aku gak enak loh, Mas, kalau nginap di sini lagi. Ntar, Tante Kesya dan semua keluarga kamu, nilai aku jelek, lagi, karena menemani kamu di sini dan hanya ada kita berdua saja," ujar Sifa dengan wajah memohon.

__ADS_1


"Mama gak pernah berpikiran begitu, kok, apa lagi yang lainnya. Jadi, kamu tetap di sini, ya?" bujuk Abash.


"Tapi, Mas?" Abash meletakkan jari telunjukkan di bibir sang kekasih, sehingga membuat Sifa pun terdiam seketika.


"Gak pake tapi. Pokoknya kamu menginap di sini, ya?" bujuk Abash yang lebih ke sebuah perintah. Perlahan, Sifa pun mengaggukkan kepalanya menyetujui permintaan sang kekasih.


"Terima kasih," bisik Abash sambil membenarkan anak rambut Sifa dan membawanya ke belakang telinga gadis itu.


Hasrat yang seharian ini Abash tahan pun, akhirnya tak sanggup dia bendung lagi. Pria itu perlahan mendekatkan wajah di saat tangannya  menyentuh pipi dan tengkuk sang kekasih. Bahkan, tangan Abash yang ada di leher Sifa pun menarik tengkuk gadis itu agar mendekat ke arahnya, hingga bibir kedua sejoli tu pun bertemu dan saling melepas rindu.


*


Arash memarkirkan mobilnya. Pria itu menahan tangan Putri untuk tidak turun duluan.


"Tunggu sebentar," ujar Arash dan bergegas turun dari dalam mobil.


Pria itu pun menuju ke bagasi untuk melihat payung, akan tetapi tak ada satu payung pun di dalam mobil pria itu.


"Ke mana payung?" lirihnya pelan.


Hujan semakin turun dengan deras, jika tak ada payung atau pun alat yang bisa menutupi kepala dan tubuh mereka, maka akan di pastikan saat berjalan ke dalam rumah sakit, dirinya dan Putri pasti akan kebasahan. Arash pun teringat akan jaketnya yang ada di dalam mobil, sehingga pria itu pun mengambil jaket tersebut dan membuka pintu mobil bagian Putri.


"Ayo," ajak Arash sambil menutupi kepalanya dengan jaket.


"Gak ada payung?" tanya Putri yang di jawab gelengan oleh Arash.


"Gak ada, ayo," ajaknya lagi.


Putri pun menghela napasnya pelan. Gadis itu pun turun dari mobil dan masuk ke bawah jaket Arash. Setelah Arash mengunci pintu mobilnya, mereka pun berjalan dengan sedikit berlari menuju lobi.


"Huff, setidaknya tidaknya tidak terlalu basah," ujar Arash yang di angguki oleh Putri.


Mereka pun menepuk-nepuk lengan dan baju yang terkena hujan dan merapikan penampilan, barulah mereka masuk ke dalam rumah sakit.


"Dingin?" tanya Arash kepada Putri.


"Lumayan," jawab Putri dengan sedikit menggigil.


"Aku ingin memberikan jaketku, tetapi basah, yang ada kamu makin kedinginan lagi," kekeh Arash.


"Kalau begitu jangan kasih, yang ada aku ntar makin sakit lagi," cibir Putri dengan kesal yang mana membuat Arash tertawa pelan.


Sesampainya di depan ruangan Abash, tangan Arash yang ingin menekan handle pintu pun tertahan, senyuman di wajah pria itu pun perlahan meluntur dengan tatapan matanya yang menatap lurus ke dalam ruangan kamar Arash melalu kaca kecil yang terdapat di daun pintu.


"Ada apa?" tanya Putri penasaran dan ikut melihat ke dalam kamar.

__ADS_1


Putri terkejut melihat apa yang sedang terjadi di dalam kamar, hingga dia menoleh ke arah Arash dan pria itu menoleh ke arahnya.


"Kamu gak papa?" tanya Arash dan Putri secara bersamaan.


__ADS_2