Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 32 - Tidur


__ADS_3

"Gimana mie-nya? Enak?" tanya Arash yang mana membuat Zia terkejut.


Zia berharap, jika Arash tidak menyadari kalau dirinya sedari tadi terus memperhatikan pria itu. 


"Iya, enak," jawab Zia dan kembali menikmati mie instan yang tinggal setengah lagi di dalam mangkok.


Arash tersenyum kecil saat memandang wajah Zia yang merona, karena ketahuan jika gadis itu memandang wajahnya secara diam-diam. 


"Aku tahu, malam itu pasti kamu yang datang sebagai Putri, Zi," batin Arash merasa bersalah. 


"Aroma tubuhmu berbeda dengan Putri. Itu yang membedakan kalian," sambungnya lagi dalam hati. 


Arash kembali teringat dengan kejadian saat di mobil tadi. Di mana pria itu diam-diam mencuri ciuman Zia yang sedang terlelap dalam tidurnya. 


Ya, Arash dengan sadar mencium istri yang tak dia anggap itu. 


"Mas belajar dari mana masak mie instan begini?" tanya Zia setelah meletakkan mangkok kosongnya ke atas meja. "Telornya gak bau amis di mie-nya," sambung Zia sebelum meneguk air mineral yang ada di hadapannya. 


"Dari mama," jawab Arash.


Zia menoleh ke arah suaminya itu. Gadis itu benar-benar terkejut di saat Arash mau menjawab pertanyaannya. Padahal selama ini, pria itu enggan untuk menjawab pertanyaan yang dia berikan. Apa lagi pertanyaan-pertanyaan itu menyangkut tentang kepribadian Arash. 


"Oh," gumam Zia untuk mengusir rasa keterkejutannya. 


"Sudah malam, sebaiknya kamu masuk kamar dan tidur," titah Arash yang di jawab gelengan oleh Zia. 


"Mas duluan aja, aku masih mau nonton," sahut Zia. 


"Hmm, baiklah kalau begitu. Jangan sampai ketiduran di sini, ya?" ujar Arash dan bangkit dari duduknya sambil mengambil mangkok kotor yang ada di atas meja.


"Iya, Mas. Piring kotornya ntar biar aku yang cuci aja," ujar Zia saat Arash sudah mau melangkah menjauh darinya. 


"Gak papa, biar si mbok aja yang cuci besok," sahut Arash dan berlalu meninggalkan Zia.


Zia mengernyitkan keningnya, di saat mendengar suara keran air yang hidup, kemudian di susul dengan dentingan kaca yang beradu, menandakan jika pria itu sedang mencuci piring. 


"Katanya biar si mbok aja yang cuci? Ini kenapa dia yang cuci?" gumam Zia dengan suara yang sangat pelan sekali. 


Tak berapa lama Arash berlalu melewati Zia menuju kamar pria itu.


"Jangan terlalu malam tidurnya, Zi," tegur Arash sebelum pria itu benar-benar menghilang ke dalam kamarnya. 

__ADS_1


Zia memandang ke arah Arash yang perlahan menghilang di balik pintu. Gadis itu pun kembali menghela napasnya secara perlahan. 


"Aneh, tumben banget baik dan ramah," ujar Zia dan kembali memfokuskan pandangannya ke arah televisi yang masih menayangkan film yang dia tonton tadi.


Sudah hampir satu jam Zia memandang ke arah televisi, hingga akhirnya gadis itu merasa mengantuk dan menguap. Perlahan, mata Zia tertutup dengan rapat, menandakan jika gadis itu sudah terbang ke alam mimpi. 


Di dalam kamar, Arash masih belum bisa menutup matanya, pria itu masih membayangkan kebodohannya saat mencuri  ciuman Zia di dalam mobil secara diam-diam. Pria itu merasa kesal kepada dirinya sendiri, seolah dirinya baru saja berselingkuh. 


Arash menoleh ke arah jam di dinding, di mana waktu sudah menunjukkan terlalu larut malam yang akan menjelang pagi. Arash kembali menghela napasnya yang entah ke berapa kalinya pria itu hembuskan secara dalam dan panjang. Matanya belum juga ingin tertutup rapat dan terlelap tidur, walaupun dirinya sudah merasa kantuk. 


"Apa Zia sudah tidur?" tanya Arash entah kepada siapa. 


Merasa penasaran, Arash pun turun dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya untuk melihat istri tak di anggapnya itu.


"Hmm, padahal sudah di ingatkan untuk tidur di dalam kamar," gumam Arash dan menghampiri Zia yang tertidur dengan posisi duduk bersandar di sofa. 


Arash ingin membawa Zia ke dalam gendongannya, sehingga membuat jarak di antara mereka pun terkikis. Pria itu menelan ludahnya dengan kasar, di saat melihat betapa polosnya wajah sang istri yang sudah dia lukai hatinya tanpa sengaja. 


Arash menggelengkan kepalanya pelan, pria itu pun mengusir pikiran jahat yang mencoba merayunya untuk kembali menyentuh Zia. 


Tidak, kali ini Arash harus bisa menahan bisikan dan godaan tersebut demi kesetiaannya kepada Putri. 


Arash membawa Zia ke dalam gendongannya, kemudian dia melangkahkan kakinya menuju kamar gadis itu. 


Tak tega rasanya jika membiarkan anak-anaknya tidur dalam keadaan berdesak-desakan. Sepertinya Arash harus memesan tempat tidur yang lebih luas dari ini, agar jika Mama Nayna mampir ke apartemen mereka dan menginap seperti malam ini, maka Rayyan dan Yumna tidak akan kesempitan. 


Arash pun kembali keluar dari kamar Zia, pria itu menghela napasnya secara perlahan karena bingung harus membaringkan Zia di mana. Tidak mungkin kan jika dia membaringkan Zia di sofa? Rasanya sungguh sangat kejam sekali. 


Ya, walaupun sebelumnya Arash sudah bersikap kejam kepada istri tak di anggapnya itu.


Arash pun akhirnya membawa Zia ke dalam kamarnya, membaringkan tubuh gadis itu di atas tempat tidurnya yang berukuran besar.


Arash membenarkan selimut yang menutupi tubuh Zia, memandang sesaat wajah polos sang istri, sebelum mengambil bantal dan keluar dari kamarnya. 


Ya, Arash memilih untuk mengalah dan tidur di sofa yang ada di living room.


Tapi, benarkah alasan Arash mengalah dan membawa Zia ke dalam kamarnya karena Rayyan dan Yumna? Bukan karena alasan yang lain?


Arash tersenyum tipis, di saat membayangkan Zia tidur di tempat tidurnya. Pria itu menggelengkan kepalanya dengan cepat, di saat menyadari apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Dari pada berpikir yang tidak-tidak, Arash pun akhirnya memilih untuk menutup kedua kelopak matanya. Tak butuh waktu lama, pria itu terlelap ke alam mimpi, dengan pikiran yang terus membayangkan tentang Zia. 


*

__ADS_1


Zia mengernyitkan keningnya, di saat indera penciumannya mencium aroma maskulin yang masuk dengan sangat sopan sekali ke dalam hidungnya saat dirinya terbangun dari tidur. Perlahan, Zia membuka matanya untuk memastikan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. 


Zia membulatkan matanya, di saat menyadari jika dirinya berada di dalam kamar. Lebih tepatnya di atas tempat tidur pria itu. Zia pun refleks melihat ke arah sekelilingnya, di mana dia tidak menemui sosok si pemilik kamar. Sedikit bernapas lega, gadis itu pun kemudian melihat kondisi tubuhnya yang berada di dalam selimut, apakah pakaian yang dia kenakan sudah tertanggal atau masih melekat di dalam tubuhnya. Lagi, Zia kembali bernapas lega di saat melihat pakaian yang dia kenakan masih melekat sempurna pada tubuhnya.


Tapi, bagaimana bisa dia berada di dalam kamar Arash? Apa dirinya salah masuk ke dalam kamar tadi malam, karena terlalu mengantuk?


Tidak, seingat Zia dia langsung tertidur sambil menonton film. 


Tunggu, apakah Zia mengigau dalam tidurnya? Berjalan dalam kondisi mata sedikit terbuka dan masuk ke dalam kamar Arash?


Kemungkinan itu bisa saja terjadi kan? Lagi pula itu di luar kesadarannya. 


Zia meremas rambutnya, berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi tadi malam, sehingga membuat dirinya bisa berada di atas tempat tidur Arash lagi ini. 


"Uhghh, kenapa aku tidak bisa mengingatnya, sih?" kesal Zia dengan suara yang pelan.


Zia terkejut, di saat pintu kamar Arash terbuka dan menampilkan sosok pria itu yang masuk ke dalam kamar.


"Kamu sudah bangun?" tanya Arash kepada Zia. 


Zia mengangguk pelan sebagai jawaban. 


Melihat wajah Arash yang tak seramah semalam, membuat Zia merasa yakin, jika dirinya telah berbuat salah.


"Maaf ya, Mas. Aku masuk ke dalam kamar Mas. Aku sungguh tidak sadar saat masuk ke sini," ujar Zia sebelum pria itu meledak marah kepadanya. 


Arash menaikkan alisnya sebelah. 


"Jujur saja, Mas, aku sebelumnya tidak pernah mengigau sambil berjalan saat tidur. Ini yang pertama kalinya aku seperti ini. Aku janji, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan menemui Mbak Naya dan berkonsultasi dengannya," ucap Zia merasa bersalah. 


Arash akhirnya paham akan apa maksud yang di ucapkan oleh Zia. Baguslah Zia berpikir jika gadis itu berada di dalam kamarnya karena mengigau sambil berjalan saat tertidur. Jadi, Arash tidak perlu memberikan alasan kepada Zia. 


Alasan yang sedari tadi dia pikirkan, akan tetapi tidak ada satu pun yang bisa dia gunakan.


"Ya, tidak masalah. Lagi pula kamu tidak sengaja 'kan!" ujar Arash seolah memaklumi apa yang Zia lakukan. 


"Terima kasih, Mas," jawab Zia dan menyibak selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. 


Zia hendak turun dari tempat tidur, akan tetapi gadis itu tidak menemukan tongkatnya.


"Mas lihat tongkat aku?" tanya Zia yang mana membuat Arash kembali gugup. 

__ADS_1


Kali ini alasan apa yang harus Arash berikan?


__ADS_2