Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 175 - Rasa Sakit


__ADS_3

Abash tahu, rasa sakit yang saat ini dirasakan oleh sang kekasih bukanlah rasa sakit biasa. Rasa sakit yang dirasakan oleh Sifa bukanlah rasa sakit yang bisa disembuhkan dengan sebuah pelukan atau pun sebuah ungkapan cinta dan janji. Rasa sakit yang Sifa rasakan saat ini akan tumbuh menjadi rasa tak nyaman dan semakin merasa rendah diri.


Tidak, Abash tidak ingin membuat sang kekasih merasa rendah diri. Abash tidak ingin membuat Sifa semakin terluka. Pria itu harus bergegas memecahkan kasus yang sedang dirinya dan Putri alami, agar dirinya bisa terbebas dari rasa bersalahnya kepada Putri yang juga ikut tertarik ke dalam masalah yang dia buat.


Abash ingin semuanya kembali normal. Dan saat itu terjadi, maka dirinya akan langsung mengumumkan tentang hubungannya dan Sifa. Abash tidak ingin kehilangan gadis yang sangat dia cintai itu lagi. Cukup sekali dia menoreh luka kepada Sifa, tak ingin dia torehkan lagi luka yang lainnya pada gadis itu.


"Putri sudah tenang?" tanya Mama Kesya yang melihat Naya baru saja keluar dari dalam kamar.


"Iya, Ma," lirih Naya dan menghela napasnya pelan.


"Apa yang terjadi dengan Putri?" tanya Mama Kesya penasaran.


Naya sudah diberi tahu oleh Abash dan Arash, agar merasahasiakan apa yang sedang di alami oleh Putri dan Abash. Demi kesehatan Mama Kesya, Naya pun tidak mengatakan hal yang sebenarnya terjadi kepada Putri dan Abash.


"Hanya trauma kecil saja, Ma," jawab Naya.


"Alasan memiliki traumanya apa?" tanya Mama Kesya lagi.


Mama Kesya melihat cara Abash melindungi Putri tadi, seolah pria itu mengetahui apa yang sedang dialami oleh gadis itu. Padahal di sana ada Sifa yang melihatnya. Apakah Sifa tidak akan cemburu? Atau bahkan gadis itu juga mengetahui sesuatu yang tidak diketahui oleh wanita paruh baya tersebut.


"Mama jangan khawatir. Tidak ada hal yang serius terjadi dengan Putri," bohong Naya sambil tersenyum tipis.


"Ah ya, sepertinya tamu Mama sudah pada datang. Mama gak mau temui mereka?" Naya pun mencoba mengalihkan perhatian wanita paruh baya itu.


"Kamu benar, mereka sudah pada datang. Ya sudah kalau begitu, Mama temui tamu dulu ya, titip Putri," pesan Mama Kesya sebelum berlalu meninggalkan Naya.


Naya menghela napasnya pelan, gadis situ merasaa lega dan bersalah secara bersamaan.


"Apa yang terjadi? Kenapa Putri berteriak?" tanya Arash yang baru saja tiba berada di dekat Naya.


Entah dari mana saja pria itu sedari tadi, hingga baru muncul sekarang.


"Tadi, Mbak Quin mau membuat pizza dengan topping sosis, maka dari itu Putri berteriak dan kembali mengingat traumanya," ujar Naya memberi tahu.


Arash menghela napasnya pelan, pria itu seharusnya tidak melepas pengawasannya dari Putri. Tetapi, siapa yang menyangka jika hal ini akan terjadi?


"Pinggang kamu gimana?" tanya Naya.


"Oh, sudah lumayan baik," jawab Arash. "Apa Abash yang mengatakannya?" tanya Arash yang dijawab gelengan oleh Naya.


"Putri yanag mengatakannya. Dia merasa bersalah karena sudah menendang kamu hingga terkilir," ungkap Naya dengan tersenyum.


"Ah, begitu," lirih Arash yang sudah bisa menebak bagaimana bisa Putri mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Apa ada yang terjadi dengan kalian sepanjang malam?" tanya Naya dengan tersenyum penuh arti.


"Tidak ada, maaf sudah mengecewakan!" kekeh Arash.


"Ck, dasar pembohong," cibir Naya.


"Tapi memang itulah yang terjadi, tidak ada hal yang spesial yang terjadi diantara kami," jawab Arash untuk menekankan pada Naya, jika dirinya tidak menyukai Putri.


"Asal kamu tahu, jika saat ini aku sedang tertarik dengan seseorang," bisik Arash yang mana membuat Naya membelalakkan matanya dan semakin mendekat ke arah Arash.


"Siapa?" tanya Naya penasaran.


Arash hanya menunjuk dengan dagunya, ke arah gadis yang sedang berjalan keluar dari kamar.


"Sifa?" pekik Naya dengan tertahan.


"Ssstt ... Jangan berisik. Aku masih ingin mengenalnya lebih jauh, sebelum mengungkapkan perasaanku," bisik Arash yang diangguki oleh Naya.


"Tunggu, bukannya tadi Abash dan Sifa?" batin Putri yang sempat melihat jika Abash dan Sifa saling pandang dengan tatapan terluka dan rindu satu sama lain.


"Jangan bilang kalau mereka?" lirih Naya yang didengar oleh Arash.


"Mereka siapa?" tanya Arash.


"Sifa, kamu mau ke mana?" tanya Naya saat gadis itu berada didekatnya.


"Mau ke dapur, Mbak, ambil minum untuk Mbak Putri," jawab Sifa dengan tersenyum tipis.


Naya pun menganggukkan kepalanya, kemudian gadis itu melirik ke arah sepupu prianya itu.


Terlihat wajah sumringah dan tatapan penuh muja terhadap Sifa. Tatapan cinta yang sangat jelas sekali diberikan untuk gadis itu.


"Kamu baik-baik aja, Sifa?" tanya Arash dengan nada khawatirnya.


"Hm, ya, permisi, Mas, Mbak," pamit Sifa yang diangguki oleh Arash dan Naya.


Karena merasa tak enak perasaan, Arash pun mengikuti gadis itu hingga ke dapur.


"Apa ada sesuatu yang terjadi, Sifa?" tanya Arash yang mana membuat Sifa terkejut.


"Hah? Tidak," jawab Sifa dengan gugup.


"Sifa, jangan berbohong," lirih Arash menatap lekat gadis yang sudah menggetarkan perasaannya.

__ADS_1


"Sa-saya beneran gak kenapa-napa, Mas." Sifa mencoba mengelabui Arash, akan tetapi sorot mata dan mimik wajah gadis itu berkata lain.


Seberapa berusahanya Sifa menutupi kesedihan dihadapan Arash, tetap saja dia ketahuan oleh pria itu.


"Sifa, katakan ada apa? Jangan berbohong, karena kamu gak akan bisa membohongi aku, Sifa," ujar Arash sambil mengusap sudut mata gadis itu yang masih terdapat jejak air mata yang belum mengering.


*


"Hai empus," sapa Putri saat dirinya sudah merasa baik-baik saja.


Gadis itu meminta izin kepada Quin untuk menemui empus, karena kucing besar itu sebentar lagi akan di kirim ke hutan pribadi miliknya sendiri.


Sebuah dengkuran pun menjawab sapaan Putri, sehingga membuat gadis itu pun tersenyum bahagia.


"Apa yang harus aku lakukan, empus?" tanyanya kepada kucing besar itu.


Arash, Abash, Sifa, dan Naya pun menatap Putri dan empus dari jarak yang tidak terlalu jauh. Tampak ada kesedihan yang terpancar dari wajah gadis itu.


Arash sudah mengetahui, jika Sifa sudah mengetahui tentang apa yang menimpa Putri. Tadi gadis itu menceritakan jika Putri sendiri-lah yang mengatakan kepadanya, apa yang sedang menimpanya saat ini.


Bukan tanpa alsan Putri menceritakan hal tersebut kepada Sifa, gadis itu merasa bersalah karena sudah memeluk pacara dari gadis yang bernama Sifa itu. Maka dari itu, Putri meminta maaf kepada Sifa, sehingga membuat mereka berdua menangis dan berpelukan di dalam kamar. Abash pun menjadi saksi bagaimana Putri merasa bersalah kepada kekasihnya.


"Seburuk itukah?" tanya Naya kepada Abash dan Arash.


"Hmm, saat ini belum ada pergerakan apa pun dari Yosi, tetapi kita harus tetap waspada," ujar Arash.


"Ini baru beberapa hari, tidak menutup kemungkinan jika akan terjadi sesuatu nantinya," tambah Abash lagi.


Tak berapa lama, ponsel Putri berdering. Gadis itu mengusap air matanya dan berdehem beberapa kali untuk menetralkan pita suaranya.


"Ya, Ma?"


"Pu-put, hiks ... Zia ... Zia kecelakaan."


Satu kalimat terputus-putus membuat tubuh Putri terduduk lemas di lantai.


Abash, Arash, Naya, dan Sifa saling pandang, kemudian mereka langsung bergegas menghampiri gadis itu.


"Ada apa, Put?" tanya Arash.


"Zi-zia, adik aku. Dia kecelakaan. Dia di tabrak oleh orang yang tidak di kenal," lirih Putri dengan air mata yang bercucuran.


Sifa yang ada di dekat Putri pun, langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Yang sabar, Mbak. Mbak harus kuat," bisiknya.


__ADS_2