Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 168 - Terkilir


__ADS_3

"Kamu sudah bangun?" tegur Arash di saat merasakan jika mata Putri bergerak mengenai pipinya.


"Aaaaaaa ...."


Buugg ...


"Awww ..."


Arash meringis di saat Putri menendang tubuhnya hingga berguling. Putri terlalu terkejut, sehingga dirinya bergerak refleks dan langsung menendang pria itu tanpa berpikir panjang.


"Hmmppp ... Maaf," cicit Putri yang bergegas melihat keadaan Arash.


"Pinggangku," lirih Arash sambil mengusap-usap pinggangnya.


"Pi-pinggang? Pinggang yang sakit?" tanya Putri dan menyentuh pinggang Arash.


"Awas,, sakit, jangan di sentuh," ringis Arash yang mana membuat Putri semakin merasa bersalah.


"Maaf ... maaf ... aku harus apa sekarang?" tanya Putri dengan panik.


"Aaww ... sstt ..." ringis Arash yang merasa berdenyut dan nyeri pada pinggangnya.


"To-tolong ambilin ponsel aku," titah Arash yang di angguki oleh Putri.


"Ini." Putri pun memberikan ponsel Arash kepada pemiliknya.


Entah apa yang Arash utak atik di sana, hingga terdengar sebuah nada sambung dari ponselnya, karena pria itu membuat panggilan dan menghidupkan speaker yang ada di ponselnya.


"Halo, Pak?"


"To, panggilin tukang pijit, pinggang saya terkilir kayaknya. Saya di apartemen." lirih Arash sambil menahan sakit.

__ADS_1


"Baik, Pak," jawab Toto--asisten Arash.


Panggilan pun berakhir, Arash menghela napasnya pelan dan mencoba untuk membalikkan tubuhnya.


"Aww ..." ringisnya lagi.


"Jangan bergerak," larang Putri dengan panik, gadis itu juga sudah menghubungi sang mama.


"Ya, sayang," sapa orang yang ada di seberang panggilan.


"Ma, putri gak sengaja nendang kawan. Sekarang pinggangnya terkilir, Ma. Putri harus melakukan apa, Ma?" tanya Putri dengan panik.


"Tenang, sayanh. Coba kamu telpon Luna dan tanya dokter saraf ya."


"Barusan teman Putri udah panggil tukang pijit, Ma," jawab Putri.


"Oh, ya udah kalau gitu. Sambil tunggu tukang pijitnya, coba deh Putri kompres oake air hangat," titah Mama Nayna.


"Iya, sayang. Ah ya, kamu baik-baik aja kan? Mama beberapa hari ini mimpi gak enak tentang kamu."


Deg ...


Jantung Putri berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Mama Nayna benar-benar memiliki ikatan yang sangat kuat sekali dengan dirinya, padahal dia bukanlah anak kandung dari Mama Nayna.


"I-iya, Ma. Putri baik-baik aja. Mama dan keluarga di sana baik-baik aja, Kan?" tanya Putri balik.


"Iya, sayang. Kamu baik-baik aja."


"Alhamdulillah, kalau begitu Putri matiin dulu panggilannya ya, Ma. Mau panasin air."


"Iya sayang."

__ADS_1


Panggilan pun berakhir, Putri bergegas bangkit dan menuju dapur Arash. Gadis itu pun langsung mengambil panci dan memanaskan air.


Beberapa menit kemudian, Putri kembali dengan baskom yang berisikan air hangat.


"Di mana handuk?" tanya Putri.


"Di dalam kamar, dalam lemari."


"Aku izin masuk, ya?"


Arash pun menganggukkan kepalanya. Putri bergegas berdiri dan mencari handuk di dalam lemari.


"Wow, rapi juga," lirih Putri yang melihat lipatan baju yang ada di dalam lemari.


Putri pun bergegas mencari handuk dan mengambilnya.


Di dendamnya handuk tersebut ke dalam baskom air hangat, kemudian di kompreskan ke pinggang Arash.


"Maaf, ya. Aku buka dikit bajunya," lirih Putri yang di angguki oleh Arash.


Setelah menunggu dua puluh menit, pintu apartemen Arash pun terbuka, di mana asistennya datang bersama dengan seorang pria yang tak di kenal.


"Yang mana yang sakit, Pak?" tanya Toto saat sudah berada di dekat Arash.


"Pinggangnya sepertinya terkilir," jawab Putri mewakili Arash.


Tukang pijat yang di bawa Toto pun langsung segera mengeluarkan alat tempurnya dan duduk di dekat Arash.


"Maaf ya, Pak. Ini sedikit sakit."


Kraak ...

__ADS_1


"Aawww ...." pekik Arash terkejut saat tukang pijat menyentuh pinggangnya.


__ADS_2