Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 132 - Kursi Roda


__ADS_3

Abash berdehem pelan, saat merasa terabaikan oleh Putri, karena saat Luna keluar dari ruangannya, Putri langsung memilih duduk di kursi yang tersedia di sana dan memainkan ponselnya.


"Ekhem .."


Putri pun menaikkan pandangannya dan menatap ke arah Arash.


"Ya?" sahut Putri.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Arash membuka obrolan.


"Baik, kamu?" tanya Putri balik.


"Seperti yang kamu lihat, akau baik dan sebentar lagi akan pulang," jawab Arash.


"Ah ya, terima kasih soal tadi pagi," ujar Arash.


"Apa?" tanya Putri balik.


"Sudah membantu aku makan," jawab Arash.


"Oh, sama-sama. Lagi pula, bukannya tadi pagi sudah kita bahas masalah ini?"


"Hmm, ya, kamu benar." Arash pun merasa bingung, apa lagi yang bisa dia bahas untuk mengisi kekosongan di antara keduanya.


"Apa kamu baru pulang bekerja?" tanya Arash lagi.


"Hmm? Ah ya, saya baru pulang kerja," jawab Putri.


"Kenapa pergi bekerja? Kenapa tidak beristirahat saja dulu di rumah?" tanya Arash.


"Hmm, bagaimana bisa aku beristirahat di hari pertamaku bekerja," jawab Putri.


"Ya, kamu benar," jawab Arash. "Kenapa memilih jadi pengacara?" tanya pria itu lagi.


"Kenapa memangnya, apa ada yang salah dengan menjadi pengacara?" tanya Putri balik.


"Bukan begitu, bukannya kamu bisa bekerja di perusahaan kamu sendiri?" Arash menaikkan alisnya sebelah di saat melihat wajah Putri yang terkekeh pelan.


"Kenapa kamu memilih menjadi seorang polisi?" tanya Putri balik.


Mendengar pertanyaan Putri, Arash pun ikut terkekeh pelan.


"Ya, kamu benar. Sepertinya alasan kita sama," jawab Arash.


"Hmm, sepertinya begitu," kekeh Putri.

__ADS_1


Arash yang melihat Putri tertawa pun, merasa jika gadis itu terlihat semakin cantik. Kejutekan pada wajahnya seolah sirna. Sungguh berbeda di saat gadis itu hanya diam tanpa ekspresi, alias memasang wajah datarnya.


"Duh, lagi ngobrolin apa nih?" tanya Mama Kesya yang baru saja masuk ke dalam ruang inap Arash.


"Oh, ini Ma. Tadi Abash bertanya kepada Putri, kenapa dia memilih menjadi seoarang pengacara. Eh, pertanyaan Arash malah di balikin," kekeh Arash.


Mama Kesya pun ikut tersenyum mendengarkan cerita sang putra.


"Kita siap-siap sekarang ya, Papa sudah menyuruh supir mengambil mobil," ujar Mama Kesya memberi tahu.


"Iya, Ma."


Mama Kesya pun membereskan beberapa barang milik Arash dan juga miliknya. Tak berapa lama Papa Arka datang dengan seorang perawat yang sedang mendorong kursi roda.


"Harus?" tanya Arash yang melihat kursi roda.


"Prosedur rumah sakit, Arash," ujar Papa Arka.


Arash pun menghela napasnya pelan, pria itu pun memberikan I-pad yang ada di pangkuannya kepada sang mama, kemudian dia pun turun dari tempat tidur dan duduk di atas kursi roda.


Melihat Mama Kesya sedang merapikan semua barang-barang, Putri pun menawarkan diri untuk membantu.


"Ada yang bisa Putri bantu, Tante?" tanya Putri.


"Suster, tolong bawain ini dan berikan ke bagian administrasi ya," titah Papa Arka.


"Iya, Pak," Suster pun mengambil berkas yang di berikan oleh Papa Arka, kemudian dia pamit keluar kamar.


"Pa, tolongin Mama bawain ini," ujar Mama Kesya sambil memberikan tas yang berisikan baju milik Mama Kesya dan juga Arash.


"Oke, sayang." Papa Arka pun mengambil alih tas yang ada di tangan Mama Keysa.


Mama Kesya pun memasukkan I-pad milik Arash ke dalam tas yang lain, di mana di dalam tas tersebut terdapat berkas-berkas pekerjaan Arash dan juga laptop.


"Putri, kamu tolong dorong kuris roda boleh?" pinta Mama Kesya.


"Hah? Oh ya, Tante," jawab Putri dan berjalan mendekat ke arah kursi roda yang sudah di duduki oleh Arash.


"Ayo," ajak Mama Kesya.


Putri pun mendorong kursi roda yang di duduki oleh Arash, sedangkan Mama Kesya dan Papa Arka berjalan di belakang mereka.


"Kenapa?" tanya Papa Arka saat melihat sang istri tersenyum penuh arti ke arah Arash dan Putri.


"Gak tau kenapa, Mama kalau lihat Putri itu, seperti lihat diri Mama saat muda dulu," ujar Mama Kesya.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Papa Arka dengan kening mengkerut.


"Tatapan Putri ke Arash itu loh, seperti tatapan Mama ke Papa dulu," kekeh Mama Kesya.


"Tatapan benci tapi cinta?" goda Papa Arka.


"Iih, Papa ini, sok tau banget. Mama itu benci banget ya sama Papa dulu, karena pertemuan pertama kita," ujar Mama Kesya.


"Tapi, karena pertemuan pertama kita, Mama sudah membuat Papa jadi jatuh cinta kepada Mama," ujar Papa Arka sambil mengedipkan matanya sebelah.


"Hmm, dasar pemaksa," gerutu Mama Kesya sambil mencubit gemas pinggang Papa Arka.


Saat sudah berada di lobi rumah sakit, Arash pun turun dari kursi roda.


"Terima kasih," ujar Arash kepada Putri dengan tersenyum manis.


"Hmm, sama-sama," jawab Putri dengan wajah datarnya.


Papa Arka pun ikut tersenyum, di saat melihat apa yang di katakan oleh Mama Kesya memang benar. Tatapan Putri kepada Arash terlihat jelas jika gadis itu sangat membenci pria itu.


"Ayo, Putri," titah Mama Kesya menyuruh Putri untuk masuk ke dalam mobil.


"Iya, Tante," jawab Putri yang sebenarnya merasa tak enak jika menolak permintaan wanita paruh baya tersebut.


Setelah Putri masuk ke dalam mobil, Arash pun ikut masuk ke dalam mobil, mereka duduk bersebelahan, di mana Papa Arka dan Mama Kesya duduk di kursi penumpang bagian tengah.


"Putri, kenapa kamu milih tinggal di apartemen green?" tanya Mama Kesya.


"Oh, karena di sana lebih dekat dengan kantor Putri, Tante," jawab gadis itu.


"Oh, begitu. Tapi, di dekat situ kan juga ada apartemen yang lebih mewah dan bagus?" tanya Mama Kesya lagi. "Kenapa gak pilih yang di sana aja?"


"Emm, sebenarnya Putri ingin merasakan hidup yang sederhana aja, Tante," jawab gadis itu dengan tersenyum.


"Berarti apa yang di katakan oleh Mama kamu benar, ya," ujar Mama Kesya.


"Emangnya Mama bilang apa, Tante?" tanya Putri penasaran.


"Mama kamu bilang, kalau kamu itu pingin hidup jauh dari kemewahan. Terus, kamu ingin jauh dari keposesifan adik kamu, benar kan?" jawab Mama Kesya.


"Iya, Tante. Habisnya Bara nyebelin banget sih. Masa aku mau beli ponsel aja, malah gak di bolehin pakai uang aku sendiri," kesal Putri dengan nada suaranya yang terdengar manja.


Arash yang mendengar suara manja dari Putri pun, mengernyitkan keningnya. Pria itu tidak menyangka, jika gadis mandiri dan terlihat kuat itu juga salah satu anak manja.


"Hmm, pasti orangnya gak mandiri kalau begini," batin Arash. "Beda banget sama Sifa yang segala sesuatu selalu di kerjakan sendiri," sambung Arash dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2