Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 30 - Di Gendong


__ADS_3

Arash menghela napasnya pelan dan panjang, di saat melihat Zia berjalan dengan sempoyongan. Biasa 'kan kalau kita baru bangun tidur dan nyawanya belum terkumpul semua, pasti akan merasakan hal yang sama seperti apa yang saat ini Zia rasakan.


Arash pun keluar dari dalam mobil dan bergegas menghampiri Zia.


"Ammpphh ..."


Zia memekik pelan, di saat dia terkejut tiba-tiba saja tubuhnya melayang di udara.


"A-ada apa, Mas? Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri," pinta Zia dengan gugup.


Bahkan, rasa kantuk yang Zia rasakan tadi entah menguap ke mana.


"Pegangan yang kuat, jangan sampai jatuh," ujar Arash dan melangkahkan kakinya.


"Tap-tapi, Mas!"


Arash menghentikan kembali langkahnya, pria itu menatap sinis ke arah sang istri yang berada di dalam gendongannya saat ini.


"Bisa diem 'kan?"


Zia langsung menutup mulutnya. Gadis itu pun berpegangan yang kuat di leher sang suami.


"Awas jatuh tongkatnya," ucap Arash saat pria itu kembali melangkahkan kakinya.


Zia mengangguk pelan, gadis itu pun memegang erat tongkat yang selama ini membantu dirinya untuk berjalan.


Zia merasa wajahnya memanas, di saat semua orang yang berselisih dengan dirinya dan Arash, terus saja menatap sambil tersenyum. Zia merasa tidak enak dan risih dengan perlakuan dan tatapan yang diberikan oleh orang yang berjalan berselisih dengan mereka.


"Mas, turunin aku. Aku sudah tidak mengantuk lagi dan bisa berjalan sendiri," pinta Zia saat mereka sudah berada di dalam lift.


"Tanggung, bentaran lagi juga nyampe."


Ting ...


Lift yang di naiki oleh Arash dan Zia pun berhenti tepat di lantai di mana apartemen mereka berada. Arash keluar dari dalam lift bersama dengan Zia yang masih berada di dalam gendongannya.


Diam-diam, Zia mencuri pandang ke arah wajah Arash yang terlihat sangat tampan di mata Zia.


"Udah puas mandangnya?" tanya Arash yang mana membuat Zia terkejut.


"Hah? Siapa yang mandang, Mas?" sahut Zia dan menoleh ke arah lain dengan cepat.

__ADS_1


Arash tersenyum. "Kan ngaku sendiri," ujar Arash sambil terkekeh pelan.


Zia melirik ke arah Arash. Untuk pertama kalinya, pria itu tertawa karena dirinya. Tawa kecil yang terlihat begitu menarik di mata Zia saat ini.


Tapi---


Zia kembali tersadar, jika di antara dirinya dan Arash terdapat tembok yang begitu tinggi dan tidak akan pernah bisa di robohkan.


"Namanya juga punya mata, emangnya salah kalau di lihat," cicit Zia dengan wajah cemberut.


Arash melirik ke arah sang istri yang saat ini sedang menoleh ke arah lain dengan wajah cemberutnya, membuat sudut bibir pria itu pun terangkat ke atas sedikit. Beberapa detik selanjutnya, Arash tersadar dengan apa yang dia rasakan saat ini. Pria itu berdehem pelan dan meminta Zia untuk membuka menekan bel di pintu apartemen mereka.


"Ayo cepetan tekan. Kamu itu berat tau," ujar Arash dengan nada ketusnya.


"Siapa yang suruh gendong aku?" sahut Zia dengan nada suara yang sama ketusnya dengan Arash.


Zia menekan bel pintu apartemennya, hingga tak butuh waktu lama pintu itu pun terbuka.


"Arash, Zia kenapa?" tanya Mama Nayna yang ternyata membuka pintu apartemen mereka.


"Mama?" kejut Zia dengan mata yang membesar.


"E-enggak kok, Ma. Zi cuma---"


"Tadi Zia hampir jatuh karena ngantuk, Ma. Makanya Arash menggendongnya," potong Arash yang mana membuat Zia mengernyitkan keningnya menatap sang suami.


"Oh begitu. Ya sudah kalau begitu ayo masuk." Mama Nayna pun membiarkan anak dan menantunya itu untuk masuk ke dalam apartemen.


"Mama kapan sampai di sini?" tanya Zia yang sudah di dudukkan oleh Arash di atas sofa.


"Tadi, pas habis magrib," jawab Mama Nayna.


"Kok datang gak kasih kabar sih, Ma? Kalau Mama kasih kabar kan Zia bisa menunggu Mama di rumah," ujar Zia.


"Mama mau kasih kejutan ke kamu. Masa iya kasih kejutan bilang-bilang!" kekeh Mama Nayna.


Ah ya, setelah Arash dan Zia menikah. Mama Nayna pun memutuskan untuk kembali ke Bandung. Lagi pula, pekerjaan Papa Satria masih berpusat di Bandung.


"Oh ya, bagaimana kabar Sifa? Baik-baik aja 'kan? Anaknya gimana? Cewek atau cowok? Anaknya sehat juga 'kan?" tanya Mama Nayna bertubi-tubi.


"Duh, Mama. Tanya-nya satu-satu, dong. Jadi gak bingung mau jawab yang mana," kekeh Zia.

__ADS_1


"Ya udah, kamu cerita aja bagaimana kabar Sifa."


"Sifa baik, Ma. Dia menjalani operasi caesar karena posisi bayinya sungsang. Dan Sifa melahirkan bayi yang sangat tampan sekali, Ma. Namanya Luthfi," ujar Zia memberitahu.


"Luthfi. Hmm, nama yang bagus," puji Mama Nayna. "Terus, gimana dengan keluarga yang lain? Sehat semuanya 'kan?"


"Iya, Ma. Semuanya se---"


"Ma, maaf memotong pembicaraan Mama dan Zia. Tapi, apa setidaknya pembicaraan ini di lanjutkan besok saja?" ujar Arash dengan hati-hati dan menunjuk ke arah jam yang berada di dinding.


Mama Nayna refleks membuka mulutnya, di saat melihat jika saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


"Sudah malam banget, ya. Pasti kalian capek baru balik dari rumah sakit." Mama Nayna pun berdiri dan mengajak Zia untuk masuk ke dalam kamar.


"Ayo, kita tidur."


"Iya, Ma." Zia pun berdiri dan mendekati sang mama.


"Kamu juga, Arash. Kamu juga harus tidur," titah Mama Nayna yang diangguki oleh Arash.


Zia dan Mama Nayna pun berlalu meninggalkan Arash yang masih berdiri di tempatnya, memandang lurus ke arah punggung Zia.


Pria itu membasahi bibirnya yang terasa kering, di saat mengingat apa yang telah terjadi tadi saat mereka berada di dalam mobil.


Ya, Arash berharap jika Zia tidak mengetahui kejadian beberapa puluh menit tadi.


Mama Nayna sudah menyiapkan pakaian ganti untuk sang putri, di saat Zia berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Makasih, Ma." Zia langsung membuka bathdrop-nya dan memakai piyama tidur yang telah di siapkan oleh sang mama.


Mama Nayna memperhatikan sang putri yang telihat banyak sekali perubahan dalam sifatnya. Tidak hanya itu, bahkan berat badan Zia pun terlihat menurun, membuat wajah gadis itu terlihat lebih tirus dari sebelumnya.


"Zi, kenapa kamu masih pisah kamar dengan Arash?" tanya Mama Nayna tiba-tiba, membuat Zia yang sedang mengancing baju piyamanya menoleh ke arah sang mama.


"Maksud, Mama?" tanya Zia dengan wajah polosnya.


Mama Nayna menghela napasnya pelan, wanita paruh baya itu pun berdiri dan menghampiri sang putri.


"Kamu dan Arash sudah menikah selama enam bulan. Bahkan mau memasuki tujuh bulan, Zi. Tapi, kenapa kamu dan Arash masih memiliih untuk pisah kamar? Bukankah sudah sepantasnya kalian berada di dalam satu kamar yang sama?"


Zia terdiam. Pertanyaan Mama Nayna benar-benar membuatnya tidak memiliki jawaban, karena semua jawaban ada pada Arash.

__ADS_1


__ADS_2