
Tap ....
"Hayo, mikirin siapa?"
Sifa terkejut dan langsung menoleh ke arah belakang, mata gadis itu pun langsung terbelalak di saat melihat siapa parang yang menepuk pundaknya.
"Amel?"
"Yes, i'm," jawab Amel sambil merentangkan tangannya.
"Aaaa, kangen banget aku sama kamu," seru Amel sambil memeluk Sifa.
"I-ini beneran kamu? Aku lagi gak mimpikan?" tanya Sifa yang mana membuat Amel merelaikan pelukannya.
"Menurut kamu kalau sudah begini gimana?" tanya Amel sambil mencubit gemas pipi Sifa, sehingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
Ya, walaupun benar-benar tidak sakit.
"Sakit," ringis Sifa sambil tertawa.
"Kenapa makan sendirian di sini, Sih? Kenapa gak gabung dengan karyawan yang lain?" tanya Amel. "Kamu kebiasaan deh suka menyendiri," cibir gadis itu lagi.
Sifa hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu bawa bekal apa?" tanya Amel yang sudah duduk di samping Sifa.
"Hanya tumis toge aja," jawab Sifa sambil menunjukkan bekalnya.
"Aq suka heran sama kamu, emangnya Bakan begituan aja bisa kenyang?" tanya Amel sambil membuka bekalnya sendiri.
Ya, Amel sudah menduga jika Sifa pasti akan membawa bekal makan siangnya, karena sudah menjadi kebiasaan Sifa yang merasa tak nyaman dengan keramaian yang membuatnya terasa canggung.
"Ayo makan," ajak Amel yang di angguki oleh Sifa dengan kening mengkerut.
"Ah ya, kamu kenapa bisa masuk ke sini?" tanya Sifa dengan wajah polosnya.
"Menurut kamu?"
Sifa mengernyitkan keningnya bingung, kemudian dia menggelengkan kepalanya karena tidak mengetahui jawabannya. Lebih tepatnya, Sifa tidak berpikir dengan jernih saat ini, karena pikirannya sudah terpatri untuk memikirkan sang kekasih.
"Aku di terima magang di sini!" seru Amel dengan semangat.
Sifa benar-benar terkejut mendengar kabar yang di berikan oleh sang sahabat, sehingga membuat gadis itu kembali membelalakkan matanya dengan mulut yang terbuka.
__ADS_1
"Benarkah? Kamu serius?" tanya Sifa merasa tak percaya.
"Iya, ini buktinya," ujar Amel sambil menunjukkan kartu tanda pengenal miliknya.
Sifa pun mengambil kartu tersebut dan membacanya. Benar saja, jika sahabatnya itu memang benar sedang magang di perusahaan yang sama dengannya.
"Ya Allah, Amel, aku ikut senang!" seru Sifa dan memeluk tubuh Amel.
"Aku senang bisa sekantor dengan kamu tau gak sih. Jadi, aku bisa punya temen ngobrol dan makan bareng." Sifa benar-benar senang dengan apa yang dia ucapkan.
"Aku juga. Aku senang bisa selalu bersama dengan kamu," ujar Amel dengan tersenyum lebar.
"Ah ya, kamu bagian apa nih?" tanya Sifa.
"Aku bagian administrasi. Yaah, mau gimana lagi, kapasitas kemampuan aku jauh di bawah kamu," kekeh Amel.
"Kamu bisa aja."
"Hmm, ya udh yuk ngobrolnya, ntar makin dingin makanannya makin gak enak," ujar Amel mengingatkan.
"Iya, kita makan dulu, sebelum bel waktu habis istirahat berbunyi."
Sifa dan Amel pun menikmati makan siang mereka dengan bekal masing-masing yang mereka bawa.
Uhuk ... uhuk ... uhuk ...
*
Putri mengusap wajahnya dengan kasar. Baru saja gadis itu keluar dari perusahaan Abash, tiba-tiba saja kejadian naas menimpa dirinya.
Mobil Putri di tabrak oleh orang tak di kenal, sehingga membuat kaca spion bagian belakangnya pecah. Padahal mobil itu masih terhitung beberapa hari dia beli secara kontan.
"Jadi ini gimana? Masa Anda gak mau tanggung jawab?" ketus Putri kepada pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Siapa suruh mobil Lo ada di depan gue? Jadi, itu semua salah Lo. Lo yang harus bertanggung jawab," jawab pria yang berbadan besar itu tak mau kalah.
"Oh, gak bisa gitu. Anda yang salah dan Anda yang harus bertanggung jawab. Atau saya akan menuntut Anda ke kantor polisi."
"Coba saja, gue gak takut. Lagi pula, gue peringatan ke Lo, jangan pernah bermain-main dengan gue, atau Lo bakal menyesal. Jadi, sebaiknya Lo ganti rugi seratus juta untuk kerusakan mobil gue."
"Enak aja, gue gak akan mengeluarkan uang sepeser pun buat Anda. Jadi, siap-siap bertemu dengan saya di pengadilan," geram Putri dan langsung menghubungi pihak kepolisian.
"Halo, kantor polisi?"
__ADS_1
Kraaak ...
Ponsel Putri pun terjatuh ke aspal, karena oria berbadan besar itu memukul tangannya.
"Anda?"
"Apa? Lo pikir gue takut karena Lo perempuan, hah? Sebaiknya Lo rasakan ini biar Lo tau berurusan dengan siapa," ujar pria berbadan besar itu yang sudah mengangkat tangannya untuk memukul Putri.
Hap ...
Baru saja Putri ingin menangkis tangan pria itu, akan tetapi sebuah tangan kekar lainnya menahan tangan pria berbadan besar itu sehingga menggantung ke udara.
"Siapa Lo? Minggir, jangan macam-macam sama gue," pekik pria itu dan detik selanjutnya, dia sudah terjatuh ke tanah akibat ulah Abash.
Ya, pria yang menolong Putri adalah Abash.
"Kamu gak papa?" tanya Abash yang entah mengapa merasa khawatir melihat gadis yang ada di hadapannya ini sangat berani menantang pria berbadan besar itu.
"Ya, saya gak papa," jawab Putri. "Awas ...."
Braak ... bruuk ...
Abash dengan cepat berbalik dan langsung menendang tubuh oria berbadan besar itu, sehingga kembali terjatuh ke kap mobilnya dan membuat mobil pria itu pun menjadi penyot.
"Gue bakal balas Lo. Lihat saja, Lo bakal menyesal karena sudah berurusan dengan gue," pekik pria itu dengan marah.
"Gue gak takut," tantang Abash.
Tak berapa lama polisi pun datang, mereka langsung membawa pria berbadan besar itu ke kantor polisi.
"Terima kasih, Pak. Kami akan memproses masalah ini. Mohon Bapak dan Ibu ke kantor polisi untuk membuat laporan. Jika ada bukti, maka silahkan di lampirkan beserta bukti-bukti kejadian kecelakaan ini," ujar Pak Polisi kepada Abash dan Putri.
"Baik, Pak," jawab Putri. Tentu saja gadis itu memiliki bukti kecelakaan, karena mobilnya terdapat cctv bagian depan dan belakang mobil.
"Ayo, saya temani Anda ke kantor polisi. Mobil Anda biarkan saja di sini, nanti asisten saya yang akan mengurusnya," ujar Abash yang di angguki oleh Putri.
Mereka pun pergi menuju kantor polisi dengan menggunakan mobil Abash.
"Wow, mobil yang bagus," puji Putri yang memang mengetahui berapa harga mobil Abash.
"Terima kasih."
Sesampainya di kantor polisi, Putri segera membuat laporan dan juga memberikan bukti kecelakaan tersebut. Tak berala lama, terdengar suara bariton yang berteriak keras di kantor polisi dengan menandakan jika dia sedang marah.
__ADS_1
"Siapa yang berani memukul adik saya, hah?"