
Bara berlari kencang dari mobilnya menuju ruang unit gawat darurat, di mana Zia sudah terbaring di atas brankar. Ya, pria itu mendapatkan panggilan dari Abash, jika pergelangan kaki Zia terkilir lumayan parah, sehingga membuat urat kakinya menegang. Hal itu pun menyebabkan kaki Zia tidak bisa di bengkokkan sesaat tadi. Tapi, sekarang sudah tidak lagi.
"Ziaa ..." pekik Bara saat sudah berada di unit gawat darurat.
"Kami di sini," panggil Abash sambil melambaikan tangannya.
Bara pun langsung menghampiri Abash dan Zia.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Bara kepada Abash.
"Sudah ditangani oleh dokter dan lumayan baik," jawab Abash.
"Syukurlah ...." Bara pun semakin mendekat ke arah Zia dan memeluknya.
"Mas takut banget kaki kamu kenapa-napa, Dek," bisik Bara.
"Aku gak papa kok, Mas. Mas jangan terlalu khawatir, ya?" kekeh Zia pelan.
Bara merelaikan pelukannya dan menatap kesal ke arah sang adik. "Gimana gak khawatir, Zia, kalau kamu ceroboh gini?" ujar Bara sambil menjambak sedikit rambut Zia, menandakan pria itu kesal.
"Maaf, Mas, namanya juga tadi kecelakaan yang tidak di sengaja," rajuk Zia.
"Semua kecelakaan itu memang tidak di sengaja, mana ada kecelakaan di sengaja, Dek," Bara pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Emm, Bar, karena kamu udah di sini, aku pamit pulang ya. Mau ketemuan sama temen lain lagi," pamit Abash.
"Oke, terima kasih banyak atas bantuannya ya."
"Sama-sama. Zia, Mas balik dulu, ya. Cepat sembuh." pamit Abash kepada Zia.
"Iya, Mas, terima kasih banyak."
Setelah Abash pergi, tinggallah Zia dan Bara berdua.
"Kamu ini, untung gak retak tulang kakinya," lirih Bara dan mengusap kepala Zia dengan penuh rasa sayang.
"Masing untung ya, Mas?" kekeh Zia pelan.
"Ck, di khawatirin malah di ajak bercanda," kesal Bara yang mana membuat Zia semakin tertawa.
"Kamu melarang Abash untuk menghubungi Mama?" tanya Bara, sehingga membuat Zia menghentikan tawanya.
"Iya, Mas."
"Hmm, baiklah kalau gitu. Mas temui dokter dulu," pamit Bara.
__ADS_1
Zia menganggukkan kepalanya pelan, setelah Bara pergi, dia menghela napasnya. Gadis itu menoleh ke arah kanan, di mana ada sepasang remaja sekolah menengah atas yang berada di rumah sakit. Sepertinya mereka baru saja mengalami kecelakaan motor, terlihat dari luka yang ada pada lengan si cewek dan cowok.
"Manis banget," gumam Zia pelan dan tersenyum kecil.
Zia pun tiba-tiba merasa kantuk, gadis itu pun merebahkan tubuhnya dan menutup mata.
*
"Apa harus pakai tongkat, Mas?" tanya Zia.
"Biar lebih mudah jalannya, Dek."
Zia menganggukkan kepalanya dan mengambil tongkat yang Bara berikan.
"Hmm, lagi-lagi harus pakai tongkat," gumam Zia pelan.
Ya, saat Putri bermasalah dengan Yosi dulu, Zia sempat menjadi korban kan? Sehingga membuat tulang kakinya retak. Gadis itu harus memakai tongkat selama sebulan lebih. Dan kali ini, karena kesalahannya sendiri, Zia kembali harus menggunakan tongkat.
"Makanya, Dek, lain kali hati-hati, ya," nasehat Bara yang di jawab anggukan oleh Zia.
Di dalam mobil, Zia menatap ke arah luar jendela. Entah mengapa bayangan tatapan mata tajam Arash melintas dalam pikirannya, sehingga membuat Zia menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa, Dek? Kamu pusing?" tanya Bara memastikan.
"Hah? Oh, tidak," jawab Zia sambil tersenyum tipis.
Di tempat lain. Arash menatap tajam ke arah sang kembaran.
"Santai aja kali natapnyq, Rash," kekeh Abash.
"Lagian Lo ke Bandung kenapa gak bilang-bilang, sih? Padahal kan ada gue di Bandung," kesal Arash.
"Gue ada perlu, cuma bentaran doang juga sih rencananya."
"Perlu apa? Janjian sama seseorang?" tebak Arash.
"Hum, kalau gak ketemuan sama orang, masa iya gue jauh-jauh ke sini ketemuan sama monyet?" kekeh Abash.
"Spesial amat kayaknya? Sampai di samperin ke Bandung?" sindir Arash.
Abash hanya tersenyum kecil, di saat Arash mengatakan hal tersebut. Semenjak pria itu kehilangan Putri, sifat Arash berubah. Tapi, setelah pria itu menemukan Putri, sifatnya kambali berubah dan semakin tidak bisa di tebak.
Abash memilih diam, karena dia tahu, jika dirinya terus menjawab, maka Arash akan terus mengorek informasi tentang siaoa orang yang dia temui. Dan bisa di pastikan, jika Arash akan salah paham, karena Abash bertemu dengan Zia.
Saat Zia berada di Jakarta kemarin, pria itu tidak sempat menemui adik ipar dari kembarannya, karena ada urusan mendadak dan sangat penting. Maka dari itu, Abash sengaja mendatangi Zia, agar urusan cincin yang dia minta desainkan segera selesai dengan cepat.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Abash melakukan hal tersebut, karena ada kabar baik yang datang dari Sifa. Sang kekasih yang seharusnya menyelesaikan kuliahnya sekitar dua tahun, ternyata mampu menyelesaikannya selama satu tahun setengah. Sudah satu tahun Sifa menempuh pendidikan di London, hingga tinggal beberapa bulan lagi gadis itu akan kembali ke Indonesia.
Abash ingin segera menghalalkan hubungan mereka berdua, agar sang mama tidak bisa melarang dirinya lagi, jika ingin menemui Sifa.
"Bash, gue cuma mau ingetin. Jangan pernah sia-siakan Sifa," ujar Arash dengan menatap lurus ke arah sang kembaran.
Abash hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Rasanya sungguh malas berdebat dengan sang kembaran saat ini. Andai saja mereka tidak sengaja bertemu di cafe, mungkin Abash memilih untuk tidak menghubungi sang kembaran.
"Aku sudah bilang dengan mama, kalau kamu ada di sini. Mama suruh kamu makan malam di rumah," ujar Arash sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
"Oke," jawab Abash dengan santai.
*
Sesampainya Bara dan Zia di rumah, Mama Nayna benar-benar terkejut saat melihat sang putri berjalan dengan menggunakan tongkat.
"Ya Allah, Zia, apa yang terjadi sama kamu, sayang?" pekik Mama Nayna dan langsung menghampiri sang putri.
"Zia gak papa, Ma. Cuma keseleo sedikit aja kok."
"Gak papa gimana? Ya Allah, Nak," lirih Mama Nayna yang sudah meneteskan air matanya.
"Maafin Zia, Ma, karena sudah membuat Mama khawatir."
Mama Nayna menghela napasnya berat, wanita paruh baya itu pun merangkul sang putri dan membantunya untuk duduk di sofa.
"Gimana ceritanya sih? Bisa keseleo gini?" tanya Mama Nayna sambil memperhatikan kaki sang putri yang di balut.
"Terpeleset di kamar mandi, Ma," jawab Zia.
"Pekerja pasti gak becus itu. Apa perlu Mas kasih pelajaran?"
"Mas, gak usah lebay deh. Lagian Zia gak mau memperpanjang masalah. Ini juga besok udah baikan kok," jawab Zia.
"Ya tapi tetap aja, kamu terluka, Dek, gara-gara keteledoran orang lain," kesal Bara.
"Mas, udah ya?" pinta Zia.
Bara pun menghela napasnya pelan, pria itu tidak bisa mencari tahu siapa yang sudah melukai sang adik, karena Zia tidak akan senang jika dirinya melakukan hal itu.
"Ah ya, malam ini kita makan malam bersama, ya. Ada tamu spesial yang ikut makan malam bersama kita malam ini," ujar Mama Nayna memberitahu.
"Siapa, Ma?" tanya Bara.
"Ada deh, yang penting kamu harus membatalkan semua janji kamu malam ini," perintah Mama Nayna yang tidak ingin di bantah.
__ADS_1
"Kalau soal perjodohan, Bara gak ikutan," sahut Bara.
"Tenang aja, gak ada yang namanya perjodohan di kamus keluarga kita," ujar Mama Nayna.