
Sifa berlari dari ruangan interogasi dan mencari keberadaan Abash. Saat sudah menemukan sosok pria itu yang sudah berjalan ke arah Lift, Sifa pun langsung mengejar Abash.
“Pak Abash,” pekik Sifa sambil berlari.
Abash yang merasa namanya di panggil pun menoleh, pria itu pun mengernyitkan keningnya di saat melihat Sifa berlari ke arahnya.
“Mau apa dia?” batin Abash bertanya.
Sifa mengatur napasnya saat sudah berada di dekat Abash. “Bapak mau ke mana?” tanya Sifa.
“Saya mau ke apartemen, kenapa?” tanya Abash dengan satu alis yang terangkat.
“Bapak harus ke rumah sakit dulu untuk mengobati luka, Bapak,” ujar Sifa.
“Saya bisa mengobati luka saya sendiri,” ujar Abash dan masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.
Sifa pun ikut masuk ke dalam lift setelah Abash.
“Kamu mau ke mana? Bukannya di suruh membuat pernyataan di kantor polisi?” ujar Abash.
__ADS_1
“Iya, tapi nanti saja itu. Yang terpenting saat ini adalah Bapak. Saya harus memastikan jika Bapak baik-baik saja,” ujar Sifa.
Duaar ...
Lagi, Abash merasakan ada kembang api yang meledak di atas kepalanya mendengar satu kalimat yang terdengar sangat manis keluar dari mulut Sifa.
“Pak,” panggil Sifa yang mana membuat kesadaran Abash pun kembali.
“Ya?”
“Saya akan membantu Bapak mengobati luka itu,” ujar Sifa dengan penuh keyakinan dan menatap dalam ke mata Abash.
“Apa kamu akan absen dari kantor?” tanya Abash.
kantor, sebelum memastikan kalau keadaan Bapak baik-baik saja,” ujar Sifa.
“Hmm, baiklah. Itu keputusan kamu. Saya tidak akan membantu kamu akan masalah itu. Dan yang harus kamu ingat, satu hari ketidakhadiranmu di kantor tanpa alasan yang jelas, itu akan mengurangi pointmu sebagai anak magang,” Abash pun memperingati Sifa.
“Iya, Pak. Saya tau. Saya akan menerima semua resiko yang telah saya perbuat,’ uajr Sifa kembali penuh dengan keyakinan.
__ADS_1
Abash pun menghela napasnya pelan dan membiarkan Sifa untuk ikut bersamanya. Entah kenapa, saat ini dia ingin sekali berada di dekat Sifa. Entah itu untuk menghibur perasaan Sifa atau pun memastikan jika gadis itu baik-baik saja, setelah mendengar penghinaan dari pria yang bertato itu.
Ting ..
Pintu lift pun terbuka, Abash dan Sifa pun keluar dari lift dan menuju ke apartemen Abash. Setelah berada di dalam apartemen, Sifa pun bertanya di mana Abash menyimpan kotak P3K.
“Di lemari yang ada di dapur,” ujar Abash.
“Oh, iya.”
“Lemari paling atas,” ujar Abash yang masih memperhatikan Sifa.
“Iya, Pak,” jawab Sifa dan membuka lemari paling atas yang di maksud oleh Abash.
Sifa pun meraih kotak obat tersebut, akan tetapi dia tak bisa meraih kotak obat itu, karena letak lemari yang terlalu tinggi dan juga tubuhnya yang memiliki tinggi pas-pasan.
“Ughh .. dikit lagi,” ujar Sifa dan menarik kotak tersbeut.
“Ammp ..” Sifa menutup matanya di saat kotak itu hampir terjatuh ke atas kepalanya, untungnya Abash dengan cepat menahan kotak itu, sehingga tak jatuh di atas kepala Sifa.
__ADS_1
“Lain kali hati-hati,” ujar Abash dengan jantung yang berdebar takut.
“Iya, Pak. Maaf,” lirih Sifa dan meraih kotak obat yang ada di tangan Abash.