Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 39


__ADS_3

Setelah meminum coklat hangat, bukannya semakin mudah tidur, Zia malah semakin tidak bisa menutup matanya. Semua ini sebenarnya bukan karena coklat hangat yang dia minum, akan tetapi karena sikap Arash yang perhatian kepadanya.


"Kenapa dia berubah?" gumam Zia pelan.


Entah sudah ke berapa puluh kali Zia berpindah-pindah posisi tidur, dari yang awalnya menghadap ke kanan, terus berubah ke kiri, lalu membalikkan bantal, hingga berpindah posisi tidur kembali. Zia sudah berusaha mencari posisi tidur yang nyaman, akan tetapi tetap saja matanya tidak ingin tertutup.


"Hmm … haruskah aku sholat tahajud?" gumam Zia. "Eh tapi, kalau mau sholat tahajud kan harus tertidur dulu sebentar, tapi aku belum ada tertidur sedar tadi."


Zia kembali merasa galau, gadis itu pun kembali berpikir dengan keras.


"Apa aku bertadarus saja, ya?"


Ya, sepertinya keputusan Zia yang satu itu sangatlah tepat.


Zia pun mengambil air wudhu, kemudian mengenakan mukenanya dan duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Gadis itu pun mulai bertadarus. Waktu terus berlalu, hingga azan subuh pun berkumandang dan masuk ke telinga Zia. Akan tetapi, gadis itu masih juga belum merasa kantuk.


"Zi, kamu sudah bangun?" tanya Mama Nayna yang baru saja terbangun dari tidurnya.


"Eem, sebenarnya Zia belum ada tidur dari tadi malam, Ma," jawab Zia yang mana membuat Mama Nayna terkejut.


"Apa? Kenapa kamu bisa sampai tidak tidur, Zi? Bukannya kamu hari ini harus pergi ke kantor?" ujar Mama Nayna dan berjalan mendekati Zia.


"Gak tau, Ma. Matanya sulit banget buat terpejam," jawab Zia.


"Hmm, ya sudah kalau begitu. Sekarang sebaiknya kita bersiap untuk sholat subuh berjamaah. Nanti, selepas sholat, Mama buatkan teh camomile," ujar Mama Nayna yang di angguki oleh Zia.


"Iya, Ma. sebaiknya Zia mengambil wudhu ulang lagi. Biar serasa segar saat sholat." Zia bangkit dari duduknya, membuka mukena yang dia pakai dan berjalan secara pelan menuju kamar mandi.


Sedangkan Mama Nayna, wanita paruh baya itu pun membuat susu untuk Yumna, karena bayi cantik itu terlihat merengek karena haus.

__ADS_1


Setelah memastikan Yumna kembali tertidur, Mama Nayna pun bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke luar kamar.


"Rash?" tegur Mama Nayna, yang mana menjauh Arash mendongakkan kepalanya.


"Ya, Ma?"


Beberapa jam yang lalu.


Arash menghela napasnya dengan pelan dan panjang, di saat melihat tubuh Zia menghilang di balik pintu kamar gadis itu.


"Kenapa kamu memberikan perhatian kepadanya, Rash? Apa kamu tidak takut jika dia salah paham dengan sikap kamu saat ini?" tanya Arash kepada dirinya sendiri.


"Tapi, jika aku tidak membelikan perhatian dan rasa nyaman, aku takut dia akan pergi dan meninggalkan anak-anakku. Bagaimana jika dia sudah bosan menjaga Rayyan dan Yumna, lalu kembali kepada Ibra?"


"Tidak, aku tidak ingin Zia meninggalkan Rayyan dan Yumna. Walaupun dia masih bisa merawat Rayyan dan Yumna, tapi statusnya akan berbeda. Aku tidak ingin anak-anakku kehilangan sosok ibunya lagi. Aku tidak mau," ujar Arash yang tidak ingin melepaskan Zia ke dalam pelukan Ibra.


"Tapi, bagaimana jika Zia masih ngotot untuk bercerai?"


Ya, Arash sudah bertekad jika dia akan memberikan perhatian kepada Zia, agar gadis itu tidak meminta cerai darinya karena merasa tak di anggap. Satu-satunya cara untuk mempertahankan Zia tetap berada di sisi anak-anaknya adalah membuat rasa nyaman itu sendiri hadir di dalam hidup Zia.


"Tapi tetap saja, Rash, kamu harus hati-hati agar Zia tidak salah paham dengan perhatian yang kamu berikan. Kasihan juga dia jika sampai jatuh cinta kepada kamu," ujar Arash dengan rasa percaya dirinya.


Sibuk berperang dengan pemikirannya sendiri, Arash sampai tidak sadar jika waktu subuh telah tiba. Pria itu bahkan sampai tidak mendengar suara azan subuh telah berkumandang dengan merdu.


"Rash!" tegur Mama Nayna yang mana akhirnya mengambil atensi Arash.


"Kamu belum belum tidur?" tanya Mama Nayna.


"Ah, sebenarnya Arash baru saja terbangun, Ma," jawab Arash berbohong.

__ADS_1


"Oh, Mama pikir kamu tidak tidur juga," ujar Mama Nayna dan mengambil tiga mug yang ada di atas meja untuk di bawa ke dapur.


Arash mengernyitkan keningnya, di saat mendengarkan ucapan Mama Nayna yang mengatakan 'tidak tidur juga', apa itu artinya Zia tidak tidur?


"Kenapa malah melamun, Rash? Ayo bersiap untuk sholat subuh," ajak Mama Nayna yang diangguki oleh Arash.


Setelah mengambil air wudhu, Arash pun bersiap untuk menjadi imam.


Setelah sholat subuh, Zia merasa sangat kantuk sekali, hingga akhirnya dia langsung tertidur di atas kursi roda, di saat Mama Nayna dan Arash sedang berdoa.


Setelah selesai berdoa, Mama Nayna pun menepuk bahu Arash.


"Kamu tolong angkat Zia ke kamar, ya?" titah Mama Nayna.


Mama Nayna pun melepaskan mukena Zia secara perlahan, kemudian kembali meminta kepada Arash untuk menggendong gadis itu ke dalam kamar. Arash pun membawa Zia ke dalam gendongannya, dengan langkah yang perlahan, pria itu masuk ke dalam kamar dan merebahkan Zia di atas tempat tidur. Lebih tepatnya di samping Yumna.


Arash membenarkan anak rambut Zia yang sedikit menutupi wajahnya, kemudian pria itu menoleh ke arah Yumna. Arash tersenyum, di saat melihat wajah Yumna dan Zia terlihat sangat mirip sekali.


"Huuaamm …." Arash menguap, tiba-tiba saja rasa kantuk menghampiri pria itu, sehingga membuat Arash langsung menutup mata dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang sama dengan Zia. Lebih tepatnya Arash tertidur di samping Zia, dengan tangan yang memeluk tubuh gadis itu.


Mama Nayna masuk ke dalam kamar untuk menyimpan mukena, akan tetapi di saat melihat Arash juga sudah tertidur dengan pulas, Mama Nayna pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar. Wanita paruh baya itu membiarkan Arash dan Zia untuk tidur bersama anak-anak mereka.


Semoga dengan adanya kejadian ini, membuat hubungan Zia dan Arash pun semakin dekat.


"Haruskah aku tinggal lebih lama lagi di sini?" gumam Mama Nayna yang bertanya kepada dirinya sendiri.


"Ya, mungkin itu ide yang bagus. Jika aku tinggal lebih lama, pasti hubungan Arash dan Zia akan semakin membaik. Aku harus membujuk Mas Satria untuk mengizinkan aku tinggal lebih lama di sini," ujar Mama Nayna dan bergegas mengambil ponselnya untuk menghubungi sang suami.


Setelah memberikan kabar dan meminta izin kepada sang suami, Mama Nayna pun bergegas menyiapkan sarapan dan makanan untuk Rayyan, di bantu oleh si mbok.

__ADS_1


Mama Nayna pun kembali masuk ke dalam kamar, untuk memeriksa kondisi Rayyan dan Yumna. Di saat melihat Rayyan dan Yumna sudah terbangun, Mama Nayna pun dengan pelan-pelan dan hati-hati membawa kedua cucunya itu keluar kamar dan membiarkan Arash dan Zia berdua saja.


"Kita main di luar, yuk. Biar Mommy dan Papa tidur," ujar Mama Nayna yang langsung di turuti oleh Rayyan. Untungnya Yumna tidak menangis saat terbangun, sehingga membuat Arash dan Zia tidak terganggu tidurnya.


__ADS_2