Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 79 – Sepeda


__ADS_3

Ting


Suara lift pun berbunyi, menandakan jika lift berhenti dan pintu akan terbuka. Sifa menoleh ke atas pintu lift untuk melihat angka yang tertera di sana, di lantai berapa mereka saat ini. Setelah memastikan jika sudah berada di lantai dasar, Sifa pun keluar dari lift tanpa menoleh ke belakang, di mana Abash berada.


“Kenapa aku benar-benar di abaikan?” tanya Abash bingung entah dengan siapa. “Emang sih aku yang minta pura-pura gak kenal, tapi ya gak di abaikan gini juga kali,” kesal Abash dan ikut keluar dari lift.


Abash mengernyitkan keningnya di saat melihat Sifa di hadang oleh seorang satpam. Berhubung pria itu tak ingin ikut campur, maka dia pun berlalu terus menuju ke arah mobilnya.


Sifa sempat melirik ke arah sang bos yang berlalu tanpa menoleh ke arahnya.


“Isshh ... padahal ini kan salah dia? Meletakan sepeda aku sembarang. Jadi deh di tabrak mobil hingga tak berbentuk gini,” cibir Sifa pelan dengan kesal dan melirik ke arah sepedanya.


“Hmm, jadi si pemilik mobil yang udah menabrak sepeda saya? Meminta ganti rugi?” tanya Sifa memastikan kembali pendengarannya.


“Iya, pemilik mobil meminta ganti rugi. Beliau merasa di rugikan karena telah menabrak sepeda, Nona,” ujar satpam tersebut.


“Tapi di sini kan saya juga korban, Pak? Sepeda saya rusak dan sudah berbentuk angka delapan gitu. Lalu, siapa yang akan mengganti rugi sepeda saya?” tanya Sifa.


“Saya,” jawab suara bariton dari belakang tubuh satpam yang tinggi, sedikit gendut, dan bertubuh kekar.

__ADS_1


“Pak Abash?” lirih Sifa. Seingatnya, Abash sudah berlalu melewati dirinya tadi, lalu, kenapa dia kembali?


Ya, Saat Abash ingin masuk ke dalam mobil, pria itu kembali menoleh ke arah Sifa yang sedang berbincang dengan satpam. Abash pun sempat melihat sepeda Sifa yang sudah tak berbentuk sepeda lagi, pria itu mengernyitkan keningnya dan langsung menutup kembali mobilnya.


“Pak!” sapa satpam sambil memberi hormat kepada Abash.


“Apa yang terjadi?” tanya Abash.


“Oh, in---,”


“Bukan apa-apa,” jawab Sifa cepat memotong ucapan satpam.


Satpam pun menoleh ke arah Sifa yang baru saja menghela napasnya dengan sedikit kasar. Abash menatap Sifa yang terlihat kesal entah kepada siapa. Mungkin kepada orang yang telah menabrak sepedanya.


“Ini masalah saya, sebaiknya Bapak tidak ikut campur. Lagi pula, kita tidak saling kenal,” ketus Sifa yang mana membuat Abash menaikkan alisnya sebelah.


“Apa dia marah karena aku memintanya untuk tak saling kenal?” batin Abash. “Lucu sekali,” sambungnya dalam hati sambil tersenyum, pastinya dalam hati juga senyumnya.


Ih, Abash. Mahal banget sih senyumnya?

__ADS_1


“Katakan, apa yang terjadi,” tanya Abash kepada satpam.


“It—.”


“Sudah saya katakan, jika ini bukan urusan Bapak. Sebaiknya Bapak pergi saja ke kantor, takutnya Bapak terlambat,” potong Sifa cepat masih dengan wajah kesalnya.


Abash menghela napasnya pelan, pria itu pun memajukan langkahnya dan mengikis jarak antara dirinya dan Sifa. Mendapatkan perlakuan yang sangat mendadak dari sang bos, membuat Sifa memundurkan satu langkah kakinya dengan tangan yang menahan dada Abash.


“Apa kamu lupa? Saya bosnya di kantor. Dan satu hal lagi yang harus kamu ingat, jika gedung apartemen ini adalah milik keluarga saya,” bisik Abash tepat di depan wajah Sifa dengan nada yang terdengar sangat dingin dan menakutkan.


Abash menatap tajam ke dalam mata Sifa, begitu pun dengan Sifa yang membalas tatapan mata sang bos.


“Bi-bisakah Bapak menjauh sedikit? Saya tidak bisa bernapas,” lirih Sifa yang mana membuat Abash mengernyitkan keningnya.


Sifa pun mendorong tubuh Abash dan langsung melangkah ke arah berlawanan dengan pria itu. Sifa pun terlihat menarik napas seolah-olah dia benar-benar sudah kehabisan napas. Kemudian menghirup oksigen seolah-olah


seluruh oksigen di dunia ini akan segera habis.


“Apa aku bau?” lirih Abash sambil menciumi tubuhnya. Mengingat jika pagi ini dia belum memasukkan makanan ke dalam mulutnya, Abash pun mengangkat tangannya untuk menutup mulutnya.

__ADS_1


“Hah.” Abash menghirup aroma mulutnya, memastikan jika mulutnya juga tidak bau.


“Gak bau, wangi lislisrin, tapi kenapa Sifa seperti kebauan gitu ya? Apa dia gak suka parfum aku?” batin Abash sambil menatap kesal ke arah Sifa.


__ADS_2