Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 211 - Abash Keras Kepala


__ADS_3

Sifa sudah terlihat tenang di dalam pelukan Kayla, gadis itu pun merelai pelukannya.


“Makasih, Mbak. Maaf, karena sudah membuat baju Mbak kotor,” lirih Sifa merasa tak enak. Dia mengusap pakaian Kayla yang basah karenanya.


“Gak papa kok, kalau kotor kan bisa di cuci lagi,” ujar Kayla sambil tersenyum dan mengusap pipi Sifa dengan tangannya. Melihat Sifa yang menangis seperti ini rasanya tidak tega juga, gadis yang biasanya ceria kini tak terlihat lagi.


“Sekarang, kamu bisa cerita kok sama, Mbak. Apa yang terjadi sama kamu dan kenapa kamu bisa menangis seperti ini,” kata Kayla dengan menatap Sifa lurus. Kayla berharap jika Sifa bercerita akan bisa membuatnya merasa ringan.


Sifa menundukkan kepalanya. Ragu.


Haruskah Sifa menceritakannya kepada Kayla? Akan tetapi, Abash mengatakan jika untuk tidak mengatakan dulu kepada siapa pun tentang hubungan mereka saat ini, semua harus ditutupi dan dirahasiakan.


Apa yang harus Sifa lakukan? Dia saat ini butuh tempat untuk berkeluh kesah. Akan tetapi, kepada siapa Sifa bisa menyandarkan kepalanya? Secara yang hanya mengetahui hubungan dirinya dan Abash adalah Putri, tetapi gadis itu malah menjadi musuh dalam selimut baginya.


Sifa masih bimbang. Bingung apakah yang harus dia lakukan. Hatinya semakin resah sekarang ini.


“Mbak, kalau Sifa tidak bisa menceritakannya, apa Mbak akan marah?” tanya Sifa dengan takut, dia tidak berani menatap Kayla dan menunduk semakin dalam, memainkan jemari tangannya di atas pangkuan.


Kayla tersenyum sambil merapikan rambut Sifa yang sedikit berantakan. Kasihan sekali Sifa, pasti ada banyak hal yang ingin dia katakan, tapi tak bisa.


“Kalau kamu memang gak siap untuk menceritakannya kepada orang lain, maka kamu punya hak untuk diam,” ujar Kayla dan menggenggam tangan Sifa. Sifa menjadi sedih dan ingin kembali menangis. Memang tak salah dirinya datang ke tempat Kayla, tapi ....


'Apa aku harus cerita?' Sifa masih saja bingung.


“Tapi, jika kamu butuh tempat untuk berbicara, Mbak siap kok untuk mendengarkan semua apa yang ada di dalam hati kamu,” ujar Kayla dengan tulus dan senyuman yang membuat Sifa menjadi sedikit tenang.


“Terima kasih, Mbak. Mbak memang orang yang baik. Keluarga Moza memang lah orang-orang yang baik,” puji Sifa kini memberanikan diri untuk menatap Kayla.


“Orang baik, bertemunya juga dengan orang baik. Dan itu artinya, kamu juga orang baik, Sifa,” ujar Kayla sambil mencuil hidung Sifa. Mau tak mau Sifa tersenyum karena tersanjung dengan pujian itu.


“Oh ya, kamu ke sini mau jengukin Abash?” tebak Kayla.


Sifa pun menggelengkan kepalanya pelan, sehingga membuat Kayla mengernyitkan keningnya.


“Lalu?”


“Aku ke sini habis jengukin teman kok, Mbak,” bohong Sifa. Dia berusaha untuk berkata dengan tenang hingga Kayla tidak curiga.


“Oh, Em, kamu gak mau jengukin Abash?” tanya Kayla sekali lagi.


“Emangnya boleh, Mbak?” tanya Sifa yang berpura-pura tidak tahu, jika siapa saja di perbolehkan untuk menjenguk. Sifa melirik Kayla degan ujung matanya. Sedikit takut jika ketahuan dirinya ke sini juga ingin bertemu dengan laki-laki itu.


“Kenapa pula gak boleh? Ya boleh, dong. Gak ada larangannya kan untuk menjenguk orang sakit? Malahan berpahala. Jadi, kamu mau jenguk dia apa enggak?” ujar Kayla tersenyum yang segera diangguki oleh Sifa.


“Sifa jenguknya bareng Mbak aja, ya?” pinta gadis itu dengan lirih.


“Loh, kenapa begitu?” tanya Kayla bingung.


“Gak enak aja kalau jenguk atasan sendirian, Mbak. Di kira entar ada apa-apa lagi,” cicit Sifa sambil tersenyum kecil.


“Ih, kamu ada-ada aja deh. Kalau pun ada apa-apa juga gak papa, kan? Gak ada yang larang,” jawab Kayla merasa gemas dengan jawaban Sifa.


Kayla jadi teringat akan hubungannya dengan sang suami yang sengaja dijalin secara diam-diam. Karena takut jika tidak di restui dengan alasan masih ada jalinan hubungan saudara yang masih terbilang dekat. Beberapa orang tidak setuju, maka dari itu dia hanya bisa menjalin hubungan itu di belakang mereka. Sulit sekali untuk bisa menyatukan hubungan mereka. Banyak hal dan juga rintangan yang harus mereka lalui.


“Em, kalau kamu mau jenguk Abash duluan, gak papa juga kok, soalnya Mbak mau ke ruang ICU,” ujar Kayla.


Sifa melirik Kayla. “Ada apa, Mbak? Siapa yang sakit?” tanya Sifa merasa penasaran.


“Kakek, tadi tekanan darahnya turun, makanya di larikan ke rumah sakit,” jawab Kayla terdengar sedih.


“Kalau gitu aku ikut jenguk kakek boleh, Mbak?” tanya Sifa penuh harap.

__ADS_1


“Boleh dong, masa mau jenguk gak di bolehin sih?” kekeh Kayla yang semakin gemes dengan Sifa. Gadis kecil ini sangat imut sebenarnya jika tersenyum, makin membuat wajahnya cantik dan ingin mencubitnya selalu.


“Ya udah kalau gitu, kamu sudah tenang belum? Atau masih mau nangis lagi?” tanya Kayla tertawa kecil dengan nada menggoda kepada Sifa.


“Duh, Mbak. Ih! 'Kan aku kan jadi malu,” ujar Sifa dengan wajah merona. Sifa merasa ingin menghilang saja sekarang, betapa tadi dia menangis di hadapan wanita itu dan tidak peduli, tapi sekarang dia peduli dan rasanya malu sekali.


“Sifa … Sifa … kamu tuh lucu banget tau gak sih. Ya udah kalau gitu, kita pergi sekarang yuk jenguk kakek,” ajak Kayla yang di angguki oleh Sifa, lalu kemudian keduanya pergi ke ruangan yang akan mereka tuju.


*


Arash terkejut melihat kedatangan Sifa dan Kayla di ruangan itu, pria itu pun langsung menghampiri dua wanita itu dan melihat ada yang aneh pada salah satu dari mereka berdua.


“Sifa? Ada apa?” tanya Arash saat melihat jika mata gadis itu terlihat sembab. Hidungnya berwarna merah, lucu, tapi tetap saja membuatnya khawatir.


Sifa tergagap, berusaha tersenyum, dan menggelengkan kepalanya dengan gerakan yang cepat. Padahal dia sudah mencuci wajahnya tadi sebelum ke ruangan ICU, tapi sepertinya masih saja laki-laki ini bisa melihatnya.


“Gak papa kok, Mas. Cuma kemasukan binatang aja,” bohong Sifa dengan tersenyum untuk menutupi kebohongannya itu.


“Yang bener, Mbak?” tanya Arash kepada Kayla, mencoba mencari jawaban yang lain. Tidak yakin dengan jawaban Sifa ini.


“Iya,” jawab Kayla agar tidak terlihat sedang berbohong. Kasihan juga Sifa jika dia ditanya macam-macam di waktu yang sekarang ini. Jangan sampai Sifa merasa tidak nyaman dan membuatnya menangis lagi.


“Sekarang gimana? Udah enakan matanya?” tanya Arash penuh perhatian.


“Iya, Mas. Sudah,” jawab Sifa.


“Ya sudah kalau begitu, kamu duduk saja dulu ya,” ujar Arash sambil menuntun Sifa untuk duduk di kursi tunggu. Sifa hanya menurut saja, duduk di sana meskipun rasanya tidak terlalu nyaman dengan perlakuan yang Arash berikan untuknya.


Sudah lima belas menit berlalu, Papi Leo dan Lucas pun keluar dari rungan ICU. Seluruh keluarga yang sudah menunggu di luar ruangan pun serentak berdiri meski tanpa aba-aba.


“Bagaimana keadaan Kakek, Luc?” tanya Papa Arka dengan khawatir.


Papa Arka pun mengusap wajahnya sembari beristighfar, sedangkan Mama Kesya mengusap lengan sang suami untuk memberikan kekuatan.


“Quin dan Anggel bagaimana? Apa sudah di kabari?” tanya Papa Arka kepada Kayla.


Kayla menganggukkan kepalaaya. “Sudah, Pa. Anggel mengambil keberangkatan besok. Karena kalau menunggu pesawat dari sini, akan lama lagi,” ujar Kayla memberi tahu. “Sedangkan Quin, saat di kabari dia langsung bersiap berangkat menggunakan pesawat pribadi," tambahnya.


Papa Arka pun menghela napasnya pelan. Saat ini Anggel sedang hamil muda, sedangkan Quin baru di kabarkan mengalami stres ringan karena belum juga ada tanda-tanda garis dua. Sebenarnya tidak tega juga dengan mereka berdua, tapi ini menyangkut nyawa kakek yang mungkin saja bisa terjadi hal yang tidak diinginkan mengingat usia kakek yang tidak lagi muda, maka dari itu Papa Arka menyuruh Kayla untuk memberi tahu keduanya.


Selain itu, Mama Kesya sudah mengatakan untuk bersabar dan jangan ambil pusing. Karena hal itu juga akan berpengaruh kepada kesuburan. Tapi, Quin adalah Quin, sekecil apa pun masalahnya, pasti dia akan kepikiran jika belum menemukan solusinya.


“Ah ya, Kalau Mama di sini, Abash sama siapa?” tanya Papa Arka yang baru menyadari kembali jika sang anak juga sedang di rawat di rumah sakit yang sama. Papa Arka menatap pada istrinya.


“Tadi Mama minta tolong kepada Putri untuk menjaga Abash sebentar,” ujar Mama Kesya yang belum menyadari keberadaan Sifa di antara mereka.


“Putri datang jenguk Abash?” tanya Papa Arka lagi.


“Tidak, dia jenguk Mama,” jawab Mama Kesya yang mana membuat Sifa mengangkat pandangannya dan menatap heran.


“Jadi, Mbak Putri ke sini bukan karena menjenguk Mas Abash? Tapi melainkan menjenguk Tante Kesya?” batin Sifa. “Dan Mbak Putri berada di ruangan Mas Abash karena atas permintaan Tante Kesya. Apa aku yang terlalu berpikiran negatif?” sambungnya lagi di dalam hati. Rasanya bersalah sekali jika dia menuduh sembarangan tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Tidak, mereka kan memang memiliki hubungan. Jika tidak, mana mungkin mereka berpelukan tadi malam? Atau ada alasan lain sebenarnya?” batin Sifa mencoba berpikiran negatif kepada hubungan Putri dan Abash. Ya, mana mungkin tidak ada hubungan apa-apa, kan? Mana ada laki-laki dan perempuan yang tidak mempunyai hubungan apa-apa saling memeluk dengan mesra seperti itu?


“Hmm, ya sudah kalau Abash sudah ada yang menemani,” ujar Papa Arka merasa lega.


Pria paruh baya itu pun berbalik dan menoleh ke arah Arash dan Sifa. Terkejut laki-laki itu melihat keberadaan gadis yang dia kenali.


“Loh, Sifa kamu di sini?” tanya Papa Arka yang mana membuat Mama Kesya ikut menoleh dan sama terkejutnya.


“Sifa?” lirih Mama Kesya. “Apa Sifa mendengar jika Putri yang menemani Abash? Tidak, jangan sampai Sifa salah paham,” batin Mama Kesya merasa takut dan juga merasa bersalah. Dia sama sekali tidak tahu dengan kehadiran gadis ini.

__ADS_1


'Sejak kapan Sifa ada di sini?' batin Mama Kesya. Salah tingkah wanita itu dibuatnya karena mengingat ucapannya tadi.


“Tante, Om,” sapa Sifa, mendekat, dan mencium punggung tangan Mama Kesya, Papa Arka, Bunda Sasa, Mami Vina, Opa Bram, Oma Laura, Oma Mega, dan orang tua yang lainnya. Mama Kesya mendadak kaku seketika.


“Sifa, kamu sama siapa ke sini? Dari mana kamu tau kalau Kakek masuk rumah sakit?” tanya Mama Kesya kepada Sifa, berusaha untuk menetralkan nada suaranya.


“Sendiri, Tante, tadi kebertulan Sifa baru habis jenguk teman juga. Terus ketemu sama Mbak Kayla,” ujar Sifa sambil tersenyum.


“Oh, begitu. Ah, kamu sudah jenguk Abash?” tanya Mama Kesya selanjutnya.


“Belum, Tante,” jawab Sifa pelan sambil menggelengkan kepalanya. Dia berusaha untuk tersenyum di hadapan para keluarga yang ada di sini.


“Ya sudah kalau begitu, kamu temui Abash sekarang, ya? Dia sepertinya butuh teman ngobrol deh,” titah Mama Kesya dengan tersenyum penuh arti.


“Tapi, Tante, bukankah sudah ada Mbak Putri ya?” ujar Sifa pelan.


“Putri? Ah iya, tapi Putri katanya tadi gak lama, karena dia ada urusan. Jadi, kamu gantian ya jagain Abash nya, boleh kan?” pinta Mama Kesya dengan sedikit memaksa dan menarik tangan Sifa, sehingga membuat semua orang yang ada di sana menatap dengan bingung.


“Iya, Tante,” jawab Sifa dengan pelan dan tersenyum kecil.


“Kalau begitu Arash balik juga ya, Ma, soalnya Arash ada dinas malam ini,” pamit Arash kepada sang mama.


“Iya, kamu hati-hati, ya,” ujar Mama Kesya.


“Ayo, Sifa,” ajak Arash yang diangguki oleh Sifa. Mama Keysa melepaskan pegangan tangannya dan membiarkan Sifa untuk pergi.


Arash dan Sifa pun berpamitan kepada semua orang untuk kembali ke kamar inap Abash. Mereka berjalan di koridor rumah sakit yang cukup sepi, hanya sesekali ada yang melewati mereka. Suara derap langkah kaki keduanya terdengar dengan cukup keras di lorong itu.


Arash melirik ke arah gadis yang ada di sampingnya. “Sifa, kamu jenguk siapa di sini?” tanya Arash yang merasa curiga dengan apa yang di katakan oleh Sifa tadi.


Pria itu menduga, Jika saat ini Sifa sedang berbohong kepada semua orang. Jika teman yang di maksud Sifa adalah orang yang bekerja di perusahaan Abash, maka tidak mungkin bisa masuk ke rumah sakit Moza di bagian yang khusus para pegawai Moza. Pastinya akan masuk ke rumah sakit Moza yang di khususkan untuk umum.


“I-itu.” Tiba-tiba saja Sifa bingung harus menjawab apa, hingga dia melihat seorang cleaning service wanita di kejauhan.


“Teman aku yang kerja di kantor Pak Abash, yang jadi cleaning service,” ujar Sifa yang mana membuat dugaan Arash pun benar.


Arash tertawa kecil sehingga membuat Sifa menoleh ke padanya.


'Eh, apa aku salah?' batin Sifa di dalam hati.


Arash masih tertawa, geli rasanya dengan kebohongan semacam ini. 'Dasar gadis yang tidak pintar!'


“Kamu ke sini untuk menjenguk Abash, kan?” tebak Arash yang mana membuat Sifa terdiam. Apa sejelas itu dia berbohong?


“Emangnya gak boleh saya jenguk Pak Abash?” tanya Sifa dengan suara yang pelan. Malu dan juga takut rasanya. Sifa hanya bisa menundukkan kepalanya menatap ujung sepatu kanan dan kiri yang bergantian terlihat di bawah sana.


Arash menarik napasnya, terdengar cukup jelas saat laki-laki itu mengembuskannya kembali ke udara. “Emangnya ada yang larang kamu buat gak boleh jenguk Abash?” kekeh Arash kini.


“Ya mana tau, Mas. Kan Pak Abash orang penting, mana mungkin bisa di jenguk sama sembarangan orang,” ujar Sifa merasa jika dirinya memang tak pantas bersanding dengan Abash. Ya, Sifa merasa kecil hati untuk bisa bersama dengan laki-laki itu.


“Dan kamu bukan orang sembarangan, Sifa,” ujar Arash yang mana membuat Sifa menoleh ke arahnya. Bingung.


“Kamu itu spesial, Sifa. Percayalah,” ujar Arash sambil menatap ke dalam mata Sifa yang selalu meneduhkan.


Sifa pun refleks membalas tatapan mata Arash, di mana sebenarnya tatapan mata gadis itu telah terkunci oleh Arash. Ada sorot yang lain yang tak bisa tergambarkan dari pandangan itu.


“Pak Arash,” tegur seorang dokter, yang mana membuat Arash dan Sifa pun memutuskan kontak matanya dan menoleh ke arah dokter tersebut.


“Ya?” jawab Arash.


“Pak Abash mengalami muntah-muntah,” ujar dokter tersebut memberi tahu, yang mana membuat Arash dan Sifa bergegas berlari menuju kamar pria itu.

__ADS_1


__ADS_2