Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
BAB. 34 - Gara-gara koper.


__ADS_3

"Eemm, ini enak banget. Tanpa nasi, yakin gak mau?" tanya Abash lagi.


Sifa menggeleng pelan, karena rasa malu telah menolak tawaran Abash awalnya. akan tetapi suara perutnya tak bisa kompromi sehingga membuat sang Bos mengulum senyumnya.


"Nah, makanlah," titah Abash sambil menyodori makanan yang di pegangnya.


"Gak papa, saya gak la____"


Kriiuuk ....


Sifa memejamkan matanya dan menggerutu dalam hati. Yang benar saja! Sejak kapan perutnya tak bisa di ajak kompromi seperti ini?


Kesal! Sifa benar-benar kesal dengan dirinya sendiri.


Abash mengulum senyumnya, pria itu merasa lucu melihat gadis yang ada di hadapannya ini. Wajah gadis itu sudah memerah karena malu, tetapi itu terlihat sangat lucu sekali.


"Ayo, makan," titah Abash.


Sifa pun mengerjapkan matanya dua kali, kemudian dia mengambil kotak makan yang di ulurkan oleh Abash.


Dari wanginya saja, Sifa sudah menduga jika rasanya akan sangat lezat. Sifa menelan ludahnya saat aroma steak tersebut masuk ke dalam hidungnya.


Dengan mengucapkan bismillah, Sifa pun memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.


"Eemm, ini bener-bener enak," seru Sifa dengan tersenyum lebar.


Abash tersenyum tipis melihat wajah Sifa yang kegirangan saat memakan makanan yang dia bawa.


Quin yang hendak masuk ke ruangan Sifa pun, hanya bisa melihat wajah Abash yang tersenyum untuk orang lain. Ingat, untuk orang lain, bukan dari anggota keluarganya. Bahkan, untuk asistennya pun, Abash jarang tersenyum. Sangat berbeda dengan Arash yang mudah tersenyum.


*


Sifa sudah di perbolehkan pulang. Hasil Rontgen juga tak memperlihatkan sesuatu yang fatal pada tulangnya. Semua baik-baik saja. Lucas hanya menyarankan kepada Sifa untuk mengompres kakinya dengan air hangat, agar aliran darahnya berjalan dengan lancar.


"Terima kasih banyak, Pak," ujar Sifa kepada Abash yang baru saja mengantarkannya ke apartemen.


"Iya, kalau gitu kamu istirahatlah di kamar. Saya mau beres-beres."


Sifa menautkan alisnya. "Beres-beres?" tanyanya.


"Iya, apartemen saya yang di lantai atas sudah selesai di renov. Saya akan pindah ke sana."


"Oh, mau saya bantu, Pak?"

__ADS_1


"Tidak usah, kamu istirahat saja. Lagi pula, nanti akan ada orang yang datang untuk membantu saya."


"Gak papa, Pak. Saya gak capek kok. Saya bantu, ya. Lagian, badan saya pegel-pegel kalo gak kerja."


"Iya, tapi kaki kamu___"


"Kaki saya gak papa. Mana yang mau saya bantu beres-beres?" tanya Sifa.


Melihat betapa keras kepalanya gadis di hadapannya saat ini, Abash menghela napasnya pelan dan membiarkan gadis itu membantunya. Lagi pula, sebenarnya dia merasa lelah, karena tak tidur beberapa malam gara-gara kejadian di rumah sakit.


"Baiklah, kamu bantu saya untuk memasukkan semua baju dari lemari ke dalam koper."


"Baik, Pak."


Sifa pun mengikuti Abash yang memasuki kamarnya. Sifa sempat terpesona dengan desain kamar Abash. Aroma maskulin yang khas akan tubuh sang bos pun langsung menguasai penciuman Sifa.


"Kopernya ada di sudut lemari, semua bajunya kamu masukin aja ke dalam koper. Saya mau beresin komputer."


"Baik, Pak."


Sifa pun mencari keberadaan koper yang Abash maksud, akan tetapi Sifa tak menemukannya. Sifa menoleh kearah sang bos yang tengah merapikan semua kabel komputernya. Mata Sifa menangkap bayangan koper yang terletak di atas lemari dari kaca. Gadis itu menghela napasnya pelan.


Melihat Abash masih sibuk, Sifa pun berinisiatif untuk mengambil sendiri koper tersebut dengan menggunakan kursi meja rias.


'Duh, tinggi banget sih nih lemari," gerutu Sifa sambil meraih pegangan koper.


"Ammpp___"


Bruukk ... bruukkk ...


Jantung Sifa berdegup kencang, gadis itu membuka matanya dan langsung tersebut saat mendapati dirinya tengah mencium bibir Abash. Tidak, bukan bibir, melainkan sudut bibir Abash.


Sifa langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Abash.


"Ma-maaf, Pak," cicit Sifa sambil berusaha berdiri dari atas tubuh Abash.


Saat Sifa menarik koper yang ada di atas lemari. suara gesekan yang di keluarkan dari koper pun mengambil atensi Abash, sehingga membuat pria itu bergerak cepat dan menangkap tubuh Sifa yang kehilangan keseimbangannya, menjadikan diri mereka berakhir dengan tergeletak di lantai. Di tambah posisi Sifa yang berada di atas Abash dan mencium sudut bibirnya.


Abash bangkit dari tidurnya sambil mengatur baoas dan detak jantungnya yang berdegup kencang.


"Kamu gak papa?" tanya Abash akhirnya saat sudah menguasai kondisi tubuhnya.


Sifa menggerakkan kakinya, tak ada rasa sakit sedikit pun.

__ADS_1


"Iya, Pak, saya baik-baik aja. Bapak gimana?" tanya Sifa dengan gugup dan belum berani menatap wajah Abash.


"Saya baik. Kenapa gak bilang kalau mau ambil koper di atas lemari?" tanya Abash.


"Bapak lagi sibuk membenahi komputer, maka dari itu saya melakukannya sendiri."


Abash menghela napasnya pelan. "Kalau saya tidak melihat kamu tadi dan membuat kamu berakhir di lantai, bagaimana?" ujar Abash yang terdengar nada khawatir.


"Saya gak papa, Pak. Bapak jangan khawatir."


Abash mengerjapkan matanya saat mendengar kata 'khawatir'. Apa bener dia mengkhawatirkan gadis di hadapannya ini?


"Sa___"


"Saya izin buka lemarinya ya, Pak. Gak ada barang berharga kan? Kalau ada, Bapak ambil aja dulu," ujar Sifa sambil mengambil koper yang juga tergeletak mengenaskan di lantai.


Sifa memerika keadaan koper, untung saja koper tersebut jatuh ke karpet tebal yang ada di lantai. Jika tidak, bisa Sifa pastikan kalaunnih koper bakal hancur dan berakhir mengenaskan.


Abash menghela napasnya pelan. Gak ada, buka aja."


Abash kembali ke meja kerjanya, melanjutkan pekerjaan yang tertunda akibat kejadian kejatuhan koper.


Sesekali, Abash memperhatikan Sifa yang tengah menyusun pakaiannya ke dalam koper. Tak banyak pakaian Abash, karena memang Abash tak tingg di apartemen. Apartemen ini hanya menjadi tempat singgahnya di kala lelah bekerja dan juga saat sedang ingin sendiri dengan keadaan yang tenang.


"Sudah selesai, ada lagi harus saya kerjakan, Pak?" tanya Sifa.


"Tidak ada, lagi pula barang saya juga tidak banyak."


Sifa melirik kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 lewat 45 menit.


"Bapak mau saya masakin apa? Kebetulan udah siang juga."


Abash menoleh ke arah Sifa, kemudian pria itu melirik jam tangannya.


"Apa aja, tapi harus ada nasinya."


Sifa tersenyum. "Baik, Pak."


Sifa berjalan tertatih dengan bantuan satu tongkat yang terselip di ketiaknya. Abash masih menatap tubuh Sifa hingga menghilang dari balik pintu.


Tangan Abash reflek bergerak menyentuh dadanya. "Kenapa seperti ini?" gumamnya dengan merasakan detak jantung yang sedari tadi berdetak dengan cepat.


Perlahan, tangan Abash naik menyentuh sudut bibirnya. Entah apa yang di pikirkan oleh pria itu, sehingga tanpa dia sadari, sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman.

__ADS_1


\=\=  Jangan lupa Vote, Like, and komen ya ..


Salam sayang dari Abash n Sifa


__ADS_2