
Kedatangan Sifa di sambut hangat oleh Mama Nayna. Wanita paruh baya itu sangat senang di saat melihat Sifa mau mengunjungi Rayyan.
"Bagaimana kabar kamu, Sifa?" tanya Mama Nayna kepada ipar dari putrinya itu.
"Alhamdulillah, baik Tante."
"Alhamdulillah, Tante senang mendengarnya," ujar Mama Nayna lagi. "Gimana? Apa kamu ada merasa mual-mual setiap paginya?" tanya Mama Nayna yang mana membuat Sifa pun mengernyitkan keningnya.
"Mak-maksud Tante?"
Mama Nayna pun menatap wajah Sifa, kemudian wanita paruh baya itu pun tersenyum kepada wanita yang saat ini sedang mengandung itu.
"Tante sudah tahu, kalau kamu saat ini sedang mengandung," ucap Mama Nayna yang mana membuat Sifa terdiam.
Dalam pikiran Sifa, jika Mama Nayna saja sudah tahu, itu artinya seluruh keluarga Moza juga sudah mengetahui tentang kehamilannya, kan? Apa yang ada di dalam pikiran keluarga Moza kira-kira terhadap dirinya?
"Sifa, kamu jangan berpikir merasa takut untuk mengatakan kabar gembira ini, sayang. Kabar gembira ini adalah kabar yang sudah di tunggu-tungguu oleh semuanya. Dan kabar gembira ini, bukanlah kabar yang akan membuat siapa pun merasa bersedih," jelas Mama Nayna.
__ADS_1
"Kamu berhak memberi tahukan kabar gembira ini kepada siapa pun, sayang. Kamu jangan berpikir, jika kamu memberi tahukan kabar gembira ini di atas musibah yang tengah terjadi saat ini akan membuat kami menilai jika kamu bahagia di atas kesedihan orang lain, kamu salah sayang. Kami malah bahagia dan bersyukur, karena di tengah-tengah musibah yang sedang kita hadapi saat ini ternyata ada kabar gembira yang dapat membuat kami tetap mengucap rasa syukur," ucap Mama Nayna panjang lebar, yang mana membuat mata Sifa pun berkaca-kaca.
"Dan kamu patut mendapatkan ucapan selamat dari orang-orang yang menyayangi kamu, Sifa. Kamu patut berbahagia atas kabar kehamilan kamu, sayang." Mama Nayna pun mengusap pipi Sifa yang sudah di basahi oleh air mata dengan lembut.
"Kamu pantas untuk bahagia."
Mendengar kalimat dan nasehat yang diberikan oleh Mama Nayna pun, membuat Sifa merasa sedikit lega dan merasa bersalah, karena sudah menyembunyikan kehamilannya kepada seluruh keluarga yang ternyata juga ikut menantikan, berharap, dan ikut berdoa atas kehamilannya ini. Sifa janji, dia akan mengungkapkan tentang kehamilannya kepada seluruh keluarga, sehingga para keluarga suaminya yang ingin mengucapkan selamat kepadanya pun, bisa mengungkapkannya.
"Iya, Tante, terima kasih banyak."
*
"Oh ya, Sifa, katanya Abash hari ini menggantikan Arash untuk pergi meeting di perusahaan Fatih ya?" tanya Mama Nayna memastikan.
"Iya, Tante. Kenapa?" tanya Sifa balik.
"Enggak, kebetulan Zia kan juga ikut meeting hari ini. Jadi, tante berniat untuk mengantarkan makan siang ke perusahaan Fatih. Kamu mau ikut, gak?" ajak Mama Nayna.
__ADS_1
"Ke perusahaannya Bang Fatih?" tanya Sifa memastikan.
"Iya."
"Boleh, Tante. Tapi, untuk makan siangnya, kita bawa apa, Tante?" tanya Sifa lagi.
"Oh, Tante rencananya mau bawa taucho udang saja. Kebetulan ada udang besar-besar di beli sama si Mbok," jawab Mama Nayna.
"Oh, iya Tante. kalau begitu mari, Sifa bantu memasaknya."
"Eh, jangan Kamu di sini aja bermain dengan Rayyan, ya. Urusan dapur, biar Tante saja yang turun tangan," Mama Nayna pun menolak bantuan Sifa, karena merasa tidak enak jika membuat Sifa merasa kecapean.
Mama Nayna pun tahu, jika Sifa tidak di perbolehkan capek oleh Abash. Untuk itulah, Mama Nayna tidak ingin mengambil resiko untuk meminta bantuan Sifa.
"Tapi, Tante----"
"Udah, kamu santai aja, ya. Urusan dapur, biar jadi urusan Tante."
__ADS_1
Sudah Mama Nayna putuskan, jika Sifa tetap bermain dengan Rayyan.
"Baik, Tante," jawab Sifa akhirnya dengan perasaan tak enak.