
Seorang pelayan yang umurnya berkisaran empat puluh tahunan, sudah berdiri di ujung tangga menunggu kedatangan Putri yang terlihat baru saja menuruni setiap anak tangga.
"Selamat pagi, Non?" sapa pelayan yang sudah menyambut kedatangan Putri di anak tangga paling bawah dengan sopan dan hormat. "Perkenalkan, nama saya Mbok Upik," ujar Mbok Upik memperkenalkan dirinya.
"Ah ya, pagi, Mbok, Saya Putri," jawab Putri dengan tak kalah ramah juga.
"Sarapannya sudah saya siapkan, Non, di meja makan. Non Putri mau makan sekarang?" tawar Mbok upik sambil mengikuti Putri dari belakang gadis itu.
"Maaf, Mbok, saya tidak bisa sarapan pagi ini, karena sudah sangat terlambat untuk pergi ke kantor." Putri pun mendaratkan bokongnya di kursi. Dia melihat segelas susu hangat sudah tersedia di atas meja. "Tapi saya akan menghabiskan susu ini," ujar Putri dengan tersenyum manis sambil mengangkat gelas susu yang ada di sana.
"Baik, Non. Ah ya, Non Putri mau saya bikin bekal untuk di bawa ke kantor?" tawar Mbok Upik dengan ramah.
"Tidak, Mbok, terima kasih banyak. Saya nanti sarapan di kantor saja," tolak Putri dengan tersenyum kecil.
"Setidaknya bawa sepotong roti, Mbak," ujar Bara yang baru saja muncul dari belakang Putri.
Putri menoleh ke arah adiknya itu, di mana Bara hanya menggunakan pakaian santainya saja. Bukannya pria menyebalkan itu tadi mengatakan jika dia ingin tidur? Lalu, kenapa sekarang dia sudah terlihat segar dengan rambut yang terlihat basah dan pakaian santainya? Apa dia akan pergi berkerja? Tapi, jika dia ingin pergi berkerja, kenapa Bara hanya menggunakan kaos oblong dan celana pendeknya selutut?
Putri pun mencebikkan bibirnya di saat sang adik sudah mendaratkan bokongnya di kursi utama meja makan. Di mana letak kursi itu berada di sebelahnya.
"Dasar menyebalkan," gumam Putri yang masih di dengar jelas oleh Bara.
Bara hanya terkekeh pelan mendengar gerutuan sang kakak, kemudian dia memasukkan dua potong roti berisi coklat dan kacang hijau yang ada di dalam plastik, yang sudah tersedia di atas meja. Seperti apa yang di perintahkan oleh pria itu, jika dia menginginkan di atas mejanya ada roti yang siap di makan dan masih baru. Setiap hari roti itu harus di ganti dengan yang baru. Begitulah yang di perintahkan oleh Bara kepada Mbok Upik selaku kepala pelayannya.
"Bawa ini, Mbak, setidaknya di perjalanan menuju kantor, perut kamu bisa di ganjal dengan roti ini," titah Bara sambil memasukkan kedua potong roti itu ke dalam tas Putri.
"Ck, sok perhatian," cibir Putri yang masih merasa kesal dengan sang adik atas kejadian tadi pagi, di mana dia malah baru memberitahu tentang ilernya yang kering setelah tiba di rumah.
Gak bisa Putri bayangkan, bagaimana malunya jika dia berhadapan dengan Arash saat ini. Sudahlah pria itu melihat mata panda nya dan untuk kedua kalinya melihat air liurnya yang sudah mengering.
Tunggu, bukannya tadi pagi Putri sudah menggosok gigi? Berarti itu bukan air liur yang mengering, dong? Melainkan sisa odol yang tidak bersih saat Putri membilasnya. Ya, pasti itu sisa odol yang kurang terbilas. Pasti itu, pasti.
Putri mencoba meyakini dirinya sendiri, jika noda putih yang berada di sudut bibirnya bukanlah air liur atau ences nya, melainkan adalah sisa busa odol yang belum terbilas dengan bersih.
Bara hanya terkekeh pelan mendengar gerutuan sang kakak. Dia sangat merindukan momen-momen seperti ini, di man jika jauh maka akan selalu terasa rindu, tetapi jika dekat begini, Bara akan selalu menjahili kakaknya itu. Bara sangat suka melihat wajah jutek sang kakak yang terlihat kesal kepadanya. Hal itu yang selalu dia rindukan di saat dirinya berada jauh dari kakaknya. Juga, Bara sangat merindukan suara rengekan sang adik yang sangat manja. Di mana Papa Satria sangat khawatir jika adik bungsunya itu salah dalam bergaul.
Sejauh Bara memantau, Zia memang lah anak yang manja dan belum bisa mengambil keputusan dengan benar. Akan tetapi, gadis belia itu sudah dapat membedakan yang mana yang salah dan mana yang benar. Bahkan, Zia akan langsung menjauhi teman-temannya yang hanya memanfaatkan dirinya. Seperti baru-baru saja yang terjadi kepada adik bungsunya itu sebelum dia mengalami kecelakaan yang membuat tulang kakinya patah.
Bahkan, Bara akan menuruti keinginan Zia untuk berpindah sekolah, di mana gadis itu meminta di pindahkan ke tempat yang tidak ada yang mengenalinya sebagai seorang Putri. Untuk itu, Bara akan mengirimkan Zia ke kampung halaman sang eyang Putri, di mana tidak ada yang tahu jika seberapa sukses keluarga mereka saat ini. Di kampung, Papa Satria hanya terkenal sebagai pengacara yang terkenal, sedangkan Eyang Kangkung adalah pengusaha yang memiliki grosir besar di kota besar. Untuk itulah, Bara masih merasa tenang jika mengirimkan adik bungsunya itu ke kampung. Lagi pula, Eyang Putri dan Eyang Kangkung akan menemani adik bungsunya sampai selesai tamat sekolah.
Yang menjadi berat bagi Bara adalah, sang mama yang enggan untuk jauh dari anak-anaknya. Terutama Zia dan juga Putri. Keputusan Putri untuk pindah ke Jakarta saja, sudah membuat Mama Naya uring-uringan hingga masuk ke rumah sakit karena merindukan sang putri. Untung saja Mama Nayna tidak mengetahui apa yang terjadi kepada Putri saat ini, jika tidak, maka bisa di pastikan jika Mama Nayna akan menyuruh Putri untuk kembali ke Bandung dan tidak membiarkan sang putri bekerja lagi sebagai pengacara.
Ya, rasa khawatir yang rasakan oleh Mama Nayna juga sangat besar untuk anak tirinya itu. Walaupun mereka tidak memiliki ikatan darah, tetapi mereka memiliki wajah yang mirip ikatan batin yang sangat kuat sekali. Begitulah besarnya rasa cinta yang di berikan oleh Mama Nayna kepada Putri.
"Memang aku perhatian," ujar Bara dengan pedenya. sehingga membuat Putri kembali mencebikkan bibirnya dengan kesal. "Seperti saat ini, aku memperhatikan cincin yang sangat indah itu." Bara pun menunjuk ke arah jari manis Putri yang masih mengenakan cincin pemberian Soni.
Ya, Putri akan memakai cincin itu atas nama persahabatannya dengan Soni. Lagi pula tidak ada salahnya kan menggunakan cincin yang indah ini? Kasihan dan mubazir juga kalau hanya di simpan di dalam lemari. Masa iya cincin yang di beli dengan harga mahal hanya di jadikan pajangan dan sebuah koleksi lemari?
Rugi banget rasanya.
Setidaknya Putri menggunakan cincin itu walaupun tidak akan bertahan lama di jarinya nanti. Bisa saja kan, Putri tiba-tiba berubah pikiran dan menerima lamaran Soni? Sehingga membuat Soni harus memesan cincin yang lainnya, cincin pernikahan mereka. Ya kan?
Putri mengikuti arah pandang Bara, kemudian dia bergumam meng-iya-kan apa yang di katakan oleh adik nya itu. Memang kenyataan nya jika cincin yang ada di jari manis Putri saat ini terlihat sangat canti sekali, kan?
"Sudah hampir jam delapan, apa kamu masih ingin memandang cincin itu, Mbak?" tegur Bara yang mana membuat Putri tersadar dari lamunannya dan kembali mencebikkan bibirnya.
"Dasar pria menyebalkan," gerutu nya pelan yang mana selalu membuat Bara tertawa melihatnya.
Putri pun mengambil tas dan beberapa berkas yang ada di atas meja, yang mana akan dia bawa untuk rapat nanti, kemudian dia berlalu meninggalkan sang adik yang masih menikmati kopinya di meja makan. Tanpa Putri sadari, jika ternyata Bara juga berdiri dan mengikutinya dari belakang. Bara akan mengantarkan sang kakak hingga ke teras depan.
"Mbak, jika kamu tidak menyukai Soni, kenapa kamu memakai cincin pemberiannya? Apa itu tidak akan membuat Soni semakin berharap lebih?" tanya Bara yang mana membuat Putri terkejut mendengar suara bariton sang adik.
"Sungguh menyebalkan," geram Putri sambil mengusap dadanya pelan. Bara kembali terkekeh melihat wajah kesal sang kakak.
"Mbak?" tegur Bara lagi seolah ingin mengingatkan Putri.
__ADS_1
"Ini cincin persahabatan, dan Soni memahami apa yang aku lakukan," ujar Putri memberikan jawaban yang mudah di mengerti oleh sang adik.
"Lalu bagaimana dengan polisi itu?" tanya Bara yang mana membuat Putri menghentikan langkahnya.
"Maksud kamu?" tanya Putri yang sudah berbalik menghadap ke arah sang adik.
Bagaimana Bara bisa menyebut tentang Arash saat ini? Apa adiknya tahu jika dirinya menyukari Arash?
"Kamu mencintainya kan?" tebak Bara yang mana membuat mimik wajah Putri pun berubah.
Kan bener? Bara tahu jika Putri menyukai Arash. Apa sejelas itu ya? Jika iya sejelas itu, kenapa Arash tidak pernah menyadarinya? Hal itu membuat Putri merasa kesal.
"Jangan ngaco, aku pergi dulu, sudah terlambat. Assalamualaikum," pamit Putri yang sudah masuk ke dalam mobil. Mobil yang dia pakai tadi pagi bersama sang adik dan mengantarkan mereka sampai ke rumah yang indah ini.
Bara pun mengetuk kaca jendela Putri, sehingga membuat gadis itu menurunkan kacanya.
"Ada apa?" tanya Putri dengan kening mengkerut.
"Nanti siang aku jemput. Kita makan siang bersama," ujar Bara yang mana membuat Putri menganggukkan kepalanya.
"Kamu tidak kerja?" tanya Putri yang penasaran kenapa adiknya itu terlihat sangat santai hari ini, berbeda dengan hari-hari biasanya yang terlihat sangat heboh sekali untuk berangkat ke kantor.
"Aku bosnya," jawab Bara dengan santai, membuat Putri kembali mencebikkan bibirnya.
"Dasar sombong," cibir Putri sambil menutup jendela kacanya. Putri yakin jika adiknya itu mendengar apa yang dia katakan barusan. "Jalan, Pak," titah Putri yang langsung di turuti oleh supir.
Di perjalanan, Putri meraih roti yang Bara masukkan ke dalam tasnya. Gadis itu tersenyum menatap roti yang ada di tangannya saat ini. Perlahan, dia membuka pembungkus roti dan memakan isinya.
"Dasar Bara menyebalkan," gumam Putri dengan mulut yang penuh. "Roti ini benar-benar sangat enak. Di mana dia beli?" gumamnya sambil melihat bungkus plastik yang terdapat nama toko roti tersebut.
"Ini kan toko Tante Kesya?" lirih Putri sambil tersenyum membaca nama toko tersebut.
"Rotinya benar-benar enak," gumam Putri dengan tersenyum manis dan kembali memasukkan roti itu ke dalam mulutnya.
Di tempat lain.
Duh, gemes deh sama Arash. Kemarin gemes sama Abash yang leletnya minta ampun dalam mengambil sikap untuk memutuskan jalan terbaik dalam hubungannya. Huuf, untung ada Mama Kesya, kalau gak? Duuh, dah lah ... dah laah ...
Tok ... Tok ...
Terdengar suara pintu yang di ketuk, sehingga membuat Arash tersadar dan menyuruh orang yang ada di balik pintu itu untuk masuk.
"Pagi, Rash?" sapa Daddy Bara, orang yang ternyata mengetuk pintu ruangannya.
"Dad." Arash pun berdiri dari duduknya, pria itu mencium punggung tangan Daddi Bara dan mempersilahkan pria paruh baya itu untuk duduk di sofa.
"Bagaimana laporan nya, apa sudah selesai?" tanya Daddy Bara yang mana membuat Arash menggeleng kan kepala nya pelan.
"Ada apa, Rash? Ini sudah pukul sepuluh siang loh, kenapa kamu belum juga menyelesaikan laporan nya?" tanya Daddy Bara dengan bingung. Tidak biasa nya keponakannya itu abai untuk membuat laporan.
Biasanya, Arash selalu saja menyiapkan laporan dengan sangat cepat. Atau mungkin laporan nya tinggal sedikit lagi, ya?
"Sudah sampai di mana laporan nya selesai? Coba sini, Daddy mau lihat," tanya Daddy Bara yang mana membuat Arash menundukkan kepalanya.
"Belum satu pun, Dad," cicit Arash yang mana membuat Daddy Bara membelalakkan mata nya.
"Apa? Belum satu pun, bagaimana bisa, Rash? Tidak biasa nya kamu seperti ini?" ujar Daddy Bara. "Ada apa, Rash? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tebak Daddy Bara yang mana membuat Arash menghela napasnya pelan.
"Dad, boleh Arash tanya sesuatu kepada Daddy?" tanya Arash yang di angguki oleh Daddy Bara.
"Ya? Kamu mau tanya apa, Nak?"
"Emm, saat Daddy bertemu dengan Bunda, apa yang Daddy rasakan saat itu? Apakah itu cinta? Atau awalnya sebuah pelarian?" tanya Arash yang memang sudah mengetahui masa lalu Bunda Sasa dan juga Daddy Bara.
Daddy Bara pun mengernyitkan keningnya, di saat mendengar pertanyaan sang putra. Tidak biasa nya Arash akan kepo dengan masa lalu mereka? Tapi, kenapa sekarang pria itu malah bertanya-tanya? Apa terjadi sesuatu kepada Arash saat ini? Apa pria itu sedang jatuh cinta dan terjebak cinta segi tiga?
__ADS_1
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Daddy Bara balik, yang mana dia melihat ada sesuatu yang tak beres dengan keponakan nya itu.
"Hanya ingin tahu saja, Dad," lirih Arash menatap lurus ke arah meja.
Daddy Bara dapat menebak, jika saat ini Arash sedang menutupi sesuatu darinya. Terlihat sangat jelas sekali di mata Daddy Bara, di mana raut wajah pria itu sangat berbeda dari hari-hari sebelumnya. Ya, memang sih Arash tidak pernah terdengar jika dia memiliki hubungan dengan seorang wanita mana pun, akan tetapi, apa sekali nya dia jatuh cinta langsung patah hati?
Kasihan sekali nasib putra Mama Kesya itu.
"Arash, apa kamu mencintai seseorang saat ini?" tanya Daddy Bara yang mana membuat Arash mengangkat pandangannya mendengar pertanyaan Daddy Bara.
"Arash gak tau, Dad. Arash hanya takut perasaan ini bukan cinta yang sesungguhnya, seperti yang sebelumnya," lirih Arash dengan menghela napasnya pelan.
"Apa maksud kamu, Rash? Coba ceritakan kepada Daddy, mana tau Daddy bisa memecahkan masalah perasaan kamu," tawar Daddy Bara yang mana membuat Arash terkekeh pelan.
"Daddy udah kayak ahlinya saja," ledek Arash.
"Eitss .. jangan salah kamu, ya. Gini-gini Daddy ini pakar nya soal cinta. Kalau kamu gak percaya, tanya saja kepada Bunda," ujar Daddy Bara dengan sombong.
"Laahh, Bunda pastinya berpihak ke Daddy, dong?" jawab Arash.
"Memangnya kamu pernah melihat Bunda kamu itu selalu berpihak ke Daddy?" tanya Daddy Bara yang mana membuat Arash menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.
"Gak juga sih," jawabnya dengan mengulum senyumnya.
"Jadi, apa yang membuat kamu ragu, Nak?" tanya Daddy Bara.
Arash pun menarik napasnya, kemudian dia menghela dengan pelan sebelum menceritakan apa yang dia rasakan terhadap dua wanita yang ada di dalam hidup nya kepada Daddy Bara. Tentang perasaan nya kepada Sifa dan juga Putri. Daddy Bara pun mendengarkan dengan seksama apa yang Arash ceritakan dan sampaikan, terlihat dari kepala pria paruh baya itu yang terangguk-angguk seolah mengerti dan memahami apa yang di sampaikan oleh keponakan nya itu.
"Jadi, kamu bingung dengan apa yang kamu rasakan saat ini?" tebak Daddy Bara yang di angguki oleh Arash.
"Sebenarnya gak bingung-bingung juga sih, Dad. Arash sudah yakin dengan perasaan Arash ke Putri, kalau Arash mencintai dia. Tapi, bagaimana jika Putri salah paham? Bagaimana jika Putri berpikir jika Arash hanya menjadikannya pelarian?" ujar Arash yang mana hal itulah yang membuat dirinya merasa ragu untuk mengungkapkan perasaan nya.
"Bukannya kamu tadi bilang, kalau Putri sudah menerima lamaran dari pria lain?" tanya Daddy Bara.
"Iya, Dad, tapi kan sebelum janur kuning melengkung, bukan nya masih ada kesempatan untuk Arash menyatakan perasaan ini? Sebelum semuanya terlambat, Dad. Sebelum Putri benar-benar menjadi milik seseorang," ujar Arash yang mana membuat Daddy Bara menganggukkan kepalanya.
"Kamu benar. Jadi, menurut Daddy sekarang, kamu harus buktikan ke Putri, kalau kamu itu benar-benar mencintai dia. Kamu harus tunjukkan perasaan kamu ke dia, Rash," saran Daddy Bara.
"Tapi bagaimana, Dad? Bagaimana caranya? Putri sudah tidak lagi tinggal di apartemen," lirih Arash dengan sendu.
"Kenapa? Sejak kapan Putri tidak lagi tinggal di apartemen kamu?" tanya Daddy Bara terkejut.
"Tadi pagi, adiknya yang bernama Bara itu datang menjemputnya," jawab Arash dengan lemas.
Daddy Bara pun mengangguk-anggukan kepalanya. Memang, pria paruh baya itu belum pernah melihat pria yang bernama sama dengannya, akan tetapi Daddy Bara sudah mendengar tentang pria yang bernama Bara. Jika pria itu sama dinginnya seperti papanya di saat muda dulu. Bedanya, Bara memegang penuh atas kendali perusahaan, sedangkan papanya masih memiliki jobs lain selain seorang ceo. Untuk itu, nama Papa Satria lebih di kenal di dunia firma hukum dari pada di dunia perbisnisan. Berbeda seperti Bara saat ini, di mana namanya sudah melambung tinggi di saat umurnya masih terbilang sangat muda.
"Kalau begitu kamu harus berusaha lebih keras lagi, Rash. Kamu harus meyakinkan kesungguhan hati kamu kepada Putri. Tidak, tidak hanya kepada Putri, tetapi juga kepada anggota keluarganya," saran Daddy Bara yang di angguki oleh Arash.
Daddy Bara pun memberikan wejangan kepada sang keponakan, di mana dia harus menjadi seorang pejuang cinta yang bergerak cepat, jangan sampai ada rival yang mendahuluinya.
"Baik, Dad, kalau begitu siang ini Arash akan mengungkapkan perasaan Arash kepada Putri," ujar Arash dengan penuh semangat.
"Gitu dong, sekarang kamu buat laporan dulu sebelum menjadi pejuang cinta," titah Daddy Bara yang mana membuat Arash terbengong.
"Nanti siang aja ya, Dad?" tawar Arash.
"Daddy mau laporan itu siang ini sudah memiliki salinannya dan ada di atas meja Daddy," titah Daddy Bara yang tidak ingin di bantah.
"Siap, Pak," jawab Arash sambil berdiri tegap dan memberikan hormat kepada Daddy Bara.
Daddy Bara pun keluar dari ruangan Arash, membiarkan keponakannya itu menyelesaikan pekerjaannya.
"Aku harus cepat, agar bisa bertemu Putri siang ini," ujar Arash yang mana membuat dirinya bergerak dengan tergesa, sehingga membuat nya tak hati-hati dan terjatuh.
"Awww ... sakit," lirihnya sambil mengusap tulang keringnya.
__ADS_1
Arash pun berjalan dengan tertatih menuju meja nya.
"Demi kamu, Dek Put," lirih Arash menyemangati dirinya.