
Bara, Abash, Arash, Papa Arka, dan Papa Satria bernapas lega, setelah delapan bulan pemburuan mereka terhadap Neli, akhirnya wanita itu berhasil di ringkus oleh pihak yang berwajib. Bahkan, orang tua Neli juga ikut tertangkap dan menjadi tersangka.
Sempat terjadi keributan antara om simpanannya Neli dengan keluarga Moza dan Papa Satria. Untungnya seluruh keluarga sudah di jaga dengan ketat oleh orang-orang kepercayaan Papa Arka dan Martin.
Memang, semenjak kejadian pengeboman di restoran yang menyelakai beberapa korban jiwa lainnya, termasuk Zia, Papa Arka dan Papa Satria lebih memperketat penjagaan terhadap seluruh keluarganya. Gerak keluarga Moza dan Papa Satria pun menjadi terbatas, itu semua demi keselamatan mereka hingga sampai Neli dan komplotannya tertangkap.
Neli sempat ingin kabur bersama mafia yang menjadi om simpanan wanita itu. Untungnya anak buah Martin bergerak cepat dan sigap menangkap mereka. Ya, walaupun sempat kembali terjadi kontak senjata antara keduanya, sehingga membuat beberapa orang terluka akibat tembakan dan granat yang di lemparkan oleh mafia simpanan Neli.
Terjadi juga kejar-kejaran antara mobil mafia om simpanan Neli, di mana di dalam mobil tersebut Neli juga berada di dalamnya. Syukurlah kejadian itu tidak terjadi di Indonesia, sehingga proses hukum berjalan dengan baik, karena bukti-bukti yang ada pada Om Martin dan Martin terbilang cukup kuat untuk menangkap Neli dan mafia yang bersama wanita itu.
Saat terjadi kejar-kejaran, mobil yang ditumpangi Neli sempat mengalami kecelakaan, sebelum akhirnya mereka tertangkap. Neli mengalami luka yang lumayan cukup parah, karena dari pinggang hingga tubuh bagian bawah wanita itu terhimpit oleh dasbor yang penyot akibat benturan hebat. Mafia yang kabur bersama Neli pun meninggal di tempat, karena tubuh pria itu tertusuk oleh benda tajam dari pecahan bagian body mobilnya yang hancur berkeping.
Sidang pun di proses di London, karena kejadian yang menimpa Neli dan mafia yang bersama wanita itu terjadi di sana. Sedangkan antek-antek yang ada di belakang Neli, om mafia simpanan wanita itu, dan orang tua Neli pun, di proses di Indonesia, karena mereka tertangkap di negara sendiri.
Sidang yang berlangsung pun memakan waktu sekitar dua bulanan, hingga kasus di tutup dan menyatakan jika Neli dan orang tuanya bersalah.
Apa Bara merasa puas? Karena Neli mengalami hal yang hampir sama dengan Zia? Bahkan lebih parah dari apa yang Zia alami?
Neli harus kehilangan salah satu kakinya, karena terluka parah dan terpaksa harus di amputasi. Ya, Neli mengalami cacat seumur hidupnya. Sedangkan Zia? Gadis malang itu masih memiliki kesempatan untuk sembuh dan berjalan dengan normal, walaupun harus memakan waktu cukup lama agar dia kembali bisa berjalan normal tanpa alat bantu kursi roda atau pun tongkat.
Tidak, Bara tidak merasa puas. Pria itu tidak peduli dengan apa yang terjadi kepada Neli. Mau wanita itu menjalani kehidupannya dengan cacat atau tidak, Bara tidak peduli. Karena bagi Bara adalah kesehatan dan keselamatan sang adik.
Namun, satu hal yang harus Bara syukuri. Akhirnya mereka bisa bernapas dengan lega, karena kasus yang menimpa dua keluarga akhirnya terselesaikan dengan baik. Walaupun memakan waktu yang cukup lama.
"Neli sudah tertangkap, dia tidak akan mengganggu kamu, Zia, atau siapa pun di keluarga kita lagi, sayang," ujar Abash sambil menangkap pipi Sifa.
Sifa menganggukkan kepalanya dengan air mata yang mengalir membasahi pipi. Wanita itu benar-benar merasa takut di saat mendengar kabar jika Abash terlibat kejar-kejaran dengan mobil yang di tumpangi oleh Neli. Dalam pikiran Sifa, jika saat ini tubuh Abash mendapatkan luka tembak atau apapun itu. Tapi, setelah dia memeriksa sendiri tubuh sang suami, Sifa bernapas lega, karena tak ada luka tembak pada tubuh Abash. Ya, walaupun ada beberapa luka kecil di tubuh sang suami. Luka yang di dapat saat pria itu berkelahi dengan orang-orang dari pacar Neli.
__ADS_1
"Iya, Mas. Hiks ... Aku harap hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi," Sifa pun memeluk tubu sang suami yang baru saja kembali dari London.
"Aamiin, semoga saja ini menjadi yang terakhir keluarga kita berurusan dengan mafia," bisik Abash dan berdoa jika hal yang baru saja dia katakan, di kabulkan oleh Allah.
"Aku juga berharap begitu, Mas. Aku benar-benar takut kehilangan kamu."
Di sisi lain, Putri menangkup wajah suaminya. Air mata wanita itu mengalir karena merasa sangat bersyukur, melihat kondisi sang suami yang tidak kurang satu apapun.
Tangan Putri terulur untuk menyentuh sudut bibir Arash yang terdapat luka sobek, di saat pria itu melawan antek-anteknya mafia.
"Terima kasih, karena sudah kembali dengan selamat, sayang," ujar Putri menangkup pipi sang suami.
"Terima kasih karena kamu sudah berdoa untuk keselamatan aku," balas Arash yang sudah menyatukan keningnya dengan kening sang istri.
"Kami membutuhkan kamu, Mas. Terima kasih karena sudah kembali tanpa kurang satu apapun."
Mama Kesya memeluk Papa Arka, mereka memandangi anak-anaknya yang telah kembali kepada pasangan masing-masing.
"Haah, akhirnya ..." lirih Papa Arka bernapas dengan lega.
Mama Kesya menoleh ke arah sang suami, menatap wajah tampan suaminya yang tak lagi semuda dulu.
"Aku benar-benar sangat bersyukur, Mas, karena kamu membawa semua anak-anak kita pulang dengan selamat," ujar Mama Kesya kepada sang suami.
Papa Arka membalas senyuman Mama Kesya, mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya itu.
"Terima kasih karena sudah menjadi kuat dan menguatkan anak-anak kita, sayang," bisik Papa Arka yang mana membuat Mama Kesya tersenyum.
__ADS_1
"Iya, Mas. Aku percaya sama Mas, kayaknya Mas percaya sama aku."
Di bagian sisi yang lain, Mama Nayna menangis di dalam pelukan sang suami, merasa sangat bersyukur karena suami, anak, dan menantunya telah kembali dengan selamat.
"Semua sudah baik-baik saja," bisik Papa Satria.
"Hiks, terima kasih sudah kembali dengan selamat, Mas, hiks .. terima kasih banyak."
"Iya, sayang. Semua berkat doa kamu dan yang lainnya. Maka dari itu kita bisa memenangkan kasus ini dan kembali dengan selamat."
"Aku harap kejadian ini tidak akan pernah terjadi lagi."
"Aamin, semoga saja ya, sayang."
Zia mengulurkan tangannya, meminta sang kakak untuk mendekat ke arahnya. Bara yang mengalami luka tembak pada bagian lengan kanannya pun, tersenyum dan mendekat ke arah adik. Bara berlutut di hadapan Zia yang duduk di kursi roda, pria itu mengulurkan satu tangannya untuk menghapus air mata sang adik yang mengalir membasahi pipinya.
"Terima kasih, Mas, sudah kembali dengan selamat," ujar Zia dengan sesenggukan. "Maaf, karena sudah membuat lengan Mas terluka."
"Tidak, Dek, tidak. Kamu gak salah. Sedikit pun kamu tidak salah. Mas terluka bukan karena kamu," ujar Bara cepat. "Yang seharusnya minta maaf adalah Mas, karena kecerobohan Mas, kamu jadi terluka."
"Itu tidak penting, Mas. Yang terpenting saat ini adalah kalian semua kembali dengan selamat. Terima kasih atas perjuangan kalian untuk melindungi keluarga kita," ungkap Zia yang mana membuat Bara mengusap pipi sang adik dengan sebelah tangannya.
"Maafin, Mas. Dan jangan berterima kasih dengan Mas, Dek. Karena sudah tugas Mas untuk melindungi kamu."
"Mas adalah Abang terbaik yang Zia miliki. Terima kasih sudah menjadi orang yang berarti di dalam hidup Zia."
Dan, keadaan pun menjadi aman. Semoga saja tidak ada lagi musibah yang menimpa keluarga Moza ataupun keluarga Papa Satria.
__ADS_1