
Arash terlihat memainkan ponselnya, sedangkan Putri sibuk mengusap hidungnya yang terus berair karena nasi goreng yang rasanya sangat pedas sekali.
"Mas, tambahi teh manis dinginnya ya satu lagi," pinta Putri kepada pelayan.
"Sama air putih hangat, Mas," sambung Arash.
Putri menoleh sekilas, kemudian dia melanjutkan makannya.
"Kalau gak sanggup makan pedes, mendingan pesan yang lainnya," ujar Arash merasa bersalah.
"Mubazir," lirih Putri pelan.
Arash sedikit terkejut dengan apa yang gadis itu katakan. Jika sifa yang mengatakan hal itu, mungkin Arash bisa memakluminya karena kondisi keuangan Sifa yang berbeda dengannya. Tapi Putri?
Apa yang tidak gadis itu miliki? Semua bisa dia dapatkan hanya dalam sekali ucapan atau pun menggesekkan kartu hitamnya.
Tak berapa lama pesanan minuman Arash dan Putri pun tiba. Putri bergegas mengambil air minumnya, akan tetapi tangan Arash dengan cepat menahan tangan Putri.
"Apa? Gak tau orang lagi kepedesaan, apa?" ketus Putri.
"Kalau kepedasan, mendingan minum air hangat aja," ujar Arash sambil memberikan segelas air hangat.
"Duh, udah mulutku panas, d tambah panas, apa gak melepuh?" lirih Putri dengan kesal yang masih di dengar oleh Arash.
"Saya lagi kepedasan, bukan sakit tenggorokan," kesal Putri kemudian.
Arash dengan keras kepalanya mengambil air yang ada di genggaman Putri, kemudian menggantinya dengan air hangat.
"Ayo, minum," titah Arash.
"Duuuh, saya kepedasan, Pak! Bukan sakit tenggorokan," rengek Putri.
Arash pun mendekatkan gelas tersebut ke bibir Putri, sehingga membuat Putri terpaksa meminum air hangat tersebut.
"Gimana?" tanya Arash saat melihat Putri sudah tak kepedasan seperti tadi lagi.
Putri mengerjapkan matanya, kemudian dia kembali mengambil air hangat tersebut dan meminumnya.
"Iya, pedasnya hilang," lirih Putri dengan tersenyum.
Putri pun melanjutkan memakan nasi gorengnya yang tinggal setengah lagi.
"Kalau gak sanggup, di udahi aja. Nanti bisa di kasih kucing yang ada di sana," ujar Arash sambil menunjuk ke arah kucing yang sedang menatap pembeli dengan tatapan memohon.
"Emangnya dia mau nasi goreng?" tanya Putri.
Arash pun menganggukkan kepalanya. "Kasih aja."
Putri bangkit dari duduknya dengan membawa piring, kemudian dia memanggil kucing itu untuk mengikutinya.
__ADS_1
"Puss ... ckckck ..."
Kucing liar pun mengikuti Putri, kemudian gadis itu menuangkan nasi goreng yang ada di piringnya ke atas aspal.
Terlihat kucing itu makan dengan lahap bersama beberapa kucing lainnya.
"Makan yang banyak, ya," ujar Putri dan kembali bangkit dari jongkoknya.
"Mau kan?" tanya Arash saat Putri kembali.
"Huum."
Putri pun meraih ponselnya yangsedari diletakkan dengan layar yang menghadap ke meja, hingga akhirnya Arash dapat melihat jika ponsel Putri yang retak karenanya, masih belum terganti.
Tumben kan. Tak biasanya anak orang kaya tak langsung mengganti ponsel mereka dengan yang baru. Atau mungkin Putri terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga dia tak memiliki waktu untuk membeli ponsel baru.
"Mas!" panggil Putri untuk membayar makanannya.
"Sudah saya bayar," ujar Arash dan berdiri dari duduknya.
"Kenapa d bayarin? Saya kan gak minta di bayarin?"
"Gak papa. Anggap saja ucapan permohonan maaf saya karena sudah bikin layar ponsel kamu retak." Arash pun menunjuk ke arah ponsel Putri.
"Oh, itu kan hanya kecelakaan," lirih Putri.
"Kalau begitu saya duluan, ya," pamit Arash dan berlalu meninggalkan Putri yang masih menikmati teh manis dinginnya.
Cuaca malam ini terasa cukup dingin, untuk itu Putri mengeratkan cardigannya serta memeluk tubuhnya sendiri.
"Hai cantik ... sendirian aja, nih?" goda dua pria yang ada di sekitar itu.
Putri pun mengabaikan kedua pria tersebut dan terus berjalan lurus.
"Mau ke mana? Dingin ya? Mau akang peluk?" ujar salah seorang dari mereka.
Putri masih diam dan tetap terus melangkahkan kakinya.
Graaap ...
Salah satu pria meloncat dan berdiri di hadapan Putri, sehingga membuat langkah Putri pun terhenti.
"Mau apa kalian?" ujar Putri dengan menghela napasnya kasar.
"Mau kami?" kekeh pria itu. "Kau dan uangmu," ujar Pria itu sambil menjilati bibirnya.
Sumpah demi apa, Putri merasa jijik dan ingin muntah.
"Kalian salah mangsa, sebaiknya kalian segera pergi sebelum anggota tubuh kalian patah saya buat," desis Putri.
__ADS_1
"Woww, gadis yang garang. Gue suka yang beginian," kekeh salah satu pria dan berjalan mendekat ke arah Putri.
Saat tangan pria itu ingin mencolek dagu Putri, dengan gerakan cepat Putri memelintir tangan Pria itu. Bisa di pastikan, jika tangan itu sudah terkilir.
"Ta-tangan, sakiitt," rengek pria itu sambil memohon minta dilepaskan tangannya.
Putri tak sebodoh itu, dia semakin memelitir tangan pria itu dengan kuat, sehingga jeritan yang mirip lolongan anjing pun terdengar memekakkan telinga.
"Brengsek," maki pria satu lagi dan ingin menghajar Putri.
Bukk ...
Satu tendangan pun di berikan oleh Putri, sehingga membuat tubuh pria yang badannya dua kali lipat dari gadis itu pun mundur.
"Awas Lo," pekiknya marah dan mengeluarkan sebuah senjata tajam yang ada di kantongnya.
Putri yang awalnya tenang, merasa sedikit panik, karena tiba-tiba saja perutnya terasa perih dan sakit.
"Haaaa...."
Bug ... Bag ...
Putri membelalakkan matanya di saat pria berbadan besar itu mengarahkan pisau ke arahnya. Akan tetapi, dari arah yang lain datang seorang pria berjaket kulit dan menendang pria tersebut.
Pukulan demi pukulan pun di hujani oleh pria yang menolong Putri.
Ya, dia adalah Arash.
"Cepat ke sini, sekarang," ujar Arash dengan orang yang ada di seberang panggilan.
Arash menoleh ke arah Putri.
"Kamu gak papa?" tanyanya dengan sudut bibir yang tertarik ke atas.
"Ya," jawab Putri masih dengan memelintir tangan pria yang satunya lagi.
Tak berapa lama anak buah Arash pun datang dan menangkap preman yang memang sudah menjadi incaran mereka. Sebelumnya lokasi itu aman-aman saja, hingga muncullah si preman kurang kerjaan yang membuat daerah sekitar itu aman.
"Makasih, Pak, sudah membantu tugas. Padahal Pak Arash sedang cuti sakit," ujar anak buahnya.
"Gak papa. Kebetulan saya mau pulang juga," jawab Arash.
"Nona baik-baik saja?" tanya polisi tersebut.
"Hmm, ya. Saya baik-baik aja," jawab Putri.
Polisi tersebut pun meminta Putri untuk memberikan laporan tentang apa yang terjadi malam ini besok di kantor polisi.
"Kamu beneran baik-baik aja?" tanya Arash yang melihat Putri memegang perutnya.
__ADS_1
"Yaa, akhrrr...." lirih Putri pelan menahan sakit perutnya.
"Ayo naik, biar aku gendong kamu sampai apartemen."