Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab.106 - Mall


__ADS_3

"Anda?"


Abash mengernyitkan di saat melihat calon pengacara perusahaannya ini menunjuk ke arahnya.


"Anda yang saya kira pencuri itu kan?" tanya Putri yang masih menunjuk ke arah Abash.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Abash balik.


"Anda tidak ingat? Kemarin, saat Anda sedang menangkap pencopet, saya pikir pencopet itu adalah Anda. Apa Anda tidak mengingatnya?" tanya Putri.


"Pencopet? Saya rasa saya tidak pernah menangkap pencopet," ujar Abash dengan wajah kebingungannya. 'apa yang dia maksud adalah Arash,' batin Abash.


"Apa hanya mirip, ya? Sstt ..." Putri pun memandang wajah Abash lekat-lekat dengan mengikis jarak di antara mereka. "Mirip banget sih emang, tapi wajah ini terlihat bersih tanpa luka," lirih Putri sambil terus memandang wajah Abash.


"Apa Anda punya kembaran?" tanya Putri dengan memicingkan matanya menatap Abash.


"Sa---,"


Ceklek ...


Pintu terbuka dan menampilkan Didi yang baru saja masuk dengan membawa berkas. Melihat keintiman yang sedang terjadi antara sang bos dan juga calon pengacara perusahaan mereka, didi pun berniat untuk kembali keluar.


"Maaf, Pak, jika saya mengganggu," cicit Didi dan ingin keluar lagi dari ruangan tersebut.


"Tunggu," tahan Abash yang mana membuat Didi menahan langkahnya.


Absah pun memandang ke arah Putri yang saat ini sudah mencondongkan tubuhnya ke arah pria itu. Putri mengikuti arah pandang Abash, sehingga dia menyadari posisinya saat ini.


"Ah, maaf," cicit Putri dan segera memundurkan langkahnya.


Abash menghela napasnya dengan pelan dan berjalan menuju kursi yang biasa dia duduki di saat mengadakan meeting.


"Silahkan duduk," titah Abash kepada Putri.


Putri pun menganggukkan kepalanya dan kembali duduk di kursi yang tadi dia duduk. Didi langsung berjalan ke arah sang bos dan memberikan berkas yang akan mereka jadikan bahan rapat kali ini.


"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Abash Arkana Moza, Anda bisa memanggil saya Abash," ujar Abash memperkenalkan dirinya.


"Ah ya, nama saya Putri Zahara Kusuma, Anda bisa memanggil saya dengan panggilan Putri," balas Putri.


"Baiklah, apa bisa kita mulai meetingnya?" tanya Abash yang di angguki oleh Putri.


"Jadi begini, perusahan yang baru saya bangun ini membutuhkan seorang pengacara yang akan menjadi perwakilan dari perusahaan, saat ada masalah yang menyangkut dengan media atau apa pun. Jadi---."


Abash pun mulai menjelaskan maksud dan tujuannya untuk bekerja sama dengan Putri, pengacara yang terkenal di Bandung dan kebetulan gadis itu ingin mengembangkan sayapnya di Jakarta. Maka dari itu, Abash dengan cepat menggait Putri untuk menjadi pengacara perusahannya.


"Baiklah, senang bekerja sama dengan Anda," ujar Abash sambil mengulurkan tangannya kepada Putri.

__ADS_1


"Sama-sama, senang bekerja sama dengan Anda juga," balas Putri sambil menerima uluran tangan Abash.


"Ah ya, soal awal pertemuan kita tadi. Saya minta maaf," ujar Putri dengan tersenyum manis.


"Tidak masalah, namanya juga salah paham."


"Kalau begitu, saya permisi dulu."


Abash pun menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Putri keluar dari ruang rapat tersebut.


*


"Gimana? Sukses?" tanya Luna kepada sang sahabat.


Saat ini mereka sedang berada di sebuah gerai es krim yang ada di sebuah mall.


"Hmm, alhamdulillah sukses."


"Trus, tampan gak CEO nya? Atau udah tuwir-tuwir kayak yang sebelumnya?" goda Luna lagi.


"Kamu kira aku menjalin kerja sama untuk menggait salah satu dari mereka apa?" kesal Putri.


Luna pun terkekeh pelan. "Ya gak sih, kan aku cuma bercanda aja," ujarnya sambil mengusap lengan sang sahabat. "Jangan ngembek ya," rayu Luna.


Putri menoleh ke arah Luna sambil mencebikkan bibirnya dengan kesal.


"Hmm, iya."


"Boleh, tapi habisin es dulu ya."


"Oke."


Putri dan Luna menghabiskan ek krim mereka sebelum melihat toko yang di katakan oleh Luna tadi.


Saat mereka sedang berjalan sambil berbincang-bincang menuju toko yang baru launching, tiba-tiba segerombolan anak sekolah yang berpakaian bebas berjalan sambil dorong mendorong, sehingga salah satu dari mereka mengenai Putri dan membuat gadis itu hampir terjatuh ke lantai, jika tidak ada yang menyambut tubuhnya.


"Anda tidak apa?" tanya suara bariton tersebut.


Putri langsung mengalihkan matanya ke arah dada, di mana saat ini pria yang sudah menolongnya sedang menangkup salah satu gunung kembarnya.


"Dasar mesum," cibir Putri dan langsung menarik tangan pria itu menjauh dari dadanya, serta memelintir tangan pria itu.


"Aww, apa salah saya?" tanya pria itu.


"Apa salah Anda? Salah Anda adalah karena sudah berani-beraninya berbuat mesum kepada saya," desis Putri.


"Put, udah, dia kan cuma ingin menolong kamu," ujar Luna menenangkan sang sahabat.

__ADS_1


"Iya, tapi kamu lihat sendiri kan? Kalau dia tadi nyentuh dada aku, Lun," geram Putri.


"Iya, tapi pasti pria itu tidak sengaja. Udah ya, lepasin aja, malu di lihat orang," cicit Luna.


Putri melihat ke sekeliling, benar saja jika saat ini dirinya sudah menjadi tontonan pengunjung Mall.


Putri melepaskan tangan pria itu dan menatapnya dengan kesal.


"Ooo, Kamu?" tunjuk putri ke arah pria yang saat ini sedang meringis kesakitan. Kali ini Putri dapat mengenali pria yang dia pukul kemarin, karena ada bekas luka pada wajah pria itu.


Arash menghela napasnya dengan pelan dan mengabaikan Putri. Pria itu berjalan ke arah siswa-siswa yang sepertinya sedang bolos sekolah.


"Kalian, apa ini jam pulang sekolah?" tanya Arash.


"Tidak, Pak," jawab salah sattu siswa.


"Lalu, kenapa kalian berkeliaran di mall? Kalian kira saya tidak tahu jika kalian ini masih sekolah?"


"Tapi, Pak. Kami kan tidak memakai seragam sekolah!" ujar salah satu siswa.


"Iya, tapi kerusuhan yang kalian buat barusan , itu sungguh mengganggu kenyamanan orang lain, Jadi, silahkan kalian ikut dengan bapak satpam-satpam itu," titah Arash.


"Pak, tapi kami---,"


"Udah, ayo ikut," ujar satpam dan membawa siswa-siswa tersbeut ke ruang interogasi.


Arash menoleh ke arah Putri dan tersenyum tipis.


"Anda tidak apa-apa?" tanyanya kepada Putri dengan wajah yang tersenyum.


"Dasar pria mesum, apa dia tidak merasa bersalah karena sudah menyentuh dadaku?" batin Putri dengan geram.


"Anda baik-baik saja, kan?" tanya Arash lagi.


"Put, di tanyain itu," bisik Luna.


Putri menghela napasnya pelan dan menatap tajam ke arah pria yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Apa Anda tidak merasa bersalah?" tanya Putri.


"Merasa bersalah karena?" tanya Arash, kemudian detik selanjutnya pria itu teringat jika dirinya baru saja menyentuh dada dari gadis yang ada di hadapannya saat ini.


"Oh, itu, saya minta maaf. Lagi pula, saya tidak merasakan apa-apa, sungguh, saya berani sumpah," ujar Arash sambil mengangkat dua jarinya berbentuk v.


"Sialan, jadi dia mau bilang kalau dada aku rata gitu? Dasar pria mesum," batin Putri dalam hati.


Putri pun menghela napasnya dengan kasar dan berbalik menjauhi Arash.

__ADS_1


"Put, tungguin," panggil Luna dan mengejar sang sahabat.


"Aku salah apa?" tanya Arash sambil menatap tangannya.


__ADS_2