Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 164- Kotak Ancaman


__ADS_3

"Mas, kamu di mana?" send.


Sifa menunggu balasan pesan dari sang kekasih, gadis itu ingin tahu di mana Abash berada.


Ingatan SIfa pun kembali di saat Abash menghubunginya untuk berpamitan dan meminta maaf, karena pria itu tidak bisa pulang bareng dengannya saat ini.


Abash memberikan alasan jika dirinya ada urusan penting yang harus dikerjakan.


"Apa bertemu dengan Mbak Putri adalah urusan penting?" lirih Sifa, gadis itu pun menarik napasnya dan menghembuskannya secara perlahan.


Sifa terkejut di saat ponselnya berdering, jantung gadis itu sudah berdegup kencang karena berpikir jika yang menghubunginya saat ini adalah Abash. Sifa kembali menghela napasnya pelan, karena yang menghubunginya bukanlah Abash, melainkan Amel--sahabatnya.


"Ya, Mel?" jawab Sifa setelah menggeser tombol hijau.


"Kamu di mana? Apa kamu tidak pulang? Aku sudah menunggu kamu dari tadi di lobi."


Suara amel terdengar begitu jelas di seberang panggilan, Sifa pun kembali bingung harus memberikan alasan apa kepada Amel, jika gadis itu menawarinya untuk pulang bersama.


"Alasan apa lagi kali ini? Aku benar-benar gak enak sama Amel yang sudah baik banget sama aku selama ini," lirih Sifa sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Mau tak mau, Sifa pun turun dan menemui sahabatnya itu.


"Hai, Mel. Maaf ya udah nunggu lama, soalnya aku tadi masih ada kerjaan," bohong Sifa.


"Gak msalah," jawab Amel yang terlihat sekali dari wajahnay tidak bersemangat.


"Apa kamu juga meerasakan hal yang sama dengan aku, Sifa?" tanya Amel dalam hati.


"Ayo, aku antar pulang," ajak Amel.


"Eh, i-itu ... "


"Aku lagi patah hati nih, temeni aku makan es krim yuk," ajak Amel, yang mana akhirnya di setujui oleh Sifa.


Mungkin dengan memakan sesuatu yang manis dan juga dingin akan mengembalikan mood Sifa.


Sifa dan Amel pun pergi menuju gerai es krim yang tak jauh dair kantor mereka.


"Ini mobil kamu?" tanya Sifa dengan takjub.


"Hmm, kenapa?" tanay Amel.


"Apa kamu selama ini menutupi jati diri kamu sendiri, Mel?" tebak Sifa.


Amel tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


Ya, ini adalah tujuan awal amel, di mana gadis itu ingin menunjukkan jika dirinya dan ifa berbeda. Bahkan, dirinya lebih pantas menjadi pendamping Abash dari pada sahabatnya itu. Tapi, melihat kedekatan Abash dan Putri, membuat perasaan amel semakin panas dan terkalahkan. Mereka benar-benar terlihats angat serasi sekali.


Di tambah lagi dengan dukungan latar belakang mereka yang bukan dari kalangan orang sembarang. Tentu saja Amel yang notabennya sebagai anak yang lahir dari pernikahan sirih pun, tak sebanding dengan Putri yang memang asal usulnya terlihat sangat jelas sekali.


Tak ada kecacatan ddalam kehidupan Putri, bahkan walaupun gadis itu memiliki ibu tiri dan adik yang berbeda ibu, akan tetapi kasih sayang yang Putri dapatkan sangatlah spesial. Amel sudah mencari tahu tentang gadis itu.

__ADS_1


Tak berapa lama mobil yang dii kendarai oleh amel pun tiba di gerai es krim.


"Ayo," ajak Amel yang di angguki oleh Sifa.


Mereka pun memesan es krim rasa strawberi bersamaan.


"Ah ya, katakan, siapa pria yang sudah membuata kamu patah hati?' tanya Sifa yang merasa penasaran dengan ria yang telah mencuri hati sahabatnya itu.


"Hmm, dia pria yang sangat spesial sekali. Aku tidak bisa menyebutkan namanya sekarang, akan tetapi lain kali pasti aku akan mengenalkan kamu dengannya," ujar mel.


"Hmm, baiklah." jawab Sifa tak ingin memaksa.


"Em, Fa, kamu udah tau gosip tentang Pak Abash, belum?" tanya Amel yang ingin melihat reaksi dari sahabatnya itu.


Sifa yang hendak menyuapkan es krim ke dalam mulut pun, akhirnya di abaikan. Gadis itu kembali meletakkan sendok es krim ke dalam wadahnya.


"Hmm, udah," jawab Sifa sambil mengaduk-aduk es krim yang masih menggumpal.


"Mereka sangat serassi, ya," pancing Amel.


"Iya," jawab Sifa pelan dengan wajah yang sendu.


"Ada apa,Sifa? Kenapa kamu terlihat sedih?" tanay amel mencoba menggali pereaasaan sang sahabat.


Sifa kembali menghela napasnya pelan. Haruskan dia jujur dengan sang sahabat? Selama ini, Amel sudah sangat baik dan selalu mendukungnya. Jadi, tidak ada salahnya kan menceritakan hubungannya dengan sang sahabat?


"Aku mau jujur satu hal sama kamu, Mel, tapi kamu janji ya jangan bilang ke siapa-siapa," pinta Sifa.


"Sebenarnya, aku dan Pak Abash berpacaran."


*


"Terima kassih," ujar Pitri saat Abash mengantarkannya ke apartemen.


"Sama--sama," ajwab Abash dan membiarkan Putri untuk turun.


Abash meliaht Putri yang sudah masuk ke dalam apartemen dari dalam mobil, barulah pria itu melajukan mobilnya.


Baru saja saja Abash memasukkan kopling, pria itu melihat Max yang baru saja keluar dari semak-semak.


"Max?" lirih Abash dan memutuskan untuk turun dari mobilnya, menyapa kucing kampung yang sudah terlihat sangat gemuk dan menggemaskan itu.


"Wow, Max, sudah gendut banget ya," ujar Abash saat sudah menangkap kucing peliharaan sang kembaran.


"Mas Arash? Saya pikir siapa yang mengantarkan Mbak Putri," kekeh Satpam.


"Saya Abash, pak," jawab Abash ddenga ntersenyum kecil.


"Oh, Mas Abash ya? Waduh, saya gak bisa bedain ini, soalnya mirip banget," kekeh satmapn tersebut.


Tak berapa lama, Arash pun tiba di saat Abash dan satpam sedang terlibat obrolan yang terlihat sangat seru.

__ADS_1


"Ngomongin apa nih? Seru banget?" sapa Arash yang baru bergabung.


Di saat bersamaan pula, alarm pertolongan pada unit apartemen Putri pun berbunyi.


"Ada apa?" tanya Abash di saat melihat salah satu satpam sudah bersiap untuk mendatangi unit tersbeut.


"Alarm unit apartemennya Mbak Putri menyala," ujar satpam seblum di aberlalu.


Abash dan Arash pun saling memandang, mereka berdua bergegas menyusul satpam yang sduah duluan berlari menuju lift.


Beberapa menit yang lalu.


Putri barus saja turun dari mobil Abash, gadis itu pun menyapa satpam yang sedang berjaga di posnya.


"Malam, Mbak Putri."


"Malam, Pak."


Putri pun melanjutkan langkahnya menuju lift, gadis itu merasa tubuhnya sudah sangat lengket sekali dan ingin segera berendam untuk menghilangkan rasa lelah yang dia rasakan seharian ini.


Baru saja Putri membuka pintu apartemennya, gadis itu sudah di suguhkan dengan pemandangan yang sangat menakutkan baginya, di mana seluruh isi apartemennya itu sudah berandatakan.


"Apa yang terjadi?" lirih Putri dengan jantung yang berdebar-debar.


Putri pun bergegas menekan tombol yang memang di gunakan untuk keadaan darurat seperti saat ini.


"Siapa yang sudah memberantakan apartemen aku?" lirihnya masih tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


Putri pun meraih sebuah kotak yang ada di atas meja, dengan tangan yang bergetar, dia membuka tutup kotak tersebut.


"Aaaaa ..." pekik Putri di saat melihat apa isi dari kotak tersebut.


Bersamaan dengan Putri berteriak. Abash duluan masuk ke dalam apartemen.


"Putri." lirih Abash dan bergegas mendekati gadis itu yangs udah terduduk di lantai dengan tubuh yang bergetar.


"Hei, tenanglah, kamu aman skerang," bisik Abash yang sudah berada di dakat Putri.


"Pak Abash, hiks ..." lirih Putri dan refleks memeluk pria itu.


Abash pun refleks mengusap punggung Putri yang masih bergetar hebat karena ketakutan. Abash meliihat ke arah kota yang tak jauh dari kaki Putri, sehingga membuat Arash mengambil kotak itu dan melihat sisinya.


"Ekkhmm ..." desis Arash saat melihat apa yang ada di dalam kotak tersebut.


Abash bertanya melalui matanya, apa yang ada di dalam kotak itu, sehingga Arash pun menunjukkan apa isinya.


Abash ikut terkejut, di saat melihat sebuah potongan jari manis manusia yang amsih berlumur darah segar dan sebuah foto Putri yang juga di lumuri darah. Terdapat secarik kertass di sana, membuat Arash membaca apa yang tertulis di dalam sana.


"Ini baru permulaan, lain kali jari manis mu yang akan berada di dalam kotak ini."


Abash semakin mempererat pelukannya kepada Putri setelah membaca isi dari surat tersebut.

__ADS_1


"Tenanglah, semua pasti akan baik-baik saja," bisik Abash.


__ADS_2