Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 56 - Gak mungkin


__ADS_3

Sifa membalas tatapan mata sang bos, sehingga mereka saling menatap satu sama lain. Entah berapa lama itu terjadi, hingga secara perlahan Abash mendapatkan wajahnya.


Mendekat dan semakin dekat, hingga perlahan Sifa menutup matanya. Bahkan hembusan napas Abash terasa hangat menyentuh kulit wajah gadis itu. Hingga saat bibir Abash hampir menyentuh bibir Sifa, suara dering ponsel mengembalikan kesadaran keduanya.


Dengan cepat, Abash menjauhkan dirinya dari Sifa, begitu pun sebaliknya. Gadis itu langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain. Terasa panas menjalar di sekujur wajah Sifa, menandakan jika dirinya tengah malu dengan kejadian beberapa saat tadi.


Setelah selesai berbicara dengan orang yang berada di seberang panggilan, Abash pun kembali menatap Sifa yang sudah berpaling darinya.


'Ada apa Bash? Apa yang terjadi sama kamu?' batin Abash.


Pria itu juga bingung, kenapa dirinya tadi seolah hanyut dengan tatapan mata Sifa dan hendak ingin mencium gadis itu. Abash pun menarik napasnya dan menghembuskannya secara perlahan. Pria itu berterima kasih kepada dering ponsel yang telah menyadarkannya dari suatu kesalahan.


Ya, bagi Abash mencium Sifa adalah hal yang salah. Karena pria itu merasa jika dirinya tak merasa mencintai gadis yang tengah duduk di hadapannya saat ini.


"Sini lengannya," Ujar abash yang mana membuat Sifa menolehkan kembali wajhanya kepada sang bos.


Abash membersihkan lengan Sifa yang terluka. Tak ada percakapan apapun di antara mereka, hingga pria itu selesai mengobati luka Sifa.


Abash memberskan semua perkakas p3k yang digunakannya, menyimpannya kembali ke tempat asalnya.


"Istirahatlah," ujar Abash dan pergi begitu saja tanpa pamit.


Sifa menghembuskan napasnya yang sedari tadi di tahan. Gadis itu mengusap dadanya untuk menenangkan detak jantung yang berdetak dengan cepat.


"Sifaaa, apa yang kamu lakukan? Apa kamu berharap Pak Abash menciummu? Dasar bodoh. Mana mungkin Pak Abash melakukan itu. lagi pula, jika Pak Abash melakukan hal itu, kamu harus menolaknya, bukan membiarkannya. Di mana harga diri kamu, Sifa," monolog gadis itu sambil mengusap dadanya.


Tak ingin memikirkan kejadian tadi terlalu lama, Sifa memilih mengganti pakaiannya dan memfokuskan pikirannya kepada buku-buku yang baru saja dia pinjam dari perpustakaan keluarga Moza.


Di dalam mobil, Abash menyentuh dadanya yang berdetak dengan cepat. Pria itu merasa bingung, kenapa dia seolah tertarik dengan Sifa, padahal sedikit pun Arash tak memiliki perasaan kepada gadis itu.


"Apa ini yang di namakan jatuh cinta? Masa iya gue jatuh cinta sama dia? Gak tipe gue banget. Gue suka cewek yang lembut dan pendiam. Bukan cerewet seperti Sifa." ujar Abash kepada dirinya sendiri.


"Ya, tadi gue cuma terbawa suasana saja. Memang benar, lawan jenis tak boleh berada di ruangan tertutup berduaan. Bisa ada setan yang akan menjadi ketiganya. Sebaiknya gue mulai sekarang harus jaga jarak dengan Sifa. Ya, gue harus jaga jarak dengan gadis itu." mobil Abash dan menghidupkan mesin mobilnya.


*


Sifa sedari tadi mencoba melupakan kejadian saat Abash mengobati lengannya. Hembusan napas dan aroma mint yang menguar dari mulut pria itu masih melekat dalam indera penciuman Sifa.


"Ayolah Sifa, fokus belajar.." monolog gadis itu.

__ADS_1


Akan tetapi, pemikiran dan hatinya saat ini sedang tak sejalan. Hatinya menyuruh dirinya untuk fokus belajar, namun pikirannya masih membayangkan kejadian tadi.


"Duuh, apaan sih nih.. Kenapa masih kebayang wajah Pak Abash aja sih..." gerutu Sifa sambil mengacak-acak rambutnya.


Di tempat lain, Abash yang sedari tadi juga terbayang wajah Sifa pun, berkali-kali menghela napasnya dengan kasar. Mungkin jika pria itu kembali menghela napasnya dengan kasar, bisa di pastikan meja yang ada di hadapannya itu akan terbelah dua.


"Gak mungkin gue naksir dia kan?" gumam Abash.


*


Pagi ini sungguh membuat Abash kesal. Ada kesalahan yang program yang di lakukan oleh karyawan ahlinya.


"Kalau kamu ngantuk, seharusnya tidur. Jangan paksa diri kamu untuk berkerja," kesal Abash memarahi anak buahnya itu.


"Iya, Pak. Maaf. Saya akan memperbaikinya."


"Bagaimana cara kamu perbaiki dalam waktu tiga jam?"


"Saya akan berusaha keras Pak untuk memperbaikinya."


"Kamu akan melakukannya sendiri?" tanya Abash.


"Kamu yakin kalau kamu mampu?" tanya Abash lagi.


"Saya yakin, Pak."


Abash mendengus kesal. "Saya tau kamu hebat, tapi percuma kehebatan kamu itu tidak bisa di gunakan untuk bekerja sama tim.


Saya gak butuh karyawan sombong seperti kamu. Saya hanya butuh orang-orang yang bisa bekerja sama dengan timnya. bahkan, satpam sekali pun membutuhkan tim untuk mengamankan kantor ini." ujar Abash dengan nada yang dingin dan menakuitkan.


Karyawan pria itu pun menelan ludahnya dengan kasar, kali ini dia tak b isa berkutik lagi. Tak seperti biasanya yang selalu mendapatkan pujian di saat semua pekerjaannya selesai dengan baik. Terlalu menyombongkan diri dan menganggap segalanya gampang, pria itu pun merasa mampu mengerjakan pekerjaan yang di tugaskan oleh Abash dalam tim, di kerjakan sendirian olehnya.


"Kembali ke ruanganmu sekarang dan kerjakan bersama tim-mu. singkirkan ego mu itu jika masih tetap ingin bekeja di perusahaan ini."


Pria itu pun mengundurkan diri dan keluar dari ruangan Abash dengan perasaan kesal.


Abash menghubungi Pablo dan menyuruh untuk mengawasi pria yang barus saja membuat kesalahan itu.


"Sial, deadline sudah mepert, masih aja ada kesalahan. Kemarin-kemarin ngapain aja sih tuh orang." geram Abash dan keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Abash perlu menjernihkan pikirannya saat ini, mungkin memakan dessert dari toko sang mama akan membuatnya kembali bisa berpikir jernih.


Saat berada di lobi, Abash berpas-pasan dengan sifa, gadis itu pun tersenyum dan menyapa bosnya itu, bakan tetapi Abash melewatinya begitu saja, seolah tak melihat dirinya. Padahal, tadi mereka sempat bertemu tatap hingga Abash mengabaikan sapaannya.


Sifa menatap kepergian bosnyb itu. Padahal tadi dia sudah berbaik hati untuk menegur sang bos setelah kejadian tadi malam.


*


Sifa sedang sibuk saat Abash masuk kedalam ruangannya. Tenang saja, dalam ruangan itu tak hanya mereka berdua. Abash hanya ingin memastikan pekerjaan yang dia suruh revisi tadi.


"Siang Pak," ujar Pablo yang mana mengambil atensi seluruh tim dan ikut memberi hormat kepada Abash.


"Dua orang yang tak terlalu sibuk, bisa ikut saya?" tanya Abash.


"Sifa dan Bimo, Pak. pekerjaan mereka tak terlalu sulit." ujar Pablo.


"Oke, kalian ikut saya. Yang lain kembali bekerja," titah Abash.


Sifa dan Bimo pun mengikuti bosnya itu setelah membereskan meja mereka.


"Kita mau ke mana?" tanya Sifa kepada Bimo.


"Gak tau, ikut aja lah."


Mereka berdua pun mengikuti bosnya itu masuk ke dalam ruangannya.


Abash memberikan pekerjaan yang tak terlalu sulit kepada Sifa dan Bimo, akan tetapi pekerjaan tersebut harus selesai sore ini juga, sedangkan Abash harus mengerjakan pekerjaan yang lain.


Sudah hampir satu jam Bimo dan Sifa berada di ruangan Abash, hingga akhirnya pria itu permisi untuk ke kamar mandi meninggalkan Abash dan Sifa.


Canggung? tentu saja, tapi hal itu tak berlaku untuk Abvash. Pria itu seolah terlihat tak terjadi apapun di antara dirinya dan Sifa. terlihat dari caranya yang sangat santai dalm menyuruh Sifa.


'Haruskah aku juga ikut berpura-pura tak terjadi apapun?" batin Sifa dengan jantung yang berdetak cepat sedari tadi.


...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....


...Salam sayang dari Abash n Sifa...


...Follow IG Author : Rira Syaqila...

__ADS_1


__ADS_2